Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 16 : `Lintasan Kedukaan`


__ADS_3

Apa yang melebihi lara di setiap tetes keringatku ? mengucur bak air terjun yang sedang berbahagia menembus angin.


Jawabannya, hanya aku yang mengetahuinya. Tentang rasa yang selama ini kalut akan sebuah faham : bahwa aku seorang pembunuh berdarah dingin.


-Sekat hati, Malvinae


🐬🐬🐬


Alvi duduk didepan laptop yang sedang menyala, jari jemarinya sedang sibuk berteman dengan keyboard. Manik birunya dengan teliti mengecek data yang telah dikirimkan melalui email. Data yang terkait dengan M’E Company, namun lebih banyak data yang terkait dengan bisnisnya di dunia gelap.


“Faye ! aku ingin perkebunan anggur dibawah kekuasaanku bertambah” ujar Alvi dengan ekspresi yang serius.


Seorang wanita yang dipanggil Faye langsung menghentikan aktivitasnya yang dari tadi ikut mambantu mengecek data terhenti. “aku dengar di Swiss ada perkebunan anggur yang sedang dilelang Nona, apa kau tertarik ?”


“jangan di Swiss, disitu kualitasnya memang bagus, tapi aku sudah memiliki perkebunan anggur yang kualitasnya melebihi itu di indonesia”


Faye memanggutkan kepalanya, terlihat dari ekspresi wajahnya sedang memikirkan sesuatu “apa kau ingat tentang Chan ?”


“maksud mu Chan Dedrick Dixie ? mafia angkuh dari Belgia itu ?” Alvi menyelidik.


“yah, kau benar Nona. Aku mendengar bahwa perkebunan Anggur miliknya itu sedang diambang kehancuran. Bukan, lebih tepatnya dua hari lagi akan bangkrut” Faye meletakkan laptop yang semua dipangkunya.


“hanya saja ini aneh nona, Chan Dedrick Dixie bukanlah orang yang akan menjadi miskin hanya perkebunan anggur. Bukankah sebenarnya ia masih mampu untuk membangun perkebunan anggur itu kembali Nona ?” lanjut Faye.


Alvi nampak menimang sesuatu akibat berita yang dilontarkan dari tangan kanannya itu. Telapak tangannya digosok-gosokkan selama beberapa detik, kemudian berhenti sejenak dan laptop yang semula dipangkuanya pun berpindah diatas meja.


“aku tertarik dengan perkebunan itu, siapkan keperluanku untuk pergi ke Belgia. Malam ini kita akan berangkat !”


Alvi berdiri dari kursinya, kemudian pergi meninggalkan Faye yang masih belum ada pergerakan dari bokongnya. Wanita itu menuju kesebuah tempat yang dapat menenangkannya. Bukan ‘Navel Death’, tetapi tempat biasa ditepi danau dengan pepohonan rimbun yang menghalangi panasnya matahari.


Tangannya mengambil seputung rokok dan menyulutnya. Membiarkan paru-parunya terkontaminasi dengan nikotin siang ini. Asap keluar dari mulutnya, berbarengan dengan asap itu Alvi tersenyum puas.


“apa asap itu menarik El ?”

__ADS_1


“apa kau selalu mengikutiku ?” ucap Alvi dengan ketus.


“hanya kebetulan, jangan berpikiran buruk tentangku”


“tapi kau sudah memiliki riwayat buruk dalam kenanganku Gav” Gav terdiam seketika, kemudian melanjutkan langkahnya menuju Alvi yang sedang duduk ditepi danau.


“dari Amerika kau pergi ke inggris, tak kusangka kau muncul dengan sosok yang berbeda” Gav melirik Alvi yang tak memberikan ekpresi, selain dengan senyum kecut.


“apa kau menyesal karena aku menjadi sosok yang berbeda ? heh”


Gav diam tak bergeming, semakin dekat dengan Alvi, ia semakin memahami bahwa ia lah yang membuat wanita itu berubah menjadi sosok yang sensitive dan ‘mengerikan’.


