
Mia dan Leonardo menyetujui tantangan
dari Aurora dan mereka berdua mulai cepat melahap makanan mereka.
'Kelihatan harmonis sekali' Batin Aurora dalam hati sambil tersenyum.
Mia dan Leonardo memakan sarapan yang tidak begitu mewah seperti yang dipikirkan oleh Aurora dikepalanya. Hanya lobster dengan saos tomat dengan nasi.
"Papa cemen banget deh jadi orang." Mia mengejek Leonardo.
"Tau ah,terserah ma."
"Bercanda kok pa hehehe." Ucap Mia cekikan.
"Bibi,tolong beresin makanan ya!" Perintah Mia.
"Baik nona."
"Aurora,kamu mau ikut mama dan
papa belanja di mall gak?" Tawar Leonardo.
"Enggak pa.Aurora mau dirumah aja hari ini."
"Yaudah kalau gitu.Papa dan mama
pergi dulu ya." Ucap Leonardo
"Oh iya nanti papa dan mama mau beliin
kamu gawai.Aurora,Kamu mau gawai yang mereknya apa?" Leonardo bertanya.
"Terserah aja pa.Yang penting bisa dipakai
buat komunikasi dan main game." Ucap Aurora.
"Oke deh.Papa pergi dulu ya."
"Iya mama juga mau pamit ya sayang." Mia melambaikan tangannya ke Aurora
"Iya.Hati-hati ya mama dan papa."
Mia dan Leonardo pergi berbelanja ke mall terlebih dulu sebelum pergi ke sekolah Aurora nanti siang.
"Aku pergi ke kamar dulu ya bi. Kalau nanti
ada Andrea panggil aku ya bi di kamar."
"Iya nona." Bibi patuh dengan Aurora.
Aurora naik ke lantai atas,ke kamarnya dengan santai.Dia hanya membaringkan diri menunggu Andrea yang kata Mia ingin bertamu ke rumahnya.
"Ini masih jam sembilan pagi,Andrea pasti masih lama bertamunya." Aurora merasa bosan
"Huh bosan,pengen sekolah
dan jalan-jalan." Aurora mengeluh.
Aurora benar-benar bosan dia ingin
berpergian untuk sekedar jalan-jalan tetapi,dia tidak tahu jalan sekitar perumahan keluarga Aurora .Rasanya benar-benar tidak ada yang
harus dilakukan lagi selain hanya tidur
sambil menunggu Andrea.
"Permisi nona Aurora." Bibi mengetuk pintu kamar.
"Iya bibi.Ada apa?"
"Bibi mau bicara sama nona."
"Ya udah masuk aja gak
apa-apa kok bi." Aurora menyuruh bibi.
Bibi pun langsung masuk kedalam kamar Aurora dan langsung duduk ditempat tidur Aurora,tepat disamping dimana Aurora duduk.
"Bibi mau bicara masalah
apa ya bi?" Aurora bingung.
"Tuan Andrea udah menunggu nona
Andrea di ruang tamu."
"Oke bi.Tolong bilangin ke Andrea nya kalau
aku bakal nyusul dia nanti!"
"Siap non."
Asisten rumah tangga Aurora setengah berlari untuk turun ke lantai bawah menemui Andrea.
Andrea terlihat santai saja menunggu
kehadiran Aurora.Jauh didalam hati
sebenarnya Andrea sangat tidak sabar untuk kembali melihat Aurora.Andrea merindukan Aurora yang sudah bangun dari lamanya terbaring dirumah sakit.Andrea sangat merindukan
wajah tertawa Aurora yang hampir terlupa oleh ingatannya.
__ADS_1
Ekspresi wajah yang terlihat bahagia ketika mereka berdua masih sekolah bersama dulu ketika masih di sekolah menengah pertama kelas satu.Kini Andrea baru menjalani kehidupan barunya sebagai seorang mahasiswa di perguruan tinggi,sedangkan Aurora harus kembali mengulang di Sekolah Menengah Pertama kelas satu.Yang ada dipikiran Rion sekarang itu,dia bisa mengajari materi sekolah Aurora yang belum dipahami oleh Aurora sendiri.
