Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 10 : `Hancur kembali`


__ADS_3

Haruskah sekarang kurayakan ?


Supaya dunia tau bahwa saat ini aku sedang dihancurkan !


-Malvinae


🐬🐬🐬


Sejak hari itu, Vina menjadi orang yang tertutup. Ia lebih sering mengurung dirinya dikamar, kadang menangis, kadang marah tidak jelas. Gadis itu terlihat seperti ‘gila’ karena kondisi mentalnya tidak stabil.


Albert sendiri pun tak bisa melakukan apapun, miris untuk sebuah kehidupan yang harus Vina tanggung jika seperti ini. Jika diibaratkan bahwa permainan ular tangga adalah kehidupan, dadu adalah sebuah keputusan, dan pemain adalah manusia.


Dan kalian tau ? jika kita mengocok sebuah dadu dan menimbulkan angka, maka angka itu akan menunjukkan langkah kita. Hasilnya ? kita hanya bisa pasrah, tangga atau mulut ular ?!


Semua ini berawal dari keputusan Vina yang bisa dianggap ‘kliru’.


“Vina, turunlah.. mari kita makan bersama, tidakkah kau kasihan pada nyawa yang sedang dalam perutmu ini ?” ucap Albert dengan lembut, sambil mengelus perut Vina yang tengah mengandung dua bulan.


Vina hanya diam, pandangannya kearah luar jendela. Wanita itu kembali menangis tanpa suara. Tangannya mulai ikut mengelus perutnya yang sudah membuncit.


“apa yang akan ku katakan pada anak ini jika ia sudah besar Kak Al ?” ia mulai angkat bicara setelah dua bulan lamanya.


“bagaimana jika ia mempertanyakan dimana ayahnya ? apakah aku harus menjawab bahwa ayahnya adalah pria brengsek yang tau malu ?!” sambungnya.


Albert memutar tubuh Vina, kedua tangannya memegang pipi dan mendongakkan wajahnya agar mata mereka saling bertatap. “ada kakak disini ! akan ku buat jagoan kecil kita tidak merindukan ayahnya”


Jempol Albert menghapus air mata Vina “don’t worry babby, kamu kuat demi jagoan kita” lanjut Albert meyakinkan.


Vina tersenyum kembali, ia merasa bahwa saat ini bukan waktunya untuk terpuruk terus-menerus. Yah.. ia harus berdamai dengan masa lalu, ‘mungkin’. Vina turun bersama Albert menuju meja makan.


Para maid pun ikut senang ketika nonanya sudah mau keluar dari penjara yang dibuatnya sendiri. Tak jarang para maid memberikan sapaan yang diberikan untuk Vina, dan wanita itu membalas sapaan.


“kak Al.. aku ingin jalan-jalan, apakah kau mau menemaniku ? aku takut.” Ucapnya seraya menundukkan wajahnya.


“apapun yang kau mau El”

__ADS_1


Hari ini Albert akan menyetujui apapun yang diinginkan Vina. Hal yang merupakan sebuah kesempatan pikirnya, tatkala Vina sudah mau membuka dirinya kembali untuk dunia. ‘walau’ ia masih memiliki trauma yang tidak bisa langsung disembuhkan bahkan hilang dalam sekejab.


Kini mereka sudah ada disebuah mall, berbelanja apapun yang diinginkan Vina. Terkadang ada bisik-bisik yang mengira mereka adalah pasangan suami istri. Tak apa, jika itu membuat Vina tak terlihat buruk dimata orang lain : pikir Albert.


Sungguh Albert bersyukur, gadis kecilnya kini sudah mau tertawa dan tersenyum meninggalkan ketakutan yang selama ini ia tampung sendiri. Setidaknya hari ini, El kecilnya mengurangi rasa itu.


“kak Al, aku mau jam tangan” rengek Vina yang sedang bergelayut manja.


“semuanya untukmu baby”


Mereka mengunjungi sebuah toko jam yang memiliki harga selangit. Gadis itu memilih-milih jam yang berwarna gold dengan berlian yang menjadi hiasan dipinggir jam. Dicobanya jam itu, untuk meyakinkan pilihan yang akan ia beli.


“perfect” kata Vina ketika jam itu sudah melingkar indah ditangannya.


Ketika Vina dan Albert sudah selesai dengan urusan sebuah jam tangan, tak sengaja : Vina melihat seseorang yang dapat menyesakkan dadanya kembali. Wanita itu mendekati seorang pria yang merangkul pinggul seorang wanita yang Vina sendiri tau siapa dia.


Ditariknya tangan wanita tersebut menuju kesebuah ruangan khusus merokok. Tujuan Vina hanya satu, menyelesaikan masalah yang kini sedang didapatinya. Dan ia tak mau menjadi pusat teater di tengah-tengah mall.


