
"Satu langkah saja aku tidak mengikutimu. Maka aku akan kehilangan mu selamanya." ¦¦ Grizelle Matahari ¦¦
Seperti biasa pagi ini Matahari harus menunggu Langit didepan rumahnya. Seperti bagian dari tugasnya, untuk menunggu tumpangan.
Setelah lamanya menunggu, Akhirnya Langit keluar namun ia tidak memakai kendaraan roda empat nya. Melainkan Roda dua, yang jarang ia pakai dengan alasan Kurang ahli.
"Lo bilang nggak bisa pake? Kok malah dipake sih?!" omel Matahari menatap Langit bingung.
Langit terkekeh. "Abisnya mobil gue lagi sakit! Terpaksa pake ini deh,"
"Gue aja deh yang nyetir!" Matahari menyuruh Langit agar turun.
"Nggak ahkk! Gue bisa kok" tolak Langit terkekeh.
Matahari berdecak sebal lalu berkacak pinggang. "Lo mau cepet sampe nggak?! Lagian gue ogah diboncengin lo terus nyusruk lagi,yang berakhir malah ke UGD!" celoteh Matahari teringat saat pertama kali nya ia dibonceng oleh Langit.
Langit menyengir kuda. Lalu mengalah. "Nih! Gue ngalah aja."
Matahari memaki Helm nya lalu menaiki Motor gede Langit. Ya walaupun ia menggunakan masih berjinjit, tapi Matahari bisa menjamin kalo ia dapat mengemudikannya sebaik mungkin.
"Gue tau lo jago naik motor. Tapi gue juga takut kalo lo sebenernya nggak nyampe!" pekik Langit lalu naik kemotornya.
"Berisik lo! Masih mending gue bisa." sahut Matahari lalu menjalankan Motor nya dengan kecepatan sedang tidak terlalu ngebut.
"Nanti waktu gue turnamen. Lo ikut ya! Semangatin gue." kata Langit agak berteriak.
"Tanpa lo suruh juga gue pasti datang." jawab Matahari. Langit tersenyum lebar.
...~®MatahariLangit.~...
Matahari masuk ke ruangan osis dengan membawa Map bewarna biru yang berisikan proposal pameran.
"Tumben lo kesini?" Tanya Matahari heran melihat Arsenio berada diruangan osis, pasalnya Arsenio ini sangat malas jika disuruh untuk ikutan rapat, atau kerja bareng.
Arsenio melipat kedua tangannya didepan dada. "Bosen."
Seperti biasa,Arsenio kalo ngomong irit. Bikin Lawan bicaranya harus berpikir ulang untuk mencerna ucapannya. "Bosen?" ulang Matahari.
"Ri, gue udah pesen semua barang-barang." kata Arya yang masuk kedalam.
"Oke." jawab Matahari.
"Btw. Tumben lo disini sen?" tanya Arya beralih menatap Arsenio.
"Gue nggak boleh kesini?!" tanya balik Arsenio ketus.
"Bukan gitu sen!" kata Arya.
"Kalo lo udah disini berarti lo, Bisa bantuin gue kan?" tanya Matahari yang mengangkat-ngangkat kedua alisnya. Arsenio mengangkat sebelah alisnya. Tanda bertanya 'Membantu Apa?'
"Gue punya tugas yang cocok buat lo." ujar Matahari.
"Apa!"
Matahari memberikan sebuah map bewarna kuning yang terletak di sebelah Arsenio. "Gue minta tolong catet barang-barang yang mau dipamerin!" titah Matahari seraya Ngewink ke Arsenio.
__ADS_1
Arsenio menatap Matahari datar lalu memerima map nya.
"Arsen gue bantuin ya." sahut Lami
"Nggak perlu." jawab Arsenio datar
"Wkwkwk...Kasian lo parit." Cicit Arya dengan kekehan geli. Lami hanya memandang Arya sengit.
Setelah diberikan tugas oleh ketua osis, Arsenio pun bergegas pergi ke ruangan seni untuk mencatat beberapa karya yang akan dipamerkan.
Ternyata diruangan seni terdapat Pak ***** yang tengah melihat-lihat hasil karya siswa/siswi SMA 2 Gajah Mada. Awalnya Arsenio akan langsung masuk tapi setelah mendengar suara itu. Langkah Arsenio tiba-tiba terhenti.
"Karya kamu bagus!" puji Pak ***** sambil tersenyum.
"Woahh.....Terima kasih pak atas pujiannya." kata Adena tersenyum senang.
