
"Aku tidak pernah siap untuk kamu tinggalkan. Aku sungguh tidak mau kamu pergi." ¦¦ Aska Langit ¦¦
Langit mendengus sebal saat melihat Matahari didepan gerbang rumahnya. Awalnya Matahari ingin kerumah Langit,Namun tiba-tiba mereka bertemu didepan gerbang masing-masing.
"Lo mau kemana?" tanya Matahari.
"Warung." jawab Langit ketus lalu pergi.
"Heee,Langit tunggu!" Matahari berlari kecil mengejar Langit.
Langit berhenti lalu membalikkan badannya menghadap Matahari. "Lo mau apa sih?!"
"Maaf...." jawab Matahari memasang wajah melas.
Langit mendengkus lalu menarik lengan Matahari. Matahari membelalak saat Langit tiba-tiba menarik lengannya. "Motor kamvret!" Kata Langit datar.
Dan benar saja motor tersebut pun melintas dengan kecepatan penuh, Untung saja Langit segera menarik Matahari kalo tidak pasti ia sudah terserempet.
"Kirain lo mau meluk gue gitu kan." Ucap Matahari tersenyum terus karena melihat Langit tidak melepas cekalannya.
Langit buru-buru melepas cekalannya dan menyuruh Matahari mundur selangkah. "Najisss!"
Matahari hanya terkekeh. "Katanya mau kewarung?"
"Iya." Langit berjalan lagi.
"Mau beli apaan?" tanya Matahari lagi, yang kini berjalan beriringan bersama Langit.
"Batako,semen,kramik!" jawab Langit.
Matahari mengernyit heran. "Warung sembako apa warung materialis sih?"
"Pikir aja sendiri."
"Lo kenapa sih, kan gue udah minta maaf."
"Maaf doang?! Emang lo pikir gue nggak cape apa? muter-muter cariin lo gitu,Gue sampai pulang telat tau, Dan tau-taunya lo pulang sama Arsen! Nyesel gue khawatir in lo!"
"Lo khawatirin gue? ciuss Lang?"
"Percuma gue ngomong!"
"Ya udah deh lo mau nya apa biar gue bisa dimaafin?"
"Masakin gue makanan,"
"Lah,nyokap lo emang nggak masak?"
"Nyokap gue pergi,kerumah omah."
"Omah lo sakit lagi?"
"Begitulah."
"Mm..Ya udah gue masakin deh."
"Good."
Matahari mengangguk lalu berbalik arah untuk pulang ke rumah Langit.
"Ehhkk lo mau kemana?" tanya Langit.
"Pan tadi lo bilang minta dimasakin makanan. Ya gue harus kerumah lo lah."
"Lo tau nggak gue ke warung itu mau ngapain?"
"Lah tadi kan katanya lo cuman mau beli semen,kramik,sama batako?"
Langit merangkul Matahari lalu tersenyum sinis. "Minta dipitesin nih orang."
Matahari melirik Langit lalu memasang raut wajah datar. "Lang,Lo sebenernya mau apa sih?"
"MAU LO! PUASSS!" Teriak Langit tepat didepan wajah Matahari. Matahari mengerjap sebanyak mungkin, Berharap ucapan Langit tadi bukan lelucon.
"Gue ke warung itu mau beli,Mie." sambung Langit.
Matahari memejamkan mata."Gue kira lo beneran mau gue." batinnya.
"Lo mau ikut gue apa nungguin dirumah?" tanya Langit lagi yang tidak melepas rangkulan nya.
Matahari menatap Langit lalu tersenyum simpul. "Gue nunggu di rumah lo aja."
"Ya udah kalo gitu gue pergi!" pamit Langit sembari melepas rangkulannya. Matahari terus menatap punggung Langit yang perlahan mulai menjauh.
Drrrtttt....Drrttt...
Matahari meronggoh Headphonenya lalu mengecek notif yang masuk. Dan ternyata itu dari Arsen.
Arsenio : Batalin!
Matahari mengernyit tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Arsen? ia selalu saja membuatnya harus berpikir dua kali.
Matahari : Lo kalo ngetik jangan setengah² dong!
