Matahari Langit

Matahari Langit
24.Twenty Four


__ADS_3

"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah ini?" ¦¦ Arsenio Edzadr ¦¦


" Lama lo!"dengus Arsenio setelah Matahari keluar dari rumah kakaknya.


"Lo kira kabur diem-diem itu gampang hah!"Cetus Matahari seraya menerima helm.


"Nggak usah ngegas juga kali!"


"Terserah gue."


Arsenio memutar bola matanya malas,kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju lambat agar tidak membangunkan Kakaknya Matahari, tengah tertidur lelap.


Matahari pergi bersama Arsenio tepat pada pukul dua belas lewat lima menit. Mereka berniat ke bascame untuk balapan. "Lo kabur atau gimana?"tanya Matahari.


"Menurut lo?!"


"Kabur."


Arsenio menganggukkan kepalanya.


"Tiap hari lo kabur?"tanyanya lagi.


"Nggak tiap hari juga kali." jawab Arsenio ketus yang tidak mengalihkan pandangannya dari jalan.


"Ternyata lo nakal juga yaa..."


"Lo juga!"


"Gue sebenernya udah tobat, gara-gara ketemu cowok kayak lo gue jadi begini lagi."


"Gue nggak seburuk itu lah..."


"Iya gue tau. Tapi sebaiknya lo jangan terus terusan keluar malam, nggak baik tau."


"Kek emak gue aja lo."


"Harus nurut pokonya!"


"Mmm,Iya iyaa..."


Matahari tersenyum kemudian memeluk Arsenio erat.


"Lo seneng banget sih meluk gue," sahut Arsenio sedikit melirik Matahari.


Matahari menatap Arsenio dari samping kanannya. "Nyaman aja." jawabnya membuat Arsenio tersenyum simpul dibalik helm.


"Awas Lo jatuh cinta sama gue!"celetuk Arsenio terkekeh.


"Najisss...." Cibir Matahari beralih melepas pelukannya.


"Sok najis najis, Awas aja lo jatuh cinta!"


"Palingan lo yang suka sama gue, hayoo ngaku!"


"Pede gila nih cewek." Matahari tertawa renyah bersama Arsenio. Selama dalam perjalanan mereka berdua terus membahas hal-hal yang menurut mereka lucu.


...~©MatahariLangit.~...


" Astaga! Stela lo nekat banget sih." celetuk Moza.


"Bodo Amat." jawabnya ketus lalu terduduk disebelah Moza.


"Marah mamak baru tau lo." ledek Moza terkekeh geli.


"iiihhhkkk! Bawel lo!!!"


"Btw ngapain lo kesini?"


"Gue Lagi badmood, ya udah kabur deh!"


"Kenapa?"


"Gue sebel sama nyokap, gue minta beliin tas baru malah diomelin."


"Kerja dong Stela!!"


Auristela mendengus sebal lalu menatap Moza sinis. "Gue masih sekolah Om."


"Gue Bukan Om lo!"

__ADS_1


"Abisnya muka lo kayak om gue gitu..."


"Serahhh..."


Auristela tertawa cekikikan sambil memukul bahu Moza beberapa kali.


"What?!" celetuk seseorang membuat Auristela dan Moza berhenti tertawa dam beralih menatap ke sumber suara.


Manik mata Auristela berubah menjadi tajam, Setelah melihat seorang wanita yang berada disamping Arsenio. "Lo ngapain bawa-bawa cewek itu sen?" tanya Auristela ketus.


"Suka suka gue! Lagian lo ngapain sih tiap hari ada di bascame?" kata Arsenio datar.


"Ya kan gue ikut masuk ke geng lo!"


"Gue nggak nerima lo!"


"Lo-"


"Eehhkk! Btw siapa dia?"tanya Moza berusaha meredakan emosi Auristela.


"Matahari." jawab Arsenio.


"Pacar lo?"


"Bukan!" jawab Matahari dan Arsenio bersamaan.


"Kirain..."


"Mmm, pinjem motor lo za."


"Buat apa?"


"Balap lah."


"Sama siapa?"


"Matahari lah."


"Yakin lo?!"


"Gini gini juga gue mantan pembalap handal kali." sahut Matahari.


"Kampret lo!"


"Gue percaya kok sama lo." kata Moza lalu melemparkan kunci motor nya pada Matahari.


"Kalahin Arsen, ri!" Sambungnya yang dapat acungan jempol dari Matahari.


"Kalahin Matahari sen!" sahut Auristela.


"Pasti." jawabnya ketus.


...~©MatahariLangit.~...


Matahari menepikan motor gede milik Moza, lalu mematikan mesin motornya kemudian membuka perlahan Helmnya.


"Lah? Kok malah barengan sih?" tanya Moza melihat Arsenio dan Matahari seri.


Arsenio melepas helm lalu melirik Matahari sekilas. "Sejak kapan lo jago balap?"


Matahari menghembuskan nafas panjang lalu melipat kedua tangannya didepan dada. "Sejak umur gue lima belas tahun."


