
Saat Dokter Pribadi Randika datang setelah di telepon Rama, Randika masih terduduk menyedihkan di atas lantai yang berserakan semua barang yang telah hancur. Bahkan ketika Dokter dan asistennya berjalan ke arahnya, tidak ada celah di lantai untuk menginjakkan kaki mereka, hingga mereka berjalan di atas semua barang-barang yang telah hancur itu.
Rama sebenarnya menelepon Denis terlebih dahulu, karena sahabat Bos nya itu juga adalah Dokter Pribadinya. Tapi ponselnya tidak bisa dihubungi dan biasanya dia sedang melakukan operasi besar.
Saat asistennya sudah sampai dan menatap wajah Bos nya, Rama sampai mematung. Terlihat olehnya mata Randika menatap kosong seperti tidak ada jiwa yang hidup, bahkan sekarang Randika hanya terduduk diam. Dan wajahnya yang berdarah terluka bercampur dengan air mata, semakin membuat Rama bergidik ngeri dan merasa kasihan melihatnya.
"Pak Randika, ayo obati dulu luka Anda. Dokter Samuel sudah datang." Kata asistennya itu.
Tapi Randika tak bergeming, seperti roh dan jiwanya tak ada lagi dalam tubuhnya.
Rama melihat ke arah Bi Inah, lalu Bi Inah pun menghela nafas dan berkata.
"Tuan Rama, sebaiknya Anda dan Dokter memapahnya ke dalam kamar istirahat dan segera mengobatinya. Sepertinya jiwa Tuan Randika sedang tergoncang, saya minta tolong." Bi Inah berkata pada Rama.
Rama pun segera meminta Dokter untuk membantu memapah Randika ke kamar istirahat di ruangan itu, kemudian Dokter mulai mengobati semua luka Randika.
Sedangkan Randika masih dalam kondisi yang sama, dia hanya terdiam dengan tatapannya yang kosong.
Bi Inah ikut merasa sedih dengan keadaan majikannya, tapi jika dia tidak sekarang mengatakan kebenarannya maka majikannya itu akan malah lebih tersiksa nantinya.
Dokter selesai mengobati semua lukanya kemudian memeriksa keadaan Randika, Dokter Samuel bilang jika Randika terkena syok karena tekanan berlebih. Dokter pun segera memberikan obat penenang dan menyuruh Rama dan Bi Inah mengurus Randika dengan baik. Saat ini kondisi psikis Randika lemah, Randika harus ditemani dan diperhatikan.
Setelah Dokter pergi, Rama pun meminta penjelasan pada Bi Inah. Bi Inah pun yang memang tahu Rama sangat setia pada Randika, langsung menceritakan semuanya.
Tentu saja Rama juga sangat syok, wajahnya memucat karena dia sangat tahu sekali cinta mati Randika pada Alise. Sekarang ternyata semua kenyataannya seperti itu, Rama pun bahkan langsung marah.
Sampai sore hari kondisi Randika masih tidak membaik, setelah dia diberi obat penenang lalu tertidur dan sekarang saat terbangun dia masih menatap kosong. Apapun perkataan dari Rama dan Bi Inah, Randika tak menjawabnya dan hanya berbaring diam.
Rama pun segera menelepon sahabat-sahabat Randika, mungkin saja jika mereka datang akan ada perubahan. Tapi Rama hanya memberitahu, bahwa Randika mendadak sakit dan sedang berada di Perusahaan.
***
Sedangkan di Villa Alise juga merasa hatinya mendadak tidak tenang, perasaannya mengatakan sesuatu sedang terjadi. Bahkan dia sudah menelepon Randika dan Rendy beberapa kali, tapi tidak ada dari mereka berdua yang mengangkat teleponnya.
__ADS_1
Baru saja Alise berpikir seperti itu, terlihat Rendy masuk ke rumah dan sedang berjalan ke arahnya. Seketika Alise merasa senang dan langsung berlari menghampirinya.
"Ren, kemana aja. Kenapa teleponku gak diangkat, cepat katakan bagaimana semuanya?" Tanya Alise gak sabar.
"Alise maaf, tapi aku melakukan kesalahan dan Bi Inah berhasil kabur. Sekarang kata mata - mataku di Perusahaan, dia bilang melihat Bi Inah datang. Sepertinya sekarang Bi Inah sedang mengadu pada Randika, kita harus secepatnya pergi dari sini." Kata Rendy sedikit berbohong.
"Apa! Rendy apa maksudmu? Tidak! Aku tidak mau pergi dari sini, aku tidak bisa! Rendy! Semuanya salahmu, kenapa membiarkannya kabur?! Kenapa! Kamu tidak berguna! Tidak!!!!" Alise berteriak histeris dan mulai menghancurkan barang satu persatu.
