Matahari Langit

Matahari Langit
02.Two


__ADS_3

"Peranku sebagai Matahari yaitu untuk selalu menyinari Langit. Jadi jangan salahkah Aku jika selalu mengejarmu." ¦¦ Grizelle Matahari ¦¦


Angin malam berhembus. Sangat dingin untuk dirasakan oleh kulit, untungnya ia sudah mengenakan jaket jadi angin tidak mudah mengenai tubuhnya. Sudah jadi hobinya keluar malam untuk memenangkan pertandingan tancap gas dengan 2 putaran.


Bisa di bilang Arsenio Edzard ini termasuk cowok yang dingin dan Bad boy. Namun jika di sekolah ia selalu berprilaku baik dan tidak membuat onar. hanya di luar saja dia Bad Boy. Seperti pada malam ini. Ia pergi dari rumahnya tanpa ijin dari Ibu dan ayahnya. Begitulah kehidupan seorang Arsenio sehari-hari, selalu kabur dari rumah,dengan alasan ingin mencari hiburan.


"Semangat Arsenio...." Ucap Auristela Friska. Arsenio hanya menatap-Nya sekilas lalu kembali fokus memakai Helm.


"Gue yakin lo pasti menang." Kata Auristela Antusias.


"Tentu." jawab Arsenio datar.


Disebelah Kiri Arsenio terdapat lawan-Nya yang lumayan sulit untuk dikalahkan. Namun bagi Arsenio mengalahkan seorang Gavin Arkana itu sangatlah mudah.


Gavin melirik Arsenio dengan tatapan penuh emosi begitupun Arsenio menatap Gavin tajam.


"Kalian siap!" Teriak Wanita yang berada di tengah-tengah jalan sembari membawa 1 kain Hitam. Arsenio dan Gavin menutup kaca helm nya lalu meng-gas beberapa kali motor gedenya itu.


"Satu.....Dua...." jeda wanita itu.


Arsenio menekan gigi motornya.


"Tiga!" wanita itu melempar tinggi-tinggi kain hitamnya.


Arsenio melaju dengan kecepan penuh hingga Gavin berada dibelakangnya. Balapan malam ini sangat menegangkan, Pasalnya Arsenio dan Gavin adalah pembalap yang tidak mudah untuk dikalahkan.


...~®MatahariLangit.~...


"Langit!" Teriak Matahari melengking keseluruhan ruangan. Merasa dipanggil Langit pun mendongkakan kepalanya menatap Matahari yang berada di anak tangga.


"Apa sih Ri?" Tanya Langit kemudian memfokuskan matanya lagi pada Handphone.


"Lo kan yang udah berantakin kamar gue,"


"Kagak!" jawab Langit tidak mau melihat Matahari. Matahari bekacak pinggang sembari menatap Langit murka.


"Alah Bullshit!" Ujar Matahari terdengar marah. Langit mematikan Game online nya lalu beralih menatap Matahari.


"Emangnya kenapa?" tanya Langit polos.


"Tengok aja sendiri." kata Matahari lalu menarik lengan Langit untuk ikut ke kamarnya.


Langit menatap isi kamar Matahari. Seketika matanya melebar tidak percaya. Perasaan tadi Langit hanya mengacak ngacak seprai Doraemon Matahari, kenapa buku-buku Matahari jadi ikut berserakan?


"Bukan ulah gue Ri sumpah!" Ucap Langit sembari menatap Matahari bingung.


"Nggak mungkin, buktinya gue liat lo tadi dikamar!" kata Matahari dengan tatapan sinis.


"Gue cuman tiduran doank, nggak sampe berantakin buku-buku lo."


"Masa?....kalo cuman tiduran doang kenapa buku gue bisa berserakan?"


"Ya mana gue tahu."


"Rese! Udah ahkk sana lo pulang!" Usir Matahari kemudian mendorong-dorong punggung Langit untuk pergi.


"Apaan sih Ri? Gue nggak mau pulang." tungkas nya dengan menahan tubuhnya agar Matahari tidak dapat mendorongnya.


"Lo tu nyebelin tau nggak! Bikin mood gue ilang aja." Gerutu Matahari lalu masuk kedalam kamarnya.


Langit mengekori Matahari. "Lo marah Ri?" tanya Langit.

__ADS_1


Matahari mendengkus sebal. "Kagak! Gue bahagia, Bahagia banget!" kata Matahari penuh penekanan.


"Gue minta maaf kalo lo marah Ri...."


Matahari lebih memilih mengacuhkan Langit dan memfokuskan untuk membereskan kamarnya. Langit menghembuskan nafas kasarnya, lalu melirik ke ranjang Matahari.


Seketika matanya menyipit dan perlahan mendekati ranjang doraemon milik Matahari.


"Uuuhhh Guppy kamu ngapain? Hah!" ucap Langit lalu meraih Guppy. Matahari melirik Langit. Matahari menghembuskan nafas kasar. Lalu merebut Guppy dari tangan Langit.


"Jadi kamu yang udah berantakin Kamar aku!" Omel Matahari pada seekor kucing berjenis Anggora itu.


"Meoww...."


"Huff! Kan guppy pelakunya bukan Gue!" Cibir Langit lalu menaruh kedua tangannya di depan dada.


"Sama aja..lo juga berantakin Kasur gue."


"Ya udah sih Maaf..."


"Ogah."


"Yaelah Ri...Masalah gini tu jangan di perbesar, gue nggak mau lo malah benci sama gue cuman gara-gara ini! Gue nggak mau persahabatan kita runtuh...Gue belum siap kalo harus jauh-jauh dari lo Ri."