"Maaf tuan tadi nona Aurora bilang kalau dia akan menyusul tuan Andrea segera." Bibi menjelaskan.
"Oh iya.Akan tetap saya tunggu dulu disini." Rion menyahut perkataan bibi.
"Iya tuan.Tuan Andrea mau minum apa?"
"Jus jeruk manis saja bi."
"Baik.Tunggu ya tuan Andrea."
"Iya." Ucap Andrea singkat.
Sementara itu di kamar,Aurora kebingungan apa dia harus mengganti pakaiannya atau tidak.Aurora ingin terlihat sempurna karena dia akan bertemu Andrea,teman laki-lakinya.
"Huh kenapa rambutku
rontok ya?" Monolog Aurora.
"Ternyata punya rambut panjang
emang susah banget." Aurora mengeluh.
Dengan segalanya perjuangan dan kesabaran,Aurora berhasil menyisir rambutnya tetapi,rambutnya yang rontok malah
berhamburan di lantai.
"Sudah lah,nanti aja aku ngebersihin
rambut rontok ku yang jatuh
dilantai ini." Ucap Rion sambil membuang rambut rontok nya yang jatuh dipundak nya.
"Aku gak perlu ganti baju lagi kayaknya.
Begini pun aku sudah sangat tampan eh maksudnya cantik." Ucap Aurora sambil memandang kagum pada dirinya sendiri didepan cermin.
"Sudah benar-benar rapi dan cantik.
Sekarang ayo cepat keluar." Monolog Aurora bersemangat.
Aurora berjalan menghampiri Andrea yang tengah duduk menunggunya di ruang tamu.Aurora memutuskan duduk dikursi di hadapan Andrea.
"Halo Andrea." Aurora menyapa terlebih dahulu.
"Hai Aurora." Andrea membalas sapaan Aurora.
"Maaf ya aku malah ngebuat kamu jadi nunggu.Kamu nungguin aku gak
begitu lama kan?"
"Santai aja,aku cuma nunggu beberapa
"Iya deh."
"Permisi nona Aurora dan tuan Andrea,ini
jus jeruk buat nona dan tuan berdua.
Silahkan diminum!" Ucap bibi sambil menaruh
dua jus jeruk dingin ke meja.
"Iya bi nanti bakal kami minum.Makasih ya bi."
Aurora berterima kasih.
Asisten rumah tangga Aurora meninggalkan Aurora dan Andrea agar mereka bebas berbicara tanpa terganggu.
"Jadi,Andrea sebenarnya kamu mau
ngapain ke rumahku?" Aurora bertanya.
"Cuma mau liat kamu sih." Jawab Andrea
singkat dan tidak jelas.
"Lah masa jauh-jauh kesini cuma
mau liat aku doang kan aneh."
"Bercanda kok.Aku mau jenguk kamu aja.Aku kangen banget sama kamu.Aku gak nyangka
kamu juga bisa tumbuh ke atas ya meskipun
lagi koma." Andrea mengejek.
"Sembarangan banget mulutmu itu.Mau jenguk apa mau ngejek itu maksudnya?" Aurora masih dengan wajah datarnya.
"Lah gitu aja kok ngambek.Kamu beda ya sama Aurora yang dulu." Ucap Andrea terhenti karena dipotong oleh Aurora.
"Emang Aurora yang
dulu kayak gimana?" Aurora bertanya.
"Dia humoris dan bisa diajak bercanda,tapi mungkin kamu udah gak ingat karena kamu kan komanya sampai hampir lima tahun an"
"Iya emang bener.Aku emang bukan Aurora
yang dulu,bukan Aurora yang humoris
__ADS_1
seperti yang kamu kenal."
"Udah jangan dipikirin.Gimana pun kan kita berdua tetap teman.Kita udah berteman pas masih kecil jadi apapun itu gak ada alasan buat kita saling marah atau musuhan." Ucap Andrea tersenyum hangat.
