Mantan Istriku Kembalilah

Mantan Istriku Kembalilah
Bab.20 Kebohongan.


__ADS_3

Ketika Alise sedang bersumpah akan menemukan wanita itu dan menelannya hidup - hidup. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki Randika yang sedang menuruni tangga.


Alise segera melepaskan kepalan tangannya dan menyambutnya dengan tersenyum.


"Sudah mengambil dokumennya?" Tanya Alise lembut.


"Hem, sudah." Jawab Randika singkat.


Tadi diatas dia sempat menghisap sebatang rokok agar bau aroma tubuh Kasyaira tersamarkan, dia lalu berganti pakaian dan mengambil dokumen kemudian langsung turun.


"Jika sudah mengambilnya kembali lah ke Perusahaan, bukankah sedang sibuk. Tapi ingat, perhatikan kesehatanmu." Kata Alise sambil menghampiri Randika, lalu menjulurkan tangan dan merapikan dasinya.


"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke Perusahaan dulu." Randika melihat Alise sebentar lalu bersiap akan pergi.


Meskipun Randika mengatakan dia mau pergi, tapi dia belum melangkahkan kakinya. Tangannya yang sedang menggenggam dokumen, sebentar melonggar dan sebentar mengerat. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada Alise tapi juga tidak berani.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu?" Alise berpura - pura tidak tahu dan melihat Randika dengan tatapan penasaran.


"Alise..."


Dia menatap mata Alise dan ingin memberitahukan semua kejadian semalam kepada Alise, dia tidak ingin membohongi istrinya. Tapi jika dipikirkan lagi, pasti akan membuat istrinya sakit dan tidak akan memaafkannya.


Di dunia bisnis Randika sangat cepat jika mengambil keputusan, hanya saat behadapan dengan istrinya dia bimbang dan merasa bersalah seperti ini.


"Randika, apakah kamu terlalu lelah bekerja?" Alise mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah suaminya dan bertanya penuh perhatian.


"Tidak, tidak apa-apa. Baiklah aku pergi." Kata Randika sambil melepaskan tangan istrinya pelan.


Kemudian Randika pergi meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang.


Alise mengikuti di belakang Randika, dia baru berhenti setelah mengantarnya sampai di depan pintu. Dia melihat Randika berjalan terburu-buru masuk ke dalam mobil, sampai akhirnya mobilnya tak terlihat.


Seketika Alise tak bisa menahannya lagi, dia menggenggam dadanya lalu tubuhnya seketika goyah.


"Nyonya, ada apa?" Bi Inah maju untuk menopang Alise dan bertanya dengan khawatir.

__ADS_1


"Nyonya, apakah perlu menelepon Dokter pribadimu?" Tanyanya lagi.


"Tidak perlu! Aku hanya terlalu kelelahan, papah aku ke kamar untuk istirahat saja." Alise menggerakkan tangannya dengan suaranya yang lemas.


"Baik." Bi Inah menjawab.


Lalu dengan hati-hati Bi Inah memapah Alise ke kamar, ia membantunya berbaring di atas ranjang lalu menutupinya dengan selimut.


"Disini sudah tidak memerlukan mu lagi, panggilkan Kakak sepupuku." Perintah Alise.


"Baik Nyonya, aku akan pergi sekarang." Jawab Bi Inah dan segera pergi.


Alise menggerakkan bantal yang berada di belakang tubuhnya, setelah menemukan posisi yang nyaman dia kembali berbaring. Dia menjulurkan tangan dan memijat pelipisnya, dia merasa dirinya akan meledak. Aroma wanita lain di tubuh Randika tercium di sekitar hidungnya dan membuatnya jijik.


Mata Alise memicing, dia melihat kemewahan yang ada di dalam kamarnya. Hatinya kembali merasa marah dan tidak tenang.


"Randika sudah bersama wanita lain, jika dia bisa berbuat seperti itu maka dia tidak akan ragu meninggalkanku. Aku harus membuat persiapan lebih awal! Wanita yang berebut Randika denganku harus mati!" Geramnya.