Setelah membalas Chat dari Arsen tersebut. Matahari pun langsung pergi menuju kerumah Langit.
Drrtttt.....Drrrrtttt...
Arsenio : Nnti mlm,Batal gue sibuk!
Matahari mengangguk lalu mengetikkan sesuatu untuk menjawab nya.
Matahari : Lagian gue jga lgi sibuk kok.
Read
Matahari mendengkus sebal, Pasalnya Arsen hanya membaca balasan chatnya. "Nyesel gue bales chat nya." gumamnya kesal.
...~®MatahariLangit.~...
Agler melempar sekaleng Spriet pada Arsenio, yang langsung ditangkap sempurna olehnya.
Agler meneguk sprit miliknya hingga setengah. "Mmm..."
"Tumben lo nurut sama gue?" tanya Agler terdengar meledek.
Arsenio berhenti meneguk lalu melirik Agler dengan sudut matanya. "Siapa yang nurut sama lo! Gue pulang juga karena dipaksa!" kata Arsenio ketus
Agler terkekeh lalu duduk disebelah Arsenio. "Sekali ini aja sen, lo nurut sama nyokap."
Arsenio memutar bola matanya malas. "Tau apa lo tentang gue."
Agler menghembuskan nafas nya perlahan, lalu beralih menatap Arsenio yang ada disampingnya. "Sen, gue tau lo masih nggak terima karena nyokap lo nik-"
"Kalo lo udah tau kenapa lo malah setuju!" tungkas Arsenio telihat kesal.
Agler memejamkan matanya sejenak. "Gue sadar kalo mereka butuh kebahagiaan lagi sen, makannya gue setuju."
Arsenio menatap Agler dengan raut wajah yang sudah merah padam kerena menahan emosinya.
"Gue bertahun-tahun nungguin Ayah gue pulang! Tapi setelah Ayah gue pulang nyokap gue malah cerain Ayah! Lo harus tau ini ***,Gue lebih sayang Ayah dari pada mama! Gue sempet nolak tinggal bareng Mama, dulu gue selalu berusaha buat ngelacak tempat Ayah gue. Tapi apa? sampai sekarang pun gue nggak tau dia dimana! Gue kangan sosok Ayah gue ***! Dari dulu gue nggak pernah nganggep bokap lo itu sebagai Ayah gue! Dan lo, Gue nggak pernah nganggep lo sebagai saudara ***, gue sebenarnya marah sama lo! Tapi gue bisa apa?! Kalo kenyataan nya....Hmmm..." Arsenio meremas kaleng spritnya hingga menjadi meleot.
"Kenyataan itu menyakitkan!." Kata Arsenio datar.
Agler terdiam terus,ia teringat saat masih satu tim futsal bersama Arsenio. Saat itu mereka berdua sangat dekat,Sampai sampai selalu dijuluki the boy of couple oleh semua penggemar nya,pasalnya mereka selalu kompak.
Namun semenjak ibu arsenio dan papah nya Agler menikah,Arsenio memutuskan untuk keluar dari Futsal dan tidak pernah mau berhubungan lagi dengan Agler.
"Gue nggak tau kalo lo seterpuruk itu sen." kata Agler yang menatap Arsenio lekat lekat.
Arsenio terkekeh. "Kenapa?! Lo merasa kasian sama gue?! Gue nggak butuh rasa prihatin dari lo."
"Gue tau lo benci gue, tapi lo nggak bisa kan ngelupain gimana kompaknya kita dulu."
Arsenio terdiam, memang benar apa yang di ucapkan Agler, bahwa Arsen tidak bisa melupakan kebersamaannya dulu. Karena itulah Arsenio tidak pernah bisa membenci Agler.
"Lo nggak usah ngungkit-ngungkit masa lalu! Masa lalu udah berlalu, Udah basi buat diinget." tungkas Arsenio.
__ADS_1
"Bagi gue itu nggak pernah basi!"
"Terserah lo! Gue nggak peduli."
Agler mendengkus kesal lalu beranjak berdiri. "Bentar lagi tamu nya datang! Mending lo mandi."
