
"Aku merasakan hal yang aneh dalam diriku, ketika aku berada di dekat dua wanita itu. Apa maksudnya semua ini?" ¦¦ Aska Langit ¦¦
Setelah sampai dirumah, Wanita berambut panjang itu beralih masuk kedalam kamarnya dengan wajah murung. Entah kenapa ia merasa kesal saat melihat kejadian tadi, Dimana Arsenio menarik Matahari tiba-tiba.
Adena melempar tas nya kesembarang tempat,Lalu merebahkan tubuhnya di ranjang empuk, Matanya menutup rapat-rapat, sambil berusaha membuang bayangan Itu. Adena sendiri tidak mengerti kenapa ia dapat merasakan kesal ketika melihat nya. "Jangan bilang kalo aku mulai tertarik sama Arsen," gumamnya tiba-tiba melotot.
"Aaaaa...Itu nggak akan terjadi,Aku cuman kesel karena Matahari ditarik gitu aja, bukan karena aku cemburu. Iya kan Adena." Ujarnya pada dirinya sendiri. Adena menutup wajahnya dengan bantal. Ia sungguh tidak mengerti!.
"Aaaddeeennnaaa! Udah makan belum?!" Tanya Ibunya dengan suara bernada. Adena membuang bantal yang menutupi wajahnya, kemudian sedikit melirik kearah pintu.
"Mama beli makanan kesukaan kamu,Ayok makan dulu! Keburu abis entar." kata ibunya sembari mengetuk pintu kamar. Adena mau tidak mau harus berjalan lemas menuju pintu, untuk membukanya.
"Kenapa lemes gitu sih,Na? Kamu sakit?" tanya Ibunya khawatir kemudian menempelkan telapak tangannya dikening Adena.
"Tapi nggak panas? Kamu kenapa?"
Adena menggelengkan kepalanya. "Adena lagi badmood aja."
"Dasar anak gadis, kerjaannya galau mulu dah. Jadi inget jaman mama dulu." kata ibunya sedikit terkekeh.
Adena mengernyit. "Emang mama dulu suka Galau?"
Ibunya tertawa cekikikan lalu memukul lengan Adena. Membuat Adena meringis sesaat. "Mama galau juga karena papah kamu."
"Emang papah kenapa?"
"Dulu waktu Mama sama Papah belum pacaran,Masih deket gitulah ya...Mama tu suka banget deketin papah kamu, sampe sering dibilang nggak tau malu sama temen-temen mama."
"iiihhkk Mama parah."
"Demi mengambil hati papah, mama rela dikata-katain."
"Astaga! Punya emak bucin banget dah." batin Adena.
"Terus ma."
"Waktu itu papah kamu selalu nggak mau dideketin mama, Alhasil papah kamu malah buat mama galau tujuh hari tujuh malam,"
Adena sedikit membelalak."Kenapa nggak selametan aja mah?"
"Hehh,Masa iya mama kudu selametan,karena galau, Ngaco kamu."
"Hhmm."
"Oiya, Ngomong-ngomong kamu juga galau pasti lagi suka sama cowok ya,hemm?!" Tanya Ibunya sembari menggoda.
"E-enggak." jawab Adena gugup.
Ibunya semakin tersenyum lebar. "Mama restuin deh, kalo kamu udah punya cowok! Apapun pilihan kamu pasti mama sama papah akan setuju. jadi cepet-cepat deketin cowok yang kamu suka itu, keburu diembat orang."
"Apaan sih ma,Adena tu masih sekolah Adena harus fokus sama pendidikan,Urusan percintaan itu terakhir." kata Adena lalu mengeleos pergi ke dapur.
Ibunya terkekeh mendengar jawaban dari anak nya itu. "Kamu mirip abang kamu aja Na. Bilangnya nggak mau pacaran dulu, tapi ujung-ujungnya udah punya aja...eeemm dasar anak muda." gumam ibunya menggelengkan kepala.
...~©MatahariLangit.~...
"Lo mau mampir?" tawar Matahari pada Arsenio.
Arsenio menggeleng kan kepala."Gue ada urusan."
