Matahari Langit

Matahari Langit
20.Twenty


__ADS_3

"Aku menyukaimu, sampai-sampai aku tidak dapat melepaskanmu." *¦*¦ Grizelle Matahari ¦¦


Sudah 2 jam berlalu. Matahari pun memutuskan untuk pamit pada Langit dan Bulan. Pasalnya ia sudah tidak kuat lagi untuk melihat betapa manisnya tingkah mereka berdua. Sialnya, Langit hanya mengangguk mengiyakan, Pada kenyataan nya pun Matahari harus menerima bahwa Langit memang lebih menomor satukan Bulan, bukan dirinya.


Kini langit perlahan mulai gelap tanda hujan akan segera turun,Selama dalam perjalanan Matahari terus menitikkan air matanya,ia sudah berada pada titik 'Lelah Untuk Berharap Lagi'. Hatinya sudah tidak kuat, Hatinya perlahan rapuh.


"Aku tahu kamu tidak pernah menyukaiku, aku selalu berharap lebih padamu, Selalu mengharapkan mu untuk bersama ku hingga akhir,Namun pada kenyataan nya kamu tidak bersamaku, kamu tidak akan menemaniku."


"Ada kalanya seseorang akan merasa lelah mengejar, dan saat ini aku tengah merasakan nya, Hatiku sudah tidak sekuat dulu lagi, Aku mulai rapuh karena harapanku yang selalu kamu patahkan. Aku tidak bilang menyerah, Aku hanya ingin beristirahat sejenak."


"Aku tahu kamu menyukai nya, Dan aku juga tahu jika kamu tidak pernah menyukai Matahari. " Matahari menangis terisak dibawah derasnya air hujan. Ia bersyukur atas hadirnya hujan,karenanya Matahari dapat menyamarkan air matanya.


...~©MatahariLangit.~...


Langit menatap hujan yang semakin deras diluar sana ia khawatir pada Matahari. Ia menyesal karena mengabaikan Matahari tadi.


"Kenapa kamu cemas kayak gitu?"tanya Bulan.


Langit beralih menatap Bulan lalu menggenggam tangan Bulan hangat.


"Aku harus pergi." pamit Langit lalu pergi begitu saja.


Bulan terdiam ditempat sambil terus memperhatikan Langit yang berlari cepat kemobilnya. "Apa kamu akan menemui Matahari? Kenapa rasanya aku tidak suka jika kamu menemuinya." gumam Bulan sendu.


"Langit, Sepertinya aku jatuh cinta padamu." sambungnya lalu memejamkan mata dalam-dalam.


Langit melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, Hari ini Langit benar-benar khawatir pada Matahari. ia takut Matahari kenapa-kenapa. "Kenapa gue bego banget sih, ngebiarin dia pulang sendirian?! Bego lo lang." dengus nya pada dirinya sendiri.


Saat sudah didekat lampu lalu lintas, akhirnya Langit melihat Matahari yang tengah memeluk tubuhnya dengan kedua tangan sembari berjalan pelan,sangat pelan seperti orang yang sudah tidak tahan lagi untuk tumbang.


Langit cepat-cepat turun dari mobil lalu menyambar jaketnya. "Rii!" teriak Langit membuat Matahari berhenti melangkah.


Langit berlari kearahnya lalu mengangkat Jaketnya untuk mencegah hujan menyentuh tubuh Matahari lagi. Langit menatap Matahari sendu, ia melihat Matahari terisak, dan itu berhasil membuat hati Langit sedih melihatnya.


"Lo kenapa?" tanya Langit khawatir.


Matahari terus terisak lalu menundukkan kepala. Wajahnya sudah pucat karena kedinginan. Dengan cepat Langit pun segera memeluknya erat. "Maaf." lirihnya merasa bersalah.


Matahari semakin terisak saat Langit tiba-tiba memeluknya erat. Ia sudah tidak dapat menahan tangisnya lagi, Ia sungguh merasakan hatinya benar-benar rapun kali ini.


Detik kemudian Matahari sudah tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya lagi, ia sudah tidak sadarkan diri. Langit menatap panik dan sendu lalu menggendong nya menuju mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


...~©MatahariLangit.~...


Arsenio menatap terus wajah polos yang ada dihadapannya ini, ia begitu tenang terbaring lemah diatas ranjangnya. Hatinya merasa tersentuh saat melihat wajah adem wanita dihadapannya ini. Perlahan Arsenio mengelus lembut pucuk rambutnya. "Cepet sembuh." bisiknya.


Setelah puas berada diruangan VIP dengan wangi rumah sakit yang khas, Arsenio pun memutuskan untuk pergi pulang. Namun niatnya terundur.


"Sen..." lirih wanita tersebut.


Arsenio membalikkan badan. "Lo udah sadar?"


"Eemm."


Arsenio kembali duduk dikursi sebelah ranjangnya. "Mau minum?"


"Enggak."


"Terus mau apa?"


