
Nata juga melihat perilaku Kasya dari kaca spion dan dia malah tersenyum melihatnya. Jika Nata baru mengenal Kasya, Nata pasti akan berpikir yang tidak-tidak. Tapi karena seharian ini Nata sudah melihat dan memperhatikan Kasya dia pun tahu, Kasya bukan wanita seperti itu 'mata duitan'.
"Dimana alamatmu?" Nata mengendarai mobilnya di jalan raya.
Kasya yang mendengar pertanyaan Nata, langsung tersadar dari rasa antusiasnya dan mengembalikan ekspresinya semula. Dia duduk kembali dengan tenang, setelah memberitahukan alamatnya kepada Nata.
Setelah itu tercipta keheningan yang canggung pun menyelimuti mereka berdua sepanjang perjalanan.
Nata yang merasakan kecanggungan mereka pun segera tersenyum, ia berinisiatif memulai percakapan.
"Kasya, hari ini adalah hari pertamamu di Perusahaan kan?" Tanya Nata.
"Ya Direktur, benar. Meskipun aku sudah lama magang di Perusahaan Wajendra, pekerjaan formal-ku baru saja dimulai hari ini. Tapi karena Direktur Nata, hari pertama kerja resmi ku menjadi luar biasa." Kasya berkata penuh semangat.
"Aku pikir hal-hal luar biasa yang kamu hadapi nanti akan lebih dari ini." Nata tersenyum.
"Lupakan saja, aku hanya ingin menjadi pegawai kecil. Aku benar-benar bersyukur, jika masih mempunyai pekerjaan untuk hidup." Kasya menjawab tapi dengan suara pelan, dan matanya menerawang tersirat suatu kesedihan.
Nata tentu saja mendengar suaranya meskipun pelan dan sekali lagi melihat wajah Kasya dari kaca spion. Terlihat oleh Nata mata Kasya yang tersirat kesedihan itu, membuat kening Nata berkerut tapi Nata tak mengatakan apapun.
Dengan cepat mobil Nata sampai ke rumahnya, kemudian Nata turun dan membukakan pintu mobil Kasya.
Nata dan Kasya berdiri di lantai bawah rumah sewa tempat tinggal Kasya, cahaya bulan bersinar dan memantulkan bayangan keduanya di tanah.
"Terima kasih Direktur Nata, sudah mau mengantarku pulang." Kasya tersenyum tulus pada Nata.
"Tidak perlu berterima kasih. Kasya, mari kita makan malam bersama suatu hari nanti." Jawab Nata dengan matanya yang bercahaya lembut memandang Kasya.
Degh!
Kasya tentu saja terkejut dan seketika jantungnya berdegup kencang, tapi dia segera menormalkan jantungnya kembali karena dia berpikir mungkin saja hanya ajakan formal.
"Baik." Kasya menjawab sambil mengangguk, dia tidak ingin berpikir macam-macam.
"Ya." Nata yang mendapatkan jawaban dari Kasya, langsung tersenyum dengan lebar.
Kasya pun berpamitan lalu berjalan pergi menuju ke atas, Nata tak berhenti menatapnya.
__ADS_1
Setelah Kasya hilang dari pandangannya, Nata masih belum juga pergi. Dia masih menatap rumah itu, sampai sebuah jendela yang gelap tiba-tiba menyala. Dia tersenyum dengan tenang dan berbalik masuk ke mobilnya.
Nata yang duduk di mobilnya mengeluarkan kotak beludru merah yang selalu dibawanya, lalu membukanya.
Sepasang anting-anting koral merah memancarkan cahayanya, Nata mengingat kembali penampilan Kasya yang memakai gaun 'Bidadari' dan senyumnya semakin dalam.
"Kasya, selamat malam." Gumamnya.
Sedangkan setelah Kasya kembali ke kamarnya dan menyalakan lampu, dia mengintip dari tirai kamar ke arah Nata di bawah dan melihat Nata masih ada disana. Nata sedang menoleh ke arah rumahnya, seolah Nata sedang menatap ke arah kamarnya.
Tanpa sadar Kasya memegang jantungnya, dia memiliki perasaan yang tidak bisa dijelaskan lalu dengan cepat dia menutup tirai kamarnya.
Setelah itu terdengar suara mesin mobil yang dihidupkan di bawah, suara itu kemudian berangsur-angsur menjauh pergi.
Kemudian Kasya menghela nafas lega, lalu dia bolak - balik di kamarnya. Dia memegang amplop tebal di tangannya dan hampir meloncat.
"Aaaaaa! Aku tidak menyangka bisa mendapatkan uang sebanyak ini di hari pertamaku kerja. Yeaayyy! Byan, akhirnya mama punya uang buat berobat kamu sayang." Teriaknya dengan bahagia.
"Ah, aku harus menelepon Ranti." Katanya semangat.
Kasya lalu mengambil ponselnya ,tak berapa lama terdengar suara di ujung telepon.
"Ran, kamu sakit? Kenapa? Kamu flu?" Tanya Kasya cemas.
