
🌹Terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan kepercayaannya, Author siap melanjutkan kembali.🌹
Saran & Kritik boleh tapi yang membangun, soalnya mental Author mental kentang 🙈 ( No Bully ya 🤧 )
❤️ Happy Reading Kembali ❤️
______________________________
Rendy yang sudah menarik resleting celananya, lalu dengan wajah dan suaranya yang gugup dia bicara.
"Bi, a-anu jangan berpikiran aneh. Tadi aku kebelet, jadi ikut numpang ke kamar mandi di kamar Alise." Rendy berkelit.
"Tuan Rendy tidak perlu menjelaskan, saya juga tidak berpikiran macam - macam. Kalau begitu saya permisi naik ke atas, tadi lupa bawa air minum untuk nanti nyonya minum obat." Ucap Bi Inah lalu kembali menaiki tangga.
Rendy masih terpaku di tempat sambil melihat punggung belakang Bi Inah, dia sedikit gelisah tapi kemudian akhirnya dia pergi.
Sedangkan Alise yang berada di kamar secepatnya lari ke kamar mandi, dia juga sepertinya lupa merapihkan ranjang.
Bi Inah yang masuk ke kamarnya melihat jika majikannya tidak ada dan terdengar suara air dari kamar mandi, Bi Inah pun menaruh air minum di meja samping tempat tidur. Ketika Bi Inah selesai, matanya seketika melihat ranjang yang berantakan dan bau aroma selesai bercinta tercium olehnya.
Bi Inah tau aroma apa itu, karena dia sendiri sudah menikah dan mempunyai anak di kampung. Wajah Bi Inah berubah kaget dan segera menutup mulutnya. Tiba - tiba dari belakang terdengar suara Alise.
"Bi Inah, sedang apa?" Suara Alise terdengar sedikit tajam, dia keluar dari kamar mandi dan memakai jubah mandi.
Bi Inah pun pintar, karena dia memang sudah lama bekerja di sana. Dia menormalkan kembali wajahnya, lalu membalikkan badannya dan berwajah seperti biasanya lagi.
"Nyonya, saya lupa bawa air minum. Sebentar lagi waktunya Nyonya minum obat." Bi Inah berwajah biasa saja.
"Hem, ya sudah. Kamu bisa pergi." Perintah Alise.
Setelah Bi Inah pergi, Alise langsung berwajah panik. Dia baru ingat kalau dia lupa membenahi dan mengganti seprei dan selimut. Dia segera menarik semuanya dan dengan secepatnya mengganti dengan yang baru.
Alise juga menyemprotkan pewangi ruangan ke seluruh kamarnya, baru saja dia selesai terdengar suara pintu kamar terbuka.
"Sayang, kamu sudah pulang." Kata Alise sambil tersenyum dan menghampiri Randika.
Alise segera memeluk Randika dengan erat, bahkan sepertinya melupakan bahwa dia beberapa waktu lalu sudah 'berperang sengit' dengan Rendy.
Awalnya dulu Alise memang hanya ingin memanfaatkan Randika untuk menaikkan derajatnya, bahkan usahanya untuk mendapatkannya sangatlah tidak mudah. Tapi semakin Alise bersamanya, dia mencintai Randika bahkan sekarang dia sangat takut kehilangannya. Baginya Rendy pun sama dia hanya memanfaatkannya, bedanya Alise tak pernah mencintainya.
"Alise, kamu habis mandi. Kenapa tidak keringkan rambutmu?!" Kata Randika sambil melepaskan pelukannya.
"Cepat duduk, aku akan membantumu mengeringkannya." Kata Randika.
__ADS_1
Tapi Alise memeluknya kembali lalu mencium Randika, dan tangannya pun mengelus - ngelus tubuh Randika.
Randika dicium Alise seketika melihat wajah istrinya dan membalas ciumannya, tapi tiba - tiba wajah Kasya muncul di kepalanya dan Randika segera menghentikan ciuman mereka.
Alise terkejut dan menatap mata Randika, tiba - tiba jantungnya berdetak dengan cepat. Alise berpikir apakah Randika mengetahui sesuatu, padahal semuanya sudah dia bereskan.
"Sayang, ada apa?" Tanya Alise gugup.
Randika tersadar dan dia menatap kembali wajah istrinya.
Sial! Kenapa wajah wanita itu yang muncul?! Kamu benar - benar gila Randika!
"A-alise, maaf. Mungkin aku sedikit lelah, aku akan membersihkan diri dulu. Kita bicara lagi nanti, kamu keringkan lah rambutmu." Tanpa menunggu jawaban Alise, Randika berjalan ke kamar mandi.
Alise seketika berwajah muram, dia sangat kebingungan juga ketakutan. Dan dia juga tahu bahwa Bi Inah tadi sudah mencurigai sesuatu.
"Tidak! Aku harus bertindak!" Gumamnya.
Alise mengambil kesempatan ketika Randika mandi, dia lalu mengambil ponselnya.
