
Ingrid pun segera mengambil tasnya."kau selalu mengancam ku, coba saja, siapa pun yang akan menjadi istri mu, dia akan bernasib sama seperti ku."
Wardana tersenyum paksa mendengar ucapan istrinya dan kembali duduk menyuapkan bubur kedalam mulut putrinya.
"memangnya daddy benar ingin mencarikan ku mommy baru?"
Wardana tertawa lepas mendengar pertanyaan putrinya."ah hahaha...itu senjata daddy untuk membuat mommy takut sayang."
"kalau benar juga tidak apa apa daddy, asalkan mommy nya baik, sayang sama Putri dan juga daddy."
Putrinya sudah memberikan lampu hijau untuk mencarikan mommy yang baik untuk nya, sementara dirinya belum terfikir ke arah sana.
"he..kau ada ada saja, ayo sekarang tinggal satu suapan lagi, buka mulutnya sayang."
Di Surabaya.
Pagi ini Raisa di introgasi oleh Boy dan Tania."aku tidak percaya kau tidak ada hubungan special dengan bos Bryan."ucap Boy.
"kalian berdua maunya apa sih, aku memang tidak ada hubungan apa apa dengan nya."
"kalau kau tidak ada hubungan apa apa, kenapa kemarin sewaktu aku ingin memberikan kalung mu pada OB, dia dengan cepat mengambilnya."
Wajah Raisa berubah pucat."ya mungkin saja dia ingin memberikannya kepada kucing nya."jawab Raisa dengan asal asalan.
__ADS_1
"tidak mungkin, mana mungkin bos Bryan tidak mampu membeli kalung untuk kucing nya."
"terserah kalian berdua, sekarang kalian berdua mau kembali ke tempat kerja kalian atau aku akan melaporkan pada tuan Wardana."
"o-oke, kami akan kembali ke tempat kerja kami, tapi pertanyaan kami belum selesai."
Raisa pun mengambil satu buku."kalian mau pergi sekarang atau aku akan melempar kalian dengan buku ini."
Boy dan Tania pun langsung keluar dari ruangan Raisa dan duduk ke tempat masing masing.
"dasar menyebalkan, ee...h untuk apa juga sih dia pakai mengambil kalung itu, kau membuat ku dalam masalah Wardana."umpat Raisa.
Setelah seharian bekerja, Raisa pun kini sudah berada di rumah tepat pada pukul lima sore.
Dia pun melihat panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal, dan dengan ragu dia menerima panggilan telepon itu."hallo ini siapa?"
"ini aku, Wardana."
Raisa pun terkejut."oh..maaf tuan saya tidak tau, ada yang bisa saya bantu?"
"aku hanya ingin mengatakan kalau aku akan kembali ke sana minggu depan."
"oo...nanti apa yang anda perlukan akan saya sampaikan kepada Boy."
__ADS_1
"tidak perlu, aku akan mengatakan nya sendiri."
"oo..ya sudah, apa ada pertanyaan lagi tuan?"
"tidak ada."
"baiklah kalau begitu saya matikan dulu telponnya."
"iya silahkan."
Dia pun langsung mematikan ponsel nya."bagaimana aku bisa melupakan mu, tapi kalau aku berhenti dan bekerja di perusahaan lain, itu artinya aku ingkar janji pada tuan Joshua, heeh kenapa aku terjebak dalam pekerjaan yang sama."
*Kenapa kita harus di pertemukan lagi.
Sejujurnya aku hanya mencintai mu, tapi kita tidak mungkin lagi untuk bersama.
Kau sudah memiliki keluarga kecil yang bahagia*,
bathin Raisa.
"apa yang harus kulakukan untuk menjauhi nya, aku akan fokus pada pekerjaan ku, aku tidak memikirkannya lagi, ingat Raisa, jangan terbawa perasaan."
like komentarnya.
__ADS_1