Manusia Yang Baru

Manusia Yang Baru
Capitan Boneka


__ADS_3

Mia merasa terganggu ketika sedang memilih buah karena mendengar suara tertawa yang keluar dari mulut suaminya.Ketika Mia bertanya perihal topik pembicaraan suaminya dan Aurora.Aurora bersama Leonardo hanya menggelengkan kepalanya saja.


" Jadi, udah mulai sok rahasia-rahasian ya


kalian berdua sama mamah. Awas aja mamah bisa lho balasnya ke kalian.”


“Baperan banget si, mah. Orang papah sama Aurora cuma main-main doang.“


“Justru papah tuh yang baperan, mau aja ditipu


sama mamah. Gak mungkin kan aku balas dendam jahat sama kalian berdua. Kalian aja yang suka jahat sama mamah.” Ucap Mia sambil menggerutu.


“Mamah aja manyun gitu bibirnya, sama


aja dong ga papah dan ga mamah sama


aja baperannya.” Aurora menimpali gerutuan Mia.


“Diam, sayang. Nanti mamah kamu makin ngeraung bisa-bisa diacak-acak


belanjaanya.” Ucap Leonardo berbicara dengan suara sedang sambil menempelkan telunjuknya diatas mulut.


"Hahaha santai aja pah kan mama bukan


harimau tapi, Aurora mamah suka kamu sekarang yang lebih banyak ngomong.”


“Siap, mah. Aurora mau belanja boneka


duluan ya ke sana.”


“Iya, sayang. Hati-hati ya.”


“Iya, mah.”


" Jadi, udah mulai sok rahasia-rahasian ya


kalian berdua sama mamah. Awas aja mamah bisa lho balasnya ke kalian.”


“Baperan banget si, mah. Orang papah sama Aurora cuma main-main doang.“


“Justru papah tuh yang baperan, mau aja ditipu


sama mamah. Gak mungkin kan aku balas dendam jahat sama kalian berdua. Kalian aja yang suka jahat sama mamah.” Ucap Mia sambil menggerutu.


“Mamah aja manyun gitu bibirnya, sama


aja dong ga papah dan ga mamah sama


aja baperannya.” Aurora menimpali gerutuan Mia.


“Diam, sayang. Nanti mamah kamu makin ngeraung bisa-bisa diacak-acak


belanjaanya.” Ucap Leonardo berbicara dengan suara sedang sambil menempelkan telunjuknya diatas mulut.


"Hahaha santai aja pah kan mama bukan


harimau tapi, Aurora mamah suka kamu sekarang yang lebih banyak ngomong.”

__ADS_1


“Siap, mah. Aurora mau belanja boneka


duluan ya ke sana.”


“Iya, sayang. Hati-hati ya.”


“Iya, mah.”


Aurora langsung ke tempat penjualan boneka. Sedang tengah asyik memilih-milih boneka yang hendak dibeli, di jarak yang lumayan dekat tanpa sengaja Aurora melihat Sindi tengah memainkan capitan boneka sendirian. Aurora menelan ludahnya kasar karena gugup dan ragu apakah memang harus dirinya menegur Sindi yang tengah memainkan capitan boneka. Meskipun tampak ragu tapi pikiran Aurora lebih di dominasi untuk menyuruhnya menghampiri dan mengobrol dengan Sindi. Akhirnya setelah melewati banyak rintangan dan halangan di kepalanya akhirnya Aurora berani memutuskan untuk menghampiri Sindi.


Meskipun biasanya sulit untuk sebagian orang berbicara dengan penuh percaya diri di hadapan orang yang di sukai, tapi Aurora tetap berusaha maksimal agar tidak terlihat gugup apalagi sampai tremor di hadapan wanita yang dia cintai. Membayangkan dirinya tremor saja sudah membuat Aurora bergidik ngeri, apalagi jika sampai orang yang dia cintai tahu penyebab tremornya.


Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya Aurora dengan penuh semangat akhirnya telah memberanikan untuk bercengkrama dengan Sindi. Sindi tanpa ragu langsung mengajak Aurora bergabung dan bermain dengannya. Selain itu ada banyak topik yang mereka bicarakan mulai dari makanan favorit, hobby, kegiatan sehari-hari, warna kesukaan, olahraga favorit, dan masih banyak hal lainnya lagi.


“Kamu beneran jarang


olahraga tiap minggunya?" Sindi penasaran dengan pengakuan Aurora yang katanya yang akhir-akhir ini jarang olahraga lagi.


“Bukan jarang tapi emang enggak pernah lagi.”


"Kok bisa gitu, sih? Padahal kalau sering


olahraga bikin tubuh fresh dan kulit lebih


sehat."


