
Wardana pun masih menatap cincin yang dulu untuk Raisa. Dia pun langsung menutup laci meja dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi, kini dia turun kebawah untuk makan malam bersama."kapan kau akan mengajak Ingrid dan Putri?"
"aku masih belum tau, apakah aku bisa mengurus dua perusahaan dengan jarak yang cukup jauh ma, jadi biarlah Ingrid dan Putri tidak ikut dulu."
"mama harap rumah tangga mu bisa seperti layaknya sebuah keluarga bahagia."
"jika Ingrid bisa menjadi istri yang yang baik, bukan hanya mengutamakan kepentingan pribadi nya saja, bahkan mengurus Putri pun dia tidak pernah."
Karena merasa tidak pernah di perlakukan seperti seorang istri, Ingrid justru membalasnya dengan acuh dan tidak ingin menjadi seorang istri yang patuh pada suaminya.
Keterpurukan nya saat di lukai oleh perempuan yang paling dia cintai, seharusnya Ingrid mempunyai kesempatan untuk mengisi hati Wardana yang tersakiti.
Pada saat larut malam, dia pun mengistirahatkan diri nya dan mulai memejamkan mata nya.
*
Ke esokan pagi nya.
__ADS_1
Raisa yang baru saja datang pun dengan cepat melangkah menuju ruangan nya."pagi ibu cantik."sapa Tania.
"pagi, e..apa CEO pengganti nya kemarin sudah berkunjung ke sini?"tanya Raisa dengan wajah takut.
"iya, kemarin dia mencari mu."
"ya sudah kalau begitu aku masuk dulu."
Setelah beberapa menit kemudian, telpon di meja kerja nya berbunyi, Raisa pun langsung mengangkat nya."ya hallo."
Detak jantung Wardana kembali berdegup kencang saat mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya.
"hallo, bisa keruangan saya sebentar."
"hallo tuan selamat pagi, bukan seperti itu, selamat pagi tuan, aah sudah lah."dia pun melangkah dengan ragu menuju ruangan Wardana.
Tania yang sedang memperhatikan Raisa pun tersenyum."Tania tolong do'akan aku."
"memangnya kau mau menghadapi hantu, tenang saja, CEO nya sangat tampan, kau pasti akan jatuh cinta pada nya."
__ADS_1
Dia pun mengetuk pintu ruangan Wardana yang di balas sahutan dari dalam.
Wardana yang sedang menunduk pun mengangkat wajahnya, mereka berdua pun sudah seakan tidak percaya.
Dengan berpenampilan yang sangat berbeda dari Raisa yang dulu dia kenal, dengan belahan seksi pada bibir dan dagunya menambah indahnya pesona Raisa yang sekarang.
Wardana pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain."e ehm, apa saja jadwal ku hari ini?"
Dengan sedikit gugup Raisa menjawab pertanyaan dari Wardana."jam sepuluh nanti akan ada meeting dengan bersama client dari Dubai, dan di lanjutkan meeting pada pukul tujuh malam di restoran A."
"baiklah, silahkan kembali ke ruangan mu."ucap Wardana dengan tegas.
Raisa pun menutup pintu nya dengan pelan sambil memegang dadanya.
Tania yang sedang duduk pun berdiri mendekati Raisa."bagaimana? tampan kan."
"hmm..aku masuk dulu."wajah Raisa berubah menjadi sendu.
Sementara Wardana masih memperhatikan Raisa yang berdiri di depan pintu ruangan nya."kenapa kita harus bertemu lagi."ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di kursi.
__ADS_1
Tepat pukul sepuluh, Wardana pun mempersiapkan diri untuk menghadiri meeting di ruangan khusus untuk meeting, dia keluar dari ruangan nya bersama dengan asisten pribadi nya yang bernama Boy.
Mau tidak mau Raisa pun juga.