Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 20 : `Kibarkan Panji Peperangan`


__ADS_3

Inggris, 29/10/20XX, 20 : 17


Ditempat ini telah banyak orang-orang yang menginkan sebuah kemenangan. Terlihat Jack, Girvin dan Alex sudah tidak sabar untuk berperang. Mungkin saja suatu saat tempat ini akan mejadi sejarah. Di sebuah tempat yang sangat luas, dan rahasia, jauh dari tempat keramaian atau bisa dikatakan didalam hutan terdalam.


Alvi sendirilah yang akan menjadi pemimpin kali ini, berhadapan dengan Girvin yang membawahi 20.000 pasukan. Sedangkan Alvi hanya terlihat membawa pasukan biasa dan B-07. Dengan persiapan yang dikatakan cukup, peperangan ini tak bisa dihindari.


Kelompok pertama dalam peperangan ini telah dimulai. Girvin memberi aba-aba kepada 7000 pasukan sebagai penyerang pembuka. Dan Alvi hanya memberikan aba-aba kepada pasukan biasa untuk menerima penyerang pembuka, dengan jumlah 2000 pasukan saja.


“haha... apakah kau sudah putus asa Nona ?” ucap Alex dengan tawanya yang bangga.


“hey ! tidak kah kau tau Alex ? dia sedang ingin membuka pintu kematian untuk dirinya sendiri” ejek Jack.


Alvi hanya tersenyum manis, serta bersantai. Bersikap seolah ini bukan peperangan yang besar. Melainkan seperti melihat sebuah bioskop bergenre Action, Yang patut dinikmati keseruannya. Dengan gayanya yang membawa payung hitam, tersenyum puas.


Terlihat pasukan penyerang pembuka sudah melancarkan aksinya dengan gas air mata, dengan beberapa sniper yang sudah siap untuk menembak pasukan penerima milik Alvi. Bukan pasukan milik Alvi namanya jika mereka mundur hanya dengan teknik rendahan seperti ini.


Beberapa diantara pasukan penerima, melemparkan bom mini dengan berat 2 kg, sebesar kepalan tangan, namun ledakan bisa menewaskan 200 orang di sekitar area bom. Bom ini merupakan hasil karya Alvi sendiri selama 3 bulan lamanya untuk meriset, bernama ‘deadly explosion’.


Duar..


Duar..

__ADS_1


Ledakan demi ledakan terjadi, Alvi tersenyum puas. Sedangkan Jack dan Alex sudah tidak senang, kesalahan mereka dalam peperangan ini hanya satu, yakni meremehkan. Girvin pun mulai memberikan perintah untuk melakukan teknik kedua kepada pasukan penyerang.


“apa yang akan dilakukan bajingan tengil itu” ucap Alvi kepada Faye yang sedari tadi berada disampingnya.


“dari gerak gerik mereka, sepertinya mereka hendak mengecoh lawan. Entahlah nona, aku tak yakin”


Alvi mulai mengamati keadaan dengan cukup serius. Sorot matanya mulai bergerilya, menerka apa yang terjadi dalam pertempuran kali ini. Pasukan Girvin yang tinggal tersisa 4000 orang ditambah menjadi 12.000, membentuk sebuah formasi perang.


“phalank, formasi yunani kuno. Dengan sedikit perbaikan huh” kekeh Alvi.


Pasukan Alvi yang tinggal tersisa 1300 ditambah menjadi 3000 orang, tidak ada formasi dari pasukan Alvi. Mereka tetap menjalankan bom ‘deadly explosion’, karena sebentar lagi kejutan akan datanng.


Dalam wilayah ini meskipun pemerintah mengetahui apa yang sedang terjadi, mereka tidak akan berani ikut campur untuk sekedar melerai. Resiko bagi pemerintah akan timbul jika ikut terlibat, sehingga mereka lebih memilih diam.


Tak lama, serangan dari udara muncul. Siapa lagi kalau bukan milik Alvi. ‘bodoh, di jaman modern seperti ini malah memilih rencana kuno. Yah, aku tau kalau Girvin itu sudah kuno’ batin Alvi yang membuat dirinya sendiri tertawa.


Duar..


Duar..


Peluru dari pesawat tempur mulai meluluh lantahkan formasi Phalanx. Girvin mulai panik, Alex dan jack pun mulai menciut. Akhirnya Girvin menyuruh sisa pasukan untuk menyerang serentak dengan menggunakan meriam.

__ADS_1


Sekali lagi mereka telah kalah telak, 2 menit pasukan Girvin telah habis tak bersisa. Tiga komplotan itu pun sudah berusaha melarikan diri, namun berhasil tertangkap. Dengan segala upaya mereka berusaha untuk meminta ampunan.


“sayangnya aku tidak mau mengampuni kalian, demi perang ini aku mengeluarkan banyak uang. Setidaknya biarkan aku memiliki keuntungan.” Alvi tersenyum kemenangan.


Mereka terbunuh hari itu juga dengan katana milik Alvi. Pasukan yang keluar dalam perang ini hanya pasukan biasa, dari 12.000 orang menjadi 10.000 orang. Aset tiga komplotan pun telah menjadi milik Alvi sekarang, kekuasaannya pun bertambah.


Alvi pun memberikan pemakaman yang layak untuk pasukan yang telah mati, dan memberikan jaminan yang besar untuk keluarga yang ditinggal. Ini adalah hal biasa bagi Alvi, memberikan kehormatan lebih bagi mereka yang setia. Dan memberikan kematian sebagai hadiah bagi mereka yang berkhianat.


“huft.. tontonan yang menarik” ujar Alvi.


Pada perjalanan pulang, Alvi menyulut rokok miliknya. Dengan senyum kemenangan yang masih melekat dan bayang-bayang peperangan barusan yang masih berputar. Namun bayang-bayang itu mulai terhenti, karena sorot mata Alvi melihat seorang gadis kecil yang berumur kurang lebih 6 tahun.


‘kenapa dihutan terdalam seperti ini ada seorang gadis kecil’.


Alvi mulai mendekati gadis itu yang sedang membawa kayu bakar, dengan pakaiannya yang lusuh.


“hey nak.. dengan siapa kaau disini ?”


Gadis itu pun memandang wajah Alvi “sendiri, ibuku sudah meninggal beberapa hari yang lalu” Gadis itu mulai terisak.


“siapa namamu hem ?” Alvi bertanya, jari telunjuknya mengangkat dagu milik gadis itu yang sudah mulai menunduk karena tangis.

__ADS_1


“Clarissa Deolinda” jawab gadis itu disela isak tangis nya.


“ikut aku, ingat ! sekarang namamu Clarissa Morgana Erinyes” Ucap Alvi dengan menggandeng Clar.


__ADS_2