
Semua malaikat maut di Kerajaan Maut adalah laki-laki yang cukup tampan dan memiliki kulit putih bersih, hanya saja jubah yang mereka kenakan terlihat tetap menakutkan.
Suasana disekitar Rion beristirahat memang sangat tidak manusiawi. Bau busuk aneh bercampur bau anyir darah ada di mana-mana. Kalau bukan karena tidak ada pilihan, Rion
juga tidak ingin berada ditempat yang abnormal. Bantalnya juga terasa sangat aneh. Bantal yang digunakannya memang terbuat dari rambut manusia tetapi anehnya meskipun begitu, bantalnya cukup empuk bagi kepala Rion. Karena rasa penasaran akan isi dari dalam bantal yang kini ditindihnya, Rion berniat melihat apa isi dari dalam bantal itu. Sebelum Rion memutuskan untuk membuka isi dalam bantal,dia mencium aroma permukaan luar dari bantal terlebih dulu.Kemudian Rion menggerakkan tangannya untuk mengambil pisau kecil yang ada dikantong celananya.Sewaktu Rion mencoba bunuh diri sekitar pukul sepuluh malam tersebut, ketika masih mempunyai sedikit kesadarannya karena sekarat,Rion masih sempat mempunyai waktu menaruh pisau kecil yang dia gunakan untuk bunuh diri kedalam kantong celananya.
"Beruntung aku masih sempat menaruhnya dikantong celana." Rion tersenyum senang.
Rion mulai merusak bantal dengan cepat menggunakan pisau kecil miliknya.Betapa terkejutnya Rion ketika berhasil mengetahui apa isi bagian dalam bantal itu, sama seperti dugaan awal dikepalanya bahwa itu bukanlah kapas. Paru-paru merah manusia bersama organ hatinya yang juga tidak kalah bewarna merah segar ternyata telah menjadi isi didalam bantal. Rion bergidik ngeri melihat isi dalam bantal dikamar Kerajaan Maut itu. Lalu Rion langsung menjahit robekan dibantal itu agar dia tidak ketahuan merusak bantal dikamar Kerajaan Maut. Untungnya kebetulan ada jarum dan benang dikamar itu,benang yang juga terbuat dari rambut manusia namun, sedikit lebih kokoh dari benang yang dipakai untuk membuat bantal.
'Kalau bukan karena terpaksa, aku juga tidak mau disini. Untungnya sekarang aku belum gila hanya karena tinggal menetap disini.' Batin Rion pasrah dalam hati.
Dilihat dari sudut manapun sangat tidak masuk akal seorang manusia sanggup tinggal di Kerajaan Maut, tetapi Rion akan tetap berusaha kuat sementara waktu di Kerajaan Maut. Rion sangat sulit untuk tertidur dengan aroma busuk sekitar kamar. Rion baru benar-benar bisa tidur lelap ketika pukul 01.00 dini hari. Hanya tidur lelap selama empat jam itu adalah hal yang harus disyukuri bagi Rion tetapi, karena kedatangan seorang pelayan Istana Kerajaan Maut yang ditugaskan mengantar makanan untuknya itu malah membangunkannya. Benar-benar menyebalkan karena harus datang sepagi gelap ini. Rion mengetahui kalau sekarang pukul 04.00 subuh itu karena jam tangannya yang masih berfungsi.
"Hei, aku masih mengantuk. Lebih baik kalian sabar dan diam saja. Urusi saja masalahmu sendiri." Rion berteriak keras dengan kesal.
"Sudahlah, aku hanya ingin bertanya padamu.
Kau ingin makan apa?" Tanya pelayan itu.
"Aku hanya mau makan pisang, apel, dan ayam panggang yang enak." Ucap Rion manja sambil memegangi perut miliknya.
"Hahaha baiklah. Tunggu dulu." Ucap pelayan lalu pergi meninggalkan Rion.
"Kalau dipikirkan kembali baik-baik, hidup disini tidak terlalu buruk seperti yang kupikirkan. Aku rasa aku bisa saja bertahan hidup diwaktu yang lama." Wajah Rion nampak tersenyum.
