
"Aku sudah tertarik padamu, mungkin besok aku akan lebih tertarik lagi." ¦¦ Arsenio Edzadr ¦¦
Dibawah terik matahari,Aska Langit terus melangkah menyusuri Trotoar. Angin yang berhembus tidak mampu mengusir kesedihan hati yang dirasakan Pria tinggi itu. Langit telah kehilangan Mataharinya, Hatinya sekarang patah dan Hancur berkeping-keping.
Tidak cukup sampai disitu, Orang yang kini ia sayangipun membuatnya kecewa. Tidak pernah Langit sangka sebelumnya jika Bulan setega itu padanya.
Langit kini hanya bisa menerima semuanya. Mungkin itu adalah jalan terbaik. Pria berambut hitam pekat itu berusaha untuk tudak bersedih, ia harus kuat karena ia tahu Matahari sebelumnya pernah terpuruk sepertinya karena ulahnya.
Pria berbadan tinggi itu tiba-tiba berhenti melangkah, lalu menatap seorang wanita yang ada didepan nya itu. Langit terdiam sejenak,mengenang kejadian yang pernah terjadi dikehidupannya.
Wanita berwajah putih bersih dengan bola mata coklat nya itu memandang Langit dengan penuh arti. Perlahan Wanita cantik itu mendekat kearah Langit, dengan raut wajahnya yang sulit untuk diartikan.
"Lo kenapa ada disini?" tanya Langit heran.
Matahari tersenyum sekilas lalu menghembuskan nafas berat. "Gue mau pamitan sama lo!"
Deegg
"Lo mau kemana?" tanya Langit dengan wajah melasnya.
Matahari menarik sudut bibirnya kemudian membenarkan helaian rambutnya yang berterbangan oleh angin. "Gue harus pergi sekarang."
"Pergi kemana?"
"Gue mau menetap di New york lang, Bokap gue udah pindah kerja disana."
Jawabnya sendu ada rasa tidak rela untuk pergi.
"Gue minta maaf soal kemarin," lanjut Matahari.
Langit tetap terdiam terpaku menatap Matahari sendu.
"Jaga diri lo baik-baik, Jangan lupa makan." kata Matahari kemudian memeluk Langit erat. Langit menutup matanya rapat-rapat, Dan merasaka pelukan hangat dari Matahari yang mungkin ini pelukan terakhir nya bersama Matahari.
Plaakkk
"Aduuhhh!" Ringis Langit setelah merasakan bahunya memanas oleh bundanya. Dan bertepatan dengan itu bayangan mimpinya pun buyar.
Xandra berkacak pinggang sambil menatap Langit tajam. "Kamu dari mana hah!"
"Bun, langit baru datang bukannya disambut malah ditampol, jahat iihhkk bunda!" gerutu Langit beralih memeluk bantal sofa.
Xandra menghembuskan nafas panjang. "Abisnya kamu malam-malam tiba-tiba kabur! Anak macam apa kamu ini?! Bunda panggilin malah bablas aja kamu pergi! Bunda kutuk kamu nanti jadi batu." omel Xandra.
Langit meringis ketakutan membayangkan jika hal tersebut terjadi. "Maaf bun, Langit janji nggak akan ngulangin lagi!"
"Hhemm! Kamu kemana tadi?!"
Raut wajah Langit tiba-tiba berubah memelas. "heee, kenapa jadi sedih gitu mukanya?" tanya Xandra beralih duduk disamping Langit.
"Bunda..." Ujar Langit lalu menyenderkan kepalnya dibahu Xandra. Xandra dengan sigap mengelus lembut bahu anak semata wayangnya itu.
"Kamu kenapa? cerita sama bunda."
"Langit hampir tiap hari buat Matahari sedih terus bun."
"Kamu apain dia?!"
"Bun jangan nanya kayak gitu, Langit jadi bingung mau jawab apa? Soalnya semuanya salah Langit,"
"Lagi main cinta-cintaan kamu?!" tanya Xandra datar.
__ADS_1
"E-enggak gitu bun."
"Jangan terlalu memberi harapan pada Matahari kalo kamu memang tidak menyukainya! Bunda nggak mau kamu malah nyakitin perasaannya."ucap xandra lembut.
Langit menghembuskan nafas panjang nya. "Langit harus gimana bun? Langit udah sering Matahin harapannya."
"Jadi cowok itu harus memikirkan ucapannya dua kali jika tidak mau menyakiti perasaan wanita yang dia anggap berharga!"
Langit terdiam ucapan bundanya itu sudah Langit lakukan sebelumnya, bahwa ia malah menyakiti Matahari dengan ucapannya yang tidak dipikirkan dahulu. "Maaf bun,Langit udah ceplas-ceplos dan buat Matahari sedih."
"Jadi cowok jahat banget kamu lang." tegur xandra.
"Abisnya Langit Waktu itu tolol banget. Langit baru tau rasanya jadi Matahari sekarang. Dan Langit juga baru tau sekarang gimana rasanya rindu sama Matahari!"
"Gimana emang rasanya?"
"Campur aduk! Sampai-sampai Langit tadi nggak dengerin teriakan bunda dan malah milih kabur."
"Hooo, jadi tadi kamu lagi kangen sama Matahari!"
"E-eehhkk, Bundaaa......"
"Kalo kamu mulai suka sama Matahari, Bunda dukung deh..."
Langit terkekeh lalu memeluk bundanya."Tapi Langit mulai suka sama cewek lain."
Xandra membelalakkan matanya. Lalu menepuk keningnya pelan.
...~©MatahariLangit.~...
