
...........
Syarifa Najhma Ali Assegaf
Setelah menjenguk Lyra aku pulang ke rumah sementara Rico ingin ke bengkel katanya diperjalanan Rico tidak berbicara satu patah kata terlihat dia fokus menyetir akupun membuka percakapan
" Sayang kamu benar masih mencintai Kyra ?"
" Kamu ini apa sih! kan kamu istriku kamu juga yang aku cintai tidak ada satupun orang yang aku cintai didunia selain kamu sayang aku cuma merasa bersalah aja sayang terhadap Kyra itu saja! " jawab Rico
Wajahnya datar lesu tak bersemangat Rico dilema karena posisinya saat ini hatinya untukku namun dia juga tak bisa membiarkan Kyra menderita mengingat Kyra pernah jadi bagian dari hidupnya aku tak mungkin egois terhadap diriku karena akulah yang membuat mereka jadi seperti ini
Akhirnya sampai dirumah Rico ingin turun membantuku mengantar ke dalam rumah namun aku menolak aku mengatakan jika aku bisa lalu akupun turun dan Rico melaju mobilnya aku memencet bel terlihat Ibu-ibu yang masih terbilang muda namun sudah berkeriput membuka pintu dan tersenyum kepadaku lalu akupun bertanya
" Maaf ibu siapa ya? "
" Anu non saya sumiati yang kerja disini "
" Loh bukannya nama Bibi yg disini itu "
" Iya ini baru Fa yang lama sudah tak bisa bekerja lagi jadi Mama mencari baru Mama kasian sama kamu semuanya kamu yang mengerjakan " ucap Mama yang menghampiri kami lalu menyela pembicaraanku dan Bibi Sumiati
" Panggil saja Bukde sum " sambung Mama lagi
Aku tertawa sambil berkata
" Apa sih Mama kok bukde orang masih seger gini "
" Anu non saya sudah umur 40 tahun bisa dibilang bukde juga karena panggilan saya sehari-hari juga begitu " kata Bukde Sum
" Ya sudah Bukde " kataku sambil tersenyum
Setelah berkenalan kami masuk menuju dapur karena aku lapar sementara Mama mau pergi ke butik jadi tinggal kami berdua bersama bukde sum aku bertanya tentang kehidulan dan anak-anaknya sampai akhirnya aku mulai mengantuk dan akupun masuk kekamar
Adzan Ashar membangunkanku akupun sholat aku mendoakan orang-orang yang kusayang termasuk Lyra sahabatku agar dia cepat pulih disaat aku hendak membuka mukenahku dering ponselku menggagetkan aku lalu aku cepat-cepat membereskan perlengkapan sholatku lalu mengambil hp
" Hallo " kataku
" Fa... hisk Lyra... Fa hisk " ucap seseorang disana
" Ada apa Bang ? " ucapku panik
" Dia... hisk udah gak ada hisk "
Kaki lemas tak sanggup lagi berdiri aku terjatuh air mataku seakan sudah tak bisa lagi terbendung aku menangis sejadi-jadinya dan menjerit tiba-tiba suara pintu terbuka aku tak memperdulikan lagi lalu dia mendekapku dari belakang
" Sayang tenangkan dirimu " Ucap Rico
__ADS_1
" Gak mungkin Co.... hisk Lyra... hisk gak mungkin! " ucapku
" Istighfar Fa istighfar " Rico menenangkan aku
" Astagfirullah ya allah " ucapku
" Sekarang kita ganti baju menuju rumah Lyra ya " kata Rico aku hanya menggangguk Rico yang menggantikan bajuku lalu membawaku ke mobil
............
