Mantan Istriku Kembalilah

Mantan Istriku Kembalilah
Bab.31 Perkara Resleting Celana


__ADS_3

Raka masih fokus memperhatikan anting - anting koral merah, karena Perusahaannya memang bergerak di industri perhiasan jadi dia sangat tertarik melihat anting-anting itu juga karena ada alasan lainnya.


Raka tidak merasakan ada dua tatapan mata pria yang menatap tajam kepadanya, ia tetap saja berbicara dan tubuhnya masih condong ke arah Kasya.


"Anting - anting? Apakah anting yang sedang aku pakai?" Tanya Kasya sambil menunjuk ke telinganya.


"Ya." Raka mengangguk dengan semangat.


Raka bahkan tanpa sadar tersenyum lebar, lalu dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh sepasang anting-anting koral itu.


Sekarang anting-anting itu sedang dipegang Raka, sedangkan Kasya berdiri dengan kaku hingga tubuhnya tidak maju dan tidak mundur. Tubuh mereka berdua malah semakin benar - benar terlihat ambigu.


Kasya lah yang tersadar duluan bahwa mereka sedang berada di perjamuan, apalagi tidak sedikit orang berlalu lalang. Ia langsung berkata pada Raka. "Direktur Raka, bisakah kamu melepaskan tanganmu terlebih dahulu." Kasya berbisik dengan canggung.


Setelah Kasya mengatakannya, Raka akhirnya baru menyadari bahwa posisi mereka berdua sekarang memang terlihat ambigu. Raka dengan cepat menarik tangannya.


"Maaf, nona Kasya. Aku sudah lama tidak melihat anting - anting koral dengan model seperti ini. Aku-" Ucapan Raka terhenti karena dia ragu, tapi dia mengatakannya kembali.


"Seorang temanku sangat menyukai perhiasan dengan gaya Rococo pada abad ke-19 ini, jika dia melihatnya pasti akan bahagia." Kata Raka melanjutkan.


"Aku tidak tahu Nona Kasya dapat memenuhi keinginan temanku atau tidak, tidak peduli berapa banyak uang tersebut aku akan membayarnya." Raka masih dengan perkataannya.


"Begini, maaf Direktur Raka. Anting -anting ini bukan milikku, tapi ini adalah barang pribadi Direktur Nata. Jika Anda menyukai anting-anting ini, maka Anda dapat bernegosiasi dengannya." Jawab Kasya menjelaskan.


Setelah Kasya selesai berbicara, dia melepaskan anting - anting koral tersebut dengan hati - hati.


"Direktur Raka, silahkan ikut aku. Aku akan membawa Anda untuk bertemu dengan Direktur Nata." Kata Kasya.


Tapi baru saja perkataannya selesai, terdengar suara seseorang bertanya.


"Kasya, ada apa?" Tanya Nata yang baru saja datang kepada mereka masih dengan tatapan mata tajamnya.


"Ah... Direktur Nata Anda disini. Jadi begini, Direktur Raka sangat tertarik dengan anting - anting koral milik Anda. Katanya dia ingin mengoleksinya, jadi aku baru saja ingin mencari Anda." Kasya takut menyebabkan kesalahpahaman yang tidak perlu, dia segera menjelaskan.


"Hem, ternyata seperti itu." Kata Nata langsung lega, karena ternyata dia sudah salah paham dengan kedekatan mereka.


Kasyasegera mengembalikan anting-anting itu kepada Nata, Nata menatap Kasya dengan penuh arti tapi akhirnya dia pun mengambilnya.


"Direktur Raka, terima kasih atas perhatianmu pada anting-anting ini. Hanya saja aku merasa anting-anting koral ini sudah memiliki pemilik baru, dan aku akan memberikannya kepada orang itu." Nata mengatakannya pada Raka tapi tatapan matanya menatap Kasya.

__ADS_1


Kasya juga memperhatikan sikap dari Nata dengan sangat hati - hati, dia mengerutkan kening. Dia memperingatkan dirinya sendiri agar tidak menaruh banyak perhatian kepada Direktur Nata yang muda dan berbakat itu.


"Tapi karena Direktur Raka berkata menginginkannya, selain anting-anting ini aku juga mengoleksi banyak perhiasan yang berhubungan dengan abad ke-19, seperti berlian dan zamrud. Jika tertarik, maka kamu jangan sungkan untuk memilih." Lanjut Nata.


"Benarkah?" Raka yang tadinya kecewa karena ditolak, seketika senang ketika mendengarnya.


"Ya." Jawab Nata.


Sebagai seorang pengusaha perhiasan, Raka telah melakukan semua yang dia bisa untuk mengoleksi semua perhiasan bergaya Rococo yang disukai 'orang itu'. Tetapi ketika dia mendengar Direktur Nata masih memiliki banyak perhiasan dengan gaya itu, seketika Raka menunjukkan perasaan senangnya.


Kasya yang berada di samping juga menghela nafas lega, dia tidak mengerti hal - hal di bidang bisnis. Tetapi dua Bos besar tersebut telah membuatnya gugup karena anting - anting itu.


