
Bukan karena kamu, tapi karena aku
Yang memilih untuk menentukan takdir hatiku
Dalam gubahan yang ku sempurnakan
Namun, semuanya sudah berlalu nan sia-sia
-Dhie
🐬🐬🐬
Action !!
Vina memasuki mansion dengan mengendap-endap, ia takut ketahuan oleh kakak angkatnya. Ia akan benar-benar gila jika harus di interogasi kakak semata wayangnya itu.
Perlahan tapi pasti ia membuka pintu dapur tanpa menimbulkan suara. Sepatutnya ia merasa bersyukur ketika kondisi rumah sepi, mengingat ini sudah tengah malam. Vina mempersiapkan diri untuk berlari menuju kamarnya.
“ehemm.. dari mana kau El ?” ucap seseorang di sebrang yang terselimuti kegelapan malam.
“eh... Kak Al, ketahuan ya ?” bak ketahuan sedang mencuri makanan, Vina gugup ketika rencananya tidak berjalan mulus.
Ceklek..
Albert menekan Saklar lampu untuk menerangi dapur, lebih tepatnya untuk memulai interogasi. Perlahan ia duduk di kursi maja makan, dan menyesap secanngkir kopi hitam.
“kau belum menjawab pertanyaanku ?” Albert memasang wajah garangnya.
“supermarket Kak” cicitnya.
“Lalu ?” Albert menaikkan satu alisnya.
“tadi aku dikejar orang-orang tak dikenal, tapi untung saja aku selamat” jawab Vina dengan memainkan jarinya.
Brakk..
__ADS_1
Albert menggebrak meja sampai kopi disampingnya tumpah, ia langsung berlari mendekati Vina. Memutar-mutarkan badannya untuk mamastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja.
“Ayolah kakk, aku masih sempurna dan tidak lecet sekalipun” rengek Vina.
“syukurlah, sekarang pergi tidur.” Titah Albert dengan tegas
Vina yang mendengar ucapan Albert langsung lari tunggang langgang tanpa menoleh. Ia sangat takut jika harus berhadapan dengan Kakaknya saat berada dalam mode seperti itu.
🐬🐬🐬
Pagi yang cerah dan suasana hati sangat indah, Vina keluar dari kamarnya dan menapaki anak tangga. Hari ini adalah hari minggu, hari yang selalu dinantikan vina. Tidak ada Klien, tidak ada berkas, dan tidak ada sekretarisnya yang bawel.
“kak.. aku pergi ketaman dulu untuk jogging”
Vina sedikit berteriak mengingat Albert berada dibalkon lantai dua. Ditemani dengan sepatu nikenya, ia menyusuri jalan dengan sedikit berlari-lari kecil menuju taman.
Terlihat seseorang yang tak asing baginya...
“hey Ivan !!” Vina melambaikan tangannya dan Ivan yang melihatnya juga membalas lambaiannya. Vina yang mendapatkan respon dari Ivan langsung berlari untuk mendekatinya.
Duarr..
Duarr..
Punggungnya terasa sakit karena terbentur pohon, kakinya terasa nyeri seperti sedang keseleo. Ia merangkak berusaha untuk bangkit tapi tiba-tiba badannya melayang karena seseorang yang menggendongnya.
“Ivan !! turunkan aku..” pinta Vina karena ia tak tega melihat keadaan Ivan yang sudah berantakan. Mungkin karena serangan tiba –tiba tadi, ia terkena imbasnya.
Ivan berlari dengan vina yang terjaga dalam gendongan. Sesekali Ivan menghindar karena tembakan yang dilesatkan oleh penyerang. Tak bisa dipungkiri bahwa Vina merupakan beban dalam aksi ini.
Namun Ivan tetap mempertahankan Vina meski berkali-kali ia hampir terlepas dari tangannya. Ia tak memperdulikan Vina yang dari tadi merengek untuk ditinggalkan.
Mobil berwarna hitam datang, Vina lega bahwa bantuan telah tiba. Tiga Bodyguard dan seseorang yang selalu menjaganya keluar dari mobil itu.
Mungkin karena jarak taman dan mansion cukup dekat sehingga suara ledakan itu membuat Albert datang untuk memastikan keadaan. tak dapat dihindari..
__ADS_1
Terjadilah baku hantam dari dua kubu yang berbeda ?!
Dorr..
Dorr..
Suara-suara itu telah memekik telinga, Ivan masih menggendong Vina ala bridal syle padahal ia membantu para Bodyguard dan Albert untuk menyerang. Ketika mereka hampir menang –
Dorr..
Peluru melesat kearah Vina, sontak Albert langsung was-was.
“Tidakkk !!” Vina menjerit,
Bukan karena dirinya yang terkena tembakan, tapi orang yang menggendongnya. Mengingat bahwa Ivan sempat memutar posisi untuk menadahi sebutir peluru.
Dorr..
Albert melepaskan tembakan untuk penyerang yang sempat melesatkan peluru tadi. Sedangkan Vina sudah terjatuh karena Ivan tak memiliki tenaga akibat peluru yang bersarang dipunggung.
“Tidakk.. kumohon bertahanlah” Rintih Vina sebelum Pemuda itu tak sadarkan diri.
“bertahanlah demi aku.. ku mohon” Vina memeluk badan yang sudah terkulai lemas itu.
Gadis bermanik biru itu telah menumpahkan air matanya kembali, setelah kepergian sang ayah sebelumnya. Mungkin baginya pemuda yang sekarang berada dalam dekapannya bukanlah orang asing.
Pemuda itu datang ketika ia telah kehilangan sosok sang ayah yang sangat ia banggakan. Gadis itu tak akan sanggup jika pemuda yang sekarang telah terkulai lemas akan meninggalkannya juga.
Terlalu naif untuk pemikiran yang tidak masuk akal, tapi itulah kenyataan akan apa yang ditakuti Vina sekarang. Bukan mengada-ngada bahkan melebih-lebihkan, namun ia benar-benar takut.
Mungkin gadis itu sadar bahwa ia telah jatuh cinta untuk pertama kalinya. Rasa takut kehilangan menyeruak dalam dinding hatinya, rasa yang ingin berada selalu disampingnya telah berkutat dalam fikirannya.
🐬🐬🐬
Enjoy aja dulu, jangan tegang dulu.. hehe, ini masih awal okay😅
__ADS_1
Like, Coment, and Subscribe yes🤗🤗