"Uumm,Thank's sen." kata Matahari sebelum turun dari mobil Arsenio. Arsenio membuka kaca jendela mobilnya sedikit,Lalu menatap Matahari diluar sana.
"Besok gue jemput lo lagi." ujar Arsenio membuat Matahari mendengkus.
"Gue pengen berangkat sama Langit." jawab Matahari sedikit menggerutu.
"Lo mau entar ujung-ujungnya malah dikawinin langsung sama gue."
Ucapan Arsenio membuat Matahari tercengang,Lalu memasamg raut wajah kesal. "Gue nggak mau."
"Ya udah besok gue jemput."
Setelah mobil Arsenio menghilang dari pekarangan rumah,Matahari pun langsung mengambil krikil dan melempar nya kejalanan,Niatnya ingin mengenai mobil Arsenio namun sudah terlalu jauh. ia sungguh kesal, dengan pola pikir Arsenio.
"A-R-S-E-N!" Kata Matahari sambil mendengkus sebal. Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan,Matahari masuk kedalam dengan raut wajah sebal.
"Udah pulang?" tanya Sandara yang berada diruangan keluarga.
__ADS_1
Matahari mengacuhkan pertanyaan ibunya dan memilih pergi naik keatas untuk segera kekamar. Ia sungguh kesal hari ini. Rasanya ingin mengutuk orang tuanya dan juga Arsenio! Tapi itu tidak mungkin.
"Lama-lama gue bisa streesss!" Ujar Matahari menelusupkan kepalanya ke bantal.
...~©MatahariLangit.~...
Malam ini Langit bergegas pergi menuju ke kediamannya Matahari. Tidak lupa Langit juga membawakan opor ayam buatan Bundanya untuk Matahari.
Setelah sampai didepan pintu, Tiba-tiba pintunya sudah terbuka dan menampakkan Sang wanita berbaju tidur doraemon lengkap dengan rambut yang tergulung oleh gulungan rambut warna-warni.
"Ri?" panggil Langit, langsung ditarik oleh Matahari supaya cepat masuk kedalam.
"Lo kenapa sih?" tanya Langit heran.
"Nggak papa.....Btw itu apaan?" tunjuk Matahari pada kotak yang ada ditangan Langit.
"Opor ayam spesial buat lo dari bunda gue." kata Langit lalu memberikannya.
Matahari tersenyum lebar lalu mengambilnya. "Tau aja kalo gue lagi laper!"
"Ya udah makan sono!"
"Temenin tapi."
"Oke!"
Matahari lagi-lagi menarik Langit supaya mengikutinya kedapur. Sandara yang melihat mereka berdua tersenyum simpul. "Kamu bahagia banget Zel,Ketemu Langit."batin Sandara.
"Rumah lo sepi amat! Bukannya tante udah pulang ya hari ini?"tanya Langit melihat seisi rumah Matahari sepi.
"Baguslah kalo sepi." celetuk Matahari fokus pada opornya.
Langit mengernyit. "Maksud lo?"
"Ya kita bisa bebas mau ngapain aja."
"emang lo mau ngapain?"
"Lo mancing otak gue mulu ihhkk lang!"
Langit terkekeh sejenak. "Emang kenapa otak lo?!"
Perkataan Matahari barusan membuat Langit tersentak, dan entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Matahari tersadar atas ucapannya, dengan cepat ia memalingkan wajah dan memilih fokus lagi pada opornya.
"Astagfirullahaladzim. Gue ngomong apaan sih tadi?" batin Matahari. Suasana pun menjadi canggung dan juga hening.
"Eehhkk,Ada Langit tohh!" sahut Sandara menghampiri Langit dan Matahari.
"Iya tante." jawab Langit tersenyum manis.
"Makan apa kamu zel?" tanya Sandara.
"Opor." Jawabnya.
"Dari Langit?"
"Iya tante,Bunda yang masakin."
"Wwoahh,Xandra tau banget ya makanan kesukaan tante." kata sandara lalu menarik kotak opornya.
"Maaa!" teriak Matahari sambil menahan kotak opornya agar tidak ditarik oleh ibunya.
"Apa sih zel, Mama juga mau."