"Besok kita pamerkan hasil kamu juga!" ujar Pak ***** terus melihat hasil lukisan Adena. Lukisan itu berbentuk pemandangan indah lengkap dengan hihijauan pepohonannya. Juga didalam lukisan itu seperti terlihat nyata.
Tokk...Tokkk...
"Permisi...." kata Arsenio terdengar sopan, Namun masih terdengar dingin.
"Arsen. Mau apa kamu kesini?" tanya Pak *****.
Arsenio masuk kedalam lalu menghampiri pak *****. "Saya diberi tugas untuk mencatat semua karya yang akan dipamerkan Pak!" kata Arsenio lumayan berbicara panjang..
"Kenapa tidak Matahari saja?"
"Matahari sibuk."
"Boleh aku bantu?" tawar Adena pada Arsen.
"Aaa....Bagus! Kamu bantulah Arsenio ya Adena! Bapak pergi dulu..." pamit Pak ***** yang hanya menyisakan Adena dan Arsenio di ruangan seni. setelah ditinggal oleh pak ***** tiba-tiba mereka berdua merasakan hawa canggung.
"E-emmm...Biar gue yang nyatet!" kata Adena yang meminta map nya. Arsenio hanya mengangguk lalu memberikan nya.
"Lo ngapain di Ruang seni?" tanya Arsenio.
Adena terdiam cukup lama. "Heee...Tumben banget Arsen nanya?" batinnya.
"Gua nanya,hm!" ujar Arsenio terdengar kesal.
"E-ehk! Gue cuman disuruh liatin hasil karya gue." kata Adena beralih mencatat.
Arsenio mengangguk sembari melipat kedua tangannya didepan dada. "Karya lo yang mana?"
Adena berhenti menulis. "Kok lo tumben nggak dingin?" tanya Adena bingung.
Arsenio memgangkat sebelah alisnya kemudian terkekeh. "Sejak kapan gue dingin?! Gue anget kali."
"Maksud gue ucapan lo kok tumben nggak cuek, dingin atau ketus gitu."
Arsenio terlihat mengernyit. "Gue ngerasa lo asik, jadi nggak ada salahnya kan gue kayak gini ke lo,"
Blushh
__ADS_1
Adena merasakan jika wajahnya kini memanas. Ia menatap Arsenio tanpa ekspresi.
"Muka lo kenapa?" tanya Arsenio berhasil membuat Adena memalingkan wajahnya.
"Lo sakit?"
"Enggak! I'm fine." jawab Adena lalu kembali pada aktivitasnya.
"Mmm,"
...~®MatahariLangit.~...
Langit meneguk Es teh nya hingga setengah.
"Lang....Besok kita kesana jam berapa?" tanya Jaxin.
"Jam delapanan." jawab Langit beralih melahap Mie ayam nya.
"Oke oke. Btw lo udah berapa hari nggak makan Lang?" tanya Jaxin yang terkekeh melihat Langit.
Langit mendongak menatap Jaxin. "Lo kira gue anak gembel apa?"
"Abisnya lo makan lahap gitu,"
"Ya kan gue laper."
"Iye iye gue ngalah deh! Udah sono lanjutin makannya."
Langit hanya mendengkus kasar lalu melanjutkan makan nya.
"Yoi Brooo!" teriak Arya seraya menghampiri Jaxin dan Langit.
"Kang eropa datang!" kata Jaxin yang dapat kekehan dari Langit.
"Ape lo jax?! Nggak usah ngomongin gue dibelakang ya," omel Arya sudah duduk disamping Jaxin.
"Dihh siapa juga yang ngomongin lo!" jawab Jaxin datar.
"Nggak asik lo." gerutu Arya.
"Berisik." tungkas Langit yang sudah selesai dengan mie ayam nya.
"Eehhkk! Besok kan kita turnamen nya tuh." jeda Arya.
"Terus?" tanya Langit dan Jaxin.
"Pasti di sekolah sana banyak cewek cakep nya!" lanjut Arya dapat tatapan horor dari Langit dan Jaxin.
"Udah ada Lami aja masih mau nyari yang lain." ledek Langit dapat kekehan dari Jaxin.
Arya mendengkus sebal. "Lami is My Rival! Nyaho te marenah!"
"Sunda nya mulai keluar!" cibir Jaxin.
"Karitunya boga babaturan teh!." gerutu Arya yang dapat tawaan dari Langit dan Jaxin. (Gitu ya punya sahabat tuh.) Arya hanya dapat terdiam daripada berucap maka akan di ledek lagi. Harus sabar dalam berteman.
__ADS_1
...~®MatahariLangit.~...