Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 18 : `Perebutan Jajaran Three Gods Of Death`


__ADS_3

Kini Alvi telah kembali dengan membawa seorang lelaki, bukan ! lebih tepatnya lelaki itu mengikuti. Dengan gagah beraninya ia datang seolah mansion itu adalah miliknya. Dengan rasa yang tidak memiliki sopan santun, kaki lelaki itu menapaki lantai mansion sebelum pemiliknya.


“Chan ! jika kau tidak mau kepalamu terlepas dari badan, jangan bertingkah seperti seorang anak kecil !” Alvi membentak Chan.


“aku memang seorang anak kecil” ucap Chan dengan mencicit.


“dasar ! aku jadi kurang yakin bahwa kau seorang mafia tangguh” ejek Alvi.


Chan menggerutu tidak jelas, Alvi pun juga tidak memperdulikannya. Kini Alvi lebih memilih untuk berteman dengan laptop dan mengecek perusahaan miliknya. Tanpa menyuruh mafia angkuh itu untuk dipersilahkan duduk dahulu.


Yahh... ia menunggu Leo yang masih berada disekolah, untuk membantunya mengusir Chan. Jika memang mereka terlibat tantangan, setidaknya Chan tidak tinggal serumah. Dan itu sedikit melegakan.


“apa kau tidak ingin merubah dekorasi rumahmu ?” Chan mengamati keadaan rumah itu.


“kurasa perlu sedikit corak jepang dipojok sebelah sana” lanjut Chan yang masih tidak diperdulikan Alvi.


“bagaimana dengan kamarku ? apa kau sudah menyediakannya ? kuharap kau menyiapakan kamar yang bagus seperti kamarku dibelgia”


Alvi mengehela nafas beratnya “ini tempat tinggalku, bukan milikmu !”


Chan hanya mengendikkan kedua bahunya dengan santai. Sedangkan Alvi menerima telepon yang Chan sendiri tak tahu. Namun dilihat dari ekspresi yang keluar, Alvi sedang menahan sesuatu seperti ‘amarah ?’


Alvi membanting hp-nya, matanya menyulut tajam. Repalan tangan yang mampu menjebol sebuah tembok itupun sudah terbentuk. Dan Chan tidak mau suatu saat pukulan Alvi melayang pada wajah tampannya.


“Segera susul aku ke tempat xxx, dengan membawa pasukan B-07” titah Alvi kepada Faye melalui hologram yang muncul dari jam tangan miliknya.


Dengan tergesa serta api amarah yang telah menyala, Alvi masuk kesebuah mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar. Meninggalakan tamu tak diundang yang sedari tadi bingung melihat tingkah lakunya.


Mobil itu melesat cepat menuju kesebuah tempat. Tangannya menggenggam erat kemudi mobil. Dengan mulut yang sudah berkali-kali mengumpat nama seseorang, Jack Vinson.


“dasar bastard, lepaskan kakak ku !” terik Alvi di sebuah tempat yang diduga Albert tersekap.

__ADS_1


Dengan berbekal sebuah pistol dan katana yang tergantung dipunggung, Alvi mulai menjelajahi tempat itu dengan mengumpat. Sudah banyak nyawa yang melayang di tangannya kali ini. Mengingat Jack Vinson belum juga muncul dan bersembunyi entah dimana.


Beberapa mobil mulai memasuki pekarangan rumah tua nan besar itu, pasukan B-07 telah datang untuk membantu. Mereka tak berani melemparkan granat karena terlalu berisiko jika Albert belum ditemukan.


Alvi mulai berlari melewati sebuah lorong yang gelap, sorot matanya menelisik sekitar untuk was-was.


Langkah kakinya terhenti pada sebuah pintu besar yang menjulang, dan mendorongnya. Terbukalah, bau anyir telah menyeruak. Alvi jelas-jelas melihat kakaknya tak berdaya, dengan nafas yang sudah melemah. Disebelahnya terlihat bekas pisau yang berlumuran darang digenggam oleh Jack.


