Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 21 : `Dua Pangeran`


__ADS_3

Aku pernah menangis, menghilangkan jejak diri. Menyudutkan segala rasa, menepis kehitaman dalam bayangan.


Berakhir dengan keterpurukan yang menyeretku paksa. Kau !! oh, tidak.. aku masih sanggup dengan jati diriku yang sudah tercaci.


Seberapa jauh lagi aku pergi, itu hanya irama musik yang akan terngiang. Pernyataannya adalah kita sudah usai, aku tidak mau lagi untuk memulai ! namun, sekarang pertanyaaannya adalah kini siapa yang sedang memulai ?


🐬🐬🐬


Peperangan telah usai, Alvi kembali ke mansion dengan membawa Clar. Clar pun mulai memandangi mansion itu dengan berbinar, mungkin ia tak pernah melihat sebuah rumah yang megah seperti itu. Sebuah mansion bak istana dengan gaya eropa modern, bernuansa gold dan silver.


Alvi tersenyum bahagia, selain kekuasaannya bertambah, ia juga mendapat seorang putri. Namun senyum itu mendadak luntur, ketika dua orang sedang duduk di sofa ruang tamu. Gav dan Chan saling menatap tajam, seolah mereka merebutkan sesuatu.


“ada apa ini ?” ujar Alvi yang baru saja datang, Clar pun disuruh masuk ke kamar dan diantar oleh seorang maid.


Gav dan Chan menoleh, mereka tidak sadar jika Alvi sudah datang. Keduanya saling memberikan senyuman termanis yang mereka miliki. Hanya saja Chan sedikit lebih menarik karena lesung pipi disebelah kanan. Namun bukan berarti Gav tak menarik dengan bibirnya yang seksi.


Bukan berbahagia, Alvi justru memasang ekspresi sangat datar. Mungkin saja, Alvi merasa muak. Berbeda Albert yang sedari tadi berada ditengah mereka, hanya diam dengan menyesap kopi arabica.


“pergi” usir Alvi.


“tidak” ucap Gav dan Chan serentak. Kemudian keduanya saling berpandangan.


“ya sudah kalau tidak mau” Alvi pergi mengendikkan kedua bahu tidak peduli, dan menaiki tangga untuk menyusul Clar.

__ADS_1


Gav menghela nafas beratnya, sudah berkali-kali ia mencoba dekat kembali dengan Alvi namun semuanya gagal. Sedangkan Chan memijit pelipisnya, karena otaknya sedang buntu memikirkan cara untuk mendapatkan cinta Alvi dan memenangkan taruhan yang ia buat kala itu.


“thor bantulah aku” batin Gav dan Chan.


“wani piro ? hahaha” – author sedang matre.


Hati bukanlah sebuah permainan anak-anak yang dimainkan sesukanya. Jika hati sudah enggan, jangan salahkan jika mengunci diri adalah hal yang mungkin terjadi. Apalagi dengan sebuah drama yang berdalih cinta. Jangan salahkan, jika korban mengatakan, bahwa Cinta itu hanya sebuah dongeng seorang putri yang berharap cinta suci. Apalagi jika dianggap hanya sebuah mitos ?!


Alvi bukan seorang putri, ia hanya seseorang yang berdosa. Ia tahu itu, hanya saja terkadang ia sering menghibur diri ‘aku bukan pembunuh, aku adalah orang baik, mengurangi orang-orang licik dan meringankan beban malaikat pencabut nyawa’


Gav mengerti jika Alvi bukan seorang putri, baginya Alvi adalah ratu kerajaan dalam hatinya, sungguh sok puitis. “kenapa ini begitu sulit dari pada berperang ?” gumam Gav.


“bodoh, aku mendengarmu Gav !” ujar Chan.


“pergilah, setahu ku kau ada misi yang haruss diurus ?” Chan mengusir dengan cara halus.


“tidak ! para mafia milikku sedang bercuti, karena ketuanya sedang patah hati” Chan diam tak bergeming, hanya mengeluarkan ekspresi aneh selama beberapa detik.


“bukankah kau sendiri juga harus kembali kebelgia ?” sambung Gav, membalas usiran halus dari Chan.


“tidak, pesawatnya sedang mogok kerja karena sedang ingin melewati jalur darat” Jawab Chan yang tak kalah gila.


“keluar sekarang dari rumah ini ! dasar mafia bodoh !!” Albert menarik keluar Chan dan Gav secara paksa. Karena mereka berdua terkadang seperti iblis yang hendak meluluh-lantahkan semua pada kodisi tertentu. Dan kali ini, Albert melihat sisi lain mereka, Kekanak-kanakan !

__ADS_1


Kedua mafia itupun melongo ketika mereka sudah ada diluar rumah dengan pintu yang ditutup. Gav dan Chan saling menatap, kemudian mengeluarkan tatapan tajamnya. Tak lama, akhirnya Chan pergi dahulu meninggalkan Gav.


Alvi berdiri di balkon, terlihat dari bawah, bahwa Gav sedang ada diluar rumah menatap dirinya. Alvi hanya memandang sinis, rekaman dalam memorinya kala itu masih teringat jelas. Sungguh, Alvi tidak bisa untuk melupakan kejadian itu. Dan sekarang pria itu, mengemis dirinya untuk kembali.


Alvi masih sangat ingat, bagaimana dulu ia juga mengemis cinta kepada Gav. Lucu jika itu hanya dianggap sebuah kenangan remaja sebagai sebuah kepedihan, meski nyatanya memang itu pedih.


Kini, Alvi melihat orang yang dulu menghina dan membuatnya mengemis cinta, berbalik menjadi yang mengemis cinta kepadanya. ‘percuma’ batin Alvi.


“aku mohon beri kesempatan padaku untuk memperbaiki segalanya” teriak Gav dari bawah.


Alvi berjalan pergi dari tepi balkon, ‘apa ia benar-benar tidak mau berbicara terhadapku’ batin Gav menerka-nerka.


“apa yang akan kau perbaiki sudah menjadi debu, dan pergi terbawa angin” Ujar Alvi yang sudah berada di depan pintu terbuka.


“pergilah ! sudah aku katakan bahwa aku tidak memiliki hati” sambung Alvi, sebelum ia masuk kembali dan menutup pintu.


Gav menatap nanar pintu yang sudah ditutup dengan bantingan, terlihat jelas bahwa yang ada di mata Alvi, dirinya seseorang yang dibenci. “baik, sekarang biarkan aku melakukan sesuai dengan keinginanku” ucap Gav meninggalkan mansion itu.


🐬🐬🐬


Maaf, jika beberapa hari kedepan tidak publish. bukan karena apa-apa, laptop Dhie sedang proses pembedahan, huhuhu😭😭 dan bab yang sudah Dhie buat masih Ter save di laptop.Hanya Soft file ini, yang terakhir Dhie punya di Hp.


Dhie akan kembali jika laptopnya sudah sehat, tidak masuk angin. do'akan tukang service nya cepet sembuh, soalnya tukang service juga sedang sakit. So, butuh waktu buat benerin laptop kuh🤐

__ADS_1


__ADS_2