
Cuaca dingin disertai angin lumayan kencang, ini bukan suatu alasan untuk Matahari merasakan dinginnya hujan yang akan turun. Tapi keadaan ini yang membuat Matahari tidak tenang, dan tidak memutuskan untuk pulang lebih awal.
"Aku nggak mau kayak gini terus." gumamnya.
Memang benar ya, Ketika keinginan dan cinta tak bisa dimiliki sepenuhnya,Pikiran dan hati pun menjadi terganggu.Ingin rasanya menentang takdir tuhan yang telah membolak-balikkan perasaan ini. "Aku udah terlanjur suka."Kata Matahari memasang raut wajah sedihnya.
"Emang bener yah....Dalam persahabatan antara satu pria dan satu wanita pasti akan ada yang diam-diam memendam perasaan."Sambung Matahari.
"Aku udah berulang kali memberanikan diri untuk bisa mendapatkan Langit. Tapi apa? Dia selalu aja pergi....Hufftt!"
"Aku juga nggak tau, kenapa aku seberani itu untuk terus mengejar Pria yang sama sekali tidak menyukai ku!"
"Hampir setiap hari aku ungkapkan semuanya. Dan berkali-kali juga aku merasakan patah hati.... Tapi aku nggak kapok! Aku terus melakukannya. Dan sepertinya itu sudah jadi kebiasaan." Matahari terus bergumam sembari mengingat-ingat sudah berapa kali ia menyatakan suka pada teman nya itu.
Seketika bayangan saat pertama kali Matahari mengungkapkan perasaannya itu kembali teringat. ia menyatakan cintanya tepat ditaman kota saat malam hari.
"Nggak ada yang bisa jatuh cinta diantara kita, karena kita itu sahabat." Ujar Langit yang fokus pada manik mata Matahari.
Matahari memejamkan matanya,kemudian menatap Langit. "Gue bisa jatuh cinta sama lo lang!"
"Tapi lo sahabat gue,Ri."
"Gue tahu lo sahabat gue, tapi bukan berarti gue nggak bisa jatuh cinta sama lo!"
"Inget Ri, Kita itu sahabat dan nggak mungkin jatuh cinta." Jujur Langit merasakan dadanya sedikit sesak saat mengatakan nya.
"Tapi gue udah jatuh cinta sama lo, Lang. gue nggak bisa berhenti buat suka sama lo!"
"Rii...."
...~®MatahariLangit~...
"Matahari harus selalu ada didekat Langit! Kalau Matahari berjauh-jauhan dengan Langit, Maka Langit akan ditempati oleh sang cahaya Baru. Maka dari itu janganlah menjauh. Tetap lah didekat Matahari." ¦¦ Grizelle Matahari ¦¦
"Gue tahu lo sahabat gue, tapi bukan berarti gue nggak bisa jatuh cinta sama lo!"
Bayangan itu terus terngiang ngiang dikepala Aska Langit hingga membuat tidur nya terganggu. Aska Langit pun membuka matanya sambil menatap langit-langit kamar.Wajahnya terlihat sangat frustrasi.
"Apa gue harus ngelarang prinsip," gumam Langit.
"Ahkk...nggak mungkin gue langgar prinsip rancangan gue sendiri." Gumamnya lagi sambil mengingat-ingat saat pertama kali ia membuat catatan prinsip Persahabatan. Memang seorang Aska Langit ini aneh, hidupnya penuh dengan prinsip. Sampai-sampai ia memiliki buku khusus catatan prinsipnya.
Langit mendengkus kasar. "Lagian juga, Gue Sayang Matahari sebagai seorang sahabat doang. Nggak lebih!"
Langit terdiam sejenak."Ya walaupun dulu gue-Ahhkk lupain!" Langit menutup kepala dengan bantal empuk. Langit lagi-lagi terdiam dengan raut wajah nya yang frustrasi. Ini sudah pukul 00.05 WIB tetapi, Ia masih belum bisa tertidur nyenyak. Sial!
...~®MatahariLangit~...
Pagi ini seorang Grizelle Matahari bangun pagi, Pasalnya ia ini seorang Ketua Osis dan harus datang pagi ke sekolah. Jika ia telat, Maka ia telah gagal menjadi ketua osis yang tepat waktu dan teladan.
"Mah,Zelle berangkat ya!" Pamit Matahari sembari menyalami Ibu nya.
"Bareng langit kan?" tanya Ibu nya.
Matahari melihat arloji nya sekilas kemudian menatap Ibu nya lagi. "Langit, palingan masih ngebo."
"Ya udah kamu samperin aja dulu dia!"
