Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 15 : `Titik Terlemah`


__ADS_3

Wanita itu duduk dilantai dengan beberapa botol yang sudah tergeletak, namun ia masih cukup sadar dan mampu mengontrol dirinya. Sesekali ia menutup mata menghilangkan jauh tentang beban hidupnya.


Hidup dengan membawa beban bukanlah keinginan setiap manusia. Terlepas dari bagaimana setelahnya, tuhan selalu memberikan sebuah semangat melalui seseorang yang sanantiasa berada didekat kita.


Leo membuka pintu kamar momy-nya, sejenak ia terpaku, kemudian berjalan kearah wanita yang tengah berkabung atas hidupnya sendiri. Tanganya yang masih mungil hanya mampu menggenggam beberapa jari momy-nya.


“Why mom ?” seketika Alvi menatap mata putra kecilnya itu..


“apakah kau tidak membenci mom yang buruk sepertiku ?” Alvi menggenggam leher botol vodka “seharusnya aku memberimu kebebasan untuk menjalani hidupmu dengan tenang” lanjut Alvi.


“please mom, jangan bahas itu lagi. Oru sangat beruntung bersama momy, Oru selalu diajarkan untuk kuat dan mandiri. Your is my world..” Leo mencium kening Alvi.


“jika mom menangis sekarang apakah boleh ?” Alvi menatap sendu.


“untuk kali ini aku izinkan momy El-ku menangis” Leo merentangkan kedua tangannya, Alvi langsung memeluk putranya itu. Menangis, sungguh hari ini ia sedang berkabut.


“apa yang membuat momy El seperti ini, humm ?”


“mom hanya takut Oru kecilku akan meninggalkanku suatu saat, mom tau jika mom ini sangat buruk. Membunuh dan sangat kejam, mom takut kau pergi karena malu memiliki mom pembunuh”


Leo melepaskan pelukan Alvi, jempolnya yang mungil menghapus lembut air mata yang menetes “jangan menangis jika itu alasannya mom ! aku tidak suka mom menangis demi alasan konyol seperti itu”


Alvi mendongak keatas, agar air matanya tak keluar, sejenak ia terdiam kemuadian menghela nafas “apakah mom terlihat jelek sekarang ?”


“yeah, kau sangat jelek jika seperti ini mom” Leo terkekeh.


Alvi tersenyum, mengacak rambut Leo “apa kau mau menemani mom tidur ?”


Leo berlari menuju ranjang, tangannya menepuk-nepuk kasur disebelahnya. Alvi mendekati Leo dan berbaring ditempat yang putranya inginkan. “semoga mimpi indah mom” Ucap Leo sebelum matanya terpejam.


🐬🐬🐬

__ADS_1


Jangan katakan bagaimana rasanya penyesalan yang menghantui hidup seseorang. Hidup seperti dikejar oleh bayangan masa lalu, tak bisa mengelak, tak bisa bersembunyi. Gav memandang jauh didepan jendela, entah apa yang dipandangnya. Terselip banyak duka dan luka, luka – yang dibuatnya sendiri dan dirasakan sakitnya sendiri.


“apa luka itu sangat sakit ?” tanya Gav pada dirinya sendiri. Tangannya memegang dadanya sendiri. “yah, pasti sangat sakit” gumamnya.


“sudah ku katakan dahulu bahwa kau mencintainya” Evano datang dan langsung menyahut.


Gav hanya duduk termenung memandangi hidupnya yang miris “hahahahaha... aku terlalu bodoh untuk memahami diriku sendiri”


Evano merasa sedih, ia menghampiri Gav yang melamun, tangannya menggosok punggung kekar itu. Mata Evano ikut menatap kearah yang dituju Gav, tak ada tujuan – itu isi tatapan mata Gav.


“apakah kau tak berniat membuat wanitamu kembali ?” Rayu Evano.


“aku ingin, tapi sekarang masih belum mungkin” terdengar seperti seseorang yang sedang berputus asa memang.


“hei katamu kau hendak menikmati bubur hum ?” Evano menaik turunkan alisnya.


