Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 4 : `Pulang`


__ADS_3

Hey kamu !


Bawa aku kembali dari jurang kerinduan


-Dhie


🐬🐬🐬


Telah nampak seorang pemuda yang sedang berbaring diatas brangkar rumah sakit, ditemani dengan seorang gadis yang tidak berhenti untuk menangis. Mungkin gadis itu merasa terpukul atas apa yang menimpanya barusan.


Pemuda yang sekarang berada didepannya telah menyelamatkan nyawanya dua kali. Meski terkadang bahwa ia merasa aneh dengan pemuda itu, namun rasa itu ditepis jaauh-jauh oleh Vina.


“Van.. kumohon sadarlah”


“kumohon.. demi diriku” ucap Vina yang menggenggam erat tangan Ivan.


Gadis itu mendekatkan wajahnya untuk saling berhadapan “bangunlah An !” Ia menduselkan hidung mancung miliknya dan milik Ivan untuk saling bertautan.


“apakah kau tak menyukai panggilan dari ku ?” Vina masih menjaga tautan hidungnya, ia menyatukan kening masing-masing.


“An bangunlah” suara Vina terdengar parau.


Vina memeluk raga pemuda itu, ia terisak dalam dada bidang Ivan.


Sudah dua hari pemuda itu tak kunjung sadar, selama itu pula Vina diselimuti rasa bersalah. Berkali-kali Albert merayu Vina untuk pulang, tapi selalu gagal dan tertolak.


“hei.. apa kau fikir aku mati ?” terdengar sebuah suara yang lemah.


Vina yang mendengar ucapan itu langsung bangun dan menghapus air mata secara kasar. “jika kau tak kunjung bangun, aku akan yakin bahwa kau benar-benar mati”


Pletakk..


“Aughh... kenapa kau suka menjitak Vina ?” Ivan yang mendapat hadiahh kecil itu langsung memegang kening.


“karena kau gila An ! aku selalu disampingmu selama dua hari ini. Tapi kau tak pernah mengajakku bicara, kau pikir aku ini apa ?” Rajuknya dengan melipat kedua tangan.


“An ?” Ivan menyipitkan kedua matanya.


“yah.. itu panggilanku untukmu, anggap saja sekarang kau temanku yang spesial. Ehh..” Vina yang tak sengaja mengeluarkan sedikit harapannya langsung membekap mulutnya sendiri.


“aku suka panggilanmu, baiklah aku harus membalasmu bukan ?”


Vina yang tak faham apa yang diucapkan pemuda itu langsung memperlihatkan ekpresi wajahnya yang terlihat bodo “maksudmu ?”

__ADS_1


“aku akan memanggilmu Ela, bukan..bukan” Ivan mengetuk dagunya sendiri “Ahh.. El itu nama panggilan yang cocok bukan ?”


Vina yang mendengar itu langsung senyum “itu memang panggilanku dari kakakku pe’a “


Pletakk


“tapi aku mengizinkanmu !” sambung Vina setelah menjitak Ivan


Hari itu dokter mengizinkan Ia pulang, lebih tepatnya terpaksa mengizinkan. Namun dokter memberi syarat asal ia harus meminum obatnya dengan teratur, Ivan diperbolehkan pulang. Padahal Vina masih melarangnya untuk meninggalkan Rumah sakit dahulu.


Namun apa boleh buat ?


Vina mendorong kursi roda Ivan menuju sebuah mobil, Gadis itu akan merawat Ivan sampai benar-benar sembuh. Awalnya Albert tak mengizinkan gadis itu menginap di mansion Ivan. Tapi Vina mengancam bahwa ia akan kabur jika tidak diizinkan, jadi mau tak mau Albert memperbolehkan adik keras kepala itu.


“kau sudah kuperingatkan El” celetuk Ivan


Vina yang mendengar ucapan itu langsung memberhentikan kursi roda yang didorongnya.


“aku akan menyesal jika tidak merawatmu untuk sembuh Tuan ! kau sudah menyelamatkan nyawaku dua kali, biarkan aku membalas kebaikanmu. Dan berhentilah mengoceh, kau seperti seekor burung beo jika kau terlalu cerewet”


“hohoho.. lihatlah, kau barusan yang terlihat seperti burung beo Nona” jawab Ivan dengan seringainya-nya.


Pletakk..


Gadis itu melanjutkan mendorong kursi roda, tak butuh waktu lama Vina dibantu oleh beberapa Bodyguard memapah pemuda itu untuk masuk kedalam mobil. Sesekali mereka membicarakan hal yang tidak penting saat perjalanan.