"Karena masalah ini telah diselesaikan, jadi aku akan meninggalkan kalian berdua. Permisi." Ucap Kasya yang ingin menghirup udara segar lalu pergi.


Kasya berjalan dengan perlahan, dia melihat ada sebuah pintu samping yang terlihat mengarah ke arah taman di luar. Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tanpa ia tahu ada seseorang yang mengikutinya.


Setelah sampai Kasya menghirup udara segar dan menatap langit yang masih cerah meskipun hari semakin sore. Dan tepat saat dia menatap lurus lagi ke depan, ada seseorang yang menarik lengannya dengan kuat.


Kasya sangat terkejut ia membalikkan badannya dan melihat Randika di depannya dengan wajah yang menakutkan. Kasya mengerutkan keningnya, karena merasa tidak berbuat kesalahan apapun pada si sampah di depannya itu.


"Randika! Apa yang kamu lakukan, lepaskan tanganku! Aku sangat jijk bersentuhan denganmu!" Kata Kasya dengan suaranya yang tajam.


"Randika! Kamu selalu menghinaku, tapi lihatlah kelakuanmu. Kamu lah yang tidak tahu malu, sudah berani memperkosaku lalu pergi begitu saja. Dasar brengsek! Bajingan!" Kasya tak sadar berteriak.


Untung saja posisi mereka jauh dari orang - orang di perjamuan, teriakan Kasya tidak akan terdengar ke dalam.


"Kasyaira! Beraninya kamu membentakku! Aku akan-" Perkataan Randika terpotong oleh deringan ponselnya.


Randika mengeluarkan ponselnya dan melihat bahwa itu panggilan dari Alise. Randika pun segera melepaskan tangan Kasya dan segera mengangkat teleponnya.


"Randika, kamu dimana?" Tanya Alise di seberang sana dengan suara serak.


Randika mengira suara serak Alise, karena istrinya itu baru bangun tidur.


( Padahal baru abis 'perang sengit' ye sama Rendy 🤣 Randika oon banget, bodo ah Author cuma bisa nyukurin ).


"Alise, aku sekarang sedang di pesta perjamuan Perusahaan Wajendra." Randika berkata tapi tatapan matanya masih kepada Kasya.


Kasya yang mendengarnya langsung merasa jijik dan segera pergi dari sana, dia berjalan sangat cepat dengan tubuhnya yang bergidik karena merasa seperti ada ulat - ulat berbulu merayapi tubuhnya jika dekat dengan si sampah itu.

__ADS_1


Sedangkan Randika yang melihat Kasya kabur darinya hanya bisa menatap dan membiarkannya, dia tidak ingin istrinya mendengar apapun.


"Randika, apa kamu akan pulang malam?" Tanya Alise.


"Ya, Alise." Jawab Randika.


Disaat Randika mengatakannya dia teringat wajah istrinya yang tidak tahu apa - apa, tapi dia sekarang malah mendekati Kasya lagi. Randika pun menghela nafas frustasi lalu akhirnya berkata.


"Tidak Alise, sebenarnya aku sudah selesai. Aku akan pulang sekarang." Kata Randika karena segera ingin menjauhi Kasya.


"Apa? Sekarang?!" Alise yang awalnya berkata serak sekarang terdengar suaranya yang gemetar.


"Iya, sekarang. Kamu tunggu aku, aku segera pulang." Kata Randika yakin, lalu menutup teleponnya.


***


Di Vila Keluarga Pramudita.


Alise yang mendengar Randika akan segera pulang, dengan cepat mendesak Rendy untuk mengenakan pakaiannya.


Mereka berdua telah berada di tempat tidur sejak Randika pergi, sekarang sudah sore. Alise berpikir Randika tidak akan pulang dan tadi dia hanya bertanya agar tahu kapan suaminya pulang. Tapi tak disangka Randika ternyata malah benar - benar pulang.


"Ren, tolong cepat gerakanmu!" Alise sangat panik.


"Aku akan selesai dengan segera!" Jawab Rendy yang sedang mengancingkan kemejanya dengan sama paniknya.


Tapi Rendy lupa menarik resleting celananya, karena dia benar - benar panik.


( Wkwkwk, tolong kondisikan resletingnya ).


"Pergilah! Kalau bisa jangan berada di rumah, terserah mau kemana!" Perintah Alise.


Rendy hanya mengangguk dan segera membuka kunci pintu kamar Alise dan Randika, dia pun berjalan keluar dengan tergesa - gesa tapi di tangga dia bertemu dengan Bi Inah.


Bi Inah yang datang dari bawah, tentu saja matanya langsung melihat ke arah depan celana Rendy dan tanpa sadar Bi Inah bicara.


"Tuan Rendy, maaf. Tapi resleting celana Tuan terbuka." Kata Bi Inah tapi wajahnya langsung melihat ke arah lain.


Wajah Rendy seketika seperti baru saja melihat hantu, dengan tangannya yang gemetaran dia langsung menarik resletingnya.

__ADS_1


^Bersambung^


__ADS_2