Bayangan Indah telah terbayang di kepala Rion.Dia membayangkan bagaimana nanti rupa nya menjadi seorang perempuan. Apa dia akan menjadi seorang perempuan yang cantik? Menjadi seorang perempuan yang luar biasa cantik atau luar biasa imut? Apakah kepribadiannya nanti akan berubah jika dia menjadi seorang perempuan?
Begitu kira-kira beberapa pertanyaan yang ditanyakan Rion kepada dirinya sendiri. Menjalani kehidupan di Kerajaan Maut saja sudah sangat susah bagi Rion apalagi kelak dia menjadi seorang perempuan remaja.Benar-benar membuat bingung dan kepala pusing seratus keliling, ditambah dengan perut Rion yang belum terisi kan semakin menambah kesusahan hidup saja. Menunggu pelayan tadi yang tidak kunjung datang sampai sekarang pun makin menambah hari Rion jadi semakin buruk.
"Lama sekali makananku datang dibawa pelayan itu. Huh." Rion mengeluh dengan malas.
"Kalau begini aku tidak perlu makan
saja sekalian." Lanjut Rion nampak kesal.
"Tuan, mmmm.. Maaf jika kau menunggu saya terlalu lama." Ucap pelayan sedikit gagap.
"Tidak masalah jika kamu membawakan semua makanan yang aku mau."
"Tentu saja, tuan."
"Tunggu,mengapa kamu memanggilku dengan sebutan tuan? itu agak terdengar aneh karena kamu bukan pelayanku." Rion baru tersadar.
"Karena saya tadi baru saja disuruh oleh Raja Maut agar mau memanggil tuan dengan sebutan 'tuan'."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
"Iya tuan.Selamat menikmati makanannya tuan." Pelayan mulai bersiap menaruh makanan dan minuman untuk Rion ke atas meja."
"Silahkan dimakan tuan! Jika tuan sudah
selesai makan, tuan boleh kembali
melanjutkan istrahat." Malaikat maut menawarkan sambil tersenyum ramah.
"Tentu.Terima kasih banyak,
pelayan Kerajaan Maut."
"Sama-sama tuan." Pelayan tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan Rion sendiri.
Rion makan dengan lahapnya tanpa meninggalkan satu titik pun makanan di piring bekasnya makan. Menurutnya makanan ini sama enaknya dengan masakan buatan ibunya, kalau keadaannya begini membuat Rion jadi merindukan ibunya serta rumahnya. Tetapi mau bagaimanapun dia tetap tidak bisa keluar dari jeratan para Malaikat Maut di Kerajaan Maut. Rion masih bernyawa tetapi,dia sama sekali tidak merasa begitu, Rion pikir dia akan terus selamanya terjebak di jebakan atau labirin Kerajaan Maut. Meskipun begitu Rion sudah sangat senang bisa diberi makan dan minum oleh Pelayan Kerajaan Maut.
Waktu yang tersisa untuk menetap di Kerajaan Maut masih dua puluh sembilan hari lagi.Rion sangat berharap hal yang positif bisa terjadi padanya ketika dia bertukar jiwa dan roh nanti.
'Oh ya,apa di istana ini tidak ada air
bersih untuk manusia mandi ya?'
'Andaikan saja aku bisa memilih untuk
Tanpa kata permisi kedua mata Rion perlahan menjatuhkan air mata. Air mata yang menggambarkan kesedihan, kekacauan, kegelisahan, kebingungan, dan ketidaksetaraan perasaan dirinya sekarang. Tanpa disadari oleh Rion rupanya asisten malaikat Maut sedang memperhatikan dirinya dari luar, dari balik pintu kamarnya yang tertutup.
'Aku tahu ini tidak mudah tapi, aku mohon berjuanglah seperti alurnya.' Batin asisten malaikat Maut tersenyum lalu pergi dari balik pintu kamar.
Hari demi hari terus berjalan. Sampai ketika dihari dimana sepanjang malam dipenuhi oleh tangisan dari Rion dalam diam, sebelum dia tidur. Rion sangat mencintai dirinya sendiri sekarang dan baginya tidak perlu untuk bertukar jiwa dan roh menjadi makhluk apapun itu baik menjadi manusia atau yang lain.