Arsenio hanya terdiam dengan raut wajah lumayan kesal. Merasa diacuhkan Agler pun memilih cepat-cepat pergi dari kamar Arsenio, sebelum Mood nya tambah ancur.
"Gue bakalan bantuin lo buat ngebatalin perjodohan nya!"ujar Agler sebelum hilang dari ambang pintu.
Arsenio sedikit melirik kearah pintu, lalu kemudian menunduk. "Gue nggak bisa benci sama lo ***!" gumanya.
...~®MatahariLangit.~...
Flashback on
"Lebih baik kita bercerai saja!" Kata Alma berusaha membendung air matanya.
Afian menghela nafas berat, raut wajahnya pun terlihat sedih."Kalo itu yang terbaik buat kita, Baiklah." Balas Afian.
Alma menganggukkan kepalanya lalu terdiam sesaat untuk menahan air matanya agar tidak jatuh."Tolong jangan temuin Aku sama Arsen lagi!"Lirih Alma.
Rasanya seperti ada sebuah pisau yang menusuk hati,ketika Alma berbicara seperti itu pada Afian. "Aku janji bakalan pergi jauh dari kalian, Dan nggak akn buat kalian susah lagi."
Alma sudah tidak dapat menahan air mata nya lagi, kini ia sudah terisak."Eum....Sampai ketemu di-" Alma berhenti sejenak.
"Dipengadilan."Sambung nya seraya menangis.
Afian menatap Alma sendu."Maaf, Aku gagal jadi suami dan ayah yang baik."Lirihnya.
Alma menutup wajahnya dengan kedua tangan."Kamu boleh.....Pergi sekarang!"
"Jaga Arsen.Kamu juga jaga diri,jangan sampe sakit."Pesan Afian sebelum berdiri untuk pergi. Alma terus terisak sembari menatap punggung Afian yang semakin menjauh dari pandangan dan juga kehidupannya. Sangat menyakitkan.
••••
Arsen tersenyum lebar ketika mencetak gol yang membuat tim Futsalnya menang hari ini. "Huuuuh!"Sorak Teman satu tim Arsen senang. Arsen berlari menghampiri Agler lalu merangkulnya hangat.
"The best Sen!"Puji Agler tersenyum bangga.
"Yoi!"Balas Arsen senang sangat-sangat senang.
Setelah selesai pertandingan ini, Arsen dan Agler pulang bersama dengan berjalan kaki. Selama dalam perjalanan mereka terus saja melemparkan candaan hingga tidak sadar bahwa sekarang sudah berada di halaman rumah Arsen.
"Lo mau mampir dulu ***?"Tawar Arsen.
"Enggak ah, udah sore,Kapan-kapan aja gue main kerumah lo." Balas Agler.
Arsen tersenyum manis sembari mengangguk. "Kalo gitu gue duluan ya ***. Hati-hati!"
"Yoi bro!"Kata Agler kemudian segera pergi untuk pulang.
Arsen terus tersenyum ketika sampai didepan rumahnya. Pasalnya hari ini Ayahnya pulang setelah sekian lama tidak pernah pulang karena urusan pekerjaan. Jujur Arsen sangat bahagia ketika tahu bahwa Ayahnya akan pulang.
"Ayah!"Teriak Arsen diambang pintu. Namun yang keluar bukanlah Ayahnya melainkan Ibunya.
"Em? Ayah mana ma? Bukannya udah pulang ya?"Tanya Arsen bingung karena Ayahnya tidak ikut keluar rumah. Alma menghela nafas berat tanpa menjawab pertanyaan Arsen.
"Ma, Arsen nanya malah didiemin."Cibir Arsen malas lalu segera masuk.
"Ayah! Arsen pulang!"Teriak Arsen setelah berada ditengah rumah. Namun tidak ada sautan.
"Arsen."Panggil Alma.
"Ma Ayah kemana?"
"Arsen-"
"Oh, apa Ayah masih di jalan ya? Kalo gitu Arsen mandi dulu ya ma, kalo Ayah udah nyampe panggil Arsen ya!"Kata Arsen segera berlari kelantai atas menuju kamarnya.
