
Vina masih bergulat dengan selimutnya, dari balik sana terlihat Ivan hendak membuka pintu. Ketika pintu sudah terbuka, Ivan mendekati ranjang, ia mulai naik dan mendekati gadis yang masih terlelap.
Tangannya membelah surai hitamnya, jari telunjuknya memainkan hidung mancung milik Vina. Wajahnya mendusel diceruk lehernya,
“El bangunlah.. ini sudah pagi” ucapnya
Gadis itu masih enggan membuka kelopak matanya, ia masih setia dengan mimpi. Ivan mulai memainkan wajah sang gadis, pipinya yang tembem dicubit. Hingga gadis itu merasa risih, tersadar dan terbangun.
“kyaa... An, what are you doing in here ?” tanyanya dengan menyelidik.
“Aku ingin menjadikanmu sarapanku” Ivan mulai medekat, sangat dekat.
“An.. jaga kelakuanmu” Vina mendorong Pemuda itu menjauh.
“ini sudah hampir dua minggu kita tinggal serumah, dan kita masih belum melakukan apapun” jawabnya, Ivan terkekeh.
“An.. kau mempermainkanku !”teriak Vina, ketika pemuda itu hendak pergi keluar dari kamar.
“mungkin” Ivan tersenyum miring setelah menjawabnya.
Vina hendak menuju kamar mandi setelah ia dibangunkan dengan cara yang tidak sopan, hari ini ia memiliki janji dengan Khansa. Namun pertemuan itu dilaksanakan di mansion Ivan, karena ia hari ini malas untuk menuju ke kantor.
Sudah dua minggu Vina tinggal bersama dengan Ivan untuk memantau perkembangan lukanya. Sebenarnya luka Ivan sudah kering sejak seminggu yang lalu, namun Vina masih enggan untuk pulang.
Setiap hari Vina merasa bahwa ia semakin cinta pada Ivan, dimatanya Ivan adalah sosok lelaki yang sangat perhatian, ramah, dan hangat. Meski begitu Ivan adalah sosok yang sangat keras dalam hal pekerjaan.
Vina telah keluar dari kamarnya, ia memakai pakaian santai. Celana jeans dan juga kaos berwarna biru yang pas ukurannya. Rambutnya digerai bebas, serta ia memakai jam tangan Rolex yang pas ditangan kirinya.
“hay kak, maaf menunggu lama” sapa Vina
“no problem okay.. hanya 5 menit aku menunggumu, dan sekarang kau sudah datang” jawab Khansa dengan santai.
Mereka mulai membicarakan hal penting terkait perusahaan, sesekali mereka bercanda dan tertawa menghilangkan penat. Tak dapat dipungkiri, perusahaan besar peninggalan Almarhum sang ayah semakin melebarkan sayap.
__ADS_1
Kepintaran Vina membuat perusahaan ini banyak menang tender, meski Vina dapat diakui masih memiliki sifat yang manja. Vina, Presdir muda dan cantik selalu memiliki pemikiran yang membuat para kliennya merasa puas.
🐬🐬🐬
“apa hari ini akan menjadi akhir dari rencanamu Gav ?” tanya seseorang, Gav hanya mengangguk.
“seriously ?” tanya orang itu kembali.
“Aku sudah bersabar selama ini Ev !” Gav melirik Evano.
Gav mengepalkan tangannya karena emosi, hari ini adalah akhir dari balas dendamnya. Hari yang ditunggu untuk membunuh targetnya, dengan cara yang sudah ia persiapkan.
Gav mengambil seputung rokok, ia mengambil sebuah korek untuk menyalakan rokoknya. Kepulan asap keluar dari mulutnya, tenang sangat tenang untuk ukuran seputung rokok.
Evano lebih memilih untuk membuka laptop dan berjudi online dengan rekan antar mafianya. Ia sangat mahir dalam hal berjudi, meskipun begitu ia masih tidak mampu untuk mengalahkan Gav.
“jangan berjudi jika kau tidak menang banyak hari ini” ejek Gav.
“setidaknya aku mendapatkan untung hari ini” sergah Evano yang masih setia menatap layar laptop.
“ya yaa.. kau memang sangat pandai dalam berjudi sehingga untungmu bisa banyak” Evano mencebik tidak senang.
“belajarlah padaku kalau begitu” kekeh Gav.
“kau selalu mengataakan itu, tapi ujungnya yahhh....” Evano tidak melanjutkan ucapannya.
“aku memberimu pelajaran saat bermain Ev, tapi sayangnya kau bodoh”
“dan kau menjadikan orang bodoh ini sebagai orang kepercayaanmu” Evano tersenyum sangat polos
Gav mendengus tidak suka, ia melempar bantal sofa yang berada didekatnya.
“Agh.. untung tidak ada pisau disampingmu, jika iya maka aku pasti akan mati ditanganmu”
__ADS_1
Gav hanya menatap tajam sahabat gilannya itu, kemudian ia mengambil kacang yang sudah ada ditoples.
“aku masih belum mengerti sesuatu Gav”
“apa ?” Gav menaikkan salah satu alisnya.
“kau telah melakukan penyerangan dua kali dan aku mengetahuinya, tapi Gav.. bagaimana cara agar Vina terbunuh ?”
“apa yang lebih buruk dari dibunuh oleh orang yang dicintai ?” Gav tersenyum “aku sudah cukup lama untuk berada disampingnya”
“kau akan membunuhnya dengan tanganmu sendiri ? apakah kau tidak merasa bahwa dirimu telah kalah Gav ?” Evano mengambil kacang yang berada ditangan Gav.
“Kurasa kau mencintai Vina, kuharap kau sadar itu” sambungnya.
Gav termenung sejenak, menatap pemuda yang baru saja mengatakan hal bodoh dihadapannya.
“aku hanya berobsesi membunuhnya” Gav meyakinkan Evano dan dirinya sendiri.
Brakkk..
Seseorang telah membuka pintu secara kasar, Gav dan Evano langsung menoleh kesumber suara. ‘Ketahuan’ satu kata yang pas untuk suasana seperti ini, maybe..
“biadab !” ujar orang itu.
🐬🐬🐬
nah nihh udah mulai panas ye.. wkwkwk, ibarat gunung, ini masih lerengnya bukan puncaknya..
jadi kita masih bisa kok bersantai dengan minum kopi, heheh😅
ini aku postnya malem menjelang pagi berbau hendak shubuh.. faham kagak ?😂
udehlah ye, bye bye.. mau bocan dulu..😚😚
__ADS_1
^19/Oktober/2019, 01:21