Pagi ini Arsenio terlihat sedang sibuk di ruangan osis, pasalnya sang ketua osis belum juga masuk sekolah. Didalam ruangan osis terlihat beberapa anggota inti osis sedang berkumpul dan mengerjakan tugas nya masing-masing.
Karena satu hari lagi mereka akan mengadakan pameran besar-besaran. Dan sekarang bagian mendekor halaman adalah seluruh warga sekolah dan diketuai oleh Lami.
"Kenapa dikasih ke gue?" tanya Arsenio bingung.
"Takutnya lo mau dibagian ini! Kan lo maunya yang enteng-enteng aja!"
Jawab Adena yang tahu bahwa Arsenio itu paling tidak suka ha-hall yang lumayan ribet.
Arsenio terkekeh sejenak lalu menerima bukunya. "Lo sama gue!"
"Hah?!"
"Lo sama gue bagian ini besok!"
"K-kenapa gue? Kan harusnya wakil osis itu sama ketua osis?" tanya Adena gugup.
"Siapa yang bilang begitu?"
Adena terdiam tidak tahu harus menjawab apa.
"Udah, mending lo sekarang bantuin gue." ujar Arsenio.
"Apa?"
"Ngangkatin kerdus-kerdus itu buat dibawa kelapangan."
"Lo kira gue maskulin apa? Gue cewek sen!"
"Emang cewek nggak punya tenaga ya?"
__ADS_1
Adena mendengkus kesal lalu mengambil kerdus yang beratnya lumayan. Arsenio tersenyum sekilas kemudian membantu Adena mengangkatnya.
"Enteng nggak?" tanyanya sambil tersenyum simpul pada Adena.
Adena hanya dapat mengangguk mengiyakan. "Adem banget sih."batin Adena.
Diam-diam Arsenio terus menatap Adena,Jujur Arsen memang sudah merasa candu pada senyumnya Adena dan juga tutur kata Adena yang lembut. Sekilas Arsenio tersenyum manis.
...~©MatahariLangit.~...
"Astaga! Langit!"Tegur Lami memergoki Langit tengah terduduk manis sembari meneguk es teh pesanannya.
"Astagaa! Lami!" Balas Langit seraya terkekeh.
"Lo enak-enakan ngadem disini ya?! Liat yang lain, mereka rajin mau nolongin, lah lo malah anteng-anteng aja disini!" omel Lami sambil berkacak pinggang.
"Abisnya panas tau lam." jawabnya mengendorkan dasinya dan membuka satu kancing bajunya.
"Udah istirahat nya, cepet lo balik bantuin yang lain!" Titah Lami lalu pergi begitu saja untuk mengecek yang lain.
Langit memutar bola matanya malas lalu menghembuskan nafas kasar. "Gue nggak semangat tau lam." gumamnya teringat pada Matahari.
Langit memejamkan mata dan merasakan cahaya matahari yang memantul menganai wajahnya. Perlahan keringatnya mulai bercucuran membasahi kening dan leher Langit yang begitu indah.
Pria beralis tebal itu menyudahi acara santai santainya dan beralih kembali kelapangan, dengan baju dikeluarkan dan dasi nya yang dilonggarkan. Bak Cowok BadBoy. Banyak pasanga mata yang melihat kagum gaya Langit, yang sangat tampan jika sudah mengenakan pakaian Bad nya.
"Tuh kan gue oleng lagi kalo udah liat Langit tuh." bisik salah satu siswi yang berada tidak jauh dari tempat Langit berdiri.
"Gantengnya nggak nahan, Masya Allah..."
"Aaaaa,Kenapa semua cowok ganteng harus ada disekolahan ini!"
"Gue jadi oleng sana sini." Begitulah bisikan para kaum Hawa yang melihat Langit hari ini.
Selang beberapa menit Arsenio pun datang kelapangan bersama Adena dengan tampilan yang tak kalah sama dengan Langit. Dan mulailah para kaum Hawa berjerit-jerit dalam hati melihat nya. Ada yang iri karena malah Adena yang dapat bersama Arsenio sekarang.
"Susah ya kalo lagi sama lo!" dumel Adena agak berbisik. Arsenio mengangkat sebelah alisnya.
"Banyak cewek yang julitin gue." sambungnya datar membuat Arsenio terkekeh.
"Salah sendiri deket deket gue!" Candanya dengan senyuman manis.
Adena merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Y-yaa u-dah gue pergi."
Sebelum Adena melangkah pergi Arsenio lebih dulu mencekal lengannya yang membuat Adena berhenti. Para siswi yang melihatnya hanya dapat menggerutu kesal.
"Kerjaan lo masih ada, jangan main pergi gitu aja."kata Arsenio lalu melepas cekalan.
Adena mendengus kasar. "Gue kira ada manis-manisnya gitu! Nyatanya Sepet." batinnya mendumel.
"Kalo nggak ikhlas nggak usah bantuin gue!" tegur Arsenio meliriknya.
"Serba salah kerja sama lo!" kata Adena dengan memelas.
Arsenio terkekeh lagi padahal menurut Adena tidak ada yang lucu sama sekali.
"Becanda! Udah nggak usah kesel gitu, Gue gigit nangis lo!" kata Arsenio yang gemas karena raut wajah Adena selalu kiyowo seperti Adik kecilnya Casya.
Adena memalingkan wajahnya lalu tersenyum sekilas. Dan tanpa disadari Arsenio melihatnya. "Kalo gue bilang 'gue tertarik sama lo gimana'?" batin Arsenio terus menatap Adena diam-diam.
__ADS_1
Langit menyipitkan matanya melihat Arsenio yang tersenyum sambil melirik kearah Adena. "Kesambet apaan si Arsen?" gumam Langit heran melihat Arsenio tersenyum.
...~©MatahariLangit.~...