"Tapi kan ini buat Matahari bukan buat mama."
"Loh kok gitu! Mama juga kan pengen, masa kamu mau abisin sendiri."
"Suka-suka zelle dong."
"Entar kamu gendut loh!"
"Bodo amat! Pokonya mama jangan makan opornya!"
"Dikit aja, mama cuman mau nyoba!"
"Nggak! Mama bilangnya nyoba tapi entar tuh udah bersih aja."
__ADS_1
"Dikit kok zel..."
Langit hanya menatap perdebatan antara anak dan ibu ini sambil menggeleng-gelengkan kepala.
...~©MatahariLangit.~...
"Lo bilang mau ngasih tau gue!" kata Langit seraya melirik Matahari yang sedang sibuk merebahkan tubuhnya diranjang.
"Apa?" tanya balik Matahari.
"Yang lo bilang pas disekolah loh!"
Matahari berusaha mengingat. "Oohh,Yang itu."
"Inget?"
Matahari membenarkan posisi nya menjadi duduk didekat Langit. "Tapi gue mau nanya dulu sama lo."
"Apa?" Langit mempause Vs-nya dan beralih menatap Matahari.
"Kenapa kemarin lo bisa sama Bulan?"
"Gue ketemu dia dijalan,Ya udah gue ajak main ke taman aja. Oya lo juga kenapa sama Arsen?!."
"Ceritanya panjang!"
"Ya udah cerita."
"Gue mau nanya satu lagi sama lo."
"Apa?"
"Kenapa lo udah nggak pernah ajak gue ke taman lagi,Biasanya lo ngajak gue setiap libur, Tapi kamarin lo malah ngajak Bulan." Kata Matahari sedih bahwa kenyataan Langit lebih memilih Bulan daripada dirinya.
Langit menghembuskan nafas panjang. "Gue lupa ngajak lo,lagian kan lo sekarang lebih sibuk sama Arsen,"
Matahari mengernyit. "Sibuk apanya?"
"Ya itu berduaan terus! Pulang aja ampe mesra-mesraan gitu." kata Langit yang terdengar ketus.
"Lo cemburu?"
"E-enggak! Idih najis gue cemburu sama lo." jawabnya gugup.
Matahari terkekeh geli mendengar jawabannya. "Gue sama Arsen itu dijodohin."
Degg
Langit merasakan dadanya sesak, setelah mendengar pengakuan Matahari, Tiba-tiba raut wajah Langit berubah menjadi kesal.
"Tapi..." kata Matahari terjeda.
"Gue sama Arsen lagi buat rencana untuk ngebatalin perjodohan konyol ini. Asal lo tau, Cinta gue itu cuman buat lo! Gue nggak pernah ada niatan buat jatuh cinta kelain hati lagi. Gue udah sayang sama lo, tapi lo nggak pernah sayang sama gue..." jelas Matahari, membuat hati Langit tenang mendengar nya.
"Eemm..."
"Lo jawab cuman eemm doang?"
"Ya terus gue harus jawab apa?"
"Dasar cowok kagak pernah peka."
Langit mengacak pucuk rambut Matahari gemas. Sedangkan Matahari terdiam membeku ditempat. "Gue peka kok, lo nya aja yang kurang peka." jawab Langit.
Matahari memukul lengan Langit, membuat Langit menurunkan lengannya dari pucuk kepala Matahari. "Kok jadi gue sih?!"
"Udah lanjut!" titah Langit menunggu kelanjutan cerita Matahari.
"Gue sama Arsen dipantau sama orang suruhan nyokap Arsen juga bokap gue. Alhasil gue sama Arsen harus bersikap kayak sepasang kekasih gitu,"
"Harus banget ya?"
"Eung! Jadi lo nggak usah cemburu soalnya itu cuman settingan." goda Matahari.
Langit sedikit salting karena ucapan Matahari lumayan benar. "Apaan sih ri, Ngaco aja lo."
Matahari tersenyum manis. "Makin sayang deh sama lo!" Langit memalingkan wajah lalu tersenyum simpul sesaat. ia senang bahwa Matahari masih menyukainya.
__ADS_1
...~©MatahariLangit.~...