Matahari Langit

Matahari Langit
15.Fiveteen


__ADS_3

"Aku berhenti sesaat untuk mengharapkan mu, karena satu bulan kedepan aku akan mencoba untuk menyukai pria lain." ¦¦ Grizelle Matahari ¦¦


Makan malam bersama dua keluarga bahagia ini sudah selesai. Dan kini dua keluarga saling bertatapan serius,untuk memulainya dari mana?


"Mmm,Silahkan Gan kamu saja yang bicara!" titah Alma membuka pembicaraan duluan.


Gandira terlihat gugup lalu berdeham untuk meredakannya. "Jadi malam ini,Saya dan juga Alma sudah membuat janji, untuk..."


Alma menggigit bawah bibirnya kuat-kuat. Arsenio menghembuskan nafas panjang lalu beralih menatap Gandira.


"Om!" panggilnya membuat semua orang menatap Arsenio.


"Iya?" jawab Gandira.


"Kenapa Om berjanji dengan ibu saya?!" tanya Arsenio penasaran kenapa sebuah janji konyol itu ada. Gandira menatap Alma berusaha bertanya apa yang harus ia jawab.


"Aaaa, Arsen.... Mama ini klaien Papahnya Matahari, karena perusahaan mama yang hampir bangkrut jadi mama minta tolong sama papah nya Matahari untuk membantu segala kerugiannya! Tapi syarat untuk itu adalah, Menjodohkanmu dengan Matahari." jelas Alma.


Matahari menganga tidak percaya. "Maksud tante?!"


"Tante sama papah kamu itu, sengaja menjodohkan kalian,agar para orang itu tidak lagi merebut harta perusahaan milik tante....Kalian tau kenapa kita menjodohkan kalian?"


"Karena orang itu akan berhenti jika tahu diantara kita itu ada sesuatu hubungan! Dan Kita mengambil jalan ini hanya untuk menyelamatkan kedua perusahaan. Jika kalian tidak mau maka perlahan-lahan pun perusahaan Gandira dan juga saya akan pupus! Hilang selamanya!"


Matahari mengerjap lalu menatap Ibu dan ayahnya. "Nggak ada cara lain?"


"Ada." sahut Farhan.


"Apa om?" tanya Matahari.


"Cukup kalian selalu bersama dalam satu bulan, dan jangan berhubungan dengan yang lain. Karena orang-orang itu akan terus mengikuti kalian!"


"Memangnya siapa yang membuat kalian seperti itu?" tanya Agler kurang yakin akan ucapan mereka.


Alma menelan ludahnya susah payah lalu menjawabnya. "Seorang Mafia!" Agler terdiam cukup lama.


"Hanya satu bulan kan?" tanya Matahari.


"Iya." jawab Farhan,Alma,Gandira,dan juga Sandara.


Arsenio mengernyit lalu menatap Matahari. "Oke! Satu bulan doang kan?"


"Kalian mau membantu?" tanya Alma.


"Selagi itu membuat kalian bahagia kenapa nggak dijalankan." jawab Arsenio datar. Alma tersenyum haru melihat putranya itu.


...~©MatahariLangit.~...


Setelah makan-makan selesai Arsenio dititah mengantar Matahari pulang kerumahnya, pasalnya kedua orangtua Matahari akan pulang terlambat karena ada urusan lagi dengan orang tua nya Arsenio dan Agler.

__ADS_1


"Lo sadar nggak sih?"tanya Arsenio sambil memberikan helm pada Matahari.


Matahari mengernyit tidak mengerti. "Apa?"


"Mereka semua itu boong! Nggak ada mafia ataupun kebangkrutan!" kata Arsenio kemudian menatap langit-langit malam yang dipenuhi oleh bintang.


Matahari membelalak tidak percaya. "Hah! Jadi semuanya cuman boongan?"


"Hm,"


"Kalo lo tau itu boongan kenapa lo malah setuju?!"


"Karena kalaupun kita nolak! Mereka bakalan maksa, dan gue tau kalo mereka ngasih waktu buat kita satu bulan."


"Kalo memang semua itu boongan berarti kita nggak usah deket-deket kan kalo lagi diluar?"


Arsenio meronggoh headphonenya lalu memberikan pada Matahari. Disana terdapat wajah seorang lelaki tua. "Dia yang bakalan mantau lo sama gue! Ini bawahannya nyokap gue!" jelas Arsenio membuat Matahari mengacak rambutnya.


"Maksudnya apa sih?! Gue nggak ngerti kenapa mereka ngebuat rencana konyol kayak gini?!" Matahari terlihat sangat Frustrasi.


Arsenio menyimpan kembali headphonenya lalu menyuruh Matahari untuk ikut bersamanya. "Gue mau lo tepatin janji lo!" kata Arsenio.


Matahari menatap bingung. "Lo jangan buat gue tambah frustasi kek sen." kesal Matahari.