"Alise, ada apa lagi denganmu? Bi Inah mengatakan kamu pusing." Rendy baru membuka pintu, tapi suaranya yang penuh perhatian sudah terdengar.


Rendy tidak perduli dengan omelan Alise, lebih tidak perduli dengan bekas tamparan yang masih ada di wajahnya. Dia hanya melihat keluar pintu memeriksa, lalu menutup pintu kamar dan berkata dengan suara pelan dan berjalan ke arah ranjang.


"Mati apanya, Alise jaga ucapanmu." Kata Rendy lembut.


Alise melihat Rendy sekarang sudah bersikap lembut lagi, merasa puas dan tersenyum.


"Ren, memang kamu yang selalu baik padaku." Ucapnya.


"Bagus kalau kamu tahu." Balas Rendy.


Rendy tersenyum pada Alise, bagaimana mungkin dia tidak baik padanya. Alise adalah wanita yang akan selalu dia cintai seumur hidup.


"Ohya, Ren. Masalah yang aku suruh kamu urus sebelumnya, bagaimana?" Tanya Alise sambil menggenggam tangan Rendy dengan lembut.


Rendy menggenggam balik tangan Alise, setelah berpikir sebentar dia bertanya.

__ADS_1


"Apakah masalah wanita saat pesta di keluarga Dirga?" Tanyanya.


"Benar." Jawan Alise.


"Sudah beres." Rendy menjawab tegas.


"Baguslah, sekarang ada masalah lagi yang harus kamu lakukan." Alise menggenggam tangan Rendy semakin erat, wajahnya terlihat sedih.


"Aku sudah bilang, apapun yang kamu suruh aku akan melakukannya." Jawab Rendy yakin.


"Ren, apakah kamu tahu? Randika, dia... d-dia" Alise belum menyelesaikan ucapannya, setetes air mata telah mengalir dari matanya dan jatuh di punggung tangan Rendy.


Melihat Alise menangis Rendy langsung panik, dia segera menghapus air mata di wajahnya dengan lembut.


"Alise, kamu jangan menangis. Apa yang telah terjadi? Apakah Randika menindas mu?!" Tanya Rendy langsung marah.


"Randika, d-dia." Alise malah semakin menangis.


"Alise, kamu jangan menangis lagi. Aku sungguh tidak rela, kamu katakan. Kamu ingin aku melakukan apa, aku akan segera melakukannya." Rendy berkata sambil menarik tubuh Alise, lalu memeluknya.


Melihat Rendy yang khawatir, Alise terisak beberapa kali lagi baru berhenti menangis. Dia bersandar di pelukan Rendy, dia menengadahkan kepalanya dan melihat Rendy dengan tatapan matanya yang menyedihkan.


"Ren, Randika sudah berselingkuh!" Kata Alise akhirnya.


"Apa!?" Rendy tanpa sadar berteriak.


Seketika amarah membludak di dada Rendy.


Dasar binatang! Kenapa dia bisa seperti itu? Betapa baiknya Alise terhadapnya! Hanya kurang tidak mengeluarkan jantungnya untuknya saja, tak disangka dia malah berani selingkuh!


"Ren, aku sangat takut, aku benar-benar takut. Aku takut Randika tidak menginginkan aku lagi." Alise berkata dan mulai menangis lagi.


"Alise, tidak akan! Randika menikahi mu, dia yang tidak tahu ini adalah keberuntungannya. Itu adalah dosa yang dia tebus dari beberapa masa lalu kalian. Dia tidak mungkin tidak menginginkan mu!" Rendy menghiburnya.


Jauh dalam lubuk hatinya Rendy berharap Alise dapat mencintainya seperti ini. Tapi dalam situasi ini tidak perduli bagaimanapun, dia akan tetap berada di sisi Alise. Meskipun yang dicintainya adalah Randika juga tidak apa-apa, asalkan dirinya dapat tetap berada di sisi Alise saja sudah cukup.

__ADS_1


^Bersambung^


__ADS_2