
Aku berdiri melekat, memandangan bayangan sendiri
Seolah bermonolog, tapi memang iya..
Dalam seruan batin yang sedang tersapu badai..
Hey diriku sendiri..
Aku sedang mencinta, pada seseorang
Satu nama..
Disana.. yang tertulis dalam sepucuk surat
Tersimpan dilaci hati, untuk pertama kalinya..
-Dhie
š¬š¬š¬
āAn.. aku sudah lelah, kau telah mengajakku berkeliling tadiā Vina mendorong sebuah kursi roda yang sudah diduduki seorang pemuda.
āberistirahatlah El, aku tadi hanya sedikit bersenang-senangā kekeh Ivan
ābaiklah Tuan An, sekarang tunjukkan dulu dimana kamarmu ?ā tanya Vina ditambah dengan senyum manis.
āapa kau mau menggoda ku ?ā Ivan menunjukkan wajah yang sulit di artikan
__ADS_1
Pletakk
(tau kan ini suara apa ? :D)
āberhentilah bicara omong kosong An, aku hanya memastikan kau tidur saja.ā Jawab Vina dengan wajah serius.
āhahaha.. tak perlu se-serius itu El ! aku bukan orang yang selalu serius akan sesuatuā bela Ivan dengan dua jari yang membentuk huruf V.
āDimana kamarmu An ?ā bisik Vina seperti hantu yang sedang berkeliaran meninggalkan hawa yang membuat orang merinding.
Ivan yang mendapat perlakukuan seperti itu membuat ia gelagapan. Bukan karena hawa yang membuat orang merinding, tapi hawa yang membuat Ia merasa Gusar..
tau kan ya maksudnya ? :v
ābaiklah.. di lantai empat, pintu berwarna hitam, dengan tulisan : Iām Ivanā jawab ivan dengan mengusap telinga kanannya.
Mansion itu tetap indah meski warna yang dipakai bukanlah warna yang cerah. Semuanya menggunakan warna gelap yang berbeda namun terlihat maskulin, sangat nyaman dipandang.
Berbagai miniatur senjata juga tertempel di berbagai sudut ruangan, mungkin dalam pemikiran Vina : Pemuda itu adalah seorang gamer. Ditambah dengan banyak pigora berwarna hitam dan abu-abu, menjelaskan sebuah keluarga yang lengkap dan harmonis.
Entah sekarang dimana mereka ?!
Vina merasa bahwa rumah ini memiliki banyak rahasia āah.. mungkin lain kali aku dapat bertanyaā dalam fikirnya. Hingga kursi roda itu berhenti dihadapan sebuah pintu hitam.
Sebuah pintu yang bertuliskan : Iām ivan. āapakah pintu ini bernama Ivan juga ?ā sebuah pemikiran konyol yang terlintas dalam otak gadis bersurai hitam itu.
Segera pintu itu dibuka menampilkan sebuah kamar bernuansa hitam-biru dongker, dengan ranjang king size, serta beberapa Wakizashi (pedang kecil sekitar 30 cm dari jepang) terpampang di kotak persegi, tertempel di dinding kamar sebelah barat.
__ADS_1
āwow..ā satu kata yang terlontar dari mulut Vina setelaah memasuki kamar itu.
āini menakjubkan Ivanā sambungnya.
Kursi roda itu didorong masuk sampai didekat sebuah ranjang dengan seprai berwarna Hitam. Ivan berdiri dan menuju kasur empuknya itu, luka bekas tembakaan dipunggungnya terlihat masih basah.
Vina membenarkan posisi Ivan dengan hati-hati, ia menarik selimut sampai batas pusarnya. Ia mengelus puncak kepala Ivan seperti menidurkan seorang anak balita.
Ketika dirasanya Ivan sudah tertidur...
āentahlah An, aku merasa bahwa kau terlalu misterius.ā Monolog Vina dengan tangannya yang masih mengelus puncak kepala.
āaku takut bahwa aku akan jatuh dalam cintamuā Vina memberhentikan tangannya.
Gadis itu mendekati ceruk leher Ivan
ātapi Aku sudah terlanjur mencintaimuā bisiknya.
Gadis itu meninggalkan ranjang king size itu dengan seorang pemuda yang sudah terlelap. Sebelum ia meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya, Ia menghembuskan nafasnya.
āSelamat Malam Anā
š¬š¬š¬
Pendek amat ya ? heheh.. biarkan, Ini sudah malam.. kek nya Dhie lagi kena Insomnia tapi gabut, terus pengen buat cerita..
eh, pas otw buat nggak jadi insomnia š gaje bet deh nih insomnia š¤
__ADS_1
jadi sorry for your's karena part-nya pendek..