Matahari merasakan Jantungnya berdetak lebih kencang. "Alay lo..." kata Matahari lalu membawa Guppy keluar kamar.


"Lo bilang gue alay? Se alay itu kah gue dimata lo Ri?" gumam Langit.


...~®MatahariLangit.~...


Balapan dalam 2 rounde pun selesai dan dimenangkan oleh Arsenio.


Gavin terlihat tidak terima karena dikalahkan oleh Arsenio. Seharusnya ia menang malam ini, Namun kenyataan nya ia malah dikalahkan.


"Selamat!" ucap seseorang seraya menjulurkan tangannya ke arah Arsenio.


Arsenio mengangkat sebelah alisnya.


"Gue Bellvania Annora." katanya yang masih setia menjulurkan tangan. Arsenio menatapnya datar lalu menerima jabatannya.


"Arsen." jawabnya cuek lalu melepas jabatannya.


Bellvania tersenyum. "Ternyata bener ya kata orang-orang."


Arsenio hanya mendengar kan saja dengan tatapan yang lurus kedepan.


"Lo handsome but cold." Sambung Bellvania.


"True." jawab Arsen cuek kemudian memakai kembali helm nya dan dengan cepat ia melajukan motor gedenya.


"Gue bakalan dapetin lo.Arsen..." Gumam Bellvania sembari tersenyum miring.


...~®MatahariLangit.~...


"Mau sampai kapan kamu terus-terusan kabur dari rumah?" Ujar Wanita yang lebih tua dari Arsenio. Arsenio berhenti tepat dianak tangga ke 2. ia Menghela nafas berat.


"Sampai Arsen ngerasa bosen." jawabnya datar kemudian melanjutkan naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Arsen. Bisakah kamu bersikap peduli sekali saja sama mama! Mama butuh sikap itu Sen!"


Arsen lagi-lagi berhenti menaiki tangga. "Seharusnya Arsen yang bilang gitu sama mama. Bisa nggak mama ngasih sikap peduli sama Arsen? Bisa nggak Mama ngasih perhatian sama Arsen? Nggak bisa kan ma..Arsen juga nggak bisa ma bersikap peduli terhadap mama!"

__ADS_1


"Mama peduli sama kamu sen, mama perhatian sama kamu sen.tapi kamu selalu nganggep mama nggak begitu! Salah mama apa?"


Arsen terkekeh. "Kapan mama peduli sama Arsen?"


Alma laksita terdiam,  seperti nya ia kehabisan kata-kata.


"Kenapa diem? Baru inget kah, Kalo anda tidak pernah peduli terhadap Saya." Ucap Arsenio lalu melangkah lagi dengan hentakan kaki.


Alma hanya menatap punggung anak semata wayangnya itu dengan sendu. Karena kejadian di masa lalu itu membuat Arsen berubah dratis menjadi membencinya. "Mama selalu peduli sama kamu sen, mama sayang kamu..." lirih Alma yang sudah meloloskan buliran air matanya terjatuh.


...~®MatahariLangit~...


Pagi ini Langit terpaksa bangun pagi, karena tidak mau ditinggalkan oleh Matahari.


"Langit sarapan dulu!" Teriak Xandra Devi membuat kaki Langit terhenti di ambang pintu.


"Aaaa..." Langit membuka mulut nya lebar-lebar.


Xandra menggeleng lalu memasukkan Roti ke mulut Langit. "Makannya pelan-pelan Lang!" titah Xandra.


"Iya bun...." Jawab Langit lalu menyalami tangan Xandra.


"Hati-hati..." ucap Xandra dapat acungan jempol dari Langit. Ternyata di gerbang rumah Langit sudah ada Matahari yang tengah menunggu.


"Ternyata lo masih belum bisa bangun pagi Aska Langit!" Cibir Matahari lalu masuk kedalam mobil hitam Langit. Langit mendengkus sebal,kemudian melajukan mobilnya.


"Nanti gue pulang nya agak sorean,Jadi lo tunggu bentar ya Ri..." kata Langit.


"Sok sibuk lo, ampe pulang agak sorean."


"Gue latihan basket bentar,"


"Kalo lama?"


"Tunggu aja sih!"


"Males tau nunggu in lo tu. Apalagi nungguin lo jatuh cinta sama gue...Lama!"


Langit terdiam sejenak."Lo salah Ri." Batin Langit.


"Makannya kagak usah nungguin gue buat jatuh cinta sama lo. Nggak akan mungkin gue jatuh cinta sama sahabat orok gue!" sambung Langit seraya berdehem kikuk, setelah mengingat bahwa dimasa lalu terjadi hal yang manis.


Matahari mendengkus. "Gue jatuh cinta sama lo kagak bawa-bawa persahabatan, Yang gue bawa tu perasaan."


"Gue juga tau kali...."


"Ya terus kenapa lo selalu bawa-bawa nama Sahabat terus?"


"Karena Cuman itu alasan terkuat yang gue punya."


"Pokonya titik gue Sayang lo!"


"Sayang sebagai sahabat,"


"Sebagai Boyfriend lah,"


"Apaan sih? Kita tu Sahabat Ri."


"Iya gue tau kita sahabat, tapi gue punya perasaan khusus buat lo."


"Cape gue debat sama lo."

__ADS_1


"Apapun alasan terkuat lo, gue tetep suka sama lo Lang!" kata Matahari lalu turun dari mobil. Langit menghembuskan nafasnya berat. lalu segera turun dari mobil.


...~®MatahariLangit~...


__ADS_2