Mantan Istriku Kembalilah

Mantan Istriku Kembalilah
Bab.39 Kebenaran Tentang Anaknya.


__ADS_3

Raditya mengantar Kasya untuk membeli makanan, kemudian mereka berdua sama-sama kembali ke Rumah sakit. Raditya sekarang tau semua kehidupan Kasya termasuk anaknya yang sedang sakit, dan Raditya akan berusaha mencari donor ginjal yang cocok.


Raditya bercengkrama dengan Byan yang baru saja bangun, Kasya sangat bersyukur atas kedatangan Raditya hingga bisa membuat sedikit kesakitan anaknya berkurang.


Setelah itu Raditya pamit pergi dan ketika ingin membuka pintu kamar rawat, tiba - tiba ada yang membukanya lebih dulu dari luar.


Seketika mata Nata dan mata Raditya langsung bertatapan, lalu aroma persaingan pun terasa di udara. Meskipun Nata tidak mengenal Raditya tapi insting lelaki biasanya selalu bisa merasakan, jika berhubungan dengan wanita yang disukainya.


Sedangkan Raditya sudah mengenal Nata dan dia juga tau Nata lah yang beberapa hari ini selalu berada di samping Kasya. Raditya pun menatap tajam pada Nata dan sama juga dengan sebaliknya.


Kasya yang merasakan suasana yang tidak enak dan juga terasa tegang, cepat-cepat menarik tangan Raditya.


"Dit, ini Direktur Nata, Bos di tempat aku bekerja." Akhirnya karena perkataan Kasya, mereka berdua tersadar dan segera bersikap seperti biasa.


"Oh... halo, saya Raditya." Raditya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Ya." Nata membalas uluran tangannya.


Mereka berdua saling tersenyum tapi dalam hati berkata.


Kasya milikku, jangan mimpi untuk mendapatkannya. Dulu aku pernah menyerah, tapi tidak kali ini! Tekad Raditya dalam hati.


Huh! Kamu masih terlalu hijau, untuk bersaing denganku mendapatkan Kasya! Ledek Nata dalam hatinys.


Mereka berdua masih dengan wajah yang biasa saja, lalu melepaskan jabatan tangannya dan Raditya pun pamit pergi.


Setelah keluar dari rumah sakit, Raditya menuju mobilnya dan segera meraih ponselnya.


Tak lama terdengar sebuah suara wanita dari seberang sana.


"Ya, Tuan?" Tanya wanita itu.


"Sekarang bagaimana keadaannya?" Tanya balik Raditya.


"Masih seperti hari kemarin Tuan, tadi saya mendengar dia terus memanggil nama Kasyaira dan memintanya kembali." Ucap wanita di seberang telepon yang tak lain adalah sekertaris Randika.


"Huh!" Raditya mendengus meledek.


Raditya juga sudah tahu semua keadaan Randika sekarang, tadinya dia ingin yang pertama menghancurkannya. Tapi dia kurang beruntung, ternyata si Rendy selingkuhan si sundal Alise itu yang membuat Randika hancur sekarang.


Tapi Raditya tetap tidak akan membiarkan Randika, meskipun keadaannya seperti itu. Kebenciannya selama bertahun-tahun, tak akan mudah membuat hatinya merasa puas melihat penderitaan Randika sekarang.


***


Keadaan Randika sedikit merasa tenang sekarang, karena semua sahabatnya tak meninggalkannya. Mereka terus mengajak berkomunikasi Randika, yang masih berbaring terdiam.


Tiba-tiba ketika mereka semua sedang menghibur Randika, terdengar ketukan di pintu.

__ADS_1


"Masuk!" Perintah asisten Randika.


"Pak Rama, ada Pak Rendy datang dan ingin bertemu Presdir Randika." Kata Sekertaris.


Sontak saja semua orang langsung berdiri dan keluar dari kamar ketika mendengarnya dan mereka mengepalkan tinju mereka.


"Berani sekali dia datang!" Marah Andi.


"Sepertinya dia ingin dimakan, berani masuk ke kandang kelinci!" Kata Raka sambil meninju-ninju kepalan tangannya.


Semua orang yang mendengarnya, mengalihkan pandangan mereka pada Raka dengan tatapan tajam.


"Hehe, bercanda. Kita kan serigala bukan kelinci, sorry guys!" Kata Raka cengengesan sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


Kemudian mata mereka fokus kembali ke pintu masuk ruangan kantor, dan terlihat Rendy sudah berdiri disana dengan membawa sesuatu di tangannya.


Raka yang maju duluan ingin menghajarnya tapi ditahan oleh Denis, Rendy pun melangkahkan kakinya kepada mereka.


"Bangsat! Beraninya kamu datang!" Bentak Raka.


"Aku datang ingin bertemu Randika, aku tidak ingin bertele-tele. Dimana dia, aku ingin bertemu." Kata Rendy.


"Huh! Apa kamu datang kesini untuk menertawakan kondisinya yang depresi, puas kamu sekarang!" Denis menggeram pada Rendy.


Sontak saja Rendy terkejut, dia bahkan tidak menyangka mental Randika sampai terpuruk seperti itu.


"A-apa? Randika tidak mungkin seperti itu, tidak mungkin!" Jawab Rendy.


"Tidak mungkin katamu! Lihat saja sendiri!" Kata Denis sambil menarik kasar kerah kemeja Rendy.