"Nggak ahkk...nanti Zelle telat kalo harus samperin Langit."
"Kamu kok gitu sih? Biasanya juga kalo Langit masih ngebo kamu siap buat bangunin nya."
"Zelle Itu ketua osis mah,jadi Zelle harus berangkat pagi!"
"Hmmm,ya udah deh terserah kamu."
Matahari tersenyum. "Ya udah Zelle berangkat ya mah...Dah!"
Matahari berangkat menggunakan taksi pesanan nya. Ia sengaja meninggalkan Langit karena ia malas jika harus membangunkan Langit. Langit itu tidur kayak orang mati. Susah untuk dibangunin.
Tak perlu waktu lama untuk sampai disekolah. Kini Matahari telah sampai.
Kaki jenjangnya melangkah stabil ke arah gerbang SMA 2 Gajah Mada. Karena di Cap sebagai PRIMADONA alhasil Matahari kini tengah menjadi tontonan para kaum Adam.
"pagi ketos cantik." sapa salah satu cowok yang berada di parkiran. Simpel saja. Matahari hanya menyunggingkan senyuman simpulnya.
"Pagi Primadona." sapa salah satu cowok lagi yang berada tepat di koridor. Lagi-lagi Matahari hanya tersenyum simpul.
"Pagi Ri." Sapa salah satu Cowok yang termasuk kumpulan Cogan di SMA 2 Gajah Mada. Biasa dipanggil dengan sebutan Agler. Matahari kali ini menyumbangkan senyuman manis nya. Pasalnya Agler adalah Teman sebangkunya.
Tiba-tiba langkah Matahari berjalan mundur seperti ada yang menyeretnya. Saat melirik ke belakang ternyata benar, Langit menyeretnya hingga ke koridor yang lumayan sepi.
__ADS_1
"Lang-" belum selesai berbicara Langit sudah memotong.
"Lo kenapa ninggalin gue?" tanya Langit terdengar datar.
"Lo lama." jawab Matahari tak kalah datar.
"Ya bangunin lah,"
Matahari memutar bola matanya malas. "Gue cape bangunin lo yang tidurnya kek orang mati!"
"Ooh... Jadi lo cape bangunin sahabat sendiri."
"Iya gue cape!"
"Ya udah mulai besok gue yang bakalan bangunin lo!" ucap Langit dapat tawaan dari Matahari.
"Hahaha...Bangunin gue?" tanya ulang Matahari yang dapat anggukan dari Langit.
"gue nggak yakin lo bisa bangun pagi."
"Eits! Jangan salah gini-gini juga gue bisa bangun pagi kali."
"Oya...? Kapan coba lo bangun pagi?"
"Yang waktu lo ngajak gue lari pagi."
Lagi-lagi Matahari tertawa. "Lo amnesia ya Lang?"
Langit mengangkat sebelah alisnya.
"Gue yang bangunin kamvret!"
"Yeee tapi gue tetep bisa bangun pagi kan..."
"Terserah lo aja deh Lang." kata Matahari lalu mengeleos pergi.
"Ck.. Mau kemana lo?" tanya Langit sambil bekacak pinggang.
Matahari membalikkan badannya menghadap Langit. "Ruang osis!"
"Lang, Masukin baju lo!" titah Matahari dengan nada datar.
"Langit!" teriak Matahari jengkel.
"Matahari!" teriak balik Langit.
"perlu gue yang masukin?"
"Silahkan!"
Matahari mencubit perut Langit kuat-kuat. Hingga yang dicubit meringis kesakitan.
"Masukin kamvret!"
"Aaa...iya iya, lepas dulu." kata Langit meringis kesakitan.
"Makannya jadi siswa itu kudu baik Langit."
Langit memegangi perutnya yang dicubit oleh Matahari tadi. "Parah lo Ri."
"Bodo amat!" Matahari mengeleos pergi meninggalkan Langit sendiri.
...~©MatahariLangit.~...
"Zelle!" Panggil Lami Parita dari arah belakang. Matahari membalikkan badannya.
"Lo nggak bareng Langit?" tanya Lami terlihat sedang mencari-cari Langit.
"Nggak. Kenapa emang?"
"Nggak papa nanya doang."
Matahari mengangguk.
"Lo nggak ke ruangan osis?"
"Ini mau kesana."
"Ooh bareng yuk!"
Matahari tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
"Ri, Gue boleh nanya nggak?"tanya Lami yang terdengar sangat serius.
"Apa?"
"Lo sama Langit udah pacaran?" tanya Lami membuat Matahari mendengkus.
