
Ini adalah akhir, memang benar ! ini adalah part terakhir. ingat !!! ini adalah ending yang terkesan terburu-buru. Dhie tau itu ! jadi mohon untuk tidak membuliku😭😭
happy reading 😘😘
🐬🐬🐬
Sudah tiga tahun Alvi tak kunjung sadar. Terkadang tubuhnya terlihat memiliki progress, terkadang pula menurun. Kadang-kadang Alvi tersadar, namun pandangannya kosong, kemudian tertidur lagi dalam jangka waktu yang lama. Jantungnya berdetak dengan lemah, tubuhnya menjadi lebih kurus. Leo dan Clar kini sudah berusia enam belas tahun, batas umur mereka tumbuh secara normal.
“kak, mama pasti sakit” Clar menatap Alvi dengan tatapan sendu. Leo hanya mengangguk, mengelus punggung Clar dengan lembut.
Bohong, jika Leo akan mengatakan bahwa Alvi tidak merasakan sakit kepada Clar. Mereka sudah beranjak remaja, tampan dan cantik menjadi sihir pertama untuk memikat hati semua orang yang melihatnya. Dan mereka juga pasti cukup mampu, untuk mengetahui keadaan yang dihadapi saat ini. Sudah berkali-kali mereka memanggil mamanya untuk kembali dari mimpinya. Kembali kepelukan mereka, dan membuat mamanya bangga. Bahwa kini mereka sudah memiliki nama di dunia mafia.
Setiap hati mereka selalu bercerita tentang bagaimana mereka bersembunyi untuk latihan. Hingga mereka muncul sebagai “Blast the twins” dan dikagumi. Terkadang mereka juga bercerita tentang Albert yang kini menjadi sangat cerewet, suka mengomel, dan sangat sensitive. Tak lupa dengan Gav yang senantiasa menemani Alvi dan selalu mencurahkan hatinya, bahwa : perasaan Gav masih sama, untuk mencinta. Jika teringat, mereka juga menceritakan tentang Chan yang kini masih bertindak dengan angkuh dan konyol, dan kini chan suka menggandeng banyak wanita.
Yah—Chan telah mundur, karena ia merasa dirinya tak pantas untuk Alvi, mengingat Gav memiliki rasa yang tak bisa Chan ukur. Sesuai janji, Chan juga telah menyerahkan perkebunan ganja untuk Alvi. Tak bosan, the Twins akan bercerita setiap harinya. Berharap si putri tidur mau membuka mata dan mengukir senyumannya. Tidak seperti Alvi yang cuek akan hati, tapi menjadi Alvi yang penuh cinta terhadap siapa saja, dan tetap memiliki citra yang menakutkan. Berharap hari itu akan segera tiba, dan semoga.
“kapan El ku akan sadar, hum ?” Ujar Gav sembari membuka pintu kamar VVIP yang selalu ia kunjungi selama 3 tahun terakhir. Leo dan Clar hanya menoleh dan tersenyum, meski mereka awalnya sangat membenci Gav setelah mengatahui apa yang sudah ia lakukan dahulu, namun mereka lambat laun menghormatinya. Pernah, saat Gav sudah diambang kematian karena Albert tidak menyetujui dia membesuk Alvi. Namun dengan kekeh, ia tetap melanjutkannya, dan apapun resikonya ia harus membesuk Alvi.
“tidak kah kau tau ? aku akan bosan jika becerita sendiri. Aku sudah berkali-kali mengatakan isi hatiku kepadamu. lihat ! kau bahkan tak memberi respon yang baik terhadapku” ucap Gav.
Gav menghela nafas berat, The twins hanya memandang, tidak ada sepatah kata yang diucap. Karena mereka tau, Gav telah berusaha menahan sakit yang sama, dan kecewa yang besar karena tidak bisa melindungi Alvi dengan baik saat perang terjadi. “jika kau tak kunjung bangun, aku akan pergi dan tidak menemuimu lagi” Ujar Gav sembari pergi meninggalkan brankar.
Kata itu selalu terucap ketika Alvi tak kunjung bangun, ia berharap Alvi akan menahannya dan terbangun. Namun yang terjadi, sampai sekarang Alvi tidak memiliki tanda-tanda hendak bangun. Gav berspekulasi, didunia yang Alvi didiami sekarang pasti membuat Alvi bahagia, tidak merasakan sakit dari pihak manapun. Entah apapun alasannya, seharusnya Alvi kembali ke dunianya yang sebenarnya.
__ADS_1
“maka pergilah !” Gav terhenti, serasa waktu memberhentikan segalanya untuk memberinya kesempatan berfikir. Suara lemah itu ? Gav memalingkan wajahnya keatas brangkar. Didapati Alvi sudah membuka mata dan tersenyum kearahnya.
