
Nata sambil mengendarai mobilnya, segera bertanya pada Kasya.
"Kasya, sekarang katakan kamu mau kemana?" Tanya Nata.
Kasya memalingkan kepalanya ke arah Nata yang sedang mengemudi, kemudian ia memutuskan untuk jujur.
"Aku mau ke Surabaya, anakku sakit." Ucap Kasya yang membuat Nata mengerem mobilnya.
Seketika Nata menatap ke arah Kasya yang memang masih menatap ke arahnya, Kasya ingin mendengar apa tanggapan darinya.
"A-anak?" Nata yang masih terkejut bertanya dengan gagap.
"Ya, anak laki-laki. Umurnya sudah mau lima tahun. Dia sakit gagal ginjal cacat dari lahir dan juga ada kelainan kondisi sistem metabolisme tubuhnya. Dia harus selalu cuci darah seminggu 2x." Kasya menjelaskan tanpa ada maksud apa-apa.
Tapi Nata yang mendengarnya salah paham, dia pikir Kasya sudah menikah.
"Anak, berarti kamu juga sudah menikah dan mempunyai suami?" Tanya Nata masih dengan tatapan syok.
"Aku sudah pernah menikah, tapi sudah lama bercerai. Jadi jawabannya tidak, aku tidak punya suami." Jawab Kasya jujur.
Saat mendengarnya Nata langsung menghembuskan nafas leganya, ternyata sejak tadi dia sedang menahan nafas menunggu jawaban Kasya. Ada sedikit kelegaan di hatinya, dia pun tak bertanya lagi dan segera melajukan mobilnya kembali.
__ADS_1
Nata sambil mengemudi menelepon asistennya Mira dan meminta untuk dengan 'segera' memesan tiket Bisnis penerbangan Jakarta-Surabaya untuk dua orang. Nata menjelaskan jika tiket itu untuknya dan Kasya, Mira dari ujung sana meskipun penasaran dan heran tapi tidak berkata apa-apa dan segera melaksanakan perintahnya.
"Kita akan naik pesawat, lebih cepat. Jika naik mobil butuh sekitar 8 jam, kamu tidak keberatan kan. Bukankah kamu ingin cepat sampai?" Nata bertanya.
"Terima kasih Direktur, aku akan membayar biayanya nanti. Tapi kenapa Anda bilang tiket pesawat untuk 2 orang dan juga tadi Anda bilang 'Kita'?" Tanya Kasya yang kebingungan.
"Kita ya berarti aku dan kamu. Aku akan ikut, anggap saja sedang menengok keluarga yang sakit dari karyawannya." Nata ngeles dan mengangkat bahu.
"...........?" Kasya tak bisa berkata-kata lagi,dia pikir nih orang kenapa selalu semaunya sendiri.
Sampailah mereka di bandara dan harus menunggu selama beberapa waktu karena masih menunggu kabar dari Mira. Akhirnya mereka sekarang sedang berada di dalam pesawat sekitar 1jam 30 menit di perjalanan, lalu setelah sampai mereka pun segera turun dari pesawat.
Ketika sudah sampai Kasya dengan tergesa-gesa turun dan melupakan Nata. Nata pun segera membayar Taxi tersebut dan segera menyusul Kasya ke dalam.
Saat sudah sampai terlihat Ranti yang sedang duduk dengan Marsya, dia pun menghampirinya.
"Ran, bagaimana keadaan Byan sekarang?" Tanya Kasya dengan suara gemetar.
"Sudah ditangani Dokter Jimmy, maaf kan aku Sya." Ranti sangat menyesal.
"Kenapa kamu minta maaf, sudahlah. Jadi sudah berapa jam Byan di dalam?" Tanya Kasya, karena untuk cuci darah biasanya dibutuhkan sekitar 5 jam.
__ADS_1
"Sudah hampir 3 jam." Jawab Ranti.
Kasya pun mengangguk dan menunggu diluar ruangan tempat Byan sedang cuci darah, Kasya pun langsung tertunduk sedih dan tubuhnya yang sudah ditahan-tahan supaya kuat akhirnya terduduk lemas tak bertenaga.
"Maaf Sya, aku tidak pantas menjadi sahabatmu sampai tidak memperhatikan gejala Byan. Aku yang salah, aku beberapa hari ini masih memikirkan Bagas yang belum pulang-pulang. Jadi aku kurang perhatian pada Byan bahkan juga Marsya. Ketika Byan demam dan sesak nafas, aku langsung membawanya ke Rumah sakit." Ranti berkata sedih dan menyesal.
"Ran, kamu yang selalu ada di sampingku selama ini, aku tidak punya siapa-siapa. Aku lah yang salah, aku tidak pantas menjadi seorang Ibu. Aku bahkan tidak bisa selalu dekat dengan anakku sendiri, karena terus bekerja." Kasya akhirnya tak kuat lagi menahan air matanya, lalu akhirnya Kasya menangis sangat menyedihkan dan Ranti memeluknya.
"Sya, semua ini juga bukan salahmu. Semuanya salah pelakor dan sampah itu. Ayahmu sudah mempercayakan mu pada pria sampah itu, hingga ayahmu sebelum meninggal pun mempercayakan semua aset dan hartanya pada Randika. Ayah mu melihat putrinya sangat mencintai dia tapi lihat apa yang terjadi, kamu bahkan saat diceraikan tak membawa sepersen pun!" Kata Ranti marah.
"Padahal dulu saat perusahaan ayahnya akan bangkrut, ayahnya lah yang memohon - mohon kepada ayahmu untuk membantunya. Tapi si sampah itu tak tahu diri, setelah dia berhasil mengambil Perusahaan Ayahnya sendiri. Bukan hanya kamu yang diceraikan dan ditinggalkan demi selingkuhannya itu, tapi dia juga mengusir keluarganya ke luar negeri bahkan ayahnya sendiri. Kamu yang dulunya seorang anak dari keluarga kaya, gara-gara si sampah itu kamu menjadi seperti sekarang. Pria seperti si sampah itu bukan manusia, mata hatinya telah buta!" Ranti masih saja berbicara dengan geram.
"Kamu bahkan berniat bunuh diri, jika saja kehadiran Byan di dalam rahimmu tidak datang. Untung saja semuanya tidak terlambat, saat kamu memotong pergelangan tanganmu kamu berhasil selamat dan diberikan berita kehadiran Byan. Byan adalah Anugrah dalam hidupmu Sya, jadi sekarang kamu harus terus bertahan demi dia. Byan di dalam pun tak pernah menyerah, meskipun setiap dia cuci darah terdengar suara kesakitannya. Kamu adalah ibu yang hebat dan Byan adalah anak terhebat." Kata Ranti menguatkan Kasya.
Nata yang memerhatikan dan mendengar semua pembicaraan mereka berdua, juga ikut merasakan kesedihan Kasya dan juga ikut merasa marah. Ternyata hidup Kasya seperti itu, betapa brengseknya pria yang telah menyakiti dan meninggalkannya.
Sedangkan Ranti yang terus saja bicara tak menyadari kehadiran Nata, dan Nata pun tidak ingin menganggu adegan yang penuh dengan kesedihan dan persahabatan indah itu.
^Bersambung^
( Sedikit masa lalu Kasya dan Randika ).
__ADS_1