Matahari Langit

Matahari Langit
07.Seven


__ADS_3

" Hatiku selalu kuat jika harus menahan segala harapan yang tidak mungkin terjadi dengan mudah. " ¦¦ Grizelle Matahari ¦¦


"Lo sakit nggak sih?" tanya Langit merasa aneh melihat tubuh Matahari yang sehat bugar.


"Iyaa..." jawab Matahari sembari mengerucutkan mulutnya.


Langit mengangkat sebelah alisnya. "Serius?"


"Serius, Lang. Gue sakit."


"Sakit apa coba?"


Matahari menunjukkan jari telunjuknya kearah dadanya. "Sakit gue disini, di sisi yang paling dalem! Lo mau tau sakit nya kenapa?"


"Nggak."


"Lo nggak mau tau? Tapi gue mau ngasih tau! Gue sakit hati, karena lo selalu berhasil berucap pedes yang dapat pupusin harapan gue!" kata Matahari penuh penekanan.


Langit menghela nafas panjang.


"Gue pulang." pamit Langit sedikit merasa kesal karena Matahari hanya membicarakan tentang perasaan nya.


"Pulang lo! Dan jangan nampakin muka lo didepan gue lagi, yang malah buat gue sakit terus!" usir Matahari merasakan dada nya sesak.


Langit berhenti diambang pintu keluar. Ia membalikkan badannya menghadap Matahari. "Lo Selalu aja bicarain perasaan suka lo ke gue! Dan itu malah buat gue muak dengernya Ri. Gue nggak suka lo! Apa perlu gue ukir perkataan itu di batu. Kalo gue nggak suka Lo!" tungkas Langit yang langsung pergi begitu saja dengan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


"Maaf Ri. Gue seharusnya nggak gitu." Batin Langit melirih.


Matahari memejamkan matanya lalu memegangi dada nya yang terasa sesak. Kemudian tanpa aba-aba air matanya lolos terjun membasahi pipi mulus Matahari.


"Gue nggak bisa kalo harus nggak suka lo. Hikss... Gue udah berusaha Lang,Tapi semakin gue lupain perasaan gue ke lo, malah perasaan ini lebih jatuh kedalam. Hikss...Gue sayang lo..." lirih Matahari hampir tidak terdengar.


Wajahnya begitu memilukan, Ini sudah yang kesekian kalinya Cinta ia ditolak oleh Langit. Tapi bukan Matahari namanya jika ia menyerah sampai disini. ia yakin suatu saat nanti Langit pasti bisa menerima nya.


"Gue yakin pasti tuhan memberikan lo suatu saat nanti ke gue! Gue yakin itu Lang." batin Matahari dengan berkata seakan-akan itu kata-kata motivasi nya. Sungguh wanita kuat memang. Sudah disakiti berapa kali pun ia tetap suka dan tetap pada pendirian nya.


...~®MatahariLangit.~...


Ini pertama kalinya Lami Parita mendatangi rumah kediaman Arya Jastin Ahhkk! Lebih tepatnya rival terburuknya. Ingat ya! Ini bukan kemauan Lami, Namun ini adalah kemauan orang tuanya,Yang memang kerabat dekat orangtua Arya. Lami dipaksa supaya ikut, pasalnya Ibunya  sangat ingin sekali membawa anak gadis satu-satunya ini. Lami hanya berpasrah dengan keadaan ini.


"Anak kamu cantik banget." puji wanita yang wajahnya kebarat-baratan dengan bola mata biru, Lami yakin ini adalah ibunya Arya pasalnya, Bola mata, Hidung, Dan bibir mereka sangat mirip. Bisa dibilang Arya jastin ini anak perpaduan antara Jawa barat dan Eropa. Lami hanya tersenyum ramah.


"Siapa dulu dong ibunya." ucap Aretha Belinda ibunya Lami.


"Iya iya Aretha," balas Eileen Hilary Jaenelle Aryasy ibunya Arya.


