
Aku pun tambah cemberut, eh dia malah ketawa. Huuhh menyebalkan sekali.
Kakakku pun langsung menggendongku, dan membawaku ke ruang makan. Eh, tanpa terasa aku di perpustakaan sudah setengah hari, dan sekarang sudah waktunya makan siang.
Tia POV End
~°~°~°~°~
Di sebuah ruangan yang sangat besar, terdapat beberapa pelayan yang sedang mempersiapkan hidangan di atas meja.
"Pangeran Mahkota dan Putri Pertama memasuki ruangan!!" pemberitahuan pengawal penjaga pintu. Semua pelayan sontak bersujud memberi salam pada junjungannya.
"Salam sejahtera kepada Pangeran Mahkota dan Putri Pertama, semoga hidup seribu tahun lagi!" dengan serempak, para pelayan memberi salam pada Junjungannya.
Tia POV
Ketika aku dan kakakku sampai di depan ruang makan, salah seorang penjaga pintu, mengumumkan kedatangan kami.
Kamipun masuk dan di sambut oleh para pelayan. Sebenarnya aku sih risih dengan Tata Krama yang ada di zaman ini. Kalo mau ngucapin salam, harus sambil menunduk, kalo ngga sambil bersujud.
Kakakku hanya mengangguk saja membalas sapaan para pelayan, sedangkan aku, aku hanya tersenyum menanggapi mereka.
"Bibi Lung,," Aku merentangkan tangan kepada bibi Lung, bibi Lung yang mengerti pun langsung membantuku menaiki kursi.
Hmm, mau gimana lagi, tubuhku ini sangat kecil sekarang. Bahkan ketika mau ambil buku di perpustakaan pribadiku pun, aku harus meminta bantuan Xi'er jika tinggiku tak sampai pada rak buku itu.
"Kamu ini, nyusahin bibi Lung aja sih dek? Makanya, cepet gede dong. Perasaan, dari dulu kamu ngga tumbuh-tumbuh? Kamu jarang makan ya? Atau, karena gak ada kakak kamu mogok makan? Kamu itu__"
Aku pun langsung membungkam mulutnya dengan tangan kecilku. Mau gimana lagi? Dia sangat menyebalkan. Apakah dia ingin membuat telingaku budeg, dengan ceramahan dan ejekannya itu?
"Ya ampun kakak, jangan gitu dong sama adik kakak yang cantik dan imut ini. Walau aku pendek, aku tetep makan sesuai kebutuhanku kok. Dan, apa tadi kakak bilang, aku ngga tumbuh-tumbuh? Memangnya aku ini tumbuhan apa, sampe tumbuh-tumbuh begitu? Asal kakak tahu, aku ini sering makan bahkan banyak makan cemilan, dan aku ngga segitunya juga kali, merindukan kakak sampe mogok makan?"
__ADS_1
Akupun membalas ucapannya dengan panjang × lebar × tinggi. Dan dia hanya melongo saja, dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar. Kalau begitu terus, aku takut kalo nanti ada cicak yang masuk saking lebarnya tuh mulut.
"Yang mulia kaisar, yang mulia permaisuri, dan para pangeran memasuki ruangan!!"
Seketika, teriakan pengawal penjaga pintu membuyarkan lamunan kakakku yang tidak elit itu.
"Ekhemm" dengan muka memerah, kakakku berdehem untuk menetralisir rasa malunya itu.
Kami pun langsung berdiri dan menunduk pada ayah dan bunda, serta para kakakku.
"Salam kepada ayahanda dan ibunda, semoga panjang umu(l/r) se(l/r)ibu tahun lagi" salamku dan kakakku sambil menunduk.
"Salam pada pala kakakku yang telcinta, semoga panjang umul dan sehat selalu" salamku pada para pangeran, yah menurutku salamku ini non formal, tapi para kakakku tidak mempermasalahkannya, malah mereka senang.
Kedua orang tuaku dan kakak-kakakku hanya mengangguk saja, kecuali kakak keduaku yang sangat menyayangiku dengan berlebihan dan selalu menempel padaku, dia bahkan berlari dan memelukku dengan erat. Karena selama ini, dia belajar di Akademi, dan baru pulang bersama kakak pertamaku. Karena, selama satu Minggu lagi adalah hari ulang tahun kakak pertamaku, jadi mereka mengambil cuti selama 2 Minggu.
"Uuhhh,, adek manisku udah besar ya? kakakmu yang tampan ini sangat rindu padamu adik tercintah" ujar kakak keduaku, kak Taiyang dengan kelebaiannya.
