
Setelah raja Maut menitipkan pesannya kepada Rion, dia langsung pergi meninggalkan Rion untuk mengawasi pekerjaan para rakyatnya. Raja Maut tidak mau mempunyai bawahan yang pemalas dan tidak tepat dalam bekerja, oleh karena itu perlu diawasi langsung oleh dirinya ketika malam hari.
Di dini hari waktu bumi, Rion akan menemui raja Maut seperti yang telah diperintahkan sebelumnya. Rion harus segera bertemu Raja Maut karena sebenarnya Rion masih sangat mengantuk dan ingin segera mandi untuk membersihkan diri.
Rion bergegas keluar dari kamarnya dan ketika baru saja berhasil keluar dari kamar, Rion mendapati raja Maut yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Kau mau ke mana?" Raja Maut bertanya
pada Rion.
"Saya ingin bertemu
dengan raja." Ucap Rion sambil tersenyum.
"Oh, pasti karena aku menyuruhmu
tadi malam bukan? Sebenarnya aku hanya
ingin berbicara sedikit hal saja denganmu."
"Aku hanya ingin mengatakan kepadamu
agar kau mempersiapkan diri sepenuhnya
menjadi seorang perempuan. Persiapkan
hatimu sepenuhnya agar bisa menerimanya." Lanjut Raja Maut lalu meninggalkan Rion sendirian.
Rion hanya menurut dan mengiyakan perkataan R
raja Maut. Rion segera kembali ke kamarnya untuk pergi mandi kekamar mandi. Kamar mandi yang cukup bagus dan sangat manusiawi karena temboknya terbuat dari kayu yang dicat putih bersih, aroma kamar mandinya sangat harum seperti bau bunga mawar merah, airnya bersih jernih, dan semua hal atau benda dikamar mandi sama seperti kamar mandi manusia pada umumnya. Tetapi tidak ada sabun dan shampoo mandi disini, Rion hanya perlu berendam air panas atau dingin.
Tidak perlu waktu yang begitu lama akhirnya Rion menyelesaikan kegiatan mandinya lalu langsung berganti pakaian dengan jubah hitam bertudung yang diberikan pelayan Kerajaan Maut ketika siang hari tadi sebelum Rion tidur malam itu.
Besok di pagi harinya, Rion bangun dari tidurnya tetapi dia bangung ditempat tidur yang berbeda.
"Kamar siapa ini?" Tanya Rion
"Eh bukannya ini dirumah sakit ya?" Lanjut Rion bingung sambil melirik selang infus ditangannya.
"Ya,ini memang rumah sakit." Ucap Rion pada dirinya sendiri.
Bau obat-obatan dirumah sakit sangat mengganggu Rion. Rion sangat tidak menyukai bau rumah sakit itulah Rion, apalagi makanan rumah sakit yang rasanya hambar seperti bubur nasi yang sangat tidak menggugah selera makan.
Karena masih mengantuk Rion berniat melanjutkan tidurnya kembali tetapi tidak jadi karena datang seorang wanita paruh baya yang usianya mungkin sekitar empat puluh tahunan yang menghampirinya dengan dengan gembira.
"Akhirnya kamu bangun juga,
sayang." Ucap wanita paruh baya itu senang.
"Siapa anda?" Rion bingung.
"Aku ini ibumu, sayang. Mungkin karena kamu udah lama koma makanya kamu sampai lupa dengan ibu." Wanita itu tersenyum lalu mengelus kepala Rion dengan penuh kasih.
'Ada apa dengan orang ini?'
__ADS_1
'Siapa yang dia maksud dengan sayang?'
Batin Rion dalam hati dengan bingung.
'Dia kan bukan Ibuku, berani sekali dia berkata seperti itu. Sangat membingungkan.' Batin Rion.
"Ibu senang karena putri ibusekarang
bisa sembuh dan bangun lagi." Ucap wanita itu sambil terus mengelus kepala Rion.
'Hah yang benar saja, aku ini bukan perempuan. Untungnya kamu lebih tua dariku, jadi aku tidak akan bisa marah.' Batin Rion dalam hati.
'Oh benar, hari ini kan aku sudah mulai bertukar jiwa dan roh menjadi perempuan.' Batin Rion lalu menampar kening miliknya sendiri.
"Kamu kenapa sayang?" Wanita paruh baya itu bingung melihat Rion menepuk keningnya sendiri.
"Oh tidak apa-apa kok, bu." Rion tersenyum kaku.
"Kamu baru sembuh loh masa kamu langsung nampar kening kamu kayak tadi."
"Hehehe." Rion tertawa kaku sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Oh ya bu, sudah berapa lama aku mulai koma?"
"Udah lima tahun sayang"
Rion melihat rambutnya yang sekarang, ternyata rambutnya terurai panjang sampai ke pinggang.
