
Sebenarnya Evander tipe orang yang
dingin dan cuek apalagi kepada para perempuan dikelasnya.
Evander hanya bergaul dengan
anak laki-laki saja.Satu-satunya teman perempuan Evander di sekolah barunya itu
hanyalah Sindi.
Sebenarnya Sindi juga merasa heran mengapa Evander hanya ingin berteman dengannya sebagai teman perempuan.Dahulu ketika hari pertama Evander masuk sekolah ada banyak perempuan yang kagum akan rupa Evander.Para murid perempuan yang bukan dari kelas Sindi pun berebutan untuk berkenalan dengan Evander.
Para perempuan dari kelas lain rata-rata ingin
berkenalan dengan Evander sambil berjabat tangan tetapi,Evander selalu menolak dengan alasan Evander yang belum mencuci tangannya.
'Sangat mustahil laki-laki tampan seperti
Evander jarang mencuci tangannya' Batin Sindi melihat Evander yang melirik dirinya yang sedang duduk dibangku depan kelas.
Flashback Off
Bayangan perempuan itu masih teringat dengan jelas di otak Aurora.Perempuan yang terkenal dengan wajah sangat manis itu bernama Sindi.
Sindi adalah temannya Aurora di masa lalu.
Sindi sudah menghabiskan makanannya dan hendak ke toilet.Aurora memutuskan untuk mengikuti Sindi pergi.Saking terburu-burunya Aurora mengikuti Sindi sampai-sampai dia tidak pamit kepada Mia dan Leonardo.
"Kamu mau kemana nak?" Leonardo berteriak.
Aurora hanya mengabaikan pertanyaan Leonardo.Yang ada di pikiran Aurora sekarang hanya cara bagaimana dia bisa bertemu dengan Sindi.Aurora terus mengikuti Sindi dan untungnya masih belum kehilangan jejak dari Sindi.Tanpa pikir panjang Aurora memanggil Sindi yang sedang memegang gagang pintu hendak ke toilet.
"Maaf,kamu siapa ya?" Sindi mengerutkan kening kebingungan.
"Aku R..io."
"Siapa?" Sindi kembali bertanya.
"Maaf kalau aku mengganggumu sebenarnya
namaku Aurora."
"Lalu kamu mengikuti aku?"
"B...Bukan begitu." Ucap Aurora gagap.
"Oke deh kalau gitu.Kamu mau apa
kesini? Mau ke toilet juga ya?"
"Enggak kok."
"Terus?"
"Aku tadi kebetulan lihat kamu dan aku mau berteman sama kamu kalau kamu mau."
"Mmm.. Boleh aja sih kalau mau berteman aja.
Aku mau ke toilet dulu.Kalau kamu emang mau temenan sama aku kamu harus tunggu aku keluar dari toilet."
"Oke." Aurora menjawab sambil tersenyum lega.
"Kamu duduk dikursi yang disana aja biar
gak capek berdiri." Sindi memberi saran kepada Aurora.
"Iya."
Aurora duduk ke kursi yang sebelumnya ditunjuk oleh Sindi untuk duduk menunggu.Menunggu Sindi di toilet rupanya cukup memakan waktu Aurora.Aurora menyalakan stopwatch di gawainya dan itu memakan waktu kira-kira sepuluh menit.Meskipun waktu menunggu Sindi cukup lama tetapi,Aurora tidak peduli dengan hal itu yang terpenting dia bisa kembali bertemu Sindi.
"Lama juga ya kamu di toilet." Ucap Aurora.
__ADS_1
"Iya.Sorry ya jadinya kamu nunggu
aku lama." Sindi menjawab lalu menghampiri Aurora dan duduk disampingnya.
"Gak apa-apa kok." Ucap Aurora sambil tersenyum cerah.
'Idih nih orang kok pakai
Senyum-senyum gitu segala
malah sok akrab banget lagi
sama aku.' Batin Sindi.
"Maaf,nama kamu siapa ya?" Sindi bertanya karena sedari tadi Aurora hanya diam menatap kagum wajah Sindi.
"Nama aku Aurora."
"Nama lengkap kamu apa Aurora?"
"Nama lengkapku Axelle Aurora."
"Wah namanya bagus." Sindi memuji
dengan tulus.
"Terima kasih." Ucap Aurora
menanggapi pujian Sindi.
"Oh ya,nama kamu siapa ya?" Lanjut Aurora.
"Nama aku Sindi.Nama lengkap aku
Sindi Natasha." Sindi menjelaskan.
"Nama yang bagus." Aurora memuji Sindi balik.
"Iya,aku masih sekolah eh
maksudnya aku udah mau kuliah."