Akupun membalasnya dengan kelebaian maksimal, sampai-sampai menambahkan lirik lagu Guru, Tanpa Tanda Jasa.
"Ekhemm!!" deheman keras yang berasal dari kakak ke-empat ku, kak Tian, sambil memperhatikan kami dengan tatapan datar.
"Bisakah kalian hentikan itu? aku merasa mau muntah dengan tingkah konyol kalian itu" Nah, kalo ini adalah kakak ke-tigaku, kak Fanrong. Dia menatap kami berdua dengan sinis, lebih tepatnya pada kak Taiyang.
"Kenapa? kalian berdua cemburu yah padaku, sampai-sampai kalian bersikap seperti itu" sahut kak Taiyang pada kak Fanrong dan kak Tian.
sedangkan kak Fanrong hanya mendengus kesal sambil menutupi pipinya yang memerah. Dan kak Tian, dia hanya menatap datar pada kak Taiyang, namun dengan pipi yang memerah pula.
Aku sangat gemas pada meraka berdua, tampangnya sangat imut dengan pipinya yang memerah itu.
Lalu, tiba-tiba aku merasa seperti melayang, saat ku melihat ke belakang, ternyata kakak pertamaku, kak Guojia mengangkatku dan mendudukanku di kursi.
__ADS_1
Sedangkan kedua orang tuaku, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala saja, melihat tingkah anak-anaknya yang luar biasa itu. (Luar biasa gila?)
Kami pun makan dengan tenang tanpa suara, karena itu adalah peraturan di keluarga ini. Namun, bukan Tia eh, Xiyue namanya kalo tidak membuat kerusuhan. Seperti sekarang ini.
"Bundaa,, Aaa,,," aku dengan manja minta di suapi bundaku yang cantik ini. Padahal, bunda sedang menyuapi ayah yang sedang manja-manjaan sama bunda.
"Hey, kau bisa makan sendiri Xiyue'er, sekarang bunda lagi suapin ayah. Kamu kan kemarin sudah, sekarang gantian dong sama ayah" kata ayah sewot.
"Iihhh ayah, Xiyue kan masih kecil, jadi pantas dong kalo di suapin bunda. Sedangkan ayah udah besal dan udah tua, jadi ayah ngga pantes di suapin bunda kayak anak kecil, ayah tuh pantesnya nyuapin kak Tian tuh" balasku tak mau kalah, sambil nunjuk kak Tian yang sedang makan dengan tenang tanpa memperhatikan kesekitar.
"Kamu kecil-kecil sudah nakal ya, siapa bilang ayah udah tua? ayah masih muda kok. Benarkan sayang" bela ayah sambil meminta bantuan pada bunda.
Aku hanya menahan tawa saja, ayah memang begitu kalo di hadapan kami. Sangat kekanakan dan manjanya minta ampun sama bunda. Tapi, kalo di hadapan orang lain, ayah akan menjadi Kaisar yang sangat bijaksana dan tegas.
"Ya ampun ayahhh,,,, apakah ayah sudah lupa? Sekalang kan ayah udah punya anak 5 (sambil menunjukan kelima jariku), dan apa tadi ayah bilang? Ayah masih muda??? Pffttt..." Sungguh, aku sudah tidak kuat lagi menahan tawa, ayahku sangat lucu sekali. Dengan pipinya yang memerah dan mukanya yang memelas pada bunda, meminta pembelaannya.
"Pffttt... Hahahahahaaaaaaa!!!!" kami semua tertawa melihat wajah ayah yang lucu itu, termasuk kak Tian yang irit ekspresi itu, walau hanya tersenyum saja.
"Pffttt... sudah-sudah kalian ini, jangan gitu sama ayah kalian. Walau udah tua, tetep aja ayah kalian" ucap bunda sambil menggoda ayah.
Sedangkan ayahku, dia hanya memalingkan mukanya. Pura-pura marah.
"Hehehe,, habisnya ayah lucu sih Bun" kataku sambil berusaha menahan tawa.
"Sudah-sudah,, Xiyue'er, kamu makan sendiri bisa? nanti ayah kamu makin ngambek nih kamu godain Mulu" Tanya bunda padaku. Aku pun mengangguk. Lalu kami melanjutkan makan.
~°~°~°~°~°~
Hallo guys, maaf ya, hari ini segini dulu. Soalnya sekarang tuh, aku lagi kurang sehat.
Oh ya, makasih ya pada teman-teman yang udah mampir di ceritaku.
__ADS_1
Dan, jangan lupa tinggalkan jejak dengan Like, Comment, Vote dan Love nya ya😄😄