
Saat Wardana mengarahkan sebuah botol alkohol ke tubuh Jeremy, Raisa dengan cepat memeluk tubuh nya dari belakang."Wardana jangan."
Dia pun menghentikan aksinya dan membanting botol itu hingga remuk. Lalu dia memutar tubuhnya menghadap Raisa. Dia menangkup wajah Raisa."kau tidak apa apa kan?"
Raisa pun mengangguk."tidak, aku tidak apa apa."
"Boy, bawa bajingan ini ke markas."
"baik tuan muda."
Jeremy pun di bawa oleh Boy. Sedangkan dia dan Raisa melangkah menuju mobilnya."biar aku yang menyetir."
Raisa pun memberikan kunci mobil nya pada Wardana. Mereka pun meninggalkan hotel dan menuju ke apartement Raisa.
*
Setelah sampai di apartement Raisa, dia pun mengmbil air."ini kau minum dulu."
"terima kasih."
Dia pun ikut duduk di sebelah Raisa."kenapa kau sampai termakan omongan nya?"
"aku fikir memang benar kau yang menyuruh dia menelpon ku, dan ku fikir kau tidak mau bicara dengan ku."
__ADS_1
Wardana pun tersenyum sambil mengusap kepala perempuan yang paling dia cintai."mana mungkin aku bisa tahan lama lama tidak bicara dengan mu."
"kau kenapa?"
"kenapa apanya?"
"sikap mu, seperti orang yang sedang jatuh cinta."
Wardana pun mendekatkan wajahnya."aku memang sedang jatuh cinta pada seseorang."Wardana sengaja ingin melihat ekspresi wajah Raisa seperti apa.
Wajahnya pun seketika berubah menjadi kesal."oo...ya sudah lebih baik kau pergi dari sini, nanti seseorang yang kau suka, tidak akan mau menerima mu jika tau kau berduaan dengan ku di sini."
Wardana pun semakin mendekatkan wajahnya."aku sedang jatuh cinta pada mu."
Wardana lalu meraih tangan Raisa."aku sudah mendapatkan restu dari mama."
Ucapan Wardana pun membuat Raisa seakan tidak percaya."ka-kau jangan bercanda."
"aku tidak bercanda sayang."
Wajah Raisa terlihat kembali sendu."tapi bagaimana dengan istri mu dan Putri? mereka berdua juga berhak mencegahnya."
"sayang dengarkan aku, Ingrid tidak mau di ceraikan, sebenarnya aku ingin menceraikan nya setelah tau dia berselingkuh, tapi dia bilang tidak mau di ceraikan dan rela di madu."
__ADS_1
Raisa tidak menunjukkan bahwa dia bahagia, dan dia kembali menatap Wardana."aku jadi takut, kalau aku akan di cap sebagai pelakor."
"secepatnya kita akan menikah, aku tidak mau menundanya lagi, dan jangan fikirkan omongan orang yang tidak penting."
"tapi kan, semua karyawan mu orang nya sangat ingin tau urusan orang."
"sayang, jangan pernah percaya lagi dengan omongan orang, dulu hubungan kita berakhir juga karena kau percaya dengan omongan orang kan."
Raisa pun mengangguk dan tersenyum."maafkan aku, aku orangnya tidak fikir panjang, kalau aku sudah merasa di kecewakan, bagiku tidak ada kata maaf."
Wardana lalu mendekatkan wajahnya."aku mencintaimu, aku sangat mencintai mu, aku janji akan selalu menjaga perasaan mu."
"yang terpenting adalah, jika kita berjauhan, jangan pernah tidak memberikan kabar, karena itu penting bagi ku."
Dia pun tersenyum dan mengecup kening Raisa."cup, aku sangat bahagia, karena kita di di pertemukan lagi, kalau tidak, mungkin aku akan selamanya tidak bisa tersenyum."
"ish gombal."
"benar sayang, tanyakan saja pada Boy, bagaimana ekspresi wajah ku saat pertama kali datang ke kantor."
"seperti monster!"tebak Raisa.
like and.
__ADS_1