"Nggak! Gue sama Langit nggak mungkin bisa bersatu." Jawab Matahari datar.
Lami mengernyit. "Ya iyalah nggak bisa bersatu orang kalian berdua!"
Matahari menatap Lami bingung. "Lam, gue mohon kalo lo lagi ngomong sama gue tolong. Tolong banget hilangin dulu Ke oon nan nya ya...."
"Oon apaan atuh,"
"Udah cukup sampai disini kita bicara Lam, gue harus cepet-cepet ke ruang osis daripada tenggelam ngomong sama lo terus! Bikin otak stress." kata Matahari lalu pergi menuju ruang osis.
Selang beberapa waktu Lami berpapasan dengan Langit.
"Ehhk lang, tunggu!" cegat Lami. Langit mengangkat sebelah alisnya.
"Lo kalo ngomong sama gue gimana Lang?" tanya Lami.
Langit menghembuskan nafasnya kasar. "Bikin Stres." Ucap Langit lalu pergi.
Lami terlihat tidak terima atas ucapan Matahari dan Langit.Mereka sama-sama berkata Stress jika tengah berbicara dengan Lami. Dasar teman kamvret. Umpat Lami.
...~®MatahariLangit~...
Jam pelajaran pertama kelas 12 Ipa I adalah Olahraga. Dan sialnya Matahari lupa membawa bajunya. Oh ****! Apa boleh buat kini Matahari harus menjalani hukuman, ia disuruh membersihkan ruangan indoor basket yang gede nya segede halaman rumahnya.
"Bener-bener ni si Langit. Sebagai ketua tim basket bukannya mengkoordinasikan anggota nya buat bersih-bersih malah dibiarin aja dan sialnya gue yang harus bersihin." gerutu Matahari.
Langkah Matahari terhenti di anak tangga ke 3.ia melirik ke arah kanan kursi penonton. Ck!
Matahari mendengkus sebal, kemudian mendekati seorang lelaki yang tengah tertidur pulas di kursi penonton. Tadinya Matahari berniat untuk menjaili lelaki tersebut, Namun misinya terhenti karena ia terhipnotis oleh wajah Handsome itu.
Matahari menelan ludah. "Kenapa sih,lo tu selalu buat gue ngerasa jatuh sejatuh jatuhnya kedalam perasaan aneh ini." gumam Matahari yang masih setia memandangi wajah polos nya Aska Langit.
Tanpa sadar Matahari mengulas senyuman manisnya. Perlahan mata Langit tebuka, Betapa terkejutnya Langit saat melihat seorang Wanita cantik tengah menatapnya dengan senyuman manis.
"Ck.. Gue kira siapa," ujar Langit lalu membenarkan posisinya.
Matahari menghembuskan nafas panjang."Lo ngapain disini?"
Langit menyipitkan matanya. "Tidur lah."
Matahari mendudukkan bokongnya disebelah Langit. "Kagak masuk kelas?"
"Males yang ngajar Bu Nalar."
"Kapan sih lo berubah jadi murid baik?"
"Emang gue seburuk itu ya dimata lo?"
Matahari tersenyum. "Lo nggak pernah buruk dimata gue Lang!"
Langit menatap manik mata Matahari lekat-lekat. "Walaupun gue itu bad lo tetep anggep gue nggak buruk?" tanya Langit yang tidak mengalihkan pandangannya dari Matahari.
Matahari menggelengkan kepalanya. "Lo itu baik tapi sayangnya...Nyebelin!"
Langit mengernyit. "Nyebelin kenapa?"
"Lo tu seharusnya sehabis main basket atau latihan basket,Di beresin dong tempatnya! Jangan kayak gitu." Omel Matahari sembari menunjuk kelapangan basket yang penuh dengan bola-bola berserakan dan sampah Aqua dimana-mana.
Langit terlihat cuek.
"Lo tau kenapa gue kesini?"
"Kagak lah orang lo nggak ngasih tahu."
"Gue di suruh bersihin lapangan basket." kata Matahari penuh penekanan .
Langit mengangguk. "Ya udah bersihin aja. Gue malah seneng ada babu baru yang sedia bersihin lapangan kesayangan gue." ucap Langit sambil tersenyum ke arah Matahari.
Wajah Matahari terlihat sangat merah, Mungkin karena sedang menahan emosi.
"NYEBELIN!!" Tungkas Matahari lalu pergi turun kelapangan.
Langit hanya terkekeh sambil terus menatap aktivitas Matahari. "Lo lucu Grizelle Matahari." Gumam Langit dengan senyuman manis nya.
...~®MatahariLangit~...
__ADS_1