"Kalo nggak salah emaknya si Arya ini namanya panjang amat kek jalan kereta api." batin Lami terlihat bergumam


"Arya,Papah sini... Tamunya udah datang lho!" teriak Eileen melengking.


"Bentar mih,Arya masih latihan!" teriak Arya.


Lami mengernyit. "Latihan?" batinnya.


Eileen menggeleng sambil tersenyum. "Si Arya tuh memang suka begitu. Bilangnya latihan padahal mah rebahan doang..." omel Eileen merasa jengkel pada anak semata wayang nya itu.

__ADS_1


"Namanya juga anak Muda,Na." sahut Aretha lalu terkekeh.


Tak lama datanglah Ayahnya Arya yang bertubuh bongsor, Putih bersih, Tinggi, dan mimik wajahnya yang selalu terlihat seperti Arya, Ceria dan Lucu. "Lama tak jumpa Euy." kata Ayahnya Arya sembari terduduk tepat di samping Ayah Lami.


"Kamana wae atuh?" tanya Ayahnya Lami.


(Kemana aja?)


"Aya we..." jawab Kasta Reyman Ayahnya Arya.(Ada aja)


"Mm,Ngarah ngadean maneh mah,Kas." Seru Lakan Mahatar Ayahnya Lami. (Mm,Malah ngebesaran kamu, kas.)


Kasta terkekeh kemudian. "He'eh,Ari maneh mah ngaletikan wae atuh awak teh." (Iya, kalo kamu mah kecilan terus badan tuh.)


"Teing euy,Kudu ngadaharan pernifan kitu meh ngadean?"(Entahlah, Harus makan pernifan gitu biar besar?)


Lami terkekeh geli mendengar percakapan antara kedua lelaki tua ini.


"Mih." panggil Arya berada di anak tangga ke 6.


Eileen melirik kemudian tersenyum. "Sini, Ar!"


Arya melangkahkan kakinya mendekati sofa yang diduduki para tamunya itu. Ia belum menyadari jika tamunya itu Family Rivalnya. Yang ia tahu hanyalah 'Ada Tamu.'


"Lo!" tunjuk Arya pada Lami, dengan raut wajah kaget. Lami melirik sekilas.


"Kalian saling kenal?" tanya Aretha terlihat bahagia.


"Hehehe...kita satu sekolah Tante." jawab Arya ramah.


"Ari ditingali mah,Kalian teh lagi ada masalah nya?" Tanya Kasta yang dapat menebak mimik wajah mereka berdua. (Kalo diliat, kalian tuh lagi ada masalah ya?)


"Nggak kok." jawab Lami dan Arya bersamaan dengan Kikuk.


"Cieee...Barengan!" Goda Eileen dengan senyuman.


Lami hanya bisa terdiam menahan suasana menyebalkan ini. Begitupun Arya, ia terus terdiam karena malas jika harus berurusan dengan rivalnya ini. Selama pertemuan dua keluarga ini, Lami dan Arya hanya merasa canggung satu sama lain. Bukan karena takut, Melainkan karena kedua orangtua mereka saling menggoda Arya Dan Lami.


...~®MatahariLangit.~...


"Casya!" panggil Adena lembut.


Merasa namanya dipanggil,Casya hanya cekikik kecil didalam lemari kamarnya. Ia tahu pasti kakak nya akan mencarinya, makanya ia mengumpat agar dicari.


"Casya, kakak bawa makanan nih!" kata Adena masih dengan suara khasnya. Masih tidak ada jawaban. Adena pun menghembuskan nafas panjang, kemudian tersenyum.


"Kakak tau kamu disini." Ujar Adena yang sudah membuka pintu lemarinya.


Casya mendongkak menatap kakak nya sambil tersenyum imut. Matanya yang bulat,lengkal dengan pipi chubby nya membuat Adena tersenyum manis melihat sang adiknya yang begitu Imut.


"Ayok! Kita makan dulu, baru main." ucap Adena seraya memangku Casya.