Arsenio mendengkus sebal lalu menyentil pelan kening Matahari. "Bisa nggak sih, lo bawa santai aja nih masalah! Lagian gue ini nggak bodoh kayak lo, gue punya rencana buat ngakhirin drama ini semua!"


Matahari terdiam tanpa mengalihkan pandangannya dari Arsenio.


"Lo nagih balapan sama gue?" tanya Matahari yang sudah tenang. Arsenio tersenyum sesaat lalu mengiyakan.


"Ya kali sekarang." ujar Matahari tersadar jika ia memakai Dress.


"Ya terus mau kapan?"


"Besok kek! Lo nggak liat apa gue pake Dress!"


"Ya udah kalo gitu sekarang mau kemana?" tanya Arsenio.


Matahari terlihat sedang berpikir. "Emangnya lo nggak jadi ke bascame?"


"Tadinya gue mau kesana karena mau nagih janji lo." jawabnya.


"Mmm....Ya udah sekarang temenin gue nongkrong aja."


"Dimana?"


"Taman kota."


Arsenio pun mengangguk. Ia sengaja mengajak Matahari untuk berjalan jalan dulu, pasalnya Matahari pasti masih memikirkan masalah tadi. Sebenarnya Arsenio tahu semua ini dari pembantu nya, karena saat Ibunya sedang nengobrol di telepon dengan ayahnya Matahari, Bi ijah juga tengah menguping. Arsenio sangat bersyukur karena pembantu nya sangat mengerti apa yang dirasakan Arsenio kala itu.

__ADS_1


...~©MatahariLangit.~...


"Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Bulan pada Langit.


"Aku mau ajak kamu ke tempat yang sering aku datangin bareng temen aku itu." jawab Langit ramah.


Bulan tersenyum manis. "Kayaknya kamu sama teman kamu itu deket banget ya?"


"Ya begitulah."


"Apa dia begitu spesial di hidup kamu?" tanya Bulan tidak memudarkan senyuman manis nya.


Langit tersenyum tulus lalu mengingat beberapa kenangan manis saat bersama Matahari. "Eemm, Dia spesial, Tanpa dia mungkin aku nggak akan pernah ngerasain kebahagiaan."


Bulan sedikit merasakan sakit hati saat Langit berkata seperti itu. Awalnya ia bingung kenapa ia merasa sakit hati? Pasalnya kan meraka baru mengenal satu sama lain.


"Mmm,Kamu suka sama dia?" tanya Bulan.


"Kenapa kamu nanya begitu?"


Bulan tersenyum. "Abisnya, kamu kayak menyimpan hati padanya, dan itu membuat ku penasaran."


Langit terkekeh geli mendengar nya. "Aku baru tau ada cewek yang sepolos kayak kamu."


"Maksud kamu polos itu kenapa?"


"Begini, Biasanya jika seorang wanita bertanya kepada seorang pria tentang siapa yang disukai, atau ya seperti menanyai hal-hal cinta. Pasti wanita itu menyukai pria itu."


Bulan merasakan pipi nya memanas dan juga jantungnya berdegup kencang. Apa yang diucapkan oleh Langit seperti terdengar sangat benar bagi Bulan. "Nggak mungkin aku menyukai seorang pria dalam waktu sehari ini." batin Bulan.


"Udah jangan dipikirin, " kata Langit setelah menepikan mobil. Bulan meliriknya sekilas lalu beralih melihat suasana taman kota yang indah ini.


"Woahh,Cantikk!" gumam Bulan melihat taman kota berkelap-kelip dipenuhi oleh lampu-lampu Led.


"Ayok Turun!" ajak Langit keluar duluan.


Bulan pun keluar mobil lalu tersenyum senang melihat suasana taman kota yang ramai itu. Seketika ia sangat kegirangan dan bertepuk tangan sendiri, ini baru pertama kalinya ia diajak ketaman.


Karena Bulan selalu sibuk dirumah sakit jadinya ia tidak pernah tahu apa itu taman kota, dan seberapa cantiknya taman tersebut. Dan malam ini berkat ajakan Langit, Bulan pun dapat melihat betapa anggun nya taman kota tersebut.


"Kamu seneng?" tanya Langit seraya mendekati Bulan.


"Banget!" jawabnya bahagia.


"Kamu kayak nya baru tau taman ini ya?"tebak Langit.


"Iya, aku memang baru mengetahuinya, Makannya sekarang ayok temani aku bersenang senang!" pinta Bulan menarik tangan Langit supaya cepat masuk kedalam taman.


Langit pun tersenyum manis kemudian mensejajarkan langkah kaki nya dengan Bulan. Bulan tidak melepas genggaman tangannya pada Langit, dan lebih sialnya lagi Langit membalas genggaman tersebut. Hingga membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

__ADS_1


"Aku selalu ngerasa dag dig dug kalo lagi deket-deket sama Bulan." Batin Langit.


...~©MatahariLangit.~...


__ADS_2