Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 11 : `Kehadiran Sang Buah Hati`


__ADS_3

Seorang wanita sedang merasakan rasa sakit yang disembunyikan pasca melahirkan. Vina datang menghampiri wanita itu, yah – Vina memang sedang berada dirumah sakit karena kecelakaan waktu itu dan mengalami koma selama tiga minggu lamanya. Dan sekarang Ia telah diperbolehkan pulang oleh dokter.


“nyonya, kenapa kau sendiri ? dimana keluargamu ?” tanya Vina ketika ia tau tidak ada siapun yang menunggunya diruangan itu.


“tidak ada Nona, keluargaku sudah tiada dan aku hamil karena suatu kejadian” jawab wanita itu dengan lemah.


“maaf nyonya, kau tidak sendiri. Lihatlah bayi ini, ouh dia sangat tampan” Vina mendekat ke Box Bayi. Wanita itu hanya tersenyum, ketika Vina mengatakan itu.


“Bolehkan aku menggendongnya ?” tanya Vina kembali. Wanita itu mengangguk sebagai tanda telah mengizinkan.


Vina mengangkat bayi itu dengan sangat hati-hati dan senyum merekah terlihat dari bibirnya, seolah dapat menghidupkan kembali hatinya yang sedang berkabung akibat calon bayinya tiada karena kecelakaan dihari itu.


“nona, bolehkah ku tahu namamu ?”


“Malvinae Makaria Erinyes, kau bisa memanggilku Alvi” ucap Vina (sekarang author manggilnya Alvi ye).


“baiklah nona Alvi, maukah kau membantuku ?” tanya wanita itu, Alvi mengangguk singkat.


“nama ku Helen Jokasta, dengarkan aku nona ! aku sudah lemah, aku tak ingin membuat putraku sebatangkara. Aku ingin kau merawatnya setelah aku meninggal” dengan berat hati Helen mengatakan itu.


Alvi mendekatkan dirinya kebrangkar Helen, kemudian melihat kearah bayi tampan itu yang sedang terlelap. Sebenarnya ia ingin, tapi ia juga tidak boleh egois. Tidak ada seorang ibu yang mau menyerahkan anak kandungnya sendiri.


“Helen, kau masih mampu. Bertahanlah ! jangan sepertiku yang menyesal karena kehilangan seorang buah hati” Nasehat Vina dengan sedikit air mata yang tertahan.


“aku sudah bertahan semampuku Alvi, aku mohon” Helen memohon.

__ADS_1


Alvi mengehela nafas beratnya “apakah kau tidak ingin foto bersama dengan putramu ?” Alvi mengeluarkan poselnya dan memfoto kedua insan yang tengah berbahagia tersebut, berbahagia ?!


Setelah Alvi memfoto mereka, ia menunjukkan hasil jepretannya kepada helen, helen hanya tersenyum ketika melihat hasil jepretan itu. “kau sangat cantik helen” ujar Alvi.


“Alvi waktuku tidak lama lagi, putraku belum mempunyai nama. Tolong berilah dia nama, kumohon” ujar helen dengan sangat lemah. Vina menatap bayi tampan itu, ia sangat menyukai bayi itu.


“Leonard Moruca Erinyes, akan ku beri marga ku kepada putramu. Bertahanlah Helen !”


Helen menggeleng lemah, ia sangat bahagia, sungguh sekarang ia sangat damai ketika putranya telah mendapat seseorang yang akan menjaganya. Dikecupnya kening sang putra, jari jemari mungil Leonard menggenggam erat jari telunjuk Helen seolah Leonard tidak ingin ditinggalkan.


“selamat tinggal Leo” ucap Helen untuk terakhir kalinya, hingga suara tangis bayi menggema diruangan itu. Helen meninggal dengan mendekap sang buah hatinya.


Alvi menangis, tak tega melihat seorang bayi tampan yang harus kehilangan disaat ia baru merasakan beberapa jam berada didunia yang buruk ini. Digendongnya bayi tampan itu ‘Kau adalah putraku sekarang, tak akan ku izinkan siapapun untuk melukaimu’ batin Alvi.


