
"lalu apa aku juga harus tertarik pada nya?"
"ya jangan, tuan kan sudah menikah."
"mungkin aku bisa saja tertarik pada seorang wanita, tapi tentu saja tidak dengan nya."
Omong kosong yang Wardana keluar kan dari mulutnya sangat bertolak belakang dengan isi hatinya.
Raisa yang kini sudah berada di dalam lift kini menekan nomor lantai dasar, tapi tiba tiba pintu lift nya kembali terbuka karena Wardana dan Boy ikut masuk.
"kenapa tidak menunggu ku dulu?"tanya Wardana pada Raisa tanpa melihat ke arah Raisa.
Dia pun kembali bertanya karena merasa tidak ada jawaban."kenapa tidak menunggu ku dulu nona Raisa." dengan suara yang di keras kan Wardana bertanya.
"anda berbicara dengan siapa?"
Wardana pun kesal dengan pertanyaan Raisa, dia pun kembali diam.
Saat sudah berada di lantai dasar."kita berangkat satu mobil."ucap Wardana yang lagi lagi berbicara tanpa melihat orangnya.
"what, lalu bagaimana dengan mobil saya tuan?"
__ADS_1
"mobil mu tetap di sini."
Raisa pun dengan wajah kesal masuk ke dalam mobil Wardana dan duduk di depan bersama Boy yang sedang menyetir karena Wardana sudah duduk di kursi belakang.
Boy dan Raisa begitu asyik berbincang sambil sesekali tertawa. Sementara Wardana kesal dengan obrolan mereka.
"stop Boy, stop dulu."
"ada apa tuan?"
"Raisa pindah ke belakang duduk di sebelah ku."
Raisa pun terkejut mendengar ucapan bosnya begitu juga dengan Boy. Dia pun mengikuti apa yang di perintahkan tuan nya dan membuka pintu mobil belakang.
Setelah selesai meeting, Boy pun melajukan mobilnya menuju apartement milik Raisa."terima kasih sudah mengantarkan ku Boy."
"kau tidak berterimakasih kepada ku juga, sangat tidak sopan."
Raisa pun menoleh ke arah Wardana dan tersenyum kecut."terima kasih juga tuan Wardana yang terhormat."ucap Raisa sambil membuka pintu mobil.
Boy merasa ada masalah dengan bosnya dan Raisa, dia merasa ada yang di rahasiakan antara mereka berdua.
__ADS_1
Saat Wardana sudah beristirahat, tiba tiba ponsel nya berdering dan dengan cepat dia membuka panggilan video call dari nomor istrinya.
Dengan malas dia membuka panggilan video call nya."hallo ada apa?"tanya Wardana dengan wajah datar.
"hallo dad, ini aku, daddy kenapa tidak menghubungi ku, apa daddy sudah tidak sayang lagi sama putri?"
Seketika wajah Wardana tersenyum bahagia melihat wajah putrinya."maaf ya sayang, daddy baru saja pulang dari kantor."
"pasti daddy capek ya, maafkan Putri ya dad, ya sudah kalau daddy istirahat saja."
"tidak, daddy siap mendengar kan omelan dari princess daddy yang cantik ini."
Obrolan hangat antara ayah dan anak itu pun terhenti saat Wardana menyadari bahwa putri kecilnya tertidur.
"maaf mas, Putri sudah tertidur, mbak....mbak ana."Ingrid lalu menyuruh babysitter Putri mengangkat putrinya masukke dalam kamar nya.
"Putri selalu merengek minta di belikan ponsel, sebaiknya kau transfer uangnya."ucap Ingrid.
Wardana sangat murka karena Ingrid selalu mengkambing hitamkan putri dalam urusan uang.
"aku sudah mentransfer dua puluh juta ke rekening mu kemarin."
__ADS_1
"itu untuk ku, untuk Putri kau belum mentransfer nya kan."
Jangan lupa like and komentar .