Alma lagi-lagi menghela nafas berat lengkap dengan wajah sendunya."Ayah kamu udah pergi sen!"Gumam Alma.
••••
Tok...Tok..Tokk
Arsen keluar kamar dengan handuk yang masih terpasang diatas kepalanya."Ayah udah pulang ma?"
Arsen mengangkat kedua alisnya menunggu kelanjutan ucapan ibunya.
Alma menarik nafasnya panjang-panjang lalu menghembuskan perlahan."Ayah kamu udah pergi sen!"
"Maksud mama?"
"Mama sama Ayah udah cerai."
Deg
Rasanya seperti ada petir yang baru saja menyambar hingga kehati Arsen.
"Mama boongan kan?"Tanya Arsen terkekeh.
"Nggak lucu tau ma."sambung Arsen terus terkekeh dan menganggap itu hanyalah gurauan.
Alma menutup mata nya sesaat lalu menatap Arsen lekat-lekat."Mama nggak bohong sen. Itu kenyataan!"
Arsen terdiam lalu melepas tangan ibunya."Why?"
"Ayah kamu itu nggak kerja sen, dia terus terusan main judi pakai uang perusahaan mama.sampe perusahaan kita bangkrut!"
"Kenapa?! kenapa Mama malah cerain Ayah? Dia orang pertama yang Arsen sayang ma, dia alasan kenapa Arsen selalu bahagia, Dia nggak sejahat yang mama bilang! Ayah itu baik nggak mungkin dia ngelakuin semua itu!"
"Kamu salah sen. Ayah kamu itu Sebenernya -"
"Cukup ma! Walaupun Ayah kayak gitu seharusnya Mama dengarin penjelasan Ayah dulu, pasti Ayah ngelakuin semua itu ada alasannya, dan Arsen yakin Ayah nggak seburuk itu ma!"
Alma menggeleng kuat-kuat sembari menitikkan air matanya."Tapi pada kenyataan nya Ayah kamu bukan seperti yang kamu pikirkan Arsen!"
Arsen menjatuhkan handuknya lalu menggeleng."Ayah Itu baik ma."Lirihnya.
"Arsen mau cari ayah!"Kata Arsen seraya berlari turun tangga.
"Arsen!"Teriak Alma berusaha menghentikan Arsen.
"Arsen, Ayah kamu udah pergi. Percuma kamu nyari dia!"
"Kenapa saat Arsen pengen banget ketemu sosok Ayah, Mama malah suruh dia pergi?! asal Mama tau Arsen lebih sayang dan nyaman sam Ayah bukan Mama!" Kata Arsen lalu pergi begitu saja.
Alma terduduk lemas dilantai setelah mendapatkan perkataan dari Arsen."Hikss...Segitu bencinya kamu sama mama sen....hikss,"
••••
Arsen berlari mondar-mandir mencari keberadaan Ayahnya, Namun tetap saja hasilnya nihil. Jujur, Hari ini Arsen merasakan dunianya sudah hancur. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu Ayahnya dan sekalinya ingin bertemu Ayahnya malah kembali pergi.
"Ayah....Arsen pengen ketemu Ayah..."Lirih Arsen.
Malam pun tiba kini Arsen masih belum pulang ia memilih berdiam dipinggir jalan sembari meratapi nasibnya yang malang. Selang beberapa waktu ada dua orang pria yang menghampiri nya."Eh, bocil ngapain lo?"
Arsen hanya mengacuhkan panggilan salah satu pria itu.
"Yha, sok tuli lagi."Ledeknya seraya mendekati Arsen.
"Eh, btw ni anak keknya cocok kalo kita ajarin balapan. Ya nggak Ken?"kata Moza menatap Kenzo.
Kenzo melirik Arsen sekilas."Maybe."Balasnya.
"Eh bocil, lo mau ikut kita balap?"Tawar Moza.
Arsen terdiam sesaat lalu beralih melirik Moza dan Kenzo. "Oke!"Balas Arsen datar. Pikir Arsen daripada pulang kerumah ia mending ikut kedua orang asing ini.