"Lo tomboy ternyata." sahut Auristela.


"Iya dulu gue tomboy, tapi sekarang gue feminim kok." kata Matahari terkekeh geli.


"Feminim darimana nya?!"


"Lo kenapa sih? Suka banget ngiriin gue?!"


"Karena gue nggak suka sama lo!"


"Gue salah apa sama lo?"


Auristela terdiam sambil menatap Matahari datar.


"Masalah kalian berdua tuh apaan sih?" ujar Moza, jengkel melihat mereka berdua.


"Cuman gara-gara gue jadi ketua osis,siswi berfrestasi, juga dapat gelar primadona," jawab Matahari sombong.

__ADS_1


"Jujur emang cakepan lo dari pada Stela." celetuk Moza yang langsung dapat tatapan sengit dari Auristela.


Matahari tersenyum lebar kemudian menganggukkan kepalanya. "Semua cewek cantik kok, nggak ada yang ganteng."


Moza dan Matahari saling melempar kan tawa recehnya. Sedangkan Auristela dan Arsenio hanya menatap mereka datar. "Btw, nama lo siapa?" tanya Matahari yang lupa pada nama Moza.


"Moza." jawabnya seraya menjulurkan tangan.


"Oohh....lo sekolah dimana?"


"Gue ngampus."


Matahari mengangguk paham. "Sen!"


Arsenio mengangkat sebelah alisnya.


"Kedalem yuukk!" ajak Matahari sudah berjalan duluan kedalam gudang tempat bascame Arsenio. Saat sudah didalam Bascame mereka berempat saling terdiam dengan pikiran nya masing-masing. Hanya suara jangkrik yang menemani kesunyian didalam ruangan tersebut.


...~©MatahariLangit.~...


Malam berganti pagi, Suara Burung berkicau begitu nyaring membuat Matahari perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah Auristela berada disampingnya dan Moza tengah terduduk manis sambil memainkan ponsel. Matahari mengerang sembari mengucek matanya.


"Udah bangun lo?" Tanya Moza melirik Matahari sekilas.


"Mmm,Mana Arsen?" tanya balik Matahari berusaha mencari Arsenio.


"Udah balik duluan."


Matahari membelalakkan mata bulat-bulat. "Hah?!" teriaknya membuat Auristela terbangun.


"An**r suara lo kenceng amat!" Kata Moza.


"Gue pulang sama siapa? Sekarang jam berapa?! " tanya Matahari panik.


05.45 WIB


-Kak Grizalle_Call 35✔


Matahari memejamkan matanya rapat-rapat lalu menghembuskan nafas panjang. "Siap siap kena amuk." batinnya.


"Moza!! Anterin gue balik!" kata Auristela menarik lengan Moza.


"E-ehhkk! Gue gimana?" teriak Matahari.


"Jalan kaki, atau naik angkot kek!" jawab Auristela berteriak. Matahari mendengus kasar lalu mengacak rambutnya frustrasi.


Ddrrrrttt....Ddrrrtttt...


"Aaaaahhhhkkk....Jawab nggak ya?" gumam Matahari mengigit jari telunjuknya.


"Ri!" panggil seseorang.


"Lo-"


"Udah nggak usah bawel dulu! Buruan!!" Arsenio menarik lengan Matahari agar ikut bersamanya pulang.


"Lo kenapa ninggalin gue?!" tanya Matahari setelah berada dimotor Arsenio.


"Males gue nungguin lo bangun." jawabnya datar. Matahari terdiam sambil membayangkan bagaimana nanti kakaknya akan mengamuk.


"Gue minta maaf." ujar Arsenio dingin.


"Buat apa?"


Arsenio menghembuskan nafas panjang. Kemudian terdiam.


"Gajelas banget sih lo!" dengus Matahari sebal. Selang beberapa menit akhirnya Matahari sampai didepan rumah kakaknya, dengan cepat ia berlari masuk kedalam dan meninggalkan Arsenio sendirian diluar.


Arsenio menatap Matahari hingga ia masuk kedalam rumah. "Gue nggak tau setelah ini harus gimana lagi?" gumamnya.


Matahari menghentikan langkahnya tepat diambang pintu. Kepala nya seketika menunduk sambil menggigit bibir bawah kuat-kuat. "Kemana aja semalem?" introgasi Grizalle datar. Matahari terdiam tidak tahu harus menjawab apa?.


"Kakak nanya sama kamu zel! Jawab!" Ujar Grizalle dengan nada menyeramkan.


Matahari sedikit mendongkakkan kepala menatap Kakaknya takut. "Maaf kak."


Grizalle menghembuskan nafas kasar, ia tidak tega melihat adiknya terkena semburannya. "Sekarang kamu mandi udah itu pergi sekolah! Kakak yang anter, Dan kakak bakalan jemput kamu!" ujar Grizalle sebelum pergi dari hadapan Matahari.


Matahari menghembuskan nafas lega. "Maaf kak..." gumamnya kemudian pergi menuju kamar mandi.

__ADS_1


...~©MatahariLangit.~...


__ADS_2