Rico Malven Narendra
Setelah mengantarkan Rifa aku ke bengkel untuk mengecek kondisi bengkel saat ini aku duduk dikursi kerjaku lalu mengecek satu per satu laporan setelah cukup 2 jam aku memeriksa perutku berbunyi aku lapar belum makan siang aku memesan makanan dengan layanan aplikasi tak berapa lama sampai akupun menyantapnya setelah selesai makan aku meregangkan perutku karena kekenyangan tiba-tiba ponselku berbunyi aku mengangkatnya
" Hallo bang kenapa nih tumben nelpon ? bukannya tadi udah ketemu " kataku pada Bang Indra
" Co... hisk Lyra meninggal setengah jam yang lalu " ucap Bang Indra datar
" Bang jangan ngada-ngada dong " kataku seakan tak percaya apa yang dikatakan Bang indra
" Elu gila gua ngada-ngada adek gua ninggal haa! " ucap Bang Indra marah dengan perkataanku
" Sorry Bang gua gak percaya aja tadi barusan gue ama Rifa kesana masih baek-baek aja " kataku
" Gua juga mikir gitu Co pas elu ama Rifa pulang gua masuk ngecek kondisi Lyra masih aman-aman aja gue duduk kan nyenderin kepala trus gue ketiduran lalu suster bangunin gue bilang kalau Lyra udah gak ada detak jantung lagi gue panik langsung panggil dokter telpon abah keluarga semua dan yah! kata doter dia udah gak ada " jelas Bang Indra
" Ya udah bang Rifa udah tau? " sambungku lagi
" Belum Co " jawabnya mulai serak
" Udah dibawa kerumah jenazahnya? " tanyaku lagi
" Udah Co " jawabnya Bang Indra tak bisa menahan air matanya lagi diapun akhirnya menangis ia mencoba menahan namun aku masih mendengarnya meski pelan
" Bang sabar semua sudah jalannya hidup dan mati kita gak ada yang tau meski ini memang terlalu cepat untuk kita " kataku aku mencoba memahami perasaan Bang Indra saat ini
" Iya Co thanks yaudah gua mau lanjut lagi ngabarin yang lain ya " katanya
" Oke bang " aku mematikan panggilannya lalu menuju mobilku untuk pulang kerumah ntah bagaimana keadaan Rifa saat tau dia kehilangan sahabatnya
Setelah sampai dirumah aku bergegas menuju kamar lalu membuka pintu kamar dan benar saja dia menangis sejadi-jadinya aku memeluknya mencoba menenangkannya setelah cukup tenang aku mengganti pakaiannya lalu menuntunya menuju mobil disepanjang perjalanan Rifa hanya menangis aku menggenggam tangannya mencoba menenangkannya namun bukannya tenang dia malah semakin menjadi tapi sesekali dia sesunggukan lalu terdiam sesaat namun menangis lagi
Begitu sampai di rumah duka aku turun dari mobil dan berlari membuka pintu mobil Rifa akupun menuntunnya lagi sambil berbisik
" Sayang kamu harus tenang ingat ini semua sudah takdir Allah tidak ada siapapun yang bisa melawan kehendak-NYA " kataku
Rifa hanya menggangguk pelan lalu dia melepaskan tanganku yang menggengam bahunya dia menatapku matanya memberi kode kepadaku bahwa dia kuat dan bisa akupun mengganggukkan kepalaku untuk mengiyakan aku tetap berdiri untuk memastikan Rifa agar tidak terjadi apa-apa setelah dia duduk disamping Evi dan Dilla sahabatnya yang lain sedang membaca surat yasin aku baru bisa duduk dengan tenang
__ADS_1
..............
Syarifa Nahjma Ali Assegaf
"Secepat ini kau pergi Lyra secepat ini kau meninggalkanku Lyra kenapa Lyra apa kau tak bisa menemuiku sebentar saja apa kau tak bisa menamaniku sebentar saja aku belum siap Lyra "batinku
aku menangis sepanjang perjalanan menuju kediaman Lyra
Sesampai disana terasa berat kaki ini untuk melangkah namun aku mencoba menguatkan hati lalu aku berjalan menghampiri kedua sahabatku yang sedang membaca yasin disamping sahabatku yang kini telah tiada Evi dan Dilla lalu menangis melihat kehadiranku kami berpelukan untuk salung menguatkan lalu akupun duduk disebelah kiri Evi dan tepat disebelah kanan Ummi Lyra sedang menangis memandangi putrinya tercinta sambil sesekali mengusap rambut hitamnya dan keningnya Almarhum Lyra
Meskipun dia adalah Ibu sambung Lyra tapi dia tetap menyanyangi Lyra meskipun Lyra tak pernah menerimanya sebagai Ibunya dan sangat jelas terlihat bahwa Ummi seperti benar-benar kehilangan putri kandungnya sendiri aku memeluknya dia membalas pelukanku dan kami memecah tangisan kakak Lyra yang dibelakangku menenangkan kami dengan mengusap punggungku dan Ummi
Setelah usai berpelukan aku mencoba mengatur nafas dan mengusap air mataku lalu aku memandangi wajah sahabatku yang sudah pucat
" terimakasih sudah menjadi teman baikku
terimakasih sudah menjadi sobat karibku
terimakasih sudah menjadi bagian dari jalan
hidupku
Maafkan segala kesalahanku
Maafkan segala kekuranganku
Tak ada yang mesti ditangisi
karena aku tak akan jauh, tetap disini
mengingat setiap kenangan indah yang
permah kita lewati bersama
Bebahagialah sahabatku, karena kamu
akan menemukan suasana yang baru bukan
disini, tapi disana
Cukuplah setiap kenangan yang telah kita
tanam, akan menjadi kenangan yang tumbuh
subur selama-lamanya
menyemaikan benih-benih cinta diantara kita "
__ADS_1