Mantan Istriku Kembalilah

Mantan Istriku Kembalilah
Bab.22 Perasaan Bersalah.


__ADS_3

Perusahaan Pramudita.


Randika sedang memejamkan matanya dan bersandar di kursi kerjanya yang mahal, kepalanya sangat sakit. Sudah satu jam sejak ia datang ke Perusahaan, tapi dia masih belum mulai bekerja.


Randika merasa dirinya sangat bersalah kepada Alise, saat menikah dia pernah berjanji kepadanya dia akan menjaganya dengan baik.


Randika sedang memikirkan kembali semuanya dan berniat akan mengakui saja kepada Alise, lalu memohon maaf bahkan dia akan bersujud jika diperlukan.


Ketika Randika sudah membulatkan tekadnya, tiba-tiba pintu kantornya terbuka tanpa terdengar ketukan.


Siapa lagi kalau bukan si biang heboh, Raka Dirga.


Raka mengenakan setelan jas dengan gaya kasual yang berwarna biru muda, di dalamnya dia mengenakan kemeja putih. Tapi dia tidak memakai dasi, ini semakin menunjukkan dirinya yang serampangan dan tidak serius.


Tinggi badan Raka 180cm, dia memiliki potongan rambut yang sedang tren saat ini, wajahnya yang tajam sering menunjukkan senyumannya yang tidak serius.


"Hei! bisakah mengetuk pintu dulu, kamu selalu saja berbuat seenak jidatmu!" Randika mengomel.


"Ada apa?" Tanya Randika kesal.


Semuanya berawal dari Raka sehingga akhirnya semua tragedi itu terjadi, kalau saja dia tidak kabur dengan seorang wanita dan meninggalkannya sendirian semua pasti tidak akan seperti sekarang.


"Tentu saja ada masalah dan masalah ini berkaitan denganmu!" Kata Raka.


"Masalah apa yang berhubungan denganku?" Randika sama sekali tidak tertarik.


"Kakak ipar Alise menyuruhmu berlutut di papan cuci baju tidak?" Raka berkata sambil duduk di kursi tamu acuh tak acuh dan menatap Randika penasaran.

__ADS_1


Semalam saat Raka dan seorang wanita cantik sedang 'berperang sengit' di ranjang, Direktur Mulyono menelepon. Di dalam telepon pria itu berkata jika Randika membawa pergi seorang wanita.


Saat Raka mendengarnya dia langsung merasa heran, karena Randika terkenal sebagai pria baik-baik. Sikapnya terhadap Alise tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata lagi, dia sangat menyayanginya. Bagaimana mungkin Randika berpikir membawa pergi wanita lain, apakah tidak salah?


Setelah Raka mendapat telepon dari Direktur Mulyono, tiba-tiba Alise meneleponnya. Saat itu Raka merasa panik, karena pasti telepon itu untuk mengecek Randika.


Setelahnya demi melindungi Randika, Raka buru - buru memerintahkan Direktur Mulyono dan yang lainnya yang hadir di sana, untuk tidak membocorkan masalah Randika. Jika sampai bocor maka siapapun yang membocorkannya, ia mengancam jangan harap bertahan di dunia bisnis lagi.


Dengan pengalamannya dengan banyak wanita, Raka tahu meskipun Alise ini terlihat lemah lembut dan pengertian. Tapi dia pasti memiliki banyak siasat, jika tidak bagaimana mungkin Randika dapat bertekuk lutut selama bertahun-tahun.


Jadi pagi ini Raka cepat-cepat ke Perusahaan Randika, takut alibi mereka berdua nanti tidak sama. Tapi melihat Randika yang biasa saja, Raka langsung tahu sepertinya tidak terjadi masalah besar dan Raka merasa lega.


Bukankah sahabat sepertiku tidak ada duanya? Raka memuji dirinya sendiri.


"Berlutut di papan cuci apanya? Jual saja perhiasanmu dengan baik!" Randika tidak mengangkat kepalanya dan sibuk menandatangi dokumen.


"Randika, semalam saat Kakak ipar Alise meneleponku dan menanyakan keberadaamu. Kamu tahu aku sedang 'berperang sengit' dengan wanita sexy dan aduhai, tapi harus terhenti karena setelahnya aku menjadi kehilangan minat! Haisss!" Keluh Raka.


"Raka! Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?!" Tiga garis hitam muncul di dahi Randika.


"Aku hanya ingin bertanya apakah kamu ketahuan?" Mata Raka memancarkan tatapan aneh.


"Tidak!" Ketika menjawab Randika melemparkan pena ke atas meja dengan kesal.


"Oh! Baguslah jika tidak ketahuan!" Seru Raka merasa lega.


"Kata Direktur Mulyono, semalam kamu membawa seorang wanita pulang. Lalu? Apa yang terjadi antara kalian? Bagaimana rupa wanita itu? Cantik tidak?" Seberondong pertanyaan dari Raka karena kepo.

__ADS_1


Wajah Randika berubah menyeramkan.


"Pergi!" Katanya kesal.


"Astaga! Apakah reputasimu yang berintegritas suami setia sudah tidak dapat dipertahankan lagi?" Raka tidak mendengarkan Randika terus saja berceloteh karena dia merasa mendapatkan kesempatan untuk meledek Randika. Meskipun dia tahu apa yang terjadi, tapi dia tidak akan melepaskan Randika dengan mudah.


"Raka! Jika tidak ada urusan lagi, Pergi!" Geram Randika.


"Randika, jangan seperti ini. Aku hanya ingin mewawancarai keseluruhan kejadian, sekarang bagaimana perasaanmu?" Raka sama sekali tidak perduli dengan wajah Randika yang tidak suka.


"Pergi!" Sekali lagi Randika memerintah.


Randika mengatakannya dengan menatap dingin Raka untuk memperingatinya, jika dia masih tidak keluar Randika akan memanggil satpam untuk melemparnya keluar.


"Hahahahaha..." Raka hanya tertawa mendengarnya.


Hidupnya hanya untuk bersenang-senang. Dan menurutnya sekarang menggoda sahabatnya ini, sangatlah menyenangkan.


"Baik, baik. Aku tidak akan bertanya lagi." Raka mengangkat tangan tanda menyerah tapi masih saja tertawa.


"Randika, masalah ini biarkan berlalu saja. Kelak aku tidak akan mengungkitnya lagi, dan juga aku sudah mengingatkan Direktur Mulyono dan yang lainnya untuk menutup mulut mereka. Asalkan kamu tidak membuka mulutmu sendiri, Kakak ipar Alise tidak akan menemukan apa-apa." Ucap Raka.


"Alise sangat mempercayaiku, dia tidak mungkin memeriksanya sendiri. Sebaliknya aku sendiri lah yang merasa seharusnya berkata jujur dan mengaku padanya." Randika menarik nafas dalam.


"Ya ampun, Randika. Kamu jangan melakukan hal itu! Tolong jangan mengaku kepada Kakak ipar, jika tidak hidupmu akan berakhir!" Raka berteriak sambil menepuk jidatnya.


Randika hanya menatap Raka tidak mengerti, dan Raka balik menatap Randika sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


^Bersambung^


__ADS_2