Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 9 : `Puncak Kehancuran Hati`


__ADS_3

*Jika hati adalah sebuah patokan


Biarlah itu tertancap dalam..


Karena aku terlalu lemah untuk mencabutnya.


Namun kamu ?!


Dengan berbangga diri telah memotongnya.


Dasar bajingan...


-dhie*


🐬🐬🐬


Vina terlempar diatas ranjang, dengan sudut bibir yang masih berdarah. Tangan dan pundaknya membekas sisa cengkraman Gav. Gav mendekatkan diri kearah Vina dan merobek kaosnya, tak perduli bagaimana Vina memberontak, Gav berhasil membuatnya telanjang.


Gav melakukannya dengan sangat kasar, hanya jeritan dan tangisan yang keluar dari mulut Vina. Banyak lebam yang menghiasi tubuh Vina, badannya terasa remuk, tapi hati dan mentalnya ? lebih terpuruk.


“apa kau tau El ? kenyataan bahwa meninggalnya ayahmu adalah dibunuh oleh ayahku” tatapannya mulai meredup “tapi, itu salah ayahmu yang serakah”


Vina hanya bisa menangis, sungguh. Bukankah kamu tau ! bahwa yang paling meyakitkan adalah disakiti oleh orang yang terdekat ? sama ketika seandainya dirimu sudah berada dalam mode mencinta hanya kebahagian yang kamu rasa..


Tapi terkadang kamu lupa, bahwa ‘cinta dan luka’ adalah twins yang berbeda kata, berbeda rasa, tapi memiliki kedekatan yang sempurna. Ketika kamu menerima cinta, bukankah luka juga seharusnya kamu terima ?


Dan inilah Vina, melupakan luka yang seharusnya ia siapkan sebelum mencinta.


“El, apakah kamu tau ?! bahwa adikku juga mati ditangan ayahmu” kilatan mata Gav sudah menyala.


“Biarkan sekarang aku memberimu kematian El !” seringainya.


Kini sebuah harga diri yang sudah terinjak kemudian terlempar menjauh. Harga diri itu sudah berada diambang kehancuran. Bukankah kalian tau ?! Bagi seorang wanita, diri sendiri aset berharga melebihi apapun.

__ADS_1


Wanita itu, telah terkulai lemas diatas ranjang. Meringkuk seperti sebuah janin yang butuh kehangatan. Hatinya sudah terlebur, kali ini cukup. Ia membenci pria brengsek itu, pria yang sebelumnya ia tunggu.


Vina menatap tubuhnya sendiri yang sudah telanjang, pria brengsek itu telah mengotori tubuhnya dengan paksa. ‘najis’ yang kini ia pikirkan terhadap tubuhnya sendiri.


Ia memukul dadanya sendiri, berharap nyeri yang ia rasakan dalam hatinya pergi. Tapi bukankah itu mustahil ?


“kakak..” sang wanita turun dari ranjang berbalut selimut yang menjadi saksi kehancurannya.


Vina menatap lekat mayat kakaknya, Khansa. Tidak perduli rasa nyeri pada kewanitaannya akibat hujaman berkali-kali. Ia tetap berusaha mendekati tubuh yang sudah tak bernyawa itu.


“i’m so sorry, sorry because i can’t protect you” isaknya.


(aku sungguh minta maaf, maaf karena aku tak bisa melindungimu)


“hahaha.... he even has destroyed me” ujarnya sambil membelai lembut wajah kakaknya yang cantik.


(dia bahkah telah menghancurkanku)


“even we look pathetic now” Vina menempelkan keningnya ke kening Khansa.


Sang wanita masih merengkuh seseorang yang hanya meninggalkan raga. Isak tangisnya sudah tak terdengar, tapi air matanya masih belum surut. Wajahnya kembali melihat beberapa lembar foto diatas meja.


Foto yang menjijikkan, bagaimana tidak ? foto yang berisi ia sedang bercinta dengan Gav.


“jika kelak kau akan menikah, aku akan memberikan kado yang berisi foto ini pada calon suamimu.” -Surat dalam foto


Kata-kata itu bagaikan ledakan yang amat besar, mungkin dengan kata lain inilah kematian yang dimaksud oleh Gav. Tidak ada pernikahan, tidak memiliki sosok pelindung dimasa depan.