“aku berkata seperti itu untuk menghibur diriku sendiri” sungguh kini Gav berada dititik terlemah.


“tapi aku juga manusia Ev”


“yah... aku benci dirimu seperti ini ! jika sayap Vina patah apa masalahnya ? ajak terbang menggunakan sayapmu. Jika Vina sudah tiada dan Alvi adalah bayangan karena masa lalu, maka rubahlah Ia” Evano menepuk pundak Gav.


Gav membulatkan bola matanya, sepertinya ia terkesan dengan ucapan sahabatnya itu. Yah – setidaknya sekarang Gav mengetahui apa yang akan ia lakukan kedepan. Meski hasilnya tidak akan bisa memiliki ekpetasi yang tinggi tetapi mencoba itu lebih baik.


“Ev.. apakah kau tau siapa anak yang digandeng El ketika pertemuan ?” Gav menggaruk belakang telinganya.


“ku rasa itu putranya, tapi... entahlah Gav ! kurasa Alvi memiliki banyak rahasia”


(Hening sejenak menyelimuti ruangan)


“bukankah ini sudah 5 tahun sejak El dikatakan meninggal ? tetapi anak itu berusia 10 tahun sepertinya” otak Gav sekarang dipenuhi dengan puzle yang masih rumpang.

__ADS_1


“dulu bukankah El juga sedang mengandung ? jika iya dimana anakku sekarang ?” sambung Gav.


“aku akan mencoba mencari informasi tentang anak itu, sungguh aku tidak tau apapun tentang anak itu” Evano berbalik untuk keluar kamar.


Gav menyandarkan tubuhnya di tembok tepi balkon, membiarkan angin mencium dirinya. Melegakan segala suasana yang akhir-akhir ini ia terima. Kembalinya sang putri pujaan layaknya seorang pangeran yang telah menunggu lama.


Kini sang putri telah kembali hanya saja ia harus dijemput dengan cara yang berbeda pula. Seperti kisah romansa memang ! tapi seperti inilah kenyataan yang harus dihadapi Gav. Layaknya kisah romansa cinta yang diberi sedikit bumbu action, menjadi seorang mafia dan mendapatkan cinta kembali.


Terdengar konyol, bahkan sangat konyol. Bagaimana bisa kisah mafia dikaitkan dengan romansa cinta. Menggelikan jika pemeran utama harus mendapatkan cintanya dengan cara yang tidak bisa dibayangkan dengan sedikit menanggalkan egonya.


“katakan bagaimana caranya agar kau mau kembali dalam dekapanku ?” Gav bertanya entah kepada siapa.


Kini ia berjalan mendekat, tangannya menggenggam pembatas balkon kamarnya. Manik hitamnya memandang bintang, sungguh ia tak lupa bagaimana malam ‘itu’ dilewatinya. Seperti sebuah kisah kekasih yang sangat manis berada dibawah sinar rembulan.


“......Humm.. terkadang kita sakit karena kerinduan, terkadang pula kita sakit karena pertemuan”


Kata-kata itu terngiang diotaknya, seperti sebuah pemberitahuan bahwa keadaan sekarang merupakan gambaran yang jelas. Rasa sakit yang ditimbulkan ini, akibat sebuah pertemuan yang saat itu memang disetting manis, namun dibaliknya memiliki niat yang sangat tragis.


Sungguh kini ia menyadari kesalahan dalam settingan itu !


🐬🐬🐬


Jika hatiku tertumpuk rasa bersalah, maka itu memang benar adanya. Sungguh aku tak bisa menghindari untuk tidak mengakuinya.


Namun, dalam hati yang tertumpuk rasa bersalah ini tersimpan rasa cinta yang sudah bergemuruh sangat lama. Dan sungguh, aku tak bisa menghindari untuk tidak mengakuinya.


Aku telah kalah akibat permainan yang aku buat sendiri sebelumnya. Dan lihatlah diriku ! aku juga ikut mati seiring hilangnya dirimu disisiku. Dan yah, sekali lagi aku tak bisa menghindari untuk tidak mengakuinya.


-Gav


🐬🐬🐬

__ADS_1


__ADS_2