"Peluk," celetuk Matahari sudah membendung air matanya.


Arsenio membelalakkan mata. "Peluk tuh pintu!"


"Arsennn...." rengeknya lalu menangis. Arsenio memejamkan matanya rapat-rapat,ia tidak dapat melihat wanita ini menangis, dengan cepat Arsenio pun memeluknya dan membiarkannya menangis.


"Eehhkk! Na, lo udah jenguk Mataha-" pertanyaan Langit terhenti karena Adena mengacuhkannya.


Adena tidak mendengar Ucapan Langit, ia tengah bersedih hari ini, Mood nya sedang tidak baik. Langit pun memilih acuh juga lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Matahari dirawat. Saat sudah didepan pintu no 143VIP, Tidak sengaja Langit melihat Matahari dan Arsenio sedang berpelukan didalam sana.


Langit mengepalkan kedua tangannya. Dengan rasa campur aduk Langit pun lebih memilih menjatuhkan buket mawar orennya, kemudian pergi begitu saja. Ia kesal melihat Matahari tengah bermesraan seperti itu bersama lelaki lain. "Gue kesel sama lo ri." dengusnya.


...~©MatahariLangit.~...


Langit menepikan mobilnya,ia pergi jauh dari kota ke pedesaan. Ia pergi kedaerah persawahan yang ada didesa ini. Langit menghirup udara segar yang ada dipersawahan tersebut. ia teringat akan satu kenangan bersama Matahari dimana ia dan Matahari tengah bermain di persawahan ini. [Flashback on]


Matahari tersenyum manis saat sudah sampai dipersawahan yang pernah Langit katakan padanya. "Cantik!" gumam Matahari kagum melihat padi-padi hijau.


"gue diem-diem pake mobil bokap buat ngajak lo kesini ri." kata Langit.


"Kenapa harus gue?"


"Karena lo sahabat gue satu satunya. Yang selalu nemenin gue terus, mau gue lagi susah ataupun seneng pasti lo ada dideket gue."

__ADS_1


"Terus lo mau ngapain ngajak gue kesini?"


"Ngajak lo ngebajak sawah dong!"


"Hah?! Yang bener aja?"


"Bener, Ayookk!." Langit menarik lengan Matahari supaya mengikutinya kedekat para petani. Langit meminta salah satu petani untuk mengajarinya membajak sawah, dan ternyata petani itu sungguh ramah,ia membolehkan Langit dan Matahari untuk membatunya.


Karena senang diperbolehkan Matahari dan Langit bersamaan nyebur ke lumpur untuk membantu mendorong gerobak bajaknya. Bagi Matahari ini sangat seru, apalagi ia melakukannya bersama Langit. Semangat nya jadi tidak pudar. [Flashback off]


Langit tersenyum sesaat saat teringat satu kenangan manis bersama Matahari. Juga Langit pun masih ingat, saat sudah pulang dari sawah ini, mereka berdua dihukum oleh orang tuanya untuk mengurung diri dirumah.


Dan selama dikurung mereka berdua saling berkomunikasi lewat balkon sembari berteriak-teriak, sampai-sampai diomeli Kak Grizalle.


"Gue selalu inget ini ri." Gumamnya terkekeh.


"Kita dulu amsrud banget ya ri, mungkin sekarang juga masih gitu." Langit berjalan menyusuri persawahan tersebut dihari yang mulai gelap. Langit tidak peduli jika ini sudah malam, karena ia sedang merasakan Badmood.


...~©MatahariLangit.~...


"Siapa yang ngasih bunganya ya?" gumam Matahari setelah dapat bunga dari ibunya.


"Mama aja nggak tau, tiba-tiba udah ada aja itu bunga didepan pintu." jawab Sandara sembari menyuapi Matahari bubur.


Matahari terus menatap bunga cantik tersebut. "Langit." batinnya.


"Apa mau mama taroin di pas bunga?" tawar sandara yang diangguki oleh Matahari.


"Oiya, apa kamu tau zel, Artinya bunga ini?" tanya Sandara dapat gelengan dari Matahari


"Bunga ini melambangkan bahwa dia sangat menyayangimu sebagai sahabatnya,Dia selalu merasa bahagia karena kamu, Dia bahagia karena kamu udah sadar mungkin." jelas sandara yang memang pernah menjadi floris kelas atas.


"Emmm,Pasti itu dari Langit." ujarnya tersenyum manis.


Sandara tersenyum lebar kemudian mengangguk. "Mama juga yakin nya Langit, karena cuman dia temen kamu yang paling deket banget."


"Tapi kenapa dia naro dilantai depan pintu gitu?"


"Eemm,Mama juga nggak tau, mungkin tadi dia lagi buru-buru makannya naro didepan pintu deh."


"Sibuk ngapain?" gumam Matahari terbayang pada Bulan.

__ADS_1


"Apa Langit lagi sama Bulan ya?" batin Matahari.


...~©MatahariLangit.~...


__ADS_2