Akan menjadi seseorang yang terus dihantui oleh bayang-bayang masa lalu, menyedihkan. Vina menyobek foto-foto itu, ia sangat frustasi sekarang. Dilihatnya sebuah almari, Vina membuka pintu almari dan mengambil sebuah kemeja yang kedodoran serta boxer.


Ia tidak peduli pakaian apa yang ia pakai sekarang. Diambilnya sebuah kursi roda milik Ivan sebelumnya, perlahan ia mengangkat tubuh Khansa dengan hati-hati.


Disandarkannya pada kursi roda, “kita pergi sekarang kak..” didorongnya kursi roda itu. Teringat bahwa Ivan menyimpan kunci mobil dilaci, dan langsung mengambilnya.

__ADS_1


Dengan tatapan yang sulit diartikan, Vina melangkah keluar tak perduli pada maid yang menatapnya heran. Bahkan ia sendiri juga tak perduli dimana Pria brengsek itu !


Kosong ?!


Bisa diartikan pandangan matanya sekarang seperti itu. Tak ada senyuman, hanya air mata yang masih belum berhenti menetes. Vina ?! hanya seperti sebuah manekin yang berjalan. Seperti sebuah raga yang meninggalkan nyawanya, bukankah kalian tau bahwa ini adalah kematian yang sempurna ?!


Dibukanya pintu mobil, Khansa ia dudukkan di samping kursi sopir. Iris birunya menatap langit, ia masih menggigit bibir bawahnya. Kemudian ia kembali menatap Khansa yang sudah duduk lengkap dengan seat belt yang sudah terpasang.


Brummm


Vina meninggalkan mansion yang memberikan kedukaan, tidak ada kenangan indah yang terlintas sekarang. Yang ada hanya kekecewaan dan keinginan untuk mengantar kakaknya pulang.


“Jika nanti Kak Al marah, tolong pukul dia kak..” Vina terucap parau, seolah ia sedang berbicara dengan Khansa.


Tak terasa, sebuah mobil telah masuk dalam mansion megah berpagar hitam. Vina memberhentikan mobilnya, dan mendudukkan Khansa kembali ke kursi roda. Ia tau sekarang banyak Bodyguard yang menatapnya.


Ia juga tau bahwa mungkin Albert sudah mengetahui kedatangannya. Tidak ada tenaga, tidak ada kekuatan hati, musnah sudah. Sekarang ia harus menatap wajah kakaknya, dan entah apa yang akan ia katakan nanti.


Kursi roda itu berhenti dihadapan seorang laki-laki yang sedang berdiri tegas. Terlihat sorot matanya penuh dengan kesedihan dan amarah yang meminta penjelasan.


“Dia biadap kak Al” Vina berlari memeluk Albert.


Albert membalas pelukan sang adik dengan lembut. Sungguh miris bukan ? ketika sang kakak seharusnya mampu menjaga adiknya, ketika seorang kekasih memberikan janji keselamatan, kini semuanya hanya menjadi angan semata.


Albert telah gagal menjadi kakak dan kekasih diwaktu yang sama –


“apa yang dia lakukan El ?” tanya albert, tangannya masih mengelus lembut rambut panjang adiknya. Namun tatapannya hanya memandang kedepan, ia tidak tega melihat kekasihnya dan adiknya dalam keadaan mengenaskan.


“dia menjatuhkan harga diriku kak” Vina menangis sejadi-jadinya tatkala iia teringat kejadian itu.


Albert diam, ia tau sekarang apa yang terjadi. Terlambat ? itu adalah kata yang sekarang ia pikirkan. Ia terlambat untuk mengetahui rencana Pria brengsek itu. Pria itu semestinya sekarang sedang berpesta, telah berhasil membuat Vina dan Khansa meninggal, *meski dalam konteks yang berbeda.


🐬🐬🐬*

__ADS_1


Dhie minta maaf yang sebesar-besarnya jika masih belum bisa stabil publish-nya. minggu-minggu ini Dhie sedang UTS di kampus.


jika ada kekurangan mohon maaf😊


__ADS_2