Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 6 : `Tragedi Masa Lalu`


__ADS_3

Saat ini semuanya telah senyap


Bayang masa lalu, menjadi kenangan


Dan menjadi sebuah ketakutan


-Dhie


~ ~ ~


Dalam sebuah ruangan yang dengan gaya eropa klasik yang pekat, terdapat beberapa orang yang sedang menunggu seseorang yang besar. Tak perlu menunggu lama, sepatu pantofel telah terlihat dari ambang pintu.


Sebelum detik terakhir sepatu itu menapaki lantai di depan pintu, terlihat orang yang menunggu tadi langsung membungkuk. Orang besar itu terlihat berjalan sangat tegap, matanya yang tajam dapat menjangkau seluruh ruangan.


Nampak salah satu diantara orang yang menunggu tadi menghampiri, membungkuk sebelum ia angkat bicara dengan orang besar itu.


“selamat malan Tuan Gav, kami siap melaksanakan perintah”


Orang yang dipanggil Tuan Gav itu pun langsung mengangguk, tangannya memberi kode untuk mundur. Laki-laki itu mundur memenuhi perintah tuannya, pandangannya sedikit menunduk untuk patuh.


Tuan Gav duduk disebuah kursi kebesarannya, kaki kanannya ditekuk, tersangga kaki kirinya. Salah satu tangannya memegang sebuah gelas wine yang sudah terisi penuh.


“Aku suka kerja kalian saat penyerangan itu, kurasa kalian dapat kuberi hadiah tambahan”


Tuan Gav mengocak rendah gelas Wine tersebut, sebelum ia meneguknya sampai tandas. Kepalanya mendongak keatas menatap langit-langit ruangan itu, sepersekian detik ia menutup matanya.


|| Flashback On ||


Dalam sebuah pertemuan antara dua sahabat yang sekarang berseteru, ruangan itu telah menjadi saksi bisu.

__ADS_1


Nampak dua orang paruh baya sedang berbincang santai, namun yang dibicarakan adalah pembicaraan panas.


Masing-masing terlihat sangat was-was namun berhasil ditutupi oleh ekspresi mereka yang tenang.


“Van.. apa yang kau inginkan ?” Ucap salah satu orang yang sedang mengepulkan asap rokok.


Orang yang dipanggil Van itu meletakkan kartu yang akan dikocok “Slow brother.. tunggulah putramu dahulu, biarkan aku melihat calon penerusmu”


“ada sesuatu dibalik  ucapanmu Van !” Sergah orang yang masih memegang seputung rokok.


“aku suka kepekaanmu Dev” kekehnya.


Tak lama muncul seseorang yang masih cukup muda, dengan jas yang melekat pas dibadannya. Rambutnya sedikit panjang tapi sisi kanan kirinya telah terpotong rapi


Sebuah anting berbandul berlian kecil berwarna ungu, tergantung di telinga kirinya. Senyum miringnya merupakan awal dari pesona yang ditunjukkan kepada dua orang yang duduk disana.


“Kurasa ini sudah waktunya aku mengutarakan keinginanku Dev” ucap Van dengan sangat santai


“aku ingin lahan Ganjamu Dev !” sambungnya.


“itu sekarang milikku tuan” Gav angkat bicara “aku tidak akan memberikannya padamu” desisnya.


“maka biarkan aku merebutnya..” sanggah Van, sebelum ia mengeluarkan pistolnya untuk menembak Gav.


Dorr..


Peluru yang melesat telah mengenai seseorang, bukan sasaran awalnya. Tapi orang lain yang terkena. Dev ! telah menghalangi laju peluru itu sebelum mengenai putranya.


Gav membulatkan matanya ketika sang ayah berada dihadapannya.

__ADS_1


Dorr..


Dorr..


Dev membalas tembakan, dua peluru dilesatkan dan berhasil mengenai titik kehidupan. Van tergeletak tak berdaya, hanya seper sekian detik laki-laki itu telah tewas.


Sedangkan Dev ?


Meninggal setelahnya –


|| Flashback Off ||


Masih dengan orang yang sama, Gav membuka matanya ketika ia terngiang kejadian, dimana ayahnya telah meninggal dihadapannya. Emosinya tersulut ‘sebentar lagi aku akan mendapatkannya’  batinnya.


“Wah.. wah.. kau sedang meneguk minuman tapi tidak mengajakku ?” sergah seseorang yang baru saja muncul.


Gav langsung melirik orang yang berani menganggunya, ia hendak menarik pelatuk dari sebuah pistol yang tersimpan dibalik jas nya. Namun semua itu diurungkan ketika tau siapa yang datang, Evano (kepercayaannya).


“berita apa yang kau bawa ?” Gav, to the point


“tidak ada yang spesial, hanya pelacakan tentang gerak gerikmu saja. Tapi aku sudah menyelesaikannya” Evano menuang wine kedalam gelasnya.


“Albert ?”


 Evano mengangguk “Siapa lagi kalau bukan dia, menyuruh anak buah untuk melacak dirimu”


 “huh anak buah ?” Gav tersenyum miring, meremehkan “akan kulihat sampai mana ia mampu” lanjutnya.


~ ~ ~

__ADS_1


__ADS_2