“Jack !! berani kau melukai kakak ku huh !” tangan kirinya mengambil katana dan mengeluarkan dari sarungnya. Masih setia, tangan kanannya memegang pistol Glock-20.


Alvi sedikit berlari dan melayangkan sebuah tendangan tepat pada ceruk leher Jack. Jack sedikit oleng, belum selesai menyeimbangkan diri, Alvi menambahkan tendangan pada dada kirinya. Membekas ? maybe.


“sial..” umpat Jack.


“jangan salahkan aku jika kau mati ditanganku !” ungkap Alvi.


Jack tak tinggal diam, ia berusaha menendang perut Alvi, namun berhasil dihindari. Sepersekian detik, Jack melesatkan peluru dengan sasaran dada kiri. Sial bagi Jack, Alvi berhasil menangkis peluru dengan katana miliknya.


“apa masalah mu jack ?” sergah Alvi.


“aku tak suka jajaran ‘Three gods of death’ diisi oleh seorang wanita, apalagi wanita yang pernah mengambil aset keluargaku” dengan sinis Jack menjawabnya.


“dasar bodoh ! ayahmu memiliki hutang padaku, menipuku dan aku mengambil hak ku” Alvi tak terima.


Pembicaraan tetap berjalan seiring pertempuran diantara mereka. Tanpa ada yang hendak mengalah, mereka tetap berada diatas ego dan pemikiran masing-masing yang dianggap benar.


Adu mulut dan adu otot, tak dapat dihindari. Menimbulkan stamina masing-masing berkurang cukup drastis.


“sial, aku tak memiliki waktu lebih lama” gumam Alvi, mengingat Albert sudah cukup lama terluka.


Prok.. prok.. prok..

__ADS_1


Suara tepuk tangan datang dari balik pintu, Alvi melirik sekilas. Jack terlihat senang.


“konspirasi huh ?” Alvi berdengus kesal.


Terlihat lelaki yang cukup berumur dengan kepala plontos, Girvin Louis. Seorang mafia yang terkenal licik, selalu bermain kotor demi hasratnya. Lalu bagaimana dengan Alvi ? very easy ?!


“Apa kau tak takut nona Alvi ?” ejek Girvin.


“aku ? hahahaha.... kematian saja berada dalam genggamanku” Alvi tertawa terbahak-bahak. “aku ingin kau membebaskan kakak ku dahulu ! sebagai gantinya aku disini” dengan santai Alvi duduk disebuah kursi kayu.


“jangan membodohi kami nona !” teriak Jack.


“ck, pandailah sedikit. Jika kakak ku mati sekarang, akan kupastikan kalian mati disini dan saat ini juga. Jangan lupakan bahwa aku membawa pasukan B-07 milikku” Alvi menyulut rokoknya.


Girvin dan Jack saling berpandangan. Sedikit berfikir diwaktu yang lama, akhirnya mereka menyetujuinya. Albert dibawa oleh salah satu anak buah Alvi dan langsung dilarikan dirumah sakit untuk penyembuhan.


“bagus ! mari kita berempat bicarakan permasalahan ini” ucap Alvi yang membuat Girvin dan Jack kebingungan. Empat ?


“apa kau fikir aku tak tahu kau sedang bersembunyi Alex Fransisco !” Alvi melirik sudut ruangan yang tertutup tembok rahasia, namun masih mampu didengar.


Alex keluar dari tempat persembunyiannya “kau sangat teliti Nona”


“apa kau fikir jajaran ‘three gods of death’ pantas untuk orang pengecut seperti kalian huh ?” ucap Alvi, tersenyum miring.


🐬🐬🐬


belum ada romantisnya oke, wkwkwk.. Sampek eps. 25 keatas, karena masih diisi konflik jajaran.


Dhie ingatkan sekali lagi, jangan berharap disini bakal ada romansa yang melow². karena, aku lagi nggak pengen.😂


so, hari ini aku up lagi. karena besok, Dhie bakal sibuk banget. maaf ya😘

__ADS_1


__ADS_2