Rendy yang melihatnya sangat merasa kasihan, sebenarnya semenjak ayah tiri Alise dipenjara karena tertangkap berudi dan merampok. Kehidupan Alise memang menjadi sedikit tenang, tapi kejiwaannya terganggu dan dia mengidap depresi berat yang dimana jika terkena tekanan sedikit saja, psikis dan tubuhnya akan menjadi seperti sekarang.
Rendy segera memeluk dan menahan tubuh Alise, Rendy memang sudah memperkirakannya tapi setelah sekarang melihatnya lagi setelah lama tidak terjadi hatinya sangat sakit.
"Alise, sayang. Lihat aku, kamu masih ada aku. Aku akan berjuang untuk hidup kita, meskipun aku harus masuk ke dalam lumpur untuk menghidupimu aku akan melakukannya. Jadi tolong, jangan seperti ini ya." Bujuk Rendy masih sambil menahan Alise, dia takut Alise melakukan sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri seperti yang sudah-sudah.
Tapi Alise menggeliat berusaha melepaskan diri dari Rendy, dia menangis sejadi-jadinya.
"Tidak! Semua ini milikku! Semua ini milikku! Aku tidak mau pergi! Aku mencintai Randika! Ya benar, aku mencintai Randika dan dia pun sama. Sebaiknya sekarang aku menemuinya dan meminta ampunan padanya agar memaafkan ku. Lepaskan! Aku harus pergi menemuinya!" Jerit Alise frustasi.
"Alise! Dengarkan aku, Randika sudah tahu semuanya. Dia tidak akan bisa memaafkanmu, tidak bisakah kamu melihatku? Aku juga mencintaimu, Alise... aku mohon. Ayo pergi denganku." Rendy memohon dengan sangat memelas.
***
Di Perusahaan Wajendra Kasya sedang fokus bekerja, tapi tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat itu dari Ranti.
"Halo Ran, ada apa?" Kasya langsung mengangkat teleponnya.
"Sya! Cepat pulang kesini. Byan.... Byan, dia kambuh. Padahal besok adalah jadwal dia berobat, maafkan aku Kasya." Ranti dari seberang sana terdengar panik.
Kasya yang mendengarnya langsung berdiri dan menghampiri meja Erina.
"Erina, tolong minta ijin buatku. Aku harus segera pergi, keluargaku sakit." Kasya pun langsung berlari keluar.
Erina yang melihat Kasya pun langsung ikut cemas dan segera menemui kepala departemen desain mereka untuk meminta ijin.
__ADS_1
Kebetulan Mira asisten Nata datang untuk meminta Kasya ikut dengannya, Direktur Nata menyuruhnya membawa Kasya karena ada permintaan suatu rancangan dari Klien, yang sepertinya cocok dengan rancangan Kasya.
"Nona Kasya, tunggu. Mau kemana? kenapa berlari?" Tanya Mira.
"Nona Mira, maaf. Aku ijin dulu, bolehkah? Keluargaku sedang sakit, aku harus segera pergi." Ucap Kasya sambil panik.
"Baiklah, pergilah." Mira mengijinkan karena merasakan kepanikannya.
Kasya segera pergi menuju lantai bawah dan Mira segera pergi ke lantai tempat ruangan Direktur Nata berada. Setelah masuk Mira memberitahu keadaan Kasya yang tidak bisa datang ke ruangannya, karena baru saja ijin keluar karena keluarganya ada yang sakit.
Nata yang mendengarnya mendadak merasakan khawatir di hatinya, dia lalu bertanya pada Mira.
"Sekarang dimana dia?" Tanyanya.
"Baru saja turun ke lantai bawah, sepertinya sebentar lagi keluar dari pintu Perusahaan." Jawab Mira.
Nata tak menunda waktu lagi, dia segera mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar dengan sangat cepat. Bahkan para karyawan yang melihatnya seperti itu terkejut, karena Direktur mereka sangat terkenal adalah tipe pria yang tenang.
Nata akhirnya sampai di pintu luar Perusahaan dan mencari keberadaan Kasya. Untung saja Kasya masih berdiri di pinggir jalan, seperti sedang menunggu kendaraan.
Nata lalu berjalan mendekatinya dan segera menarik tangan Kasya tanpa sadar. Nata terus menarik tangannya hingga sampai di mobilnya, kasya yang masih melototkan matanya langsung bertanya.
"Maaf, Direktur Nata. Ada apa? Kenapa Anda menarik saya kesini?" Tanya Kasya dengan keheranan.
"Masuk." Perintah Nata sambil membukakan pintu mobilnya.
"Tapi..." Kasya masih bingung.
"Aku tahu kamu sedang terburu-buru, jadi aku akan mengantarmu. Jika ini memang sangat penting, cepat naik dan jangan banyak bertanya lagi." Nata menekankan kata-katanya.
Akhirnya Kasya yang masih bingung pun segera naik dan duduk di kursi depan, bahkan Nata yang memasangkan sabuk pengamannya.
Mobil pun segera melaju dengan kecepatan yang dianggap aman, tapi bisa dengan secepatnya sampai di tujuan.
__ADS_1
^Bersambung^