
Pada pukul lima sore dia pun keluar dari ruangan nya dan bersamaan dengan Raisa yang juga keluar dari ruangan nya.
Mereka berdua saling menatap hingga Raisa sendiri yang menyudahi tatapan mereka dan langsung menuju lift.
Wardana pun juga ikut masuk ke dalam lift. Di dalam lift mereka berdua hanya diam, sampai lift nya berhenti.
Mereka berdua pun berjalan menuju mobilnya masing masing, keduanya sama sama menyandarkan kepalanya di atas setiran mobilnya.
Raisa pun segera menghapus air mata nya dan langsung melajukan mobilnya menuju apartement.
Sementara Wardana langsung menuju bandara setelah berpamitan dengan ibunya.
Di dalam jet pribadi nya, Wardana kembali menatap kalung itu.
Ternyata kau masih menyimpan kalung ini.
*jika dulu kau sangat mencintai ku, kenapa kau tidak pernah percaya pada ku.
Kau lebih percaya dengan isu dari orang lain*.
Tepat pukul sepuluh malam, dia sampai di jakarta dan segera menuju rumah sakit untuk memastikan apakah anaknya baik baik saja.
__ADS_1
Dia langsung menuju ruang rawat putrinya, sesampainya di dalam dia langsung mendekati putrinya yang terbaring lemah di brangka kecil.
Dia mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, walaupun dia tidak pernah mencintai istrinya, namun malaikat kecil yang sudah hadir dalam hidup nya mampu membuat nya tersenyum.
Andaikan saja malaikat kecil nya ini terlahir dari rahim perempuan yang sangat dia cintai, mungkin saat ini dia lah orang yang sangat bahagia.
Namun takdir berkata lain, dia hanya lah manusia biasa yang ingin semuanya berpihak pada nya dan tidak bisa mengendalikan nya.
Ke esokan pagi nya.
Putri membuka matanya dan melihat bahwa sang ayah sedang tertidur pulas di sebelah brangka dengan duduk.
"daddy."Putri memanggil nama sang ayah yang masih tertidur karena merasa lelah.
"iya, tadi Putri ingin sekali kekamar mandi dad."
"ya sudah, ayo daddy bantu kekamar mandi sekarang."
Putri pun di gendong oleh sang ayah kedalam kamar mandi, dari dia kecil, Wardana lah selalu mengurusnya.
Tidak heran jika dia sangat lengket dengan sang ayah, sementara Ingrid tidak pernah mau mengurus putrinya dengan alasan tidak bisa.
__ADS_1
Setelah selesai dari kamar mandi, Wardana pun kembali menaruh putrinya di atas brangka."sekarang princess sarapan pagi dulu ya."
"tapi Putri tidak suka bubur daddy."
"Putri mau cepat sembuh tidak, biar bisa sekolah lagi, ya."bujuk nya.
"baik dad, Putri ingin segera pulang ke rumah, Putri tidak suka lama lama di sini."
"makanya Putri harus patuhi apa kata dokter ya, ayo buka mulutnya."
Sementara Ingrid baru saja terbangun."haàap..mas kapan kau datang?"
"cepat kau ambil apa saja keperluan untuk putri di rumah."bukan nya menjawab pertanyaan istrinya,dia malah menyuruh istrinya untuk pulang.
"tapi kenapa aku? kau bisa menyuruh babysitter nya Putri kan."
"karena kau ibunya, kau mungkin lebih tau apa saja yang di perlukan putri."
"mas, aku akan menjaga Putri di sini, kau suruh saja babysitter nya."
Dengan tatapan tajam ke arah istrinya sambil mengambil ponselnya."ku rasa aku akan segera mencari ibu sambung untuk Putri, karena ibunya sendiri tidak becus mengurus nya."ancam Wardana.
__ADS_1
like and komentar.