Gav segera menuju ke brangkar, pertama kali ia meneteskan air mata, melihat Alvi sudah membuka matanya. “jangan cengeng, dimana rasa angkuhmu saat aku sedang terbaring ?” Alvi terkekeh.
Memang benar, Gav selalu angkuh saat ia mengatakan rasa cintanya. Bajingan cap ikan asin itu selalu menggunakan kalimat hiperbola dibumbuhi majas-majas yang sok manis. Terkadang Alvi merasa jijik mendengar semua itu. Yah—Alvi selalu mendengar apa yang bicarakan orang-orang sekitarnya, hanya saja tubuh Alvi tidak bisa menerima perintah.
“hey.. hey.. kau mengejekku El ?” Gav menjitak kening Alvi, dan itu membuat Leo dan Clar melotot tajam.
“jangan marah kesayanganku, orang tua ini sedang mengingat masa mudanya dulu.” Alvi mengejek kembali, kemudian menatap buah hatinya yang beranjak remaja itu. Leo dan Clar langsung memeluk Alvi dengan erat. Sungguh, mereka sangat bahagia dengan kejadian hari ini. Alvi pun membalas pelukan mereka dengan hangat, menumpahkan kerinduan yang sudah tak terbendung.
“El, maafkan aku” Gav menunduk, ia sangat merasa bersalah ketika tau bahwa Alvi sudah kehilangan bayi dan rahimnya. Ini juga akibat dari perbuatannya dulu, andai saja… hanya, andai saja.
“aku tau ! jangan lanjutkan. Ini sudah menjadi keputusan takdir, seberapa kuat aku melawan takdir, takdir tidak akan bisa terpatahkan” Alvi mengukir senyum yang selama ini sudah tak terlihat oleh Gav. Gav sangat berbahagia, akhirnya penantiannya selama ini berbuah lebat dan manis.
“dasar bajingan !” Alvi melemparkan bantal, namun bantal itu mengenai pintu yang sudah tertutup. Terdengar bahwa Gav tertawa puas dibalik pintu, Alvi mendengus tak suka, sedangkan Leo dan Clar hanya saling berpandangan dan mengendikkan bahu.
Inilah akhir dari kisah ini, menamatkan sebuah kisah yang tidak klasik, cukup rumit, dan terlihat berbelit-belit. Dimana cinta telah terpendam kedasar ribuan kaki, tertimbun gejolak emosi. Mereka telah merasakan itu masing-masing, pernah tenggelam kedalam dendam masa lalu, dan menimbulkan akibat ketidak percayaan, penyesalan, keterpurukan. Mengikuti jalan yang salah dalam cinta.
Dan kini, mereka berhak untuk bahagia, mengukir rasa untuk saling bersama—
🐬🐬🐬
Dia pergi bukan hanya sebentar. Begitupula dengan diriku yang ikut menjauh tatkala didekati. Pernah merasa sakit, dan kita seri.
__ADS_1
Saling memberikan timbal balik yang memberikan bekas bak duri. Tertancap perlahan, dan ketika terkoyak menyakitkan.
Kami pernah mengalami masa dimana rasa sudah tidak bisa dipercaya. Dia melukaiku, kemudian aku yang melukainya.
Kami pernah jatuh dalam jurang yang sama, namun bilik yang berbeda. Dia dendam karena ayahku, dan aku dendam karena dirinya.
Sudah dikatakan, kisahku bukan cinta klasik. Bukan pula cerita dongeng yang selalu berbahagia setiap waktu. Pernah membenci, dan pernah memperjuangkan, itu cukup.
Kisahku ditemani oleh pemeran utama dalam hatiku. Dia bersamaku !
-the end.
🐬🐬🐬
kenapa cerita ini terkesan endingnya buru². karena dari awal Dhie sudah memberikan Klu, jika ini bukan kisah klasik dan manis. memang ending seperti ini yang Dhie inginkan. berubah dari rencana awal yang sebenarnya Dhie menginginkan kisah ini terdiri dari 40 bab dan berakhir dengan sad ending.
Dhie tau, Dhie sangat sadar. Novel ini memang sedikit buruk, heheh... sekali lagi Dhie minta maaf karena sudah mengecewakan pembaca.
sebagai gantinya, Dhie menebusnya. Dhie akan membuat Sequel tentang kisah klasik yang melibatkan putra sulung keluarga Erinyes — Leonard Moruca Erinyes. Cerita ini akan Dhie buat sangat manis dan klasik serta alur yang lebih halus. dan yang pasti kisah ini berbeda !
SEGERA !! dan NANTIKAN !!
Kisah Klasik Mafia : How Love Decides (bagaimana cinta memilih)
__ADS_1