Terkadang mereka saling mengejek satu sama lain, secara tak langsung Vina mulai manja dihadapan Ivan. Tak jarang Ivan menggoda gadis bermanik biru itu hingga merengek seperti anak kecil.


🐬🐬🐬


Dalam mansion keluarga Seth, seorang kakak sedang mengkhawatirkan adiknya. Seorang adik yang tidak tau apapun akan menjadi sasaran untuk membalas dendam.


Ini bukan fakta, melainkan masih sebuah praduga atau bisa dikatakan bahwa sang kakak memiliki firasat buruk.


Albert merasakan akan terjadi sesuatu yang menimpa adik kesayangannya, sejak kepergian sang adik untuk pergi merawat pemuda yang telah menolongnya.


Entahlah mungkin Albert merasaakan hal itu karena Vina tidak bisa secara langsung ia lindungi.


“Ezra ! tolong kau selidiki tentang ‘Dia’ secepatnya” ucap Albert dengan tegas kepada tangan kanannya sekaligus sahabat kecil.


Sebenarnya itu bukan kalimat untuk meminta tolong, melainkan seperti memberi perintah secara mutlak yang tak boleh dibantah oleh siapapun.


“Akan ku carikan secepatnya, namun aku sedikit curiga dengan ‘Dia’ Albert. Aku takut bahwa ‘Dia’ adalah..” ucapan Ezra terpotong.

__ADS_1


“ya aku tau apa yang kau maksud” potong Albert sambil mengangguk.


Sejenak mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing, entah apa yang mereka rencanakan.


“Mungkin kita harus mengawasi Vina dari jauh dimana pun ia berada” ucapan Ezra dibalas anggukan oleh Albert.


“inilah yang ku takutkan Zra ! El ku akan menjadi sasaran mengingat ia merupakan gadis biasa” Albert langsung membuang nafas secara kasar.


“Vina bukanlah gadis biasa, apakah kau lupa ketika ayahmu meninggal keesokan harinya ia langsung bangkit dari kesedihannya ?”


“Ia memiliki darah murni Ayahmu Al ! kita hanya bisa melindunginya semampu kita. Selebihnya tergantung Vina sendiri” lanjut Ezra


Albert menatap langit-langit rumah dan menyenderkan punggungnya dikursi goyang milik Ayahnya, lebih tepatnya milik Ayah angkatnya. Meski Vina bukan adik kandungnya, tapi ia sangat sayang gadis kecilnya itu.


Gadis kecil yang selalu ia gendong kemanapun saat si gadis sedang merajuk, gadis yang selalu membuatnya naik pitam akan tingkah konyol yang dibuat. Ia tak segan mengulurkan tangannya ketika gadis kecilnya terjatuh,


Kenangan itu terkumpul dalam memori Albert, sesekali ia tersenyum mengingat gadis kecilnya. Sekarang ia sudah dewasa, tapi meskipun begitu ia tetaplah gadis kecilnya, El kecilnya.


“hey !! jangan senyum-senyum gak jelas, aku takut kau kesambet” sentak Ezra dengan menggaruk pipi.


Albert yang mendengar sentakan Ezra langsung tersadar dari lamunannya, Ia langsung mendekati Ezra hingga wajah mereka saling berhadapan. Ezra yang mendapat perlakuan seperti itu membuatnya gelagapan, ia takut bahwa Albert adalah seorang gay mungkin ?


Plakkk..


“Aghh.. kau gila Al !” Ezra mengelus pipi merahnya bekas tamparan yang diperoleh dari Albert.


“beraninya kau mengatakan aku kesambet” ucap Albert sambil meleggang pergi meninggalkan sahabat kecilnya yang masih melongo.


“kau kemana ?” ucap Ezra.


“mencari vodka”


Ezra yang mendengar hal itu langsung bersemangat untuk menyusul Albert yang sudah berada didepan pintu mobil.


“hey.. tunggu aku ! aku ikut Al..” teriak Ezra, sambil sedikit berlari. Ezra bukan penyuka Vodka, tapi dia penggila wanita.


🐬🐬🐬


Dhie berharap kalian kecantol sama ini, untuk awalnya memang santai kayak dipantai ye😅


Menikmati selalu, dari kata ke kata, resapi dan maklumi, ettdahhh... ngomong apaan ye ?🤔


Au ahh, Dhie mau balikk duluu.. byee😘

__ADS_1


__ADS_2