Malvinae (Love Story Of Mafia)

Malvinae (Love Story Of Mafia)
Bab 8 : `Kau Gila An`


__ADS_3

Tidak ada hati yang mampu menerima pengkhianatan.


Tidak ada rasa yang mampu melebihi rela.


Tidak ada ucapan yang mampu menyiratkan kekecewaan.


Dia..


Menyakiti


Dan membuatku mati


-Malvinae


🐬🐬🐬


Vina mengelilingi mansion besar itu, ia mencari seseorang yang sedari tadi meninggalkannya. Sebenarnya Ia mencari calon kakak iparnya, Khansa. Setelah mereka menyelesaikan urusan perusahaan, Khansa sempat izin ke toilet tapi sampai sekarang belum kembali.


Vina masuk disetiap kamar berharap kakaknya ketemu, setiap toilet ia datangi namun juga nihil. Satu yang sekarang ada dalam fikirannya, Khansa tersesat dan salah masuk kedalam kamar An.


Vina berhadapan dengan sebuah pintu yang selalu ia tatap sebelum masuk ke kamar Ivan.


Ceklek


(Vina membuka pintu)


“An !! apa yang kau lakukan ?” teriak Vina


Vina sangat terkejut ketika ia melihat Khansa sudah lemah tak berdaya, tangannya terikat dengan memar yang terlihat membiru.


“aku akan membunuhnya” desis Ivan


Vina menatap tidak percaya, Ia langsung menatap seseorang yang ia kira mampu untuk meredakan Ivan.

__ADS_1


“jangan kau tatap aku seperti itu Vina, aku tidak bisa menolongnya” ucap Evano.


Ditatapnya kembali kondisi sang kakak, seolah mengatakan sesuatu dari sorot matanya ‘apa yang harus aku lakukan kak ?’


“pergi dari sini Vina” ucap Khansa dengan suara lirih namun masih cukup terdengar.


Vina hanya menggeleng, menunjukkan bahwa ia tidak bisa meninggalkan calon kakak iparnya sendiri. Gadis itu meraba saku celananya untuk mencari sesuatu, namun tidak ada.


“kau mau menelepon Albert huh ?” tebak Ivan


Vina *** kaos yang ia pakai, ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Matanya menyiratkan kebingungan dan ketakutan


“Go Vina..” bentak Khansa yang berusaha berdiri.


“Why Kak ?” tanya Vina


“Go now, don’t come back in here !” ucap Khansa dengan tegas.


Ivan langsung menendang Khansa, tidak perduli bagaimana rasa sakit yang ditimbulkan dari perlakuannya. Ivan juga menampar dan memukul Khansa, Khansa meringis kesakitan.


Tak ada jawaban, itulah yang sekarang Vina rasakan. Ia ingin pergi tapi ia juga tak tega meninggalkan kakaknya. Khansa sudah benar-benar lemah, ia tidak mengeluarkan suaranya lagi. Suara terakhirnya hanya ‘please, pergi sekarang’.


“An ! kau membunuh kakak ku” bentak Vina.


Terlihat kesedihan dimatanya, apa yang harus ia katakan pada Albert. Apakah ‘kakak Khansa telah meninggal dihadapanku, dan aku tak mampu melindunginya’ yang akan ia katakan ?


Vina mendekat, menatap mata yang selalu memberikan ia kehangatan sebelumnya, namun sekarang sudah tak ada. Mata itu menyiratkan sebuah kebencian, entah apa alasannya Vina tak tau.


“apa ini An ?” Vina mencoba meminta penjelasan ulang.


Ivan tak memberikan jawaban, ia langsung menjambak Vina. Matanya melirik kearah Evano yang dari tadi hanya duduk menonton. Evano langsung bangkit dari duduknya dan keluar serta menutup pintu.


Ivan langsung mengangkat Vina, dan menjatuhkannya keranjang dengan kasar. Ia tak perduli dengan jeritan yang dikeluarkan oleh Vina, Ivan mendekat keranjang dan membuka kaos yang ia pakai sehingga dada indahnya ter-ekspouse.

__ADS_1


“Ia telah mengetahui rencanaku El” ucap Ivan, menujuk mayat Khansa.


“sebelumnya aku ingin membunuhmu” sambung ivan dengan lembut, tangannya mengelus pipi turun keleher “tapi sekarang aku berubah fikiran, aku ingin menikmatimu” Ivan tersenyum jahat.


Tangan Ivan mencekik leher Vina dan membenturkannya ketembok. Vina meringis kesakitan, tangannya meraba meja untuk membantunya berdiri.


“kenapa An ? tidakkah kau tau aku mencintaimu !” kata Vina dengan menahan air mata.


Ivan tersenyum kecut “bagus dong.. aku bisa menghancurkanmu luar dan dalam”


“apa salahku An ?” lirihnya


“kau tidak salah El, tapi ayahmu telah membunuh ayahku dihadapanku” Ivan menampar Vina sampai bibirnya berdarah.


“dan kau masih mau membalaskan dendam ? setelah kau membunuh kak Khansa dihadapanku ??” tanya Vina yang sedang meletup


“Khansa hanya korban El, andaikan ia tidak menguping tadi ! mungkin ia masih hidup” Ivan mencengkram pundak Vina.


“who are you An ?” Vina benar-benar penasaran


“Ivander Gavin Davies” jawab Ivan dengan santai


Vina yang mendengar nama itu langsung membekap mulutnya sendiri, ia sungguh tak mempercayai ini. Vina tak dapat membendung air matanya sendiri, ia tau dan sangat tau siapa keluarga Davies.


“Gav..” ucap Vina dengan bibir bergetar “kau putra paman Dav ? kau my price, my noble ?” Vina terisak


Vina tak bisa mengungkapkan kehancuran hatinya, ketika ia tau bahwa Ivan adalah Gav, sahabat kecilnya, pelindungnya, kesatrianya, pangerannya. Sosok Gav yang ia rindukan kini telah berdiri dengan dendamnya, yang ia sendiri tak tau kejadiannya.


“ya.. aku Gav ! my sweety El” ucapnya dengan berbisik.


🐬🐬🐬


please your vote, itu adalah asupan buat Dhie.. okay

__ADS_1


đŸ€—đŸ€—


__ADS_2