Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 14 :`Terlanjur ?`


__ADS_3

Duduklah, biarku beritahu sebuah kisah tentang hatiku. Berkembang dan bertahan dalam duri yang semakin mendalam.


Kemarilah, dengarkan keluh kesah diriku. Yang selalu berandai akan dirimu yang hanya diam tak menyinggung.


Sungguh ! fikirku jauh melayang akan dirimu. Namun semuanya hanya percuma tanpa harga.


-Malvinae


🐬🐬🐬


Alvi meluncurkan peluru pada dari pistol Glock 20 ke arah sasaran. Nampak teriakan dari orang yang menjadi sasaran tidak diperdulikan, jarinya sudah mulai menarik pelatuk kembali ke arah lain. Menghancurkan orang-orang yang telah berani menggagalkan transaksi senjatanya.


Alvi, dikenal sebagai Presdir dari M’E Company yang bergerak dalam bidang pertambangan dan teknologi keamanan. Dan jangan lupa dalam dunia gelap ia dikenal ‘Demise Goddes’ atau ‘Dewi Kematian’. Bisnisnya merajalela : senjata, narkoba, perkebunan menjadi sorotan tersendiri.


“aku benci penganggu !” ledak amarah Alvi.


Alvi menembak satu orang terakhir yang menjadi dalang dari penggagalan transaksi senjata miliknya. Tak ada rasa belas kasihan yang terlihat dari sorot matanya.


“ada kata terakhir ?” ucap Alvi kepada seseorang yang sudah berda dalam genggamannya.


“tidak ada !” jawab orang itu dengan santai, tak memperdulikan ujung pistol sudah melekat dikeningnya.


Sepersekian detik orang itu telah lenyap, Alvi sudah muak dan ingin menyelesaikan ini. Malam ini ia sudah cukup untuk berolahraga, dan esok pekerjaan kantornya sudah menunggu.


Duarr..


Alvi terlempar dengan luka di lengan akibat tersangkut ranting pohon, tangannya langsung mengisi ulang peluru pada pistol Glock 20 miliknya.


“bedebah, bajingan itu sudah mati namun masih menyusahkan !” gumamnya.


Tak lama muncul beberapa orang yang sedang membawa senapan dan siap menembak Alvi. Jangan sangka jika wanita itu dapat mati dengan mudah. Alvi melesat bersembunyi diantara semak-semak untuk sementara waktu.


“Faye, cepat suruh pasukan A-20 untuk kemari”Alvi memberikan perintah malalui earpiece.


“Ternyata bajingan itu sedang bersekongkol” Alvi mendongakkan kepalanya dan menghembuskan nafas beratnya.


“30 orang huh ?” sorot mata Alvi terlihat sedang menelusuri keadaan sekitar, memahami tempat-tempat pasukan musuh saat ini.

__ADS_1


Tak lama pasukan A-20 miliknya datang membantu, meluncurkan peluru kepada pasukan musuh dibalik persembunyian. Alvi tak melakukan apapun pada peperangan kali ini, apa yang ia tunggu ? pemimpin yang sesungguhnya dibalik penggagalan senjatanya.


“sekarang giliranmu tuan Goe” Alvi tersenyum.


“biarkan para pasukanku mengurus pasukanmu, dan aku akan mengurusmu. Adil kan ?”


“kau pikir aku sedang bernegosiasi huh ?” jawab Goe.


“aku tidak perduli, aku tidak suka penolakan” Alvi mulai mendekat kearah Goe. Ia masih belum mau meluncurkan pelurunya, masih ingin sedikit bermain-main kiranya.


Selama Alvi berjalan kearah Goe tak luput dari sasaran peluru yang dilesatkan, hanya saja ia berhasil menghindari peluru itu. Alvi tak gentar sedikitpun, ia mengeluarkan katana yang tersimpan dipunggungnya.


Mungkin saja, menurutnya katana itu sekarang sudah waktunya diberi makan. Makan ?! eh –


“aku sedang ingin bermain dahulu Goe !” kekeh Alvi.


Alvi menendang pergelangan tangan Goe hingga pistol yang dibawanya terlepas. Goe yang tidak memiliki persiapan senjata lain, tidak mungkin baginya jika harus melawan sekarang.


“apa yang kau lakukan sekarang Goe ?” Alvi mengeluarkan ekspresinya yang polos.


Jlebbb..


“Faye tarik kembali pasukan, selebihnya biar aku yang urus !” titah Alvi melalui earpiece.


“baik Nona !”


Alvi tersenyum penuh kemenangan, ia sangat suka detik-detik seperti ini. Ketakutan, membuat ia semakin bernafsu ingin mencincang tubuh mangsanya. Katananya kini telah siap memporak porandakan tubuh Goe.


“katakan kata terakhirmu !” ejek Alvi


Crashh


(Kaki kanan Goe telah terpotong)


Crash


(Tangan kiri Goe menyusul)

__ADS_1


“sayangnya aku tidak bisa berlama-lama disini” raut wajah Alvi terlihat tidak senang, tentu saja itu bukan ekspresi yang sesungguhnya.


Crashh


(kepala telah terlepas dari tubuhnya)


Alvi tersenyum tipis, dirinya terlihat sangat puas. Katananya telah kembali kedalam sarungnya. Tidak ada penyesalan setelah membunuh, baginya kini membunuh adalah sesuatu yang harus sering ia lakukan.


“kau sangat berbeda El” ujar seseorang disebrang dengan kedua tangan yang tersimpan disaku celana.


“cih” Alvi hanya mendecih.


“apakah ini dirimu my sweety El”


“jika yang kau maksud adalah Vina, maka ia sudah mati. Pergilah ! kau tidak akan bertemu dirinya disini tuan Ivander Gavin Davies yang terhormat” Alvi menjawab dengan santai, bahkan kelewat santai.


Gav menarik paksa tangan Alvi, memasukkannya kedalam mobil, dan membawanya kesuatu tempat. Entah apa yang sedang ia rencanakan sekarang, Alvi sendiri tidak tahu.


“kau akan membawaku kemana ?”


“jika kau berkata aku tidak bisa bertemu Vina disana, mungkin aku bisa bertemu dia jika aku membawamu ketempat lain” Gav mulai menstater mobilnya.


“sayap Vina sudah terbentang, laju-nya pun sudah meluas, dan sekarang sudah terpatahkan, yang tersisa hanya puingnya” Alvi mengucap hanya menatap kedepan. “aku adalah Alvi, terbentuk dari bayangan masa lalu yang menyedihkan” sambungnya.


“kumohon, maafkan aku !” Gav menatap Alvi dengan sendu “aku sudah berusaha untuk mencarimu, meski kabar kematianmu sempat menghentikan niatku”


“nasi sudah menjadi bubur” jawab Alvi dengan santai.


Gav menghela nafas beratnya, memang benar bahwa ‘nasi sudah menjadi bubur’. Merubah sesuatu untuk kembali keasal itu tidaklah mudah. Apa yang dipikirkan Gav sekarang ?


“maka biarlah aku menikmati bubur itu !” Alvi melirik Gav dengan tajam, sejenak dahi Alvi berkerut kemudian kembali normal.


🐬🐬🐬


maaf jika Dhie masih belum bisa up setiap hari. mohon dimengerti, hehehe...😅


tapi, in shaa Allah akan Dhie usahainđŸ€—

__ADS_1


_______________________________________


__ADS_2