"Ca mau...." Rengek Casya menggigit tiga jarinya.


Adena mengerutkan keningnya. "Mau apa?"

__ADS_1


"Es cim...." jawabnya gembira.


"Kakak belinya nasi goreng."


"Aaaaa...Es cim pokoya." Rengek Casya dengan kalimat yang masih belum jelas.


Adena menurunkan Casya disofa.


"Kita makan dulu ya, baru beli es cim nya." Rayu Adena membuat adiknya itu menurut.


"Janji...." kata Casya yang dapat anggukan dari Adena.Casya pun meloncat kegirangan mendapatkan jawaban Iya dari kakaknya. Adena menggeleng-geleng kan kepalanya melihat kelakuan adiknya yang menurut nya sangat Imut.


...~®MatahariLangit.~...


Adena melangkah keluar dari Minimarket bersama adiknya yang ia tuntun disebelah kanan. Casya tidak luput terus memandangi ice cream coklat nya itu, senyum nya terus mengembang menatap ice cream nya.


"Udah ini udah ya. Kakak nggak mau kamu malah sakit nanti, kalo makan ice cream terus!" tegur Adena memperingati Adiknya. Casya mengangguk mengerti.


Terdengar suara motor mendekati Adena dan Casya. Karena merasa takut Adena hanya mempercepat langkah nya,yang membuat adiknya agak berlari.


"Permisi!" panggil lelaki itu, berhasil membuat Adena berhenti melangkah. Sepertinya ia mengenali suara lelaki ini. Adena pun membalikkan badannya, dan benar tebakan nya. Ternyata lelaki itu Arsen,yang akhir-akhir ini selalu ia temui.


"Oh,Lo..." kata Arsen lalu membuka helm nya.


"Lo manggil gue?" tanya Adena yang selalu terlihat polos jika sedang berbicara dengan Arsenio.


"Ya iyalah, siapa lagi coba yang ada di jalan ini selain lo sama anak kecil itu!" Omel Arsenio terlihat sebal.


Adena tersenyum kikuk. "Mmm..btw ada apa?"


"Gue lagi nyari rumah, Agler. Tapi nggak ketemu-ketemu. Lo tau dimana?" tanya Arsenio frustrasi karena sedari tadi ia belum menemukan rumah Agler kalandra.


"Oohh,Lo tinggal lurus terus aja,kalo udah di depan entar belok kiri, dan kalo nggak salah nomor rumahnya dua puluh tiga." jelas Adena.


Arsenio mengangguk, kemudian beralih menatap anak kecil yang ada disebelah Adena. Sepertinya anak kecil berumur 3 tahun setengah itu tengah kesulitan untuk membuka ice cream nya. Arsenio terlihat terkekeh sebentar.Arsenio pun turun dari motor,lalu menghampiri tempat berdiri nya Adena. Setelah itu ia berjongkok tepat di depan Casya. Casya menatap Arsenio bingung, dengan melototkan mata bulatnya lucu.


"Mau kakak bukain?" tawar Arsenio sembari menjulurkan tangannya.


Raut wajah casya berubah tersenyum,lalu memberikan Ice cream nya pada Arsenio.


Adena memekik malu, atas sikap adiknya itu, yang seenak nya malah mau menerima tawaran Arsen.


"Nih...!" Arsenio memberikan Ice cream nya.


"Maacih." Kata Casya menampakkan kedua lesung pipi nya.


"Sama-sama." Balas Arsen senang.


"Maaf, Adek gue ngerepotin." ujar Adena merasa merepotkan.


"Nggak kok, Santai aja kali." jawab Arsenio kemudian berdiri.


"Mm,Kalo gitu gue pergi dulu ya!" pamit Adena seraya menggendong casya.


Arsenio terus menatap gerak-gerik Adena yang sama tingkahnya seperti adiknya itu. Sama-sama imut. Tanpa sadar Arsenio mengulas senyumnya.

__ADS_1


...~®MatahariLangit.~...


__ADS_2