••••
8 Bulan Kemudian
"Lo kemana aja? Udah lama nggak latihan futsal."Tanya Agler seraya merangkul Arsen.
"Gue sibuk."jawab Arsen. Agler mengangguk ia tahu jika Arsen masih terus mencari cari keberadaan Ayahnya.
__ADS_1
"Lo tau?"Tanya Arsen.
"Apa?"
"Nyokap sama Bokap lo?"
Agler mengangguk paham."Gue nggak setuju kok sen, lo tenang aja. Gue tau lo masih nungguin Ayah lo."
Arsen tersenyum ketika tahu bahwa Agler sangat mengerti perasaannya."Makasih ***."
••••
Arsen membuka isi surat yang baru saja ia dapatkan dari tukang paket. Ternyata itu surat dari Ayahnya. Cukup lega ketika ia mendapatkan surat itu.
Isi : Arsen apa kabar? Kamu baik-baik aja kan? Maafin Ayah ya:(. Kamu tahu sen? Ayah udah gagal jadi Orang tua. Ayah bukan orang baik sen. Maaf.
Kamu jangan cariin Ayah ya. Ayah nggak akan pulang dan nggak akan ketemu kamu sama Ibu kamu lagi, Ayah udah pergi jauh. Maafin Ayah udah nggak bisa ngajak Arsen main futsal,main game, dan jalan-jalan bareng lagi.
Ayah cuman mau bilang. Ayah sayang banget sama Arsen. Ayah kangen sama Arsen. Arsen jaga diri baik-baik ya. Dan tolong jagain mama juga:) Ayah baik-baik aja kok disini.
Arsen menitikkan air matanya ketika membaca isi surat dari Ayahnya. "Kenapa Ayah pergi gitu aja? Ayah bilang kangen sama Arsen."Gumamnya melirih.
••••
"Loh, han kamu nggak jadi nikah? Bukannya udah mau serius ya sama si Alma?" Sahut indra teman satu satunya Farhan.
Farhan terkekeh."Tadinya sih gitu, tapi Agler nggak setuju."
"Lah kenapa?"
"Nggak papa, aku lebih mentingin kebahagiaan anak ku."
"Tapi gimana kebahagiaan kamu?"
Farhan menghela nafas berat."Liat agler bahagia aja udah cukup kok."
"Kamu salah Han, aku ngerti kamu pasti kesulitan jadi Ayah sekaligus Ibu untuk Agler. Kalo kata aku sih udah nikah aja lagi. Urusan Agler belakangan!"
Tanpa mereka sadari ternyata Agler mendengar percakapan tersebut. "Maaf pah."Batin Agler
Setelah Indra pergi Farhan pun segera masuk kedalam rumah untuk menyiapkan makan malam.
"Pah."Panggil Agler diambang pintu dapur.
"Apa? Kamu mau papah masakin apa?"
Agler menggeleng lalu menghampiri Ayahnya. "Kalo itu membuat kebahagiaan papah kembali. Agler setuju pah."
"Hem? Maksud kamu?"
"Agler setuju papah nikah lagi."
Farhan tersenyum lebar."Kamu serius?"
"Iya pah."
••••
"Tendang ***!"Teriak pelatih pada Agler.
Namun belum sempat menendang bola, tiba-tiba bahu Agler ditarik oleh seseorang yang membuat nya membalikkan badan.
"Arsen."pekik Agler.
Bughhh
Satu tonjokan keras mengenai pipi Agler hingga membuat sudut bibir Agler berdarah.
"LO BILANG LO NGGAK AKAN SETUJU! TAPI APA? LO BANG**T!" Teriak Arsen penuh emosi seraya menarik Agler supaya berdiri kembali.
Satu pukulan lagi mengenai pipi Agler lagi.
"Sen lo dengerin gue dul-"
"BASI!" Kata Arsen memilih melepas cekalannya dari Agler.
Para tim pun berusaha melerai perkelahian tersebut.
"GUE KELUAR DARI FUTSAL. DAN LO! GUE NGGAK PERNAH MAU KETEMU LO LAGI."Ujar Arsen seraya melempar bola kepada Agler yang memiliki tanda tangan Arsen dan Agler. Agler merasakan sedih ketika tahu bahwa Arsen begitu marah padanya.