"Iya Andrea." Jawab Aurora sambil membalas senyuman Andrea.
"Jus jeruk dinginnya jangan
lupa diminum!" Lanjut Aurora berbicara.
"Oh iya ya,oke deh yuk minum jus nya sekarang." Ucap Andrea
"Oke."
Aurora dan Andrea mengambil jus jeruk dingin mereka lalu bersulang sebelum minum.
"Emang ya jus jeruk dingin paling pas diminum pas siang yang panas kayak sekarang." Ucap Aurora sambil mengibas-ngibas kan tangannya berkipas.
"Eh Aurora anak perempuan gak boleh gitu tau."
"Apa yang gak boleh
maksud kamu?" Aurora bingung.
"Anak perempuan kalau duduk,
jangan ngangkang kayak gitu." Perintah Andrea sambil menunjuk kaki Aurora.
"Aku gak peduli asalkan nyaman,
kenapa enggak boleh?" Ucap Aurora jujur sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lagian aku pakai rok yang agak panjang kok dan pakai celana juga.Masalah sepele kayak gitu kok jadi dibesarin?" Lanjut Aurora masih
dengan sikap angkuhnya.
"Terserah kamu lah Aurora.Aku cuma
meringatin aja demi kebaikan kamu juga." Andrea menatap Aurora dengan serius.
" Ya udah iya itu semua demi aku." Jawab Aurora sambil mengembalikan posisi duduknya.
"Kata mama kamu nanti siang,dia sama papa kamu bakal ke SMP.Kamu emang mau ngulang lagi kekelas satu SMP?"
"Entahlah.Itu semua terserah orang tua aku.
Aku sih tinggal ngikut aja."
"Oke.Oh iya nanti malam aku sama temanku mau kemah ke pinggir danau di hutan loh.Kamu mau ikut gak?"
"Wah,seru tuh kayaknya soalnya aku
belum pernah kemah bareng teman-teman."
Ucap Aurora dengan sedih.
"Kamu mah pikun padahal dulu kita
berdua pernah kemah bareng loh."
"Hah cuma kita berdua?" Aurora kaget.
"Iya.Kita berdua aja.Dulu kemah dipinggir
danau juga tapi danau yang beda dari
lokasi kemah malam ini."
"Oh gitu rupanya." Aurora mengangguk.
'Jangan-jangan Andrea ini
tertarik sama aku.' Batin Aurora.
"Iya.Yaudah kalau gitu aku pulang dulu ya
mau belanja barang buat kebutuhan kemah nanti malam.Kalau kamu misalkan jadi ikut kemah malam ini,jangan lupa kabarin aku ya!" Andrea tersenyum.
"Oke." Balas Aurora
"Aku pulang dulu ya bye" Andrea melambaikan tangan kanannya.
Andrea berdiri dari kursi dan mulai menuju pintu depan untuk pulang.
"Tunggu!" Aurora mencegah Andrea udah terus melangkah berjalan.
"Kenapa?" Andrea berbalik menghadap Aurora yang masih duduk diam di kursinya.
"Aku antarin kamu sampai gerbang rumahku" Jawab Aurora.
Aurora berdiri dari kursinya dan langsung menghampiri Andrea lalu langsung merangkul bahu Andrea.
"Yok aku antarin" Ajak Aurora.
"Iya ayo."
Aurora mengantarkan Andrea sampai didepan gerbang rumahnya tetapi,tangannya masih saja belum melepaskan rangkulan dari pundak Andrea.Karena sudah sadar kalau rangkulannya belum dilepaskan,Aurora buru-buru melepaskan rangkulannya dari Andrea.
'Untung buru-buru ku lepas rangkulannya.Kalau enggak dilepas bisa-bisa ini cowok salah paham.'
"Oke udah sampai.Hati-hati ya pulangnya."
__ADS_1
"Siap.Bye Aurora." Andrea melambaikan tangan tanda berpisah.
"Bye." Aurora balas melambaikan tangan.