“Meisya !! kau memiliki hubungan dengan pria brengsek ini ?” ucap Vina dengan menunjuk seorang pria yang baru membuka pintu.


‘sakit’ ia merasakan kembali, ketika ia sudah berusaha berdamai dengan masa lalu. Tapi seperti masa lalu enggan berdamai dengannya, berkali-kali ia mencoba untuk melupakan segalanya.


Kematian ibunda, kematian sang ayah, kematian calon kakak iparnya, kehancuran yang dilakukan kekasih. Kekasih ?? no, dia hanya seseorang yang tak menganggap keberadaan Vina. Dan sekarang ?? ternyata sahabat karibnya merupakan seorang kekasih pria brengsek yang ia benci.


“sudah berapa lama Sya ?” tanya Vina memastikan, ia tak mau salah ambil langkah untuk kedua kalinya.


“baru empat bulan” Meisya menjawab singkat. Vina merubah pandangan terhadap sosok yang selama dua bulan ini membuat ia frustasi.


“kau merencanakan semuanya dengan tepat Gav. hahaha !” Vina tertawa hambar .


“Kau tau bahwa aku sangat mencintaimu, yah.. katakan aku bodoh karena sudah kau peringatkan. Tapi aku sudah terlanjur !” ucap Vina, kedua tangannya merapal kuat di jas abu-abu milik Gav.


Kali ini Vina tidak menangis, ia sedang meluapkan amarahnya. Bahkan dengan berani Vina menatap mata Gav dengan tatapan tajam. Hal yang tak terduga, Vina mengeluarkan senyum miringnya. ‘berbeda’ itulah yang dirasakan Albert kini, yang dari tadi hanya menonton tak mau menganggu adiknya yang sedang meluapkan emosi.


Plakk

__ADS_1


Gav mengeluarkan kilatan matanya, kali ini Vina dengan berani menamparnya, namun dia masih diam dan berusaha mengendalikan emosi. Meisya hanya bungkam, tidak ada penjelasan yang ingin ia sampaikan.


“tidak semuanya yang ada dimimpi itu terjadi Gav. Aku tau itu !! namun aku berharap salah satu mimpiku itu terkabul” Vina meninggikan suaranya, namun masih dalam kondisi terkontrol.


“kau adalah mimpiku setiap malam, menjadi penguat hati untuk menghadapi esok. Sungguh aku menanti itu ! Namun aku sadar bahwa itu hanya sebuah mimpi yang tidak bisa aku prediksi” suara Vina mulai menurun.


“katakanlah sekarang aku gila, aku memang gila Gav. Seharusnya aku sekarang membencimu, sungguh aku sangat ingin membencimu. Tapi aku tak sanggup, kenapa ?”


“bahkan ketika seharusnya aku memakimu, lidahku terasa kelu.” Sambung Vina.


Vina kini melirik Mesya yang hanya diam “dan kau ! selama ini kau mengetahui apapun tentang hidupku, tapi kau menusukku dari belakang. Pengkhianat !!” Vina menatap tajam dan dingin terhadap sahabatnya itu, ralat ‘mantan sahabat’


“Vina aku...” ucapan Meisya terpotong.


“aku tidak butuh penjelasanmu Sya” Vina hendak menampar Meisya namun tangannya dicekal oleh Gav dan terdorong jatuh cukup keras. Hal itu karena kekuatan Gav lebih besar ketimbang Vina.


“pergi !” satu kata yang keluar dari mulut Gav. Setelah ribuan kata yang sudah Vina ucapkan. sebenarnya hati kecil Vina masih berharap kepada Gav. Namun sepertinya ia tidak dilirik sama sekai.


Vina langsung meringis ketika perutnya terasa nyeri, Albert dibuat panik saat terlihat kakinya seperti sebuah pipa aliran darah. Vina langsung berdiri tidak memperdulikan sakitnya, ia keluar dengan tertatih meninggalkan bercak jejak kaki kiri berwarna merah karena sepatu hilss nya ia lepas.


“jika terjadi apa-apa pada Calon bayi Vina, akan ku buat kau menderita !” tegas Albert kepada Gav.


Albert berlari mengejar Vina meninggalkan Gav yang masih berfikir mencerna ucapan yang terucap barusan. Meisya yang langsung memahami apa yang tertadi langsung terkejut. Sungguh ini bukan suasana yang Author sukai...


Ketika Gav langsung menyadari perkataan Albert, ia langsung berlari mengejar Vina, si wanita yang sedang terluka. Ia keluar dari mall, terlihat Albert hendak menyebrang mengejar Vina yang sudah di jalur kedua.


Brakkkk......


‘terlambat’


🐬🐬🐬


maaf jika ada Typo😅


sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah semata, Dhie hanya berusaha sebaik mungkin🤗

__ADS_1


thank you 😘


__ADS_2