
Perempuan itu kini menghampiri sembilan temannya dan mengajak sembilan temannya menghampiri kelompok Andrea.Mereka mengucapkan terima kasih kepada Aurora,Andrea,Bobi,Sam,Joni,dan juga Imelda.
Singkat cerita,Aurora dan teman-temannya
sepakat untuk memberi kelompok baru itu kayu bakar yang mereka miliki.Kelompok Aurora berkenalan dengan kelompok baru itu.
Ternyata nama perempuan yang Aurora amati tadi adalah Sania.Menurut Aurora,nama Sania itu sangat tidak asing untuknya.
Aurora merasa kalau di hidupnya yang sebelumnya dia sudah mengenal Sania.Aurora pikir kalau perasaannya yang merasa mengenal Aurora hanya sebuah deja vu,Aurora merasa pernah melihat Sania tetapi,entah kapan dan dimana.
Susah payah mengingatnya pun tetap
Aurora tidak bisa menemukan jawaban yang
tepat sekarang.Karena ingin lebih dekat dan kenal dengan Sania lebih dekat maka,Aurora memilih untuk meminta nomor telepon Sania.
Setelah memberikan kayu bakar kepada kelompok Sania, Kelompok Aurora dan kelompok Sania pergi mandi di sungai bersama-sama dengan tatapan mata Aurora yang terus melirik Sania.
Aurora sebenarnya merasa tidak nyaman melihat Sania.Jantung Aurora tidak nyaman alias sesak,maksudnya perasaannya yang terasa sesak.Untuk mendapatkan nomor telepon Sania saja sangat susah bagi Aurora karena dia terus saja merasa gugup bahkan,hanya dengan melihat Sania.
Menurut Aurora, Sania adalah orang yang ramah dan hangat ketika berbicara.Sania juga berasal dan alumni dari Sekolah mmenengah atas yang sama dengan Aurora,tempat Aurora ketika masih bersekolah,atau lebih tepat dengan ketika Rion masih berada ditubuhnya yang asli.
Ketika malam hari nya kelompok Aurora dan Sania berkumpul bersama.Mereka membuat api unggun yang besar dan duduk melingkar mengelilingi api unggun tersebut.Mereka semua bercerita,tertawa senang.
Malam berlalu dari gelap menjadi cerah benderang.Bulan malam yang tenang berganti dengan munculnya matahari pagi yang indah.
Aurora dan teman-temannya bersama kelompok Sania bersiap untuk pulang namun,sebelum itu mereka berkemas barang-barang bawaan mereka terlebih dulu.Aurora sudah merapikan barang bawaannya untuk pulang jadi,dia keluar dari tendanya.
"Aku keluar tenda dulu ya." Aurora berpamitan pada Imelda.
__ADS_1
"Siap." Jawab Imelda sambil mengacungkan jempolnya.
Aurora keluar dari tenda meninggalkan Imelda yang masih merapikan barang miliknya.Di luar tenda hanya ada Aurora bersama dengan Andrea,Sam,dan juga Bobi.Kelompok Sania semua anggotanya belum selesai merapikan barang mereka termasuk Sania.
Aurora memutuskan untuk membantu Sania merapikan barangnya di tendanya.Aurora masuk menghampiri Sania untuk membantu.
"Mau dibantu?" Aurora menegur.
"Gak usah." Sania menjawab.
"Oke kalau gitu." Ucap Aurora sambil mengangguk tanda mengerti.
Meskipun kepalanya mengangguk,Aurora tetap akan membantu Sania.Aurora juga tidak begitu mengerti mengapa dia harus peduli dengan Sania sampai ingin membantunya beres-beres.
"Kan tadi aku bilang gak usah dibantuin." Sania menatap tajam Aurora yang kini membantunya.
"Terserah tangan aku dong.
"Terserah kamu lah."
Sania tidak peduli lagi dengan kelakuan Aurora.Sania pikir anggukan kepala Aurora itu tanda bahwa tidak akan membantunya berkemas.Karena dibantu oleh Aurora jadi pekerjaan Sania menjadi cepat selesai dan tidak memakan waktu yang banyak.Setelah selesai merapikan barang Sania untuk dibawa pulang kini,Aurora dan Sania keluar dari tenda dan mulai merobohkan tenda Sania.
Andrea sebenarnya sangat cemburu dan kesal melihat Aurora lebih memilih merobohkan tenda Sonia terlebih dulu daripada tendanya sendiri.Andrea berharap setidaknya Aurora bisa membantu Andrea seorang saja.
