
Nata sedang memikirkan solusi untuk masalahnya, agar ia bisa mencari model yang sesuai dengan keinginannya. Nata melipat bibirnya ia berpikir keras.
Tiba - tiba Nata merasakan seseorang sedang menatapnya diam - diam, ia memutar kepalanya mencari ternyata Kasya yang sedang menatapnya.
Kasya tertegun karena ketahuan sedang menatap Nata, ia seketika langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah agak canggung.
Si Bos peka banget, baru juga memandang gak lama tapi dia sudah tau! Aish... jadi malu kan.
Dengan canggung Kasya melihat - lihat ke kanan dan ke kiri, kedua tangannya meremas tas yang ia bawa. Wajahnya memanas, sepertinya jika ia melihat wajahnya di cermin sudah dipastikan wajahnya seperti sebuah apel merah.
Untungnya lantai 21 sebentar lagi sampai, Kasya menghela nafas panjang. Dia dan Wakil Direktur menganggukkan kepala ke Direktur Nata saat pintu lift terbuka, ia lalu melangkahkan kaki keluar dari lift.
"Kasya tunggu!" Pangil Nata yang sejak tadi memperhatikan Kasya, ia memanggil Kasya seraya satu tangannya memijit lift agar pintu tidak menutup.
"Iya, Direktur Nata." Saat menjawab hati Kasya menjadi tak tenang.
"Mira, kamu telepon Viola. Dia tidak perlu datang lagi, aku sudah ketemu orang untuk model Bidadari." Kata Nata pada sekretarisnya dan memandang Kasya dengan tersenyum.
"Apa!?" Semua orang yang mendengarnya terkejut terutama Kasya.
Kasya pikir hebat sekali pria itu sudah ketemu model baru, benar-benar jago. Siapa sebenarnya model barunya? Kasya melirik kesekelilingnya ingin melihat siapa yang dipilih.
Tapi saat pandangan semua orang tertuju padanya, Kasya terkejut sekali. Jangan - jangan orang yang Direktur Nata pilih itu adalah dia?
__ADS_1
"Kasya, bisa minta waktu sebentar?" Tanya Nata sangat sopan.
"Apa ada yang bisa saya lakukan Direktur Nata? Perintahkan saja." Jawab Kasya sedikit gugup.
"Baik kalau begitu, kamu ikut kami ke lantai 15. Mira akan bawa kamu ke ruang ganti pakaian." Nata menjentikkan jarinya, memberi isyarat pada Mira untuk keluar.
Tampaknya wanita yang bernama Mira ini adalah asisten bukan sekretaris Nata, Mira mengamati Kasya dari atas ke bawah lalu berkata.
"Nona Kasya, silahkan ikut saya." Kata Mira.
Kasya terdiam di tempat karena masih belum tersadar dari rasa terkejutnya, ia menoleh ke arah Wakil Direktur Bambang seolah bertanya dia harus bagaimana?
Dia tidak mungkin bisa, dia sama sekali tidak punya pengalaman jalan di catwalk panggung seperti model. Kalau acaranya sampai hancur karena dia, bukankah pekerjaan yang baru saja dia dapat akan langsung mengatakan sampai jumpa padanya. Kasya merasa dirinya sekarang seperti semut di kuali yang panas, di kuali yang sebentar lagi matang.
Wakil Direktur langsung berpikir awalnya Kasya ini ada hubungan dengan Perusahaan Pramudita, sekarang dipandang oleh Direkturnya. Untung dia tidak berbuat kesalahan pada Kasya, kelak dia harus baik - baik sama wanita satu ini.
"Tapi, aku tidak pernah jalan di panggung catwalk." Kasya masih diam di tempat, dengan wajah kesulitan dia menatap Wakil Direktur meminta pertolongan.
"Sebagai seorang desainer pakaian yang tidak pernah jalan di panggung catwalk, setidaknya pernah melihat model yang jalan di atas bukan? Sebagai seorang desainer Perusahaan Wajendra, kamu harus punya rasa percaya diri!" Nata bicara pada Kasya dengan wajah tak berekspresi.
Dengan tidak enak hati Kasya menundukkan kepala, dia tahu maksud perkataan Nata. Seakan berkata padanya kalau penakut, lebih baik tidak usah bekerja di Perusahaan Wajendra.
Kasya diam seribu bahasa dan setelah berpikir lama akhirnya ia mengangguk tak berdaya.
__ADS_1
"S-saya mengerti. Saya akan segera ikut Nona ini pergi." Kata Kasya pasrah, ia kembali masuk ke dalam lift.
Lift turun bergerak ke bawah, dalam ruangan yang kecil ini penuh sesak dengan orang - orang. Tapi tidak ada satupun yang berbicara selain Direktur Nata, semua orang menatap Kasya dengan perasaan iri seakan berkata.
"Beruntung sekali dia, bisa memakai 'Bidadari' yang Direktur Nata desain sendiri. Dia bisa berjalan di depan acara fashion show yang sekarang sedang terkenal."
Tapi yang dipikirkan Kasya bukan seperti itu, ia menundukkan kepala tidak berani melihat orang di sekelilingnya. Ia hanya ingin menjadi desainer, tidak tahu dapat kesialan apa hari ini ia malah menjadi model dadakan.
Nata berdiri di samping Kasya, kedua tangannya terselip di saku celana dan menatap lurus ke depan. Dia mendekat ke arah Kasya sedikit memperingati wanita itu dengan berbisik, "Berdiri yang baik, jangan menunduk."
Diperingati seperti itu oleh Nata, Kasya langsung berdehem dengan suara kecil. Lalu ia menegakkan punggungnya dengan canggung, ia bahkan melihat lurus ke depan dengan perasaan hatinya yang berkecamuk.
Sampailah lift di lantai 15, Nata keluar duluan diikuti sekelompok orang. Hanya Kasya yang masih terdiam di dalam lift masih seperti melamun.
"Keluar!" Perintah Nata yang membuat Kasya tersadar.
"Nona Kasya, silahkan ikut saya." Mira mengajaknya dengan berkata sopan.
Kasya mengikuti Mira ke ruang ganti, sedangkan segerombolan orang mengikuti Nata ke arah lain.
Kasya dengan resah berdiri di pintu depan masuk ruang ganti, tangannya sudah berkeringat menunggu Mira membawakan desain 'Bidadari'.
"Nona Kasya, bidadari sudah dibawa kesini, silahkan anda ganti." Panggil Mira dari dalam, Kasya lalu mengambil 'Bidadari' dari tangan wanita itu.
__ADS_1
Kasya memelototi 'Bidadari' di tangannya, merasa ini adalah sesuatu yang mengkombinasikan unsur barat dan timur dengan bagus sekali. Pakaian 'Bidadari' ini seperti ada jiwanya, begitu ajaib dengan unsur indah yang menarik hati orang - orang seperti keindahan surga.