“bolehkah aku bertanya ? siapa anak yang kau bawa saat pertemuan hari itu ?”


Alvi mulai melirik Gav dengan tatapan tidak suka “apa urusanmu ?”


“aku ingin tau tentang anak itu dan.....” Gav menggantung ucapannya, sesaat setelah itu “...anak kita”


“lawakan ?” Gav tidak mengerti apa yang terjadi dengan Alvi.


“yahh... kurasa selera humormu payah” Alvi menyeka air matanya yang sudah tak bisa dibendung. “pergi !!” sentak Alvi yang membuat Gav terkejut.


“apa ada yang salah El ?”


Satu, dua, tiga.. Alvi terdiam, hingga ia pergi beranjak dari danau itu. Gav menahan tangan Alvi sebelum pergi, Alvi menatap mata Gav yang seolah berkata ‘ku mohon beritahu aku tentang anak kita’.


Namun Alvi dan Vina adalah satu orang yang sama namun sifatnya berbeda. Lebih simplenya adalah Vina merupakan masa lalu, dan Alvi merupakan masa sekarang. Jadi Alvi lebih memilih untuk bungkam dan tidak perduli dengan sorot mata Gav yang meredup itu.


Alvi membuang rengkuhan tangan kekar itu, meninggalkannya dengan membawa sisa sembilu dari kenangan dirumah sakit beberapa tahun yang lalu.


|| Flashback On ||


Disebuah brangkar, didalam ruangan VVIP dengan nuansa putih bersih. Bau obat-obatan yang menyeruak hidung, sunyi, hanya terdengar suara alat jatung dan tetesan infus.

__ADS_1


“maaf tuan, seharusnya aku memberitahukan ini sejak awal” ucap seseorang yang memakai pakaian putih, seperti terlihat seorang dokter.


“apa yang kau sembunyikan ?” tanya Albert yang hanya memandangi adiknya terbaring lemah diatas brangkar.


“emm... adik Tuan telah keguguran dan beribu maaf kami sampaikan. Bahwa..” dokter tersebut seperti sulit untuk mengatakan kebenaran “...kandungan nona kami angkat”


Albert tercekat sebentar sebelum emosinya benar-benar keluar “pergii..” ucapnya kepada seorang dokter yang tadi memberitahunya.


Dokter itupun pergi meninggalkan Albert dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau menjadi samsak hidup Albert. Tak perduli dengan image, dokter itu keluar tanpa mengucapkan salam.


Albert duduk disamping brangkar, tangannya mengelus lembut punggung tangan El kecil-nya.


“apa itu benar kak ?” Ucap El yang masih enggan membuka matanya.


degg..


‘El sudah mengetahuinya’ batin Albert.


“maaf” hanya kata itu yang keluar dari Albert. Sungguh Albert tidak mengerti bagaimana caranya untuk menenangkan El-nya saat ini.


“Layarku telah sobek, perahu pun sudah terbalik, aku sudah gagal berteman dengan ombak lautan. Maka biarkan aku berenang dan membelahnya”ujar El dengan suara yang menahan tangis.


(kendaliku telah hancur, hidupku pun sudah tak bermakna, aku sudah gagal berteman dengan kehidupan. Maka biarlah kini aku berperang melawannya)


|| Flashback Off ||


🐬🐬🐬


Dhie akan tetep usahain untuk up setiap hari, tapi !! andaikan Dhie tidak bisa menepati, mohon untuk dimaklumi. Meski Dhie sudah siapkan bab² yang akan di publish, Dhie juga membutuhkan waktu untuk mempublishnya.


Bukan berarti cerita ini sudah tamat di document ku, belumm... maka dari itu, aku senang, karena kalian memberiku semangat untuk selalu melanjutkan cerita, walau kadang otak ku udah ke drop out😂😂


sorry for you, jika aku masih belum bisa untuk menuruti inginnya kalian.✌️

__ADS_1


__ADS_2