"Haha aku kira kamu masih anak sd soalnya
kamu mungil banget." Sindi tidak bisa menahan tawanya.
"Enak aja kamu ngomong gitu." Ucap Aurora berlagak seperti orang marah
"Oh ya.Apa kita bisa bertukar
nomor telepon?" Ucap Sindi.
"Apa boleh?" Aurora malah bertanya balik.
"Boleh lah."
Aurora dan Sindi saling bertukar nomor
telepon agar mereka berdua masih tetap bisa berkomunikasi dengan gawai mereka.
Setelah sudah selesai bertukar nomor telepon,Aurora kembali menghampiri Mia dan Leonardo yang sedang makan.
"Maaf mah,pah tadi Rion tadi kebelet ke toilet."
"Iya udah.Sekarang cepat makan,makanan
gak boleh dianggurin tau." Ucap Mia.
"Iya, ma."
Setelah dari cafe,Mia,Leonardo dan Aurora langsung menuju Mall untuk berbelanja.Ketika di mall,Aurora kembali melihat Sindi bersama kedua orang tuanya.Aurora ingin sekali menghampiri Sindi untuk kedua kalinya tetapi,niat itu dia urungkan karena melihat Sindi bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
Aurora membeli banyak baju di Mall.Lebih tepatnya baju yang dibeli untuknya rata-rata pilihan Mia.Mia memilihkan Aurora baju yang sangat feminim bagi Aurora padahal Aurora sudah bilang kalau dia tidak menyukai baju yang seperti itu.Aurora sebelumnya sudah memilih semua jenis pakaian laki-laki tetapi Mia malah memarahi Aurora.
"Masa anak gadis makai baju gitu sih." Ucap Mia.
"Terserah Aurora dong, mah.Kalau
Aurora suka izinkan aja dia milih,
setidaknya satu baju laki-laki." Leonardo menyahut.
"Mama gak bakal setuju pokoknya."
Melihat isterinya yang tidak setuju dan tidak suka dengan baju yang didambakan oleh Aurora, Leonardo hanya bisa diam.Percuma saja kalau dilawan pasti akan menimbulkan perdebatan yang lambat sekali selesainya.
"Yaudah kalau gitu kalau
mama gak suka.Aurora bakal balikin lagi
Baju-baju ini" Ucap Aurora mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal.
"Bagus itu baru anak cantik." Mia tersenyum lebar merasa kalau dirinya sudah menang menghadapi Aurora.
Aurora menaruhkan kembali baju yang
sudah dipilihnya ke tempat asalnya dengan perasaan kesal.Leonardo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat wajah isterinya yang masih tersenyum lebar sambil melihat Aurora yang sedang mengembalikan baju yang dipilihnya.
"Mamah ini kok keterlaluan banget
sama anaknya sendiri." Ucap Leonardo.
"Aurora kita itu kan pah perempuan mana mungkin makai pakaian-pakaian lelaki."
"Terserah kamu deh." Ucap Leonardo pasrah mengalah dengan isterinya.
Selain berbelanja baju,Mia,Leonardo,dan Aurora juga membeli bermacan sayur,buah,dan daging sebagai stok bahan makanan mereka di kulkas.
Ketika tengah memilih-milih buah yang akan dibeli,
Rion mengambil buah stroberi.
"Loh Aurora kamu kok milih stroberi?" Leonardo heran karena selama ini yang Leonardo tahu kalau Aurora sangat membenci buah stroberi.
"Memangnya kenapa pah?" Aurora bertanya balik.
"Kamu kan gak suka stroberi sama sekali
bahkan sejak kamu masih kecil." Leonardo menjelaskan kepada Aurora.
"Itu kan aku yang dulu pah.Aku yang dulu
dan sekarang udah beda.Apa papah belum sadar?"
"Bisa aja kamu nak.Papah baru sadar sekarang
soal kamu yang udah suka makan stroberi."
"Aku belum makan stroberinya kok, pah.
Aku cuma baru mau belinya aja." Ucap Aurora percaya diri.
"Lagian aku suka stroberi karena
hidupku udah asam dari dulu
apalagi sekarang ini makin asam." Ucap Aurora dengan ekspresi sedih buatan.
"Hahaha.. ada-ada aja kamu ini nak." Leonardo tertawa sampai memegangi perutnya yang sakit.
"Berisik banget. Ngomongin apa sih?" Mia bertanya.
Mia merasa terganggu ketika sedang memilih buah karena mendengar suara tertawa yang keluar dari mulut suaminya.Ketika Mia bertanya perihal topik pembicaraan suaminya dan Aurora.Aurora bersama Leonardo hanya menggelengkan kepalanya saja.
__ADS_1