MANTAN menjadi SUAMI

MANTAN menjadi SUAMI
part 26


__ADS_3

.................


Rico Malven Narendra


Setelah kepergian Mama aku dan Papa menyusul namun saat hendak membuka pintu Lila keluar


" Sebaiknya kamu jangan masuk dulu deh soalnya Rifa masih kesel biar dia ngomong dulu sama Mama kamu " ucapnya


Aku hanya menggangukkan kepalaku mengiyakan ucapan Lila lalu kubatalkan niatku untuk masuk lalu berbalik ke arah dan duduk


" Loh Papa kok ikut-ikutan duduk gak masuk? " tanyaku


" Papa temenin kamu ajalah Co biar aja itu urusan perempuan " kata Papa


Aku masih sedikit bingung apa yang terjadi antara Papa dan Mama tapi aku saja sudah pusing karena urusan Rifa tambah harus memikirkan mereka


" Papa lagi berantem sama Mama? " tanyaku


" Ngak. Kenapa kamu nanya gitu? " jawab Papa


" Ya lihat aja Mama sampai nangis terus kek marah gitu sama Papa "


" Emh! Gak ada Co tau sendiri gimana perempuan kan gampang baper "


" Ih! apaan sih Papa ngomong baper segala kayak ngerti aja "


" Ya ngertilah makanya Papa berani ngomong "


Aku hanya menggeleng tak mengerti sambil tersenyum mendengar jawaban Papa


" Trus gimana kamu sama Rifa tetap akan bercerai juga? " tanya Papa


" Ntahlah Pa maunya Rico sih ngak tapi Rifa " Aku terdiam tak melanjutkan lagi


" Kamu tenang aja Mama pasti bisa kok bujuk Rifa " ucap Papa sambil menepuk bahuku


" Emang kenapa karena masalah baper gitu "

__ADS_1


" Iya betul pasti baper kalau dengar cerita Mama kamu "


" Maksud P.. "


" Ssssttt... keknya itu suara Mama tapi kok teriak-teriak "


Aku langsung panik langsung berdiri dan membuka kamar kulihat Mama menolehku dengan raut wajah yang sangat panik lalu menyuruhku untuk memanggil dokter aku keluar dan berteriak memanggil dokter perawat yang mendengar teriakanku ikutan panik dan bertanya setelah aku beri tahu diapun langsung bergegas memanggil dokter aku kembali lagi tak berapa lama dokterpun datang dan memeriksa keadaan Rifa


" Dia masih belum mau makan dan minum? " tanya dokter Lila dan Mama serta aku serentak menggelengkan kepala


" Kondisinya sangat lemah mungkin karena terlalu stres berlebihan dan kurang vitamin dia tetap harus makan bagaimanapun demi anak yang ada didalam kandungan kalau saat ini tidak ada masalah serius hanya itu tadi " jelas dokter


" Iya dok " ucapku


" Ya sudah kalau begitu saya permisi ya " ucap Dokter


" Iya terimakasih dok " Ucap Mama


Setelah dokter keluar aku mencoba bertanya pada Mama apa yang terjadi


" Ini salah Mama udah tau kondisinya masih belum stabil Mama udah cerita " Jawab Mama sambil menyeka air matanya yang dari tadi sudah tak terbendung


" Sudahlah Ma tapi Papa yakin setelah ini akan baik-baik aja " Ucap Papa


" Iya seharusnya begitu Pa jaga Rifa baik-baik Co dan jangan sakiti dia lagi " ucap Mama sambil melirik tajam ke arahku


" Iya iya Ma Rico janji "


Saat kami sedang mengobrol tiba-tiba Rifa sadar dan melihat ke arah kami lalu aku tersenyum dan hendak meminta maaf namun Rifa lebih dulu tersenyum dan memintaku untuk mendekatinya


" Co ini benar anakmu aku bersumpah demi Allah " Ucap Rifa


" Kamu tidak perlu bersumpah itu memang anakku aku emosi tadi karena ingat kedekatan kamu sama " ucapku namun ucapanku terhenti saat ingin menyebutkan nama laki-laki itu


" Aku minta maaf sayang aku berjanji akan selalu berada didekatmu dan takkan pernah meninggalkanmu atau berkata kasar lagi aku akan menjaga anak kita " sambungku lagi sambil mencium keningnya Rifa hanya tersenyum ke arahku


Setelah beberapa hari Rifa dirawat kami pulang ke rumah karena kondisi Rifa sudah membaik tapi mual dan muntahnya tak kunjung membaik setiap pagi adalah jadwal teratur dia mual dan muntah

__ADS_1


" Sayang are you okay " kataku sambil membaurkan minyak kayu putih ke perutnya setelah keluar dari kamar mandi


" Gak papa " jawab sekenanya


" Kamu mau sarapan lagi tadikan kamu keluarin semua " ucapku


Rifa menjawab dengan menggelengkan kepalanya untuk mengatakan tidak wajahnya terlihat lesu karena kehamilan ini


" Hei anak Papa jangan nakal sayang lihat Mama kasian loh sayang " Ucapku pada perutnya meskipun aku tau masih rata


Rifa tersenyum melihat ulahku tadi sambil berkata


" Emang bisa kayak gitu ya apa dia bakal nurut sama kamu "


" Harus itu! dia harus nurut sama Papanya " jawabku dengan tegas


" Kayaknya enggak deh dia bakal dengerin omongan Mamanya " jawab Rifa


" Kamu apa-apain sih kan dia udah diperutmu 9 bulan masa lahir mau sama kamu juga dia harus deket dan dengerin omongan Papanya "


" Ih! kamu mah kayak anak kecil " jawab Rifa sambil menyentil telingaku


" Aww.. sakit tau " ucapku terpekik sambil memegang telingaku yang merah


Rifa tertawa melihatku kesakitan akupun usil lalu menciumnya hingga ciuman kami berubah menjadi ciuman panas namun disela kami berciuman Rifa mendorongku


" Nanti Mama masuk masih pagi " katanya sambil kepalanya menghadap kesamping aku bisa melihat pipinya merona merah karena menahan malu aku yang tak tahan lalu bangun dan mengunci pintu kamar kami dan kembali ke tempat tidur


"Kamu apa-apaan sih Co kan kata dokter kita belum bisa kayak gitu dua bulan lagi Co "


" Astaga aku lupa sayang tapi.. ah! sudahlah aku keluar dulu ya sayang " kataku sambil bangun lagi


" Kalau cara alternatif gimana " mendengar ucapan Rifa aku menghentikan langkahku dan berbalik melihat wajah Rifa yang semakin memerah menahan malu


" Emang kamu bisa kalau kegigit sakit tau " ucapku


" Ya kan belajar sayang " kata Rifa sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya akupun tersenyum melihat tingkahnya lalu aku mendekatinya dan menciumnya dan kami mencoba jalan alternatif untuk menenangkan juniorku yang dari tadi sudah memberontak

__ADS_1


__ADS_2