Setelah di kamar benar saja, Rendy melihat Randika yang bagaikan seonggok daging tanpa roh dan jiwa. Dia hanya terbaring diam dan seperti tak menyadari sekelilingnya.


"Randika..." Ucap Rendy sedikit merasa kasihan.


Rendy segera mendekati Randika dan duduk di kursi tempat samping tidurnya.


"Randika, ini aku. Aku membawa surat perceraian yang sudah ada tanda tangan Alise." Kata Rendy.


Tapi Randika masih tak bergeming, Rendy pun menatapnya dengan dalam. Akhirnya Rendy berkata jujur dan mungkin saja setelah mendengarnya Randika sedikit bisa terlihat hidup.


"Kamu tahu, Kasyaira mempunyai seorang anak lelaki. Dia adalah anakmu, aku yakin." Setelah Rendy mengatakannya, benar saja mata Randika sedikit bergerak dan menatap ke arahnya.


Mata sayu dan cekung terlihat oleh Rendy, Rendy mengepalkan tangannya karena merasa bersalah.


"Ya, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah mencari informasi tentangnya, dan dia selama ini tidak pernah menikah lagi. Jadi aku yakin, anak itu adalah anakmu." Tegas Rendy.


Seketika mata Randika bersinar hidup dan terlihat bersemangat, dia lalu mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Benarkah, anak itu anakku? Anak kami?" Akhirnya Randika berbicara, bahkan sepertinya melupakan kebenciannya pada Rendy.


Lalu Rendy memberikan map yang berisi semua data tentang Kasyaira dan anaknya selama bertahun-tahun.


"Ya. Tapi anakmu sangat kasihan, dia sakit gagal ginjal dari lahir. Bahkan yang aku baca dari info nya, dia masih belum mendapatkan donor ginjal." Lanjut Rendy.


"Apa! Tidak! Aku harus segera menemui Kasyaira dan anakku." Katanya sambil bangun.


"Randika, tenanglah." Kata Denis menenangkan.


"Tidak! Aku harus bertemu sekarang. Denis... Tolong aku." Pinta Randika.


"Baiklah, tapi kamu jangan pergi dengan keadaanmu yang seperti ini. Nanti anakmu akan ketakutan." Saran Denis.


Randika pun menurut dan pergi membersihkan dirinya ke kamar mandi di dalam kamar kantor. Rendy segera pergi dan sahabat Randika membiarkannya, hitung-hitung dia berjasa memberikan info tentang keberadaan anak Randika.


Setelah selesai Randika melihat surat cerai dan langsung menandatanginya, dia juga memanggil dulu asistennya dan dihadapan sahabat-sahabatnya dia mengalihkan kepemilikan semua harta dan juga aset serta semua sahamnya pada anaknya dan Kasyaira.


Kemudian dia juga segera memanggil pengacara dan menandatangi dokumen pengalihan dan penyerahan semuanya. Setelah selesai Randika tersenyum bahagia, dia merasa dengan semua ini sedikit dosanya semoga bisa terampuni.


Kemudian Randika mendapatkan info juga jika golongan darah anaknya sama dengannya dan kata Denis jika dia mendonorkan ginjalnya tentu saja bisa. Randika pun tak berpikir lama, dia segera menyuruh asistennya mempersiapkan semuanya agar ginjalnya bisa segera menggantikan ginjal anaknya.


Randika yang sudah tahu tempat anaknya dirawat, dia pun segera pergi sendiri dan tidak mau diantar sahabat-sahabatnya.


Ketika Randika sudah sampai di Rumah sakit, dia segera mencari ruangan anaknya dirawat. Lalu tak berapa lama dia menemukannya, saat dia membuka pintu kamar rawat anaknya terlihat dia sedang bermain mainan sendiri di ranjang.


Randika menatapnya dari pintu yang sudah terbuka, senyuman bahagia terukir di wajahnya. Dia pun tak kuasa menahannya dan segera masuk lalu segera memeluknya.


Abyan tentu saja sangat kaget dan mencoba melepaskan diri karena tidak mengenalnya. Tapi Randika tetap memeluknya erat dan langsung menangis.


"Paman, kenapa paman menangis?" Tanya Byan yang mendengar tangisannya.


"Tidak apa-apa, paman hanya teringat anak paman. Bolehkan sebentar saja lagi paman memelukmu." Ucap Randika.


Byan pun hanya mengangguk karena merasa kasihan, tapi saat Randika masih memeluknya tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan!?" Kasya yang sangat marah berteriak.


"Kasyaira, aku... aku, hanya ingin melihat anak-" Ucapan Randika terpotong oleh ucapan Kasya.


"Diam! Ayo keluar!" Kasya yang masih marah langsung menarik kasar tubuh Randika, jiwa keibuannya yang kuat membuat tenaganya pun menjadi kuat.


Setelah sampai diluar kamar rawat, Kasya pun segera melepaskan Randika.


"Sedang apa kamu disini?!" Kata Kasya masih dengan nada tinggi.


"Kasyaira, ayo bicara. Sekali saja,aku mohon..." Wajah serta nada bicara Randika yang memohon, membuat Kasya terkejut.

__ADS_1


Baru kali ini Kasya melihatnya seperti itu, dia pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengajak Randika berbicara di sebuah kafe di seberang Rumah sakit.


__ADS_2