Andrea telah menyukai Aurora ketika mereka masih duduk dibangku sekolah dasar kelas enam.Alasan Andrea ketika melihat wajah Aurora tidak hanya menjadikannya teman tapi,menjadikannya orang yang berharga dihati nya juga.Andrea sudah berusaha agar dia tidak terlalu jauh mengagumi Aurora.Andrea hanya ingin menjadi teman dengan Aurora tetapi,perasaannya lain dari keinginannya.Andrea sangat menyukai Aurora.Andrea tidak yakin apa nama dari perasaannya itu tetapi,karena perasaannya itu dia ingin selalu bersama dan melihat Aurora setiap hari.Andrea tidak peduli jika Aurora tidak mempunyai perasaan yang sama,bagi Andrea melihat Aurora tersenyum sudah sangat membuat hatinya merasa senang.Andrea tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi karena dia sadar dia tidak pantas untuk Aurora.
Kelompok Aurora dan Sania sudah siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.Mereka pulang bersama-sama.
Kelompok Sania membawa tiga mobil,mereka beriringan bersama di belakang mobil hitam Andrea.Andrea mengantarkan Bobi,Sam,Imelda, dan Joni terlebih dahulu ke rumah mereka masing-masing,kemudian terkahir baru mengantarkan Aurora.Sesampainya di depan rumahnya,Aurora langsung berterima kasih kepada Andrea lalu pergi ke dalam rumah.Akan tetapi,langkah Aurora terhenti karena Andrea memanggil dari dalam mobilnya.
__ADS_1
"Aurora." Andrea memanggil Aurora.
Aurora hanya berbalik badan lalu menatap Andrea dengan ekspresi heran yaitu mengerutkan kening.
'Kalau mau ngomong,ngomong aja.Gak perlu banyak basa-basi kayak gitu.'Batin Aurora.
Andrea hanya tersenyum menatap Aurora.Aurora yang melihat Andrea hanya tersenyum membuat rasa heran Aurora semakin kuat.
"Semangat! Jangan lupa istirahat." Ucap Andrea.
"Iya.Kamu juga." Ucap Aurora singkat lalu meninggalkan Andrea.
Andrea meninggalkan rumah Aurora dan melajukan mobilnya menuju rumah.Karena jalanan sepi Andrea melaju cukup kencang dijalan raya karena Andrea ingin segera mandi lalu tidur di kasur empuk miliknya sambil memeluk guling.Andrea sering berkata kepada semua temannya kalau dia tidak sanggup hidup tanpa guling.Guling adalah teman terbaik,mungkin itu motto yang sangat cocok untuk Andrea.
Sementara itu,ketika Andrea masih diperjalanan pulang dan sedang melaju di jalan raya,kini Aurora sudah bersantai di atas kasur empuk miliknya.
'Aku udah mandi dan waktunya sekarang
buat ngirim sms ke Sania." Batin Aurora gembira.
'Gak jadi deh nanti aja SMS nya." Batin Aurora kembali.
"Apa jangan-jangan Sania itu orang yang juga ikutan merundung ku di sekolah waktu aku masih menjadi Rion?" Monolog Aurora.
Aurora banyak menebak tentang sosok.Sania. siapa sebenarnya Sania itu baginya? Mengapa nama itu terasa tidak asing baginya?
Masih banyak pertanyaan yang ada di kepala Aurora tentang sosok Sania.Ingatan di otak Aurora berputar tidak jelas meskipun,mengingat seribu kali pun tidak menemukan jawaban pasti.
Aurora sudah lelah dengan dugaan yang ada di kepalanya jadi,dia berniat mengirimkan Sania pesan saja.Aurora ingin mengetik pesan untuk Sania tapi,masih ada rasa ragu untuk melakukannya.Aurora terlalu banyak berpikir saja sehingga keraguan tentu pasti ada jika terlalu berpikir berlebihan.
__ADS_1
Aurora mencoba menghilangkan rasa ragu nya agar bisa saling berkirim pesan dengan Sania.Aurora sangat bersemangat mengirimi Sania pesan karena Sania satu sekolah menengah atas dengan Aurora atau lebih tepatnya Rion.Jadi Aurora yang sekarang ingin berteman dengan orang yang satu sekolah menengah atas dengannya ketika dia masih di wujud laki-laki atau Rion.