'Ternyata aku berada ditubuh perempuan yang berambut sangat panjang.' Rion tersenyum.
'Bagaimana ya wajah perempuan ini? Apa wajahnya sama dengan rambutnya yang panjang dan cantik ini?' Batin Rion dalam hati sambil memegang ujung rambutnya.
"Terima kasih, bu. Aku sedikit lupa
dengan identitasku yang sebelumnya. Siapa namaku ini bu?"
"Sayang, nama kamu itu Aurora ,orang-orang pada manggil kamu dengan nama itu.Ibu beri nama itu ke kamu karena kamu itu indah layaknya aurora."
"Nama yang sangat bagus ya, bu."
"Iya sayang. Karena kamu udah sembuh,
nanti kita bakal pulang ke rumah kita ya."
"Iya, bu." Rion patuh saja.
"Kamu tunggu disini dulu ya! Ibu mau
membayar biaya administrasi rumah sakit dulu."
"Iya ,bu. Hati-hati ya bu."
Rion melambaikan tangannya.
Rion sedang menunggu wanita paruh baya atau ibu dari Aurora itu membayar biaya administrasi rumah sakit. Sudah cukup lama menunggu tetapi, tak juga kunjung datang dan terlihat. Hampir satu jam Rion menunggu wanita paruh baya itu, akhirnya wanita itu kembali datang menghampiri Rion bersama dengan seorang pria yang mungkin usianya juga sama dengan wanita itu. Rion yakin kalau pria paruh baya itu adalah ayah dari perempuan bernama Aurora yang sekarang tubuhnya dipakai oleh Rion.
__ADS_1
Wanita paruh baya dan pria paruh baya itu langsung menghambur kepelukan Rion. Sejujurnya Rion merasa aneh serta canggung karena sebenarnya dia bukan sosok asli dari anak mereka.
Kedua orang tua Aurora menangis bahagia melihat anak mereka sudah bangun kembali dari koma yang begitu lama.
"Akhirnya kamu sembuh, nak. Papa pikir papa gak akan bisa liat muka kamu lagi.Ternyata papa salah, sekarang papa melihat muka anak papa yang cantik ini." Ayah Aurora mencium kening anaknya, yang lebih tepatnya didalamnya adalah jiwa dan roh Rion.
"Iya pah. Mama juga gak nyangka. Ini suatu
keajaiban banget dari Tuhan buat
keluarga kita." Ibu Aurora tersenyum lalu mencium seluruh bagian wajah Aurora juga.
"Ayo kita pulang mah
sama Aurora mah!" Ayah Aurora
menyarankan lalu mengusap air matanya dan istrinya yang terus mengalir.
"Iya ,pa. Tapi sebelum kita pulang kamu harus
ganti baju dulu ya nak. Ini ibu udah beli baju
bagus buat kamu." Ibu Aurora tersenyum sambil menyerahkan setelan pakaian didalam plastik.
"Baik, bu.Terima Kasih."
"Jangan canggung nak! Biasanya
kamu juga memanggil mama dengan
kata mama bukan ibu."
"Hehehe, baiklah kalau begitu, mama."
"Nah, bagus kalau gitu. Itu baru anak papa dan mama." Ucap ayah Aurora sambil mengacak rambut Rion kasar.
"Aduh, papa ini iseng banget sama anak sendiri." Ucap Ibu Aurora sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.
"Bercanda aja kok bu. Lagian wajar ayah
senang aja bisa liat Aurora lagi."
"Yaudah iya. kalau gitu Aurora, kamu
mau ganti pakaiannya disini atau kamar mandi?" Ibu Aurora bertanya.
"Disini saja, ma."
"Iya deh kalau gitu. Ayo pa kita tunggu keluar
dulu, Aurora kan mau ganti pakaiannya."
"Iya, ma."
"Aurora, mama dan papa tunggu diluar ya."
__ADS_1
"Iya ma."
Rion segera ingin melepas pakaian rumah sakitnya untuk berganti pakaian. Tetapi Rion terdiam sesaat, dia kaget mengapa dia harus memakai setelan pakaian baju kaos bersama dengan rok. Mau bagaimana lagi, Rion sudah berada ditubuh seorang perempuan remaja, jadi setelan pakaian seperti itu sudah biasa kan bagi perempuan dan wanita. Rion hanya perlu menyesuaikan diri saja dengan waktu yang akan terjadi nanti diwaktu berikutnya. Bagaimana pun dia sudah terjebak ditubuh orang yang lain. Rion berganti pakaian dengan pakaian yang dibelikan ibu Aurora untuk dirinya karena tidak ada pilihan lain. Rion pikir setelan pakaian itu cukup bagus untuk dirinya yang sekarang.