Malam ini malam terakhir Rion. Tidak terasa hari ini adalah waktu terakhir menuju proses pertukaran jiwa dan roh untuk Rion. Besok adalah hari-hari dimana Rion bisa memulai proses pertukaran jiwa dan roh. Pelayanan yang diberikan oleh Kerajaan Maut selama ini sungguh semuanya baik. Bahkan Raja Maut setiap hari menyiapkan air bersih hanya untuk Rion mandi dan juga minum. Karena besok pagi Rion akan mulai bertukar jiwa dan roh menjadi perempuan remaja, jadi dia memutuskan untuk menghampiri Raja Maut untuk bertanya beberapa hal yang masih mengganjal dan membuatnya bingung.
"Permisi, Raja Maut. Bolehkah saya
sekarang bertanya kepada Raja Maut? "
"Tentu saja. Jangan pernah merasa sungkan kepadaku." Raja Maut tersenyum ramah.
'Sungguh memabukkan sekali senyuman
hangat milik Raja Maut' Batin Rion dalam hati.
'Kalau aku seorang perempuan, mungkin aku
__ADS_1
akan jatuh hati dan ingin menjadikannya seorang pasangan. Eh, aku ini bicara apa sih?
Lagipula nanti kalau aku besok memulai pertukaran menjadi perempuan, apakah aku boleh menyukai perempuan? Aku ditubuh seorang perempuan padahal sebenarnya aku adalah laki-laki? Hmm.. Itu membingungkan diriku sendiri.' Monolog Rion lagi.
"Jadi,kau ingin menanyakan
hal apa padaku?" Raja Maut bingung
karena Rion tidak kunjung bertanya.
"I.. I. Itu ketika aku bertukar jiwa dan roh
menjadi seorang perempuan, apakah boleh merasakan jatuh cinta?" Rion bingung sampai dirinya berbicara gagap.
"Hahaha, tentu saja boleh. Itu hanya masalah dan urusan pribadimu, jadi aku tidak berhak mengatur hidupmu yang baru. Semua yang terjadi nanti adalah tanggung jawabmu sendiri."
"Saya mengerti. Lalu, apakah saya bisa kembali bertemu dengan ibu saya? Apa saya bisa kembali kerumah saya yang dulu?"
"Aku tidak yakin untuk menjawab itu sekarang. Tapi kamu tidak perlu takut, aku akan sering hadir di mimpimu kelak untuk memberi petunjuk."
"Kalau begitu saya akan kembali kekamar
untuk beristirahat kembali. Terima kasih untuk jawaban anda, raja Maut." Rion berpamitan.
"Baiklah.Selamat
beristirahat." Raja Maut tersenyum hangat.
Setelah diizinkan Raja Maut untuk pergi beristirahat kekamarnya, Rion langsung saja bergegas kekamarnya untuk segera tidur.
Baru saja merebahkan diri diatas kasur tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Benar-benar membuat emosi tapi, bagaimanapun pintu harus tetap dibuka. Rion membuka pintu dan mendapati Raja Maut yang tersenyum seperti biasanya sambil membawa jubah hitam bertudung.
"Mengapa Raja Maut kemari?" Rion mengerutkan keningnya karena bingung.
"Aku membawakan jubah hitam
bertudung ini untuk kau pakai."
"Baik, saya terima jubah ini untuk
saya pakai. Terima kasih, Raja Maut." Rion sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormatnya.
"Sama-sama. Ingat, dini hari waktu bumi nanti kau harus menemuiku agar aku bisa memberitahumu tentang banyak hal, tentang pertukaran roh dan jiwa yang dimulai besok pagi." raja Maut menjelaskan sopan.
"Baik, raja Maut."
__ADS_1
Setelah raja Maut menitipkan pesannya kepada Rion, dia langsung pergi meninggalkan Rion untuk mengawasi pekerjaan para rakyatnya. Raja Maut tidak mau mempunyai bawahan yang pemalas dan tidak tepat dalam bekerja, oleh karena itu perlu diawasi langsung oleh dirinya ketika malam hari.