"Faktanya emang benar gitu, sih. Tapi


mau gimana lagi kan emang akunya gak pengen."


"Ga pengen atau ga aktif?"


"Si pasrah nih ceritanya.


Main iya iyain aja hahaha."


"Aslinya aku emang


gitu sih hehehe."


"Aku juga jarang olahraga juga si, minggu


ini aja baru satu kali olahraga. Itu pun cuma senam. Nah, kamu tadi bilang suka berenang kan? Gimana kalau bulan depan kamu ikut


aku sama teman-temanku ke wisata kolam renang dekat sekolahku."


"Eh, tunggu... Serius aku dibolehin?


Kan kita baru hari ini kenalnya jadi aku rada


gak percaya. " Ucap Aurora sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Why not? Lebih ramai jumlah kita


jadinya makin seru." Ucap Sindi tersenyum lebar hingga kedua gigi taring bawahnya terlihat.


Aurora hanya membalas senyuman hangat milik Sindi dengan tersenyum canggung lalu mengarahkan pandangan matanya ke bawah karena merasa gugup sedang ditatap oleh Sindi.

__ADS_1


'Please, Sindi. Jangan tatap aku seperti itu.


Ini baru pertama kalinya aku ditatap kamu.


Jadi jangan heran kalau aku seperti orang


pemalu seperti sekarang. Jantung, please tenangin diri dulu, aku malu kalau ketahuan gugup kayak gini.' Batin Aurora.


"Aurora, Aurora, kenapa ngelamun?" Sindi menyadarkan Aurora dari tatapan kosongnya.


"Ga apa-apa kok, Sindi. Cuma tiba-tiba


kepikiran sesuatu aja tadi." Jawab Aurora dengan tersenyum kikuk atau canggung sambil memegangi telinganya yang memerah.


"Yaudah yuk kalau gitu kita


lanjutin main capit bonekanya dulu."


"Iya, Sin. Aku kirim pesan ke mama sama


papaku dulu ya biar mereka gak khawatir."


"Ok"


Aurora mengambil gawainya yang ada di saku celananya dan langsung saja mengirimkan pesan kepada Mia dan Leonardo kalau dia sedang bermain capit boneka bersama temannya.


Setelah selesai mengirim pesan, Aurora dan Sindi langsung melanjutkan memulai permainan capitan boneka.


Singkat cerita, Aurora dan Sindi telah selesai bermain capitan boneka dan kembali menghampiri kedua orang tua mereka. Sindi datang pada orang tuanya yang sedang berbelanja sepatu dengan boneka miliknya yang berasal dari capitan boneka, namun awalnya boneka itu milik Aurora. Karena Aurora merasa kasihan dengan Sindi yang terus gagal mendapatkan hadiah, ya sudah diberikannya saja boneka miliknya pada Sindi.


Sementara itu Aurora juga menghampiri ayah dan ibunya yang ternyata masih asyik menikmati makanan mereka. Untung saja Aurora tidak kesulitan menjari jejak keberadaan kedua orang tua tersebut karena mereka makan di restoran yang tidak jauh dari toko buah.Melihat putranya yang sudah tiba, Mia dan Leonardo langsung menyuruh Aurora untuk duduk dan makan bersama.


"Kamu dari mana aja, sayang?" Tanya Mia.


“Dari main capitan boneka sama


teman aja...." Ucap Aurora terhenti karena pembicaraannya dipotong Leonardo.


"Teman baru ya?"


"Iya, teman baru aku."


"Ok, sekarang cepat makan dulu. Atau


kalau kamu mau yang panas bisa langsung


pesan menu makanan yang baru."


"Siap, pah."


Karena makanan yang dipesankan sebelumnya untuk Aurora sudah dingin, maka Aurora lebih memilih untuk memesan menu makanan baru. Makanan yang hangat akan jauh terasa lebih enak bagi kebanyakan orang termasuk Aurora, tetapi tidak semua makanan di dunia selalu cocok disajikan dalam kondisi hangat.


Makanan yang sudah dingin diibaratkan masakan tanpa bumbu atau gula bagi Aurora sejak dari dirinya masih ada di tubuh aslinya, Rion.


Ketika sedang fokus untuk memilih makannya, Aurora jadi teringat dengan ajakan yang ditawarkan Sindi ketika mereka bermain capitan boneka. Yang mana waktu itu Sindi mengajak Aurora untuk ke kolam renang didekat sekolahnya bersama dengan temannya yang lain.


'Maksud Sindi tadi itu, sekolah yang

__ADS_1


dulu atau sekolah yang beda?'


__ADS_2