"Sen dengerin gue dulu!" Teriak Agler menahan rasa sakitnya.
Arsen hanya mengacuhkan dan terus berjalan lurus menuju motor gedenya yang terparkir. Ia memutuskan untuk ke bascame tempat yang akhir-akhir ini selalu Arsen datangi. [Flashback off]
...~©MatahariLangit.~...
"Lo kenapa nggak nunggu gue tadi?" tanya Langit terus menatap Matahari yang tengah sibuk dengan masakannya.
"Lo lama!" jawabnya ketus pasalnya Matahari malah mengingat wanita itu.
"Biasanya juga kalo gue lama lo tetep setia nungguin gue?" tanya Langit yang berusaha memancing nya.
Matahari terdiam, ia teringat apa yang dikatakan Bulan saat itu. Bulan selalu tidak memiliki teman, ia selalu dijauhi. Dan lebih anehnya, Matahari malah berjanji akan menjadi teman baiknya.
Matahari seketika mengernyit lalu menepuk keningnya pelan. "Berarti gue udah temenan ya sama Bulan?" gumamnya pelan.
"Woyyy! Gue ngomong dianggurin! Lo kenapa sih?" teriak Langit membuat lamunan Matahari buyar.
"Apa sih?!" tanya balik Matahari sembari memberikan Mie kuah yang sudah jadi pada Langit.
"Kalo ada masalah itu cerita." ujar Langit.
Matahari mendudukkan bokongnya dikursi makan, tepat berada dihadapan Langit. Langit mengangkat sebelah alisnya. "Why? jangan buat gue gila Ri."
"Hah?! Kenapa lo harus gila?"
"Gue males tau kalo lo malah buat gue penasaran! Dan itu malah buat gue frustasi."
"Mmm,Gini Lang, gue mau nanya."
"Nah gitu dong! Apaan?"tanya Langit sembari menyeruput mie.
"Kalo gue tiba-tiba ngejauhin lo? Lo-"
Prakkk
Matahari membelalak bulat-bulat, saat Langit tiba-tiba menaruh sendoknya dengan hentakan cukup keras.
"Apa lo bilang!" kata Langit ketus dan terdengar nyeremin.
"Nggak,Nggak jadi lupain aja! "jawab Matahari berusaha menelan ludahnya. Langit menatap Matahari lekat-lekat, membuat jantung Matahari tidak berhenti berlonjatan.
"Apa?!" tanya Matahari salting.
"Gue mungkin bakalan marah, sama lo! Kalo lo sampe ngejauhin gue....Inget Ri, gue belum siap buat ditinggalin lo." kata Langit berakhiran memohon.
Matahari tersenyum manis. "Gue makin sayang sama lo Lang." pekiknya terus tersenyum.
Langit menghembuskan nafas nya perlahan lalu tersenyum simpul. "Asalkan jangan makin benci."
"Oo,itu nggak mungkin gue ucapin! Karena gue sayang lo."
"Mmm,Iya iya!" balas Langit seraya melanjutkan makannya.
Matahari tersenyum lebar saat melihat Langit begitu lahap memakan mie nya. Matahari beralih melihat Arlojinya, dan ternyata ini sudah pukul 18.30 WIB. Matahari melirik Langit."Lang gue pulang ya!"
Langit mendongkak."Kmneupa?" Tanya Langit dengan mulut dipenuhi mie.
"Gue harus nemenin mama Makan malam sama temennya,"
"Mmm....Ya udah hati-hati."
"Oke! Bye bye Aska Langit!" pamit Matahari mencubit gemas pipi kanan Langit.
"Anj*r sakitt kamv**t!" ringisnya.
Matahari pun buru-buru lari keluar rumah Langit, sebelum ia ditampol oleh Langit.
__ADS_1
Tanpa sadar Langit tersenyum senang melihat Matahari hari ini. "Suatu hari nanti gue bakalan cerita sama lo seberapa manisnya masa lalu gue." Batin Langit terus tersenyum.
...~®MatahariLangit.~...