Albert yang dari tadi menunggu diluar tidak mengerti kondisi didalam ruangan, dengan heran gadis kecilnya menggendong seorang bayi dalap dekapannya. Dan Alvi terlihat tersenyum sambil mengusap-ngusap kepala kecil bayi itu dengan lembut.


“apa kau yakin dek ?” tanya Albert memastikan.


“1000% aku sangat yakin”


‘terkejut’ itulah yang dirasakan Albert, kini El-nya terlihat seperti orang lain, bukan El-nya yang sehangat seperti dahulu.


“Malvinae Makaria Erinyes adalah namaku sekarang, dan dia adalah jagoan kecilku. Buatkan identitas untuknya kak sebagai putraku, Leonard Moruca Erinyes.” Alvi mencium kening jagoan kecilnya.


“aku akan menyuruh para ilmuan kita untuk memasukkan DNA ku pada Leo, serta aku ingin Leo tumbuh dua kali lebih cepat.” Sambung Alvi.

__ADS_1


“kenapa El ?” tanya Albert kebingungan.


“Leo adalah anak ku sekarang ! aku tidak mau suatu saat ia diragukan oleh orang lain. Kau tau kak ? aku ingin Leo juga cepat tumbuh besar karena aku ingin ia bisa melindungi dirinya sendiri suatu saat” jawab Alvi dengan tersenyum.


Kebahagian terlihat dari raut wajah Alvi, sesekali ia bercanda dengan jagoan kecilnya didalam mobil. Bahagia juga terpancar dari Albert yang melihat Alvi bahagia. Bayi itu membuat Alvi melupakan rasa kehilangan buah hatinya sendiri, walau Albert tau bahwa Alvi belum sepenuhnya lupa akan hal itu.


Bagaimana definisi bahagia dalam kehidupan ? hal itu adalah sesuatu yang tidak dimengerti oleh Alvi sekarang, yang ia tau bahwa apa yang ia rasakan hanya sebuah belas kasih akibat luka yang bertubi-tubi datang menghampiri.


Albert juga tak mengerti akan menjadi seperti apa El-nya ini dimasa depan, yang ia harapkan semoga senyuman tulus seperti dahulu memiliki kesempatan untuk kembali. Entah berapa tahun lagi Albert menunggu, semoga ia memiliki kesempatan untuk melihat senyuman itu lagi.


Bukan hal yang diinginkan siapapun menjadi seseorang yang merasa dipermainkan oleh takdir. Tidak ada manusia satupun yang ingin merasakan sakit, tapi bukankah itu sudah ketentuan hidup ? hanya saja sikap yang diambil setelah mendapatkan semua itu diperlukan.


Dan sekarang Vina mengambil sikap seperti yang ia tentukan –


“El, apakah kau mau meninggalkan negara ini ?” tanya Albert untuk memecah keheningan diantara mereka.


“ya.. aku akan membawa putraku pergi ke Inggris untuk sementara waktu, aku akan melatih diriku disana bersama Paman Sam”


“jika kau disana, aku sendiri El disini” Albert tertunduk lesu.


“it’s okay brother. Kau bisa menjenguk aku dan jagoan kecil kita kan ?” jawab Alvi dengan ekspresinya yang datar.


Memang ! Alvi lebih sering menunjukkan ekspresinya yang datar akhir-akhir ini. Jarang tersenyum, tidak ada sikapnya yang manja, dan sikap yang selalu membuat Albert marah. Sungguh Albert merindukan Alvi yang seperti itu.


“apakah kau tidak bisa menunjukkan sikap lamamu untuk Kakakmu ini El ?” Albert memohon.

__ADS_1


Alvi menghela nafas beratnya, ia baru sadar bahwa selama ini sikapnya membuat Albert terluka. Alvi tersenyum ke arah Albert “yes I do, kak Al”


🐬🐬🐬


__ADS_2