"Hem, ya. Aku flu." Jawab Ranti, tapi suaranya terdengar aneh.
"Tidak! Kamu bohong." Kasya tau pasti ada sesuatu.
"Tidak, hikshiks." Ranti berkata tidak tapi dia tak kuat menahannya lagi.
"Kamu menangis, Ranti, ada apa? Bilang padaku, cepat!" Kasya langsung naik darah.
"Bagas, d-dia berubah." Jawab Ranti.
"Berubah bagaimana, Ran? Bicara yang jelas." Sekarang Kasya kembali bolak-balik di kamarnya.
Kemudian Ranti menceritakan jika Ibu Mertuanya masih menekannya di rumah, dan kali ini Bagas bahkan menurut padanya. Ketika mereka bertengkar hebat gara - gara sebuah panggilan telepon di ponsel Bagas, tiba - tiba Bagas berubah menjadi kasar padanya.
__ADS_1
"Ran, maksudmu, saat kamu mengangkat telepon yang masuk ke ponsel Bagas disana tertera nama pria teman kantornya, tapi saat kamu mencoba mengangkatnya Bagas malah marah. Begitu?" Tanya Kasya mencerna semuanya.
"Iya, padahal aku mengangkatnya karena takut ada hal penting. Tapi belum saja aku mengangkatnya, Bagas yang baru keluar dari kamar mandi marah dan membentakku. Saat Ibu mertuaku mengajaknya pergi keluar dari rumah ini, dia pun menurut." Kata Ranti sedih.
Kasya langsung curiga tapi dia tak mengatakan apapun pada sahabatnya itu, bagaimanapun jika tidak ada bukti apapun dia takut rumah tangga Ranti retak.
"Jangan banyak dipikirkan, bukankah Bagas cinta mati sama kamu dari zaman kuliah dulu, mungkin saja dia sedang ada kerjaan di kantor yang bikin dia kesal. Kamu juga dulu gitu kan saat pacaran sama dia, kamu selalu kesal dan marah padanya. Tapi dia hanya menerima dimarahi olehmu, jadi lebih baik bicarakan lagi dengan baik-baik saat dia pulang kembali ke rumah." Kasya berkata agar sahabatnya tidak bersedih terus.
"Baiklah." Jawab Ranti
Kemudian Kasya menceritakan durian runtuh yang datang padanya hari ini, dan berjanji akan segera mentransfer uangnya.
Keesokan harinya, Kasya yang diantar oleh Wakil Direktur Bambang secara pribadi, datang lagi ke ruangan departemen desain sebagai seorang karyawan dan bukan lagi seorang magang.
Koleganya dari departemen juga menyambut hangat kedatangan Kasya. Apalagi kemarin Kasya muncul di depan publik dan media mengenakan 'Bidadari' rancangan Direktur mereka. Dan dari pihak Perusahaan Wajendra juga menyebarkan berita ini, sehingga membuat kehebohan untuk sementara waktu.
Tapi ada juga gosip tak mengenakkan yang terdengar seperti hubungannya dengan Direktur Nata, semua berita dengan berbagai versi bercampur menjadi satu dan sangat heboh.
Tapi versi apapun berita itu, kolega di departemennya tahu bahwa Kasya tidak boleh disinggung. Jadi mereka akhirnya harus bergaul baik dengan Kasya.
Untuk sementara Kasya belum bisa beradaptasi dengan antusiasme semua orang, dia lalu segera melakukan pekerjaannya dan tugasnya sendiri.
Saat ini Erina seorang kolega dan juga teman baik Kasya yang bergabung dengan departemen desain datang menghampiri Kasya, dia sekarang adalah mahasiswi tingkat tiga dan juga memiliki semangat muda.
Erina adalah seorang magang, dia adalah orang yang bekerja dengan cepat dan orang yang tulus. Erina langsung iri mendengar kabar Kasya, yang sudah menjadi karyawan resmi dan juga mengenakan pakaian 'Bidadari' di acara catwalk, dia datang menemui Kasya dan mengungkapkan kekagumannya.
"Kak Kasya, aku sangat iri padamu." Katanya.
"Kamu juga sudah hebat, Perusahaan Wajendra adalah Perusahaan pakaian terbaik di Kota Jakarta. Kamu belum lulus dari kampus, tapi sudah bisa magang disini. Setelah lulus sudah bisa dipastikan, masa depanmu yang cerah!" Kata Kasya sambil menepuk bahunya supaya semangat.
"Ya, akhirnya aku merasa sedikit lebih baik sekarang." Kata Erina tapi masih cemberut.
Lalu tiba-tiba jiwa gosipnya segera keluar.
"Kak Kasya, jadi? Bagaimana dengan gosip kamu dan Direktur Nata?" Bisiknya pada Kasya.
Kasya memang sudah mendengar gosip itu dari saat dia masuk ke Perusahaan dan dia sengaja berwajah biasa saja. Tapi saat ditanya secara langsung sekarang, akhirnya pipinya tiba-tiba muncul gurat-gurat merah karena ia malu dan juga gugup.
__ADS_1
^Bersambung^