"Ren, kamu dimana?" Ternyata Alise menelepon Rendy.
"Aku sudah diluar, kenapa meneleponku? Bukankah Randika tadi pulang, aku melihat mobilnya." Jawab Rendy dari sebrang telepon.
"Apa?!" Rendy yang mendengarnya langsung teringat adegan di tangga.
"Ren, segera lenyapkan Bi Inah!" Terdengar nada kejam dari Alise.
"Alise! Kenapa begini lagi? Kamu jangan seperti ini. Aku mohon." Pinta Rendy mengingatkan.
"Rendy! Ini menyangkut hidupku, kamu berkali-kali berjanji akan menuruti keinginanku! Apa kamu bohong lagi!" Kata Alise tajam tapi memelankan suaranya, sambil matanya melihat ke arah kamar mandi.
"Baik, baik Alise. Cukup, aku mengerti." Akhirnya Rendy menghela nafasnya.
"Bagus, juga jangan lupa tugasmu. Cari wanita yang sudah tidur dengan Randika!" Alise lalu menutup teleponnya.
Malam harinya ketika semua orang sudah terlelap dengan tidurnya, tiba - tiba di kamar pembantu Bi Inah terlihat seseorang yang mengendap masuk. Tentu saja itu adalah Rendy, dia berjalan perlahan dan mendekati ranjang Bi Inah.
Seketika Rendy membungkam mulut Bi Inah, tubuh Bi Inah yang sedang tertidur seketika mengejang lalu terdiam.
Rendy membawa Bi Inah ke sebuah rumah kosong, tangan juga kakinya terikat. Tak berapa lama mata Bi Inah terbuka, kedua matanya langsung berhadapan dengan mata Rendy.
Bi Inah segera meminta ampun kepada Rendy karena Bi Inah tahu apa yang terjadi, Bi Inah meminta supaya jangan membunhnya karena ia adalah tulang punggung keluarga dan akhirnya Rendy tak sanggup untuk membunuhnya.
__ADS_1
***
Matahari telah terbenam dan malam pun telah datang, Kasya tadinya ingin berpamitan dan ingin segera berganti pakaiannya. Tapi dia lupa pakaian kerjanya ada di Perusahaan dan sekarang dia masih mengenakan gaun malam pemberian Nata.
Kasya menghela nafas karena tidak melihat Nata dan asistennya, dia pun akhirnya memutuskan pulang sendiri dan memakai dulu gaunnya karena dia juga harus bekerja besok.
Disaat dia keluar dari gedung dan sedang mencari Taxi, tiba - tiba sebuah Ferrari biru berhenti di depannya.
"Masuk." Ternyata Nata.
Kasya ragu-ragu sejenak lalu dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Lumayan lah, hemat ongkos hehe.
Nata pun segera melajukan mobilnya. "Rumahmu dimana? Aku akan mengantarmu." Kata Nata.
"Direktur, bisakah kembali ke Perusahaan dulu? Pakaian kerjaku ada disana." Pinta Kasya.
"Barang - barangmu ada di belakang." Jawab Nata.
Kasya berbalik ke belakang dan segera mengambil sebuah paper bag yang ada disana.
"Terima kasih Direktur Nata." Ucapnya sambil mengambilnya.
"Eh, tapi ini bukan pakaianku!" Kata Kasya terkejut, karena itu adalah pakaian baru karena masih ada lebelnya.
"Aku sudah membuang pakaianmu, sudah kuno!" Nata mengangkat bahunya dengan wajah tanpa dosa.
"..........?!" Kasya terdiam dan tak bisa berkata - kata.
"Kamu adalah seorang desainer, kamu harus mengenakan pakaian yang sesuai dengan gayamu. Dan di Perusahaanku, semua desainer harus paling bergaya. Mengerti!" Kata Nata tegas dan tak ingin ada penolakan.
"Tapi, aku tidak mau barang pemberian orang lain, jika mampu aku akan membelinya sendiri." Balas Kasya agak tegas juga.
Seketika mata Nata melihat Kasya dari spion depan mobil. "Baju itu dibeli dari gaji mu hari ini." Akhirnya Nata berkata.
"Tidak mungkin?!" Kasya berkedip tak percaya.
Kasya berpikir apakah gaji berjalan di catwalk sebanyak itu, pakaiannya yang sedang dia pegang sangat mahal. Mungkin jika dihitung bisa untuk biaya hidupnya sebulan.
"Kamu keluar memakai 'Bidadari', harganya jauh lebih dari itu. Sisa uang dari pembelian pakaiannya, ada di dalam amplop di tas." Nata menjelaskan.
"Ya ampun, masih ada sisa uangnya juga!" Kasya melototkan kedua matanya.
Benar saja setelah Kasya mencarinya di dalam paper bag, ternyata ada sebuah amplop. Mata Kasya bersinar saat melihat uang merah di dalam amplop, lalu dia meletakkan amplop itu di dekat mulutnya dan menciumnya dengan semangat.
__ADS_1
^Bersambung^