
-5 tahun berlalu-
Seorang wanita telah mengeluarkan amarahnya, hari ini ia sudah membunuh dua orang penghianat dalam perusahaan yang ia bangun empat tahun yang lalu. Sebuah katana dari emas bertahta berlian telah berlumuran darah namun tidak menutupi keindahannya.
Katana itu masih meneteskan darah dilantai yang telah dilewati, sarungnya sudah terlepas karena pembunuhan tadi. Sorot mata pemilik masih memancarkan aura mencekam, jika dalam mode ini maka siapapun tidak berani mendekat.
“Faye ! jangan bersihkan katana ku dahulu, biarkan sampai esok” ujar wanita itu kepada tangan kanannya. Katana yang ia bawa diletakkan diatas nampan yang biasa ditempati katana miliknya, hanya saja sarungnya tidak dipasang kembali.
Wanita itu segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri akibat bau anyir yang melekat. Sungguh ia tak tahan darah darah para pengkhianat. Crop top berwarna biru dongker, dibalut dengan hem kotak kotak putih, celana jeans ¾ putih, serta sepatu boats putih menjadi style nya hari ini.
Segera ia masuk kedalam mobil, melesat dari tempat yang bisa dipanggil ‘Navel Death’ menuju ke sebuah tempat, dimana anaknya sedang berada disana.
“hallo Oru !” ucap wanita itu yang masih terlihat ditempat kemudi dengan jendela kaca mobil yang terbuka setengah. Namun anak laki-laki itu tau siapa orang yang berada dibalik jendela setengah itu.
“hay mom.. aku fikir mom akan telat” Ucap anak itu sebelum masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang samping kemudi.
“ya..ya.. mom hari ini tidak mau melihat jagoan kecil ku menunggu. Karena mom sudah berjanji bukan ?”
“momy El-ku memang terbaik” ujar anak itu dengan menunjukkan jempolnya, sedangkan wanita itu hanya terkekeh melihat tingkah putranya yang sudah berusia 10 tahun itu, Leonard Moruca Erinyes.
Yah.. pertumbuhan Leo memang dua kali lebih cepat sesuai keinginan Alvi, namun ia akan tumbuh secara normal di umur 16 tahun. Leo sudah mengetahui semua tentang hidupnya, apa yang dilakukan Alvi, siapa Alvi, dan siapa Leo sebenarnya.
Leo tidak pernah membenci Alvi sedetik pun, Ia sangat menyayangi momy El-nya. Bahkan terkadang Ia cemburu pada Albert jika Albert sedang mencium Alvi. ‘Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ itu adalah kondisi yang dapat menggambarkan Leo saat ini. Putra tunggal dari keluarga Erinyes, meski Alvi membuat marga Erinyes sendiri, sekarang nama Erinyes sudah melalang buana dalam seluruh dunia.
Dan Leo ? adalah anak kecil yang harus dipertimbangkan ulang jika ingin ada yang menyakitinya. Bukan sebuah rahasia jika Putra tunggal keluarga Erinyes itu selalu diincar oleh musuh momy El-nya. Namun, tidak ada yang bisa berhasil menyentuhnya, bukan karena kemampuan para bodyguard, tapi karena kemampuan dan kecerdikan Leo sendiri.
Leo seorang anak berbakat yang mendapat didikan keras sejak usia 5 tahun, dan itu disengaja oleh Alvi. Bukankah kalian tau ? jika Alvi sendiri sudah mengatakan bahwa ‘ia ingin Leo bisa melindungi dirinya sendiri’ dan sekarang itu terjadi, Alvi bangga akan hal itu.
“Oru.. malam ini mom akan datang ke sebuah pertemuan penting” ujar Alvi.
“apakah Oru tidak lebih penting dari pertemuan itu ?” Leo mengerucutkan bibirnya, dan itu membuat Alvi gemas.
__ADS_1
“kau sangatlah penting bagi kehidupan momy melebihi apapun, dan kau tau itu bukan ?”
“apakah Oru boleh ikut mom ?”
“no Oru ! ini adalah pertemuan yang memiliki resiko” ucap Alvi sambil mengelus puncak kepala Leo.
“tapi mom kan tidak pernah hadir dalam pertemuan apapun sebelumnya” Leo tak mau kalah.
“yeah.. tapi mom hari ini akan menunjukkan diri kepada publik”
Leo mendelik tak suka, ia cemburu. Leo tau, jika nanti akan ada banyak pasang mata yang terkagum akibat kecantikan Alvi. Sungguh Leo sendiri mengagumi kecantikan momy-nya itu. Dan ia akan sangat posesive terhadap apapun yang berhubungan dengan momy-nya.
“okay.. tapi Oru harus ikut. Titik. Jika tidak Oru akan marah sama momy” Leo membuang mukanya kearah jendela.
‘percuma’ adalah sebuah kata yang pas jika dalam posisi yang harus dihadapi Alvi karena tingkah Leo. Putranya memang keras kepala, jika ia sudah memutuskan, sungguh tidak ada yang bisa merayunya. Mustahil bahkan sangat sangat mustahil jika ada yang bisa merubah keputusannya.
“emm.. baiklah Oru, tapi kau harus waspada sendiri. Karena mom tidak bisa selalu melindungimu disana” Alvi masih fokus menyetir menuju mansionnya, tatapannya masih lurus menghadap jalanan aspal.
“yeah.. aku suka gayamu my son” Alvi terkekeh.
Hal yang sangat wajar bagi Alvi, bahwa putranya bersikap sombong terhadap sesuatu, dan tidak mau mengalah terhadap siapapun. Memang seperti itulah didikan Alvi, menunjukkan bahwa kekuasaan adalah bagian terpenting didunia ini. Namun !! sikap itu hanya ditunjukkan kepada orang-orang tertentu.
Sebagai seorang mafia dan masyarakat biasa, Alvi mendidik anaknya untuk mengerti situasi terhadap apa dan siapa yang sedang mereka hadapi. Namun meskipun dalam hal sederhana sekalipun, kekuasaan tetaplah harus ditunjukkan sebagai sebuah simbol bahwa kita masih memiliki harga diri.
“Oru, bisa kau ceritakan kepada mom, kisah apa yang kau buat di sekolah hari ini ?” ucap Alvi yang menggangdeng putranya menuju dalam mansion.
Oru duduk dimeja makan, masih mengenakan seragam sekolahnya. Tangannya menyentuh teko kaca berisi air putih, sebelum ia menuangkan air itu kedalam gelas. Oru meneguk air itu sampai tandas.
“Ahh.. segarnya..” kata Leo setelah membasahi tenggorokannya yang sudah kering.
“kau pasti sudah tau apa yang terjadi mom” sambung Leo, pasalnya Alvi memang selalu mengetahui apapun karena anak buahnya selalu memberikan informasi setiap 2 jam sekali jika Leo sedang tidak dalam jangkauannya.
__ADS_1
“kau benar, tapi aku selalu ingin mendengar dari mulutmu Oru” Vina meletakkan sebuah pizza diatas meja makan yang sudah ia pesan.
“aku hari ini menghajar 3 temanku mom, yah karena mereka telah berani mengganggu makan siangku dan juga membuang bekal makanan yang sudah susah payah mom siapkan untukku” jawab Leo sebelum memakan sepotong pizza.
“seharusnya kau lebih lembut my son. Setidaknya jangan buat mereka sampai terbaring koma” Kekeh Alvi.
“tapi aku sudah terlanjur membuat mereka koma” Leo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Alvi hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah putranya “jangan kau ulangi lagi, itu sudah terlewat batas”
“jika semua yang menyangkut momy, aku tidak janji jika aku mengulanginya lagi” Cengir Leo.
Alvi hanya memberikan senyuman termanisnya, sungguh ia tau, jika tadi anak itu tidak menjatuhkan bekal makanan yang telah ia buat, anak itu tidak akan sampai masuk rumah sakit dan berakhir koma.
🐬🐬🐬
|| **Perkenalan Tokoh ||
Nb : Komen kalau menurut kalian penggambaran tokohnya kurang suka.. hehehe..😂**
_ Malvinae Auristela Seth / Malvinae Makaria Erinyes.
_ Ivander Gavin Davies.
_ Leonard Moruca Erinyes.
__ADS_1