
Duduklah, biarku beritahu sebuah kisah tentang hatiku. Berkembang dan bertahan dalam duri yang semakin mendalam.
Kemarilah, dengarkan keluh kesah diriku. Yang selalu berandai akan dirimu yang hanya diam tak menyinggung.
Sungguh ! fikirku jauh melayang akan dirimu. Namun semuanya hanya percuma tanpa harga.
-Malvinae
đŹđŹđŹ
Alvi meluncurkan peluru pada dari pistol Glock 20 ke arah sasaran. Nampak teriakan dari orang yang menjadi sasaran tidak diperdulikan, jarinya sudah mulai menarik pelatuk kembali ke arah lain. Menghancurkan orang-orang yang telah berani menggagalkan transaksi senjatanya.
Alvi, dikenal sebagai Presdir dari MâE Company yang bergerak dalam bidang pertambangan dan teknologi keamanan. Dan jangan lupa dalam dunia gelap ia dikenal âDemise Goddesâ atau âDewi Kematianâ. Bisnisnya merajalela : senjata, narkoba, perkebunan menjadi sorotan tersendiri.
âaku benci penganggu !â ledak amarah Alvi.
Alvi menembak satu orang terakhir yang menjadi dalang dari penggagalan transaksi senjata miliknya. Tak ada rasa belas kasihan yang terlihat dari sorot matanya.
âada kata terakhir ?â ucap Alvi kepada seseorang yang sudah berda dalam genggamannya.
âtidak ada !â jawab orang itu dengan santai, tak memperdulikan ujung pistol sudah melekat dikeningnya.
Sepersekian detik orang itu telah lenyap, Alvi sudah muak dan ingin menyelesaikan ini. Malam ini ia sudah cukup untuk berolahraga, dan esok pekerjaan kantornya sudah menunggu.
Duarr..
Alvi terlempar dengan luka di lengan akibat tersangkut ranting pohon, tangannya langsung mengisi ulang peluru pada pistol Glock 20 miliknya.
âbedebah, bajingan itu sudah mati namun masih menyusahkan !â gumamnya.
Tak lama muncul beberapa orang yang sedang membawa senapan dan siap menembak Alvi. Jangan sangka jika wanita itu dapat mati dengan mudah. Alvi melesat bersembunyi diantara semak-semak untuk sementara waktu.
âFaye, cepat suruh pasukan A-20 untuk kemariâAlvi memberikan perintah malalui earpiece.
âTernyata bajingan itu sedang bersekongkolâ Alvi mendongakkan kepalanya dan menghembuskan nafas beratnya.
â30 orang huh ?â sorot mata Alvi terlihat sedang menelusuri keadaan sekitar, memahami tempat-tempat pasukan musuh saat ini.
__ADS_1
Tak lama pasukan A-20 miliknya datang membantu, meluncurkan peluru kepada pasukan musuh dibalik persembunyian. Alvi tak melakukan apapun pada peperangan kali ini, apa yang ia tunggu ? pemimpin yang sesungguhnya dibalik penggagalan senjatanya.
âsekarang giliranmu tuan Goeâ Alvi tersenyum.
âbiarkan para pasukanku mengurus pasukanmu, dan aku akan mengurusmu. Adil kan ?â
âkau pikir aku sedang bernegosiasi huh ?â jawab Goe.
âaku tidak perduli, aku tidak suka penolakanâ Alvi mulai mendekat kearah Goe. Ia masih belum mau meluncurkan pelurunya, masih ingin sedikit bermain-main kiranya.
Selama Alvi berjalan kearah Goe tak luput dari sasaran peluru yang dilesatkan, hanya saja ia berhasil menghindari peluru itu. Alvi tak gentar sedikitpun, ia mengeluarkan katana yang tersimpan dipunggungnya.
Mungkin saja, menurutnya katana itu sekarang sudah waktunya diberi makan. Makan ?! eh â
âaku sedang ingin bermain dahulu Goe !â kekeh Alvi.
Alvi menendang pergelangan tangan Goe hingga pistol yang dibawanya terlepas. Goe yang tidak memiliki persiapan senjata lain, tidak mungkin baginya jika harus melawan sekarang.
âapa yang kau lakukan sekarang Goe ?â Alvi mengeluarkan ekspresinya yang polos.
Jlebbb..
âFaye tarik kembali pasukan, selebihnya biar aku yang urus !â titah Alvi melalui earpiece.
âbaik Nona !â
Alvi tersenyum penuh kemenangan, ia sangat suka detik-detik seperti ini. Ketakutan, membuat ia semakin bernafsu ingin mencincang tubuh mangsanya. Katananya kini telah siap memporak porandakan tubuh Goe.
âkatakan kata terakhirmu !â ejek Alvi
Crashh
(Kaki kanan Goe telah terpotong)
Crash
(Tangan kiri Goe menyusul)
__ADS_1
âsayangnya aku tidak bisa berlama-lama disiniâ raut wajah Alvi terlihat tidak senang, tentu saja itu bukan ekspresi yang sesungguhnya.
Crashh
(kepala telah terlepas dari tubuhnya)
Alvi tersenyum tipis, dirinya terlihat sangat puas. Katananya telah kembali kedalam sarungnya. Tidak ada penyesalan setelah membunuh, baginya kini membunuh adalah sesuatu yang harus sering ia lakukan.
âkau sangat berbeda Elâ ujar seseorang disebrang dengan kedua tangan yang tersimpan disaku celana.
âcihâ Alvi hanya mendecih.
âapakah ini dirimu my sweety Elâ
âjika yang kau maksud adalah Vina, maka ia sudah mati. Pergilah ! kau tidak akan bertemu dirinya disini tuan Ivander Gavin Davies yang terhormatâ Alvi menjawab dengan santai, bahkan kelewat santai.
Gav menarik paksa tangan Alvi, memasukkannya kedalam mobil, dan membawanya kesuatu tempat. Entah apa yang sedang ia rencanakan sekarang, Alvi sendiri tidak tahu.
âkau akan membawaku kemana ?â
âjika kau berkata aku tidak bisa bertemu Vina disana, mungkin aku bisa bertemu dia jika aku membawamu ketempat lainâ Gav mulai menstater mobilnya.
âsayap Vina sudah terbentang, laju-nya pun sudah meluas, dan sekarang sudah terpatahkan, yang tersisa hanya puingnyaâ Alvi mengucap hanya menatap kedepan. âaku adalah Alvi, terbentuk dari bayangan masa lalu yang menyedihkanâ sambungnya.
âkumohon, maafkan aku !â Gav menatap Alvi dengan sendu âaku sudah berusaha untuk mencarimu, meski kabar kematianmu sempat menghentikan niatkuâ
ânasi sudah menjadi buburâ jawab Alvi dengan santai.
Gav menghela nafas beratnya, memang benar bahwa ânasi sudah menjadi buburâ. Merubah sesuatu untuk kembali keasal itu tidaklah mudah. Apa yang dipikirkan Gav sekarang ?
âmaka biarlah aku menikmati bubur itu !â Alvi melirik Gav dengan tajam, sejenak dahi Alvi berkerut kemudian kembali normal.
đŹđŹđŹ
maaf jika Dhie masih belum bisa up setiap hari. mohon dimengerti, hehehe...đ
tapi, in shaa